Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: NEGOSIASI DI AMBANG GAIRAH
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden bukan lagi sekadar penerang ruangan, melainkan saksi bisu betapa kacaunya kondisi kamar itu setelah badai gairah yang Alana picu sore kemarin. Pakaian yang robek berserakan, bantal-bantal yang jatuh ke lantai, dan aroma maskulin Dante yang bercampur dengan wangi manis Alana yang memenuhi udara.
Dante Volkov terjaga lebih dulu, seperti biasanya. Namun kali ini, alih-alih langsung beranjak untuk meninjau laporan bisnisnya, ia memilih untuk tetap diam di bawah selimut. Matanya yang tajam dan kelam mengamati Alana yang tertidur pulas di sampingnya. Gadis itu tampak sangat cantik dalam kelelahan yang luar biasa, dengan bibir sedikit terbuka dan rambut yang tersebar acak di atas bantal sutra.
Gåïråh Dante yang memang selalu berada di titik didih saat bersama Alana kembali bergejolak. Ia merasa tidak pernah cukup. Semakin ia memiliki Alana, semakin ia merasa haus. Dengan gerakan lambat yang penuh niat jahat, tangan besarnya yang kasar mulai merayap di bawah selimut. Jemarinya menelusuri lekuk pinggang Alana yang ramping, naik perlahan hingga tangan itu hinggap dengan mantap di atas þåɏµÐårå Alana yang kenyal.
Dante meremasnya perlahan, merasakan berat yang lebih berisi di telapak tangannya. Ia mendengus kecil dengan senyum kemenangan; ia merasa bagian tubuh itu tumbuh lebih ranum karena perbuatannya—karena seringnya ia meremas, mêñghï§åþ, dan memberikan klaim di sana setiap malam.
"Nngghh..." Alana mêlêñgµh pelan. Sensasi panas dari tangan Dante merayap masuk ke alam mimpinya, menariknya paksa kembali ke realita.
Perlahan, kelopak mata Alana terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sangat dekat, dengan binar mata yang sudah sangat ia kenali—binar mata seorang predator yang lapar.
"Pagi yang indah, bukan?" suara Dante terdengar sangat serak dan berat, getarannya terasa hingga ke dada Alana. Tangan Dante tidak berhenti bergerak, justru semakin intens mêmïlïñ þµñ¢åk dada Alana hingga gadis itu sedikit tersentak.
"Morning §êx?" tanya Dante dengan senyum mesum yang khas, sebuah seringai yang menjanjikan jam-jam yang melelahkan di atas ranjang.
Alana merasakan alarm bahu berbunyi di kepalanya. Jika ia membiarkan ini terjadi, ia tidak akan bisa berjalan keluar kamar hingga siang nanti. Mengingat saran Arthur semalam tentang menjinakkan badai, Alana memutuskan untuk tidak menarik diri atau menunjukkan ketakutan.
Sebaliknya, ia bangkit untuk duduk, membiarkan selimut itu merosot hingga ke pinggang, memamerkan kulitnya yang penuh dengan "tanda ungu" dari Dante. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lembut, Alana justru merapatkan tubuhnya ke arah Dante. Ia melingkarkan lengan mungilnya di leher Dante dan memeluk pria raksasa itu dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dante yang keras.
Dante seketika menegang. Jantungnya berdegup lebih kencang saat merasakan þåɏµÐårå Alana menempel langsung pada kulit dadanya tanpa penghalang. Ia sudah bersiap untuk menyerang, namun pelukan hangat yang tak terduga ini membuatnya sedikit mematung.
"Dante..." Alana berbisik lirih tepat di telinga suaminya, suaranya terdengar serak-serak basah yang sangat menggoda. "Aku lelah sekali. Seluruh tubuhku masih terasa remuk karena semalam aku sudah mêlåɏåñïmµ sekuat tenagaku... kau sangat hebat semalam, kau tahu?"
Alana mendongak, menatap Dante dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, penuh dengan tatapan memohon yang sengaja ia buat sangat manis. "Nanti malam saja ya? Aku janji akan memberikan apa pun yang kau minta. Tapi beri aku waktu untuk bernapas pagi ini... Hm? Boleh ya?"
Dante menggeram rendah di dalam tenggorokannya. Suara rengekan Alana dan cara gadis itu memujinya adalah racun yang sangat manis. Di satu sisi, ia ingin sekali membanting tubuh mungil itu kembali ke kasur, mêmßµkå kakinya lebar-lebar, dan mêñggågåhïñɏå dengan kasar sampai Alana tidak bisa memohon lagi. Namun di sisi lain, sisi posesifnya merasa menang melihat Alana mulai "manja" dan mengakui kekuasaannya.
"Kau sedang mencoba menyuapku dengan kata-kata manis, little girl?" desis Dante, tangannya kini mencengkeram ßðkðñg Alana dengan posesif di balik selimut.
Alana sedikit bergidik saat merasakan kêjåñ†åñåñ Dante yang sudah mengeras sempurna kembali menekan perutnya. Ia harus mencari alasan yang lebih masuk akal agar Dante membiarkannya pergi.
"Bukan begitu... Hari ini aku ada jadwal olahraga renang dengan Valerie," ucap Alana cepat, mencoba mencari perlindungan pada jadwal yang dibuat Dante sendiri. "Kau bilang kau ingin aku memiliki stamina yang kuat untuk mengimbangimu, kan? Jika kita melakukannya sekarang, aku tidak akan punya tenaga untuk berlatih renang. Dan kau pasti tidak mau instruktur itu melapor padamu kalau aku malas-malasan."
Dante terdiam, matanya menyipit tajam menatap Alana. Ia tampak sedang menimbang-nimbang antara memuaskan nafsunya sekarang atau melihat Alana menjadi lebih kuat untuk þêmµå§åññɏå yang lebih lama di masa depan.
"Renang, huh?" Dante menarik rambut Alana sedikit ke belakang, memaksanya menatap mata biru esnya. "Baiklah. Pergilah berlatih. Tapi pastikan kau melatih otot panggul dan napasmu dengan benar di kolam itu. Karena nanti malam..." Dante mendekatkan bibirnya, menggigit pelan cuping telinga Alana hingga gadis itu mendesah. "...aku akan menagih janjimu, dan aku tidak akan menerima kata lelah lagi."
Dante akhirnya melepaskan pelukannya, meski dengan raut wajah yang masih menunjukkan rasa tidak puas yang besar. Ia bangkit dari ranjang, memamerkan tubuh atletisnya yang menjulang, sementara Alana mendesah lega secara diam-diam. Taktik Arthur berhasil; badai itu tidak berhenti, tapi setidaknya ia berhasil menundanya.
"Bersiaplah. Dan jangan coba-coba memakai baju renang yang minim jika kau tidak ingin aku membatalkan latihanmu dan mengurungmu di sini sekarang juga," ancam Dante sebelum melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Alana yang kini harus mempersiapkan mental untuk latihan renang yang pasti akan melelahkan di bawah pengawasan Valerie yang disiplin.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄