NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mawar Putih dan Tahta yang Dingin

Setelah meninggalkan Clara yang masih mematung di pinggir jalan, suasana di dalam mobil Shaneen berubah drastis. Tidak ada lagi tawa manja. Shaneen menatap buket mawar putih di pangkuannya dengan tatapan kosong.

"Ke tempat Ayah, Damian," ucapnya lirih.

Mereka tiba di sebuah bangunan arsitektur megah di pinggiran kota—sebuah kolumbarium elit tempat abu para petinggi negara disemayamkan. Shaneen melangkah masuk ke lorong sunyi yang berdinding marmer putih. Di ujung lorong, di balik kotak kaca bernomor seri khusus, terpampang foto Orlando Tizon yang sedang tersenyum gagah.

Shaneen membuka pintu kaca itu, meletakkan mawar putih segar di samping guci abu ayahnya. Jarinya mengusap bingkai foto itu dengan sangat lembut.

"Ayah... mawar putih kesukaanmu," bisik Shaneen. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang porselen. "Maaf ya, putri kecilmu ini harus terus berbohong. Aku harus menjadi 'si manja' agar mereka tidak tahu kalau akulah yang memegang kendali perusahaan ayah sekarang."

Ia terisak pelan, namun suaranya tetap terdengar tegar. "Orang itu sudah mulai berani menyentuh Michael. Aku tidak akan membiarkannya, Ayah. Aku akan mengembalikan semua rasa sakit yang kau rasakan padanya. Tunggu sebentar lagi ya..."

Setelah beberapa menit dalam keheningan yang menyayat hati, Shaneen menghapus air matanya. Ia memakai kembali kacamata hitamnya. Dalam sekejap, aura "gadis rapuh" itu menghilang, digantikan oleh ketegasan seorang penerus tahta.

Mension Utama Keluarga Tizon – Sore Hari

Mension ini adalah simbol kekuasaan di The Golden Coast. Begitu mobil Shaneen memasuki gerbang, para pengawal membungkuk hormat. Shaneen melangkah masuk ke ruang keluarga yang luas, di mana Ibu Sera dan Nenek Martha sedang menikmati teh sore.

"Oh, lihat siapa yang pulang dengan wajah sembab," goda Ibu Sera sambil meletakkan cangkir tehnya. Ia melihat Shaneen yang langsung melempar tasnya ke sofa.

"Ibu... Aku capek banget, rasanya tubuhku mau remuk," rengek Shaneen, kembali ke mode rumahnya.

"Capek karja atau capek karena habis menempel terus sama Michael?" Ibu Sera tertawa kecil, melirik Nenek Martha. "Dulu katanya, 'Ibu, aku nggak mau nikah muda! Aku mau fokus bisnis!'. Tapi sekarang? Nempel banget kayak perangko, ke mana-mana yang dicari Michael Reins Miguel."

Shaneen memutar bola matanya, wajahnya memerah. "Ibu! Itu kan bagian dari taktik! Biar Michael tahu, kalau aku ini anak yang manis serta imut."

Nenek Martha, yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya bersuara dengan nada yang berat namun penuh selera humor yang gelap.

"Taktik atau hati, Shaneen? Nenek belum pernah melihatmu membiarkan seorang pria menjentik dahimu berkali-kali tanpa kau patahkan jarinya," ucap Nenek Martha sambil tersenyum misterius. "Sepertinya 'Perempuan Gila' kesayangan Nenek ini sudah mulai jinak oleh pesona si Miguel itu."

"Nenek juga ikut-ikutan!" Shaneen menenggelamkan wajahnya di pangkuan ibunya. "Michael itu menyebalkan! Dia itu sok tahu, sok pahlawan, dan hobinya menjentik dahi orang seolah-olah aku ini anak TK!"

"Tapi kau suka, kan?" Sahut Ibu Sera cepat, membuat Shaneen semakin salah tingkah. "Hati-hati, Shaneen. Jangan sampai karena terlalu asyik berakting jadi tunangan yang manja, ingat benci dan cinta itu beda tipis."

Shaneen terdiam, lalu ia duduk tegak. Matanya berkilat nakal. "Biarkan saja Bu, Justru itu permainannya. Aku ingin tahu, kapan si Singa itu sadar bahwa dia sedang jatuh cinta pada seekor naga yang menyamar jadi kucing rumahan."

Suasana mension itu penuh dengan tawa hangat, sebuah kontras yang luar biasa dari dinginnya kolumbarium tadi. Di mension ini, Shaneen adalah putri kesayangan, namun di luar sana, dia adalah penguasa yang tak terlihat.

Tawa di ruang keluarga itu perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang lebih berat saat Ibu Sera menatap lekat-lekat ke arah Shaneen. Rona merah di pipi Shaneen memudar, ia menyadari tatapan ibunya berubah menjadi sesuatu yang sangat rapuh.

Sera meraih kedua tangan Shaneen dan menggenggamnya erat. Jemarinya yang halus sedikit gemetar.

"Shaneen..." Suara Sera serak, penuh kekhawatiran yang selama ini ia simpan di balik senyumnya. "Ibu tahu apa yang kau lakukan di balik layar perusahaan ayahmu. Ibu tahu tentang malam-malam kau pulang dengan bau mesiu yang kau tutupi dengan parfum mahal."

Sera menatap mata putrinya dengan tatapan memohon. "Berhentilah, sayang. Belajarlah untuk lapang dada. Ayahmu sudah tenang. Jangan terjun terlalu dalam ke kegelapan itu lagi. Ibu takut... Ibu takut suatu hari kau tidak bisa menemukan jalan pulang."

Shaneen terpaku. Ia melihat ketakutan yang mendalam di raut wajah ibunya—ketakutan seorang wanita yang telah kehilangan suaminya dan kini merasa akan kehilangan putri tunggalnya.

"Ibu hanya punya kamu, Shaneen. Cuma kamu satu-satunya yang Ibu miliki di dunia ini," bisik Sera, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Berjanjilah pada Ibu, semuanya akan baik-baik saja. Berjanjilah kau akan tetap selamat, apa pun yang terjadi."

Sebelum Shaneen sempat menjawab, suara ketukan tongkat kayu di lantai marmer memecah suasana. Nenek Martha berdiri, punggungnya tegak lurus meski usianya sudah senja. Matanya yang tajam menatap Sera, lalu beralih pada Shaneen.

"Sera, kau bicara seolah putrimu ini adalah kaca yang mudah pecah," suara Nenek Martha terdengar dingin namun berwibawa.

Nenek Martha berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan cakrawala The Golden Coast. "Dengar, Shaneen. Kita bukan burung kecil yang ditakdirkan untuk selalu bersembunyi di balik dahan pohon setiap kali badai datang. Burung kecil yang terlalu lama bersembunyi hanya akan mati kelaparan atau dimangsa di dalam sangkarnya sendiri."

Nenek Martha berbalik, menatap Shaneen dengan kobaran semangat yang mengerikan. "Kadang, kita harus berani terbang sendiri. Kau harus menunjukkan sayapmu sebelum ada penghuni lain—orang-orang seperti yang sudah menghabisi nyawa ayahmu—yang merasa bisa mengambil alih langitmu."

"Ibu! Jangan pengaruhi dia lagi!" Potong Sera dengan suara meninggi karena cemas.

Nenek Martha tidak menghiraukan protes menantunya. Ia memegang dagu Shaneen dan menatapnya dengan lekat. "Dunia ini tidak mengenal belas kasihan, Shaneen. Michael adalah pelindung yang baik untuk urusan publik, tapi untuk urusan musuh di kegelapan, kaulah yang harus memegang pedang itu. Pastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh tahta Tizon selama kau masih bernapas."

Shaneen menatap kedua wanita hebat di depannya bergantian. Di tangan kirinya, ada air mata ibunya yang memohon kedamaian. Di tangan kanannya, ada ambisi neneknya yang menuntut kemenangan.

Shaneen menarik napas panjang, lalu mengecup tangan Ibu Sera dengan lembut.

"Aku janji, Bu. Aku akan baik-baik saja," ucap Shaneen dengan nada yang menenangkan, namun matanya melirik ke arah Nenek Martha dengan kilatan yang sama tajamnya. "Tapi Nenek benar... langit ini terlalu berharga untuk dibiarkan diambil oleh orang asing. Aku akan terbang, Bu. Tapi aku janji, aku akan selalu tahu jalan pulang ke pelukanmu."

Ibu Sera hanya bisa mendesah pasrah, ia memeluk Shaneen dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya. Sementara di sudut ruangan, Nenek Martha tersenyum tipis—senyum seorang ratu yang tahu bahwa penerusnya telah siap untuk berperang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!