Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Lembayung senja yang merah keunguan perlahan memudar, digantikan oleh jubah malam yang kelam dan bertabur bintang di atas langit mansion Volkov. Gazebo di tengah taman itu kini menyisakan aroma gairah yang kental, bercampur dengan wangi bunga mawar yang tertiup angin malam yang mulai mendingin. Di atas tumpukan bantal sutra, Alana terbaring tak berdaya. Kelopak matanya tertutup rapat, napasnya halus namun dangkal; ia kembali pingsan, tubuhnya menyerah pada keletihan ekstrem setelah ber rðñÐê-rðñÐê pertempuran ßêrïñgå§ yang menguras seluruh tenaganya, bahkan setelah stamina fisiknya ditingkatkan oleh Valerie.
Dante berdiri di samping daybed, mengenakan kembali celana panjangnya dengan gerakan tenang. Ia menatap sosok mungil yang lunglai itu. Biasanya, setelah badai hasratnya mereda, Dante akan berubah menjadi sosok yang dingin dan acuh tak acuh—pria yang langsung memakai jasnya, menyulut cerutu, dan pergi ke ruang kerja tanpa menoleh lagi, seolah-olah wanita di bawahnya hanyalah alat pelepas stres.
Namun malam ini, ada sesuatu yang bergeser di dalam rongga dadanya. Melihat Alana yang tampak begitu rapuh dan pucat di bawah sinar bulan, ada rasa protektif yang tajam—hampir menyakitkan—yang menusuk egonya.
Dante membungkuk, dengan kehati-hatian yang tidak biasa, ia mengangkat tubuh Alana ke dalam pelukan bridal style. Ia merasakan betapa ringannya tubuh itu, betapa mungilnya Alana di dalam dekapannya yang masif. Sepanjang jalan melewati koridor mansion yang sepi, Dante tidak melepaskan pandangannya dari wajah Alana. Ia mengabaikan Arthur yang berdiri di kejauhan dengan kepala menunduk hormat; sang kepala pelayan pun menyadari bahwa tuannya sedang berada dalam suasana hati yang sangat berbeda.
Begitu sampai di kamar utama, Dante tidak langsung menjatuhkan Alana ke ranjang. Ia membawanya ke kamar mandi mewah mereka. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia menyalakan air hangat di bathtub marmer, mengisinya dengan busa aromatik yang lembut.
Dante, pria yang tangannya biasa memegang senjata dan mematahkan tulang musuh, kini menggunakan waslap lembut untuk membersihkan sisa-sisa jejak mereka dari kulit Alana. Ia menyeka helai rambut yang menempel di dahi Alana, membersihkan air kolam dan keringat yang mengering di punggung dan paha istrinya. Gerakannya sangat lambat, hampir seperti sebuah ritual pemujaan yang sakral. Ia membasuh sisa-sisa benihnya sendiri yang mengalir di kaki Alana dengan sentuhan yang seolah meminta maaf tanpa kata.
Setelah tubuh Alana bersih dan harum, Dante mengeringkannya dengan handuk lembut yang hangat. Ia mengambil sebuah gaun tidur sutra berwarna putih bersih—pilihan yang jauh lebih tertutup dari biasanya—dan memakaikannya ke tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada kain yang terjepit atau membuat Alana tidak nyaman.
Dante kemudian membaringkan Alana di tengah ranjang king size mereka. Ia menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada, lalu ia sendiri naik ke atas ranjang setelah membersihkan diri dengan cepat.
Keheningan malam itu terasa sangat ïñ†ïm. Dante menarik Alana ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dada bidangnya yang berdetak kuat. Lengan kekarnya melingkari pinggang Alana dengan sangat erat, seolah-olah lengannya adalah barikade yang tak tertembus oleh dunia luar.
Ia membelai rambut Alana yang wangi lavender, matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia teringat bagaimana Alana mencoba bersikap kemarin sore, bagaimana gadis itu memohon dengan suara lembutnya, dan bagaimana ia sendiri hampir kehilangan kendali karena rasa ingin memilikinya yang gila.
"Kau tidak akan pernah bisa pergi, Alana," bisik Dante dengan suara bariton yang hampir tak terdengar, suaranya parau oleh emosi yang ia sendiri belum sanggup beri nama. "Bahkan jika kau membenciku karena telah merusakmu, kau akan tetap di sini. Di bawah pengawasanku. Di dalam pelukanku."
Dante membenamkan wajahnya di rambut Alana, menghirup aromanya dalam-dalam. Ada ketakutan purba yang tiba-tiba muncul di hati sang Predator—ketakutan bahwa kepolosan yang ia cintai ini akan hancur sepenuhnya oleh tangannya sendiri, atau lebih buruk lagi, direbut oleh bayang-bayang musuhnya di luar sana.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Alana, Dante Volkov tertidur dengan hati yang tidak tenang. Ia memeluk Alana dengan kekuatan yang seolah-olah jika ia melonggarkan satu inci saja pelukannya, mawar kecilnya akan terbang terbawa angin malam dan menghilang selamanya dari neraka yang ia sebut sebagai rumah.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔