Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4 — Izin untuk Pulang
Hujan turun tipis ketika Dimas duduk di kursi plastik ruang perawat, tubuhnya masih terasa kaku setelah melihat tulisan-tulisan di kamar Aluna. Kata PEMBUNUH masih menempel di kepalanya seperti suara yang berbisik dari lorong gelap. Ia ingin keluar, bernapas, mematikan semua suara di telinganya—tapi ada sesuatu yang menahannya.
Aluna.
Adik kecilnya yang dulu suka bersembunyi di balik gorden sambil tertawa-tawa.
Sekarang, ia ingin membawanya pulang. Apa pun risikonya.
Perawat Sania masuk membawa berkas rekam medis. Rambutnya digulung asal-asalan, wajahnya lelah tapi sorot matanya tegas. “Mas Dimas,” katanya tanpa basa-basi, “saya sudah baca permohonan Anda. Tapi saya tidak bisa asal mengizinkan pasien pulang hanya karena ada hubungan keluarga.”
Dimas menggertakkan gigi. “Dia adik saya. Dua puluh tahun hilang. Saya hanya ingin memperbaiki semuanya.”
Sania meletakkan berkas, duduk di seberang Dimas. “Saya mengerti. Tapi Anda tidak tahu kondisi Aluna. Dia bukan sekadar trauma.”
Dimas mencondongkan tubuh. “Saya sudah lihat sendiri. Tapi justru karena itu saya ingin mengurusnya. Kalau tetap di sini, dia terus dihantui apa pun yang membuatnya seperti itu.”
Sania menghela napas panjang, lalu membuka map. “Aluna sering berhalusinasi auditif dan visual. Kadang dia mendengar lagu yang tidak ada sumbernya. Kadang dia melihat orang yang tidak ada di ruangan. Emosinya naik turun… Anda melihat tulisan-tulisan di kamarnya, kan?”
Gambar dinding penuh nama kembali menghantam kepala Dimas.
Dimas
Digo
Liana
Daniel
Marco
dan puluhan kata PEMBUNUH yang menutupi semuanya.
Ia menelan ludah. “Iya.”
“Menurut catatan, dia menulis nama-nama itu berulang sejak lima tahun lalu.” Sania menutup map. “Saya penasaran… Mas Dimas tahu siapa saja nama-nama itu?”
Dimas menggeleng. “Sebagian. Tapi tidak semuanya.”
“Kalau begitu, mungkin jawaban ada di tempat dia dibesarkan.”
Dimas mengernyit. “Maksudnya?”
Sania berdiri, mencari sesuatu di laci meja kecil di dekat pintu. Ia kembali dengan selembar kertas yang sudah menguning. “Alamat ini ditemukan bersama Aluna saat dia pertama kali masuk,” katanya sambil menyerahkan kertas itu. “Panti Asuhan Kasih Ibu.”
Dimas membaca alamat itu berkali-kali. Ia tidak tahu kenapa dada tiba-tiba terasa sesak. “Jadi Aluna tumbuh di panti?”
Sania mengangguk pelan. “Dia ditemukan di depan pintu panti dalam kondisi linglung, tidak membawa apa-apa kecuali… bros kupu-kupu itu.”
Bros.
Hadiah ayah mereka.
Bukti bahwa Aluna tidak pernah benar-benar melupakan rumah.
Dimas memejamkan mata sejenak. “Sania… saya mohon. Izinkan saya membawanya pulang. Dia bukan orang asing bagi saya. Saya bisa menjaganya. Saya bisa mengobatinya di rumah.”
“Mas Dimas,” Suara Sania melembut, “perawatan pasien seperti Aluna bukan hanya soal kasih sayang. Dia bisa berbahaya bagi dirinya sendiri. Atau bagi orang lain.”
Dimas terdiam. Kenyataan itu menghantamnya telak.
Aluna yang tadi menatapnya tanpa mengenalinya.
Aluna yang menulis ‘PEMBUNUH’ di semua dinding.
Aluna yang menyanyikan lagu anak-anak dengan nada yang tidak selaras.
Tapi ia tetap adiknya.
“Apa tidak ada jalan lain?” tanya Dimas dengan nada putus asa.
Sania berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ada syarat. Rumah harus diawasi. Harus ada pendamping. Dan Anda harus membawa Aluna ke dokter setidaknya dua kali seminggu.”
“Saya lakukan semuanya,” jawab Dimas cepat.
“Tunggu dulu.” Sania menatapnya lebih dalam. “Sebelum saya tanda tangan, ada sesuatu yang harus Anda ketahui. Ini bukan kewajiban saya untuk memberitahu, tapi saya pikir Anda berhak tahu.”
Jantung Dimas berdetak lebih cepat. “Apa itu?”
“Selama di sini, Aluna tidak pernah menyebut satu nama pun dengan nada tenang… kecuali nama Anda.”
Dimas terdiam.
Sania melanjutkan, “Setiap kali dia marah atau ketakutan, dia menyebut nama Dimas. Kadang dengan nada memohon. Kadang menjerit.”
Tenggorokan Dimas mendadak kering. “Kenapa?”
“Saya tidak tahu.” Sania menggeleng. “Tapi kalau Anda ingin membawa dia pulang, Anda harus siap dengan kemungkinan bahwa… dia mengaitkan trauma terbesar hidupnya dengan Anda.”
Kata-kata itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
Apakah Aluna menyalahkannya?
Apakah sesuatu terjadi dua puluh tahun lalu yang membuat nama "Dimas" selalu muncul saat ketakutan?
Ia merasa dunia berputar. Tapi satu hal tetap sama:
Ia tidak akan meninggalkan Aluna lagi.
“Beri saya formulirnya.” Dimas berkata pelan namun tegas.
Sania menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya menyerahkan berkas izin pengambilan pasien.
Saat Dimas menandatangani, Sania bersuara lirih, “Saya akan siapkan Aluna. Tapi sebelum pulang, pergilah ke panti itu. Anda butuh memahami masa lalu adik Anda… sebelum dia kembali tinggal dengan Anda.”
Dimas menggenggam alamat panti itu erat-erat.
Meski di luar hujan mulai reda, hatinya justru semakin gelap.
Ketika ia berjalan keluar dari ruang perawat, ia melihat Digo menunggu di kursi roda dekat lift. Wajah pria tua itu pucat, matanya sayu tapi penuh tanda tanya.
“Bagaimana?” tanya Digo pelan.
Dimas menatapnya, lalu menatap kembali kertas alamat di tangannya.
“Kita harus pergi ke panti asuhan,” jawabnya, suaranya serak. “Kasih Ibu. Di sanalah semuanya dimulai.”
Digo mengangguk lemah, seolah ia sudah menduga.
Dimas tidak tahu apa yang menunggunya di sana.
Tapi satu hal pasti:
Pulangnya Aluna hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap.