NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 21 - RUANG YANG SELALU KOSONG DI DALAMNYA

Mike Miller bangun pagi dengan cara yang sama setiap harinya.

Alarm berbunyi pukul lima empat puluh lima. Bukan karena ia perlu bangun sepagi itu, sekolah mulai pukul tujuh dan rumahnya tidak terlalu jauh. Tapi Mike sudah menetapkan rutinitas itu sejak kelas sembilan dan rutinitas, baginya, adalah salah satu dari sedikit hal di dunia yang bisa ia kendalikan sepenuhnya.

Alarm berbunyi. Ia bangun. Tidak menekan tombol tunda.

Tidak pernah.

Lima empat puluh lima: bangun dan duduk di tepi kasur selama tiga puluh detik, membiarkan tubuh menyesuaikan diri dari tidur ke terjaga.

Lima empat puluh enam, ke kamar mandi, cuci muka, sikat gigi, mandi air dingin karena ayahnya pernah bilang bahwa orang-orang yang berhasil tidak memanjakan diri mereka di pagi hari.

Enam kurang seperempat, berpakaian. Seragam selalu digantung di malam sebelumnya supaya tidak ada kerutan yang tidak perlu. Kancing dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah, karena atas ke bawah lebih rawan melewatkan satu lubang dan Mike tidak punya waktu untuk mengulang.

Enam kurang sepuluh, sarapan. Selalu ada di meja karena ibunya bangun lebih awal dari semua orang di rumah itu dan menyiapkan sarapan adalah hal yang ia lakukan dengan cara yang tidak pernah membutuhkan ucapan terima kasih karena sudah menjadi bagian dari ritme rumah tangga yang sudah berjalan terlalu lama untuk dikomentari.

Enam tepat, Mike berdiri di depan cermin kamarnya untuk satu menit terakhir sebelum berangkat.

Ini bagian yang tidak ada dalam jadwal tertulis mana pun. Tidak ada yang tahu tentang ini. Tapi Mike melakukannya setiap pagi, berdiri di depan cermin itu, menatap dirinya sendiri dari kepala ke bahu, memastikan bahwa semua sudah pada tempatnya.

Rambut. Seragam. Ekspresi.

Yang terakhir adalah yang paling penting dan yang paling lama perlu ia persiapkan.

Karena ekspresi yang tepat tidak datang sendiri. Ia perlu dibentuk, dilatih, disesuaikan sampai terasa natural meski tidak sepenuhnya natural. Senyum yang tidak terlalu lebar supaya tidak terlihat berusaha keras tapi cukup lebar untuk terlihat ramah. Mata yang tenang. Bahu yang tidak tegang.

Mike menatap dirinya di cermin.

Bayangan yang menatap balik adalah seseorang yang, kalau dilihat dari luar, sudah sangat sempurna untuk ukuran anak enam belas tahun.

Tapi Mike sudah cukup lama menatap bayangan itu setiap pagi untuk tahu bahwa kesempurnaan yang terlihat dari luar tidak selalu konsisten dengan apa yang ada di dalamnya.

Ia memalingkan diri dari cermin.

Mengambil tasnya.

Dan berangkat ke sekolah.

---

Menjadi Mike Miller di Eldria International tidak sulit.

Itu yang paling aneh darinya, kalau ia sedang dalam mood untuk jujur dengan dirinya sendiri yang tidak sering terjadi. Semuanya datang terlalu mudah. Ketua OSIS di kelas sepuluh. Nilai yang selalu masuk sepuluh besar. Dikenal semua orang. Disukai semua orang. Setiap masuk ke ruangan apa pun ada yang menyapanya duluan, ada yang memberi tempat, ada yang ingin duduk di dekatnya.

Terlalu mudah.

Dan yang aneh dari sesuatu yang terlalu mudah adalah bahwa kamu tidak pernah tahu apakah kamu memang layak mendapatkannya atau kamu hanya beruntung karena lahir dengan wajah yang tepat dan suara yang tepat dan cara berjalan yang kebetulan terlihat seperti seseorang yang tahu ke mana ia pergi.

Mike tidak tahu jawabannya.

Sudah cukup lama tidak tahu dan sudah cukup terbiasa untuk tidak terlalu memikirkannya di siang hari ketika ada hal-hal lain yang perlu diurus. Tapi di malam-malam tertentu, di sela-sela antara selesai belajar dan belum cukup mengantuk untuk tidur, pertanyaan itu datang kembali seperti tamu yang tidak diundang tapi juga tidak bisa diusir.

Apa yang sebenarnya ada di balik semua ini?

Di balik ketua OSIS dan nilai bagus dan setiap orang yang menyapa duluan, ada apa?

Mike tidak pernah menemukan jawabannya.

Yang ia temukan adalah Ara.

---

Ia mengenal Ara sejak kelas satu.

Bukan perkenalan yang dramatis. Tidak ada momen yang bisa ia tunjuk dan katakan bahwa di sini, tepat di titik ini, ia menyadari bahwa orang ini berbeda dari yang lain. Lebih seperti sesuatu yang terbentuk perlahan, hari demi hari, dari duduk di kelas yang sama dan proyek yang dikerjakan bersama dan jam istirahat yang tanpa disengaja selalu berakhir di area yang sama.

Ara berbeda karena ia satu-satunya orang yang tidak memperlakukan Mike seperti ketua OSIS atau golden boy atau label apa pun yang sudah melekat pada namanya.

Tapi juga bukan karena Ara menatap Mike dan melihat sesuatu yang lebih dalam dari semua label itu.

Lebih karena Ara memiliki masalahnya sendiri yang tidak jauh berbeda.

Mike menyadari itu suatu hari di kelas sepuluh, ketika mereka sama-sama terlambat keluar dari ruang OSIS dan berjalan ke parkiran bersama, dan Ara berkata sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk diucapkan karena terdengar terlalu jujur untuk konteks percakapan yang sedang berlangsung.

*Kadang aku bosen jadi aku.*

Hanya itu. Lalu Ara langsung mengalihkan topik seolah tidak pernah mengucapkannya.

Tapi Mike mendengarnya.

Dan ia mengerti apa yang dimaksud dengan cara yang tidak ia bisa jelaskan kepada orang lain yang belum pernah merasakannya sendiri.

Karena ia juga bosan.

Bosan dengan menjadi sempurna. Bosan dengan senyum yang harus tepat dan kata-kata yang harus dipilih dan ekspektasi yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah cukup meski sudah dipenuhi karena selalu ada ekspektasi berikutnya yang sudah menunggu di baliknya.

Mereka tidak pernah membicarakan itu secara eksplisit.

Tidak perlu.

Ada bahasa yang terbentuk di antara mereka yang tidak perlu kata-kata, bahasa dari tatapan sekilas di tengah keramaian yang artinya: aku juga lelah, dan dari cara Ara tertawa di dekatnya yang berbeda dari cara Ara tertawa di depan orang lain karena sedikit lebih nyata dan sedikit lebih tidak rapi.

Mike menyimpan hal-hal kecil seperti itu.

Dan ia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri dengan cukup jujur apakah yang ia rasakan kepada Ara adalah perasaan yang lebih dari itu, karena pertanyaan itu terlalu terbuka dan terlalu tidak bisa ia kendalikan jawabannya dan Mike tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.

Lebih mudah untuk membiarkannya ada tanpa diberi nama.

Lebih mudah untuk hadir di sisinya dan menyebut dirinya teman dekat dan membiarkan orang-orang di sekolah berbisik tentang mereka tanpa mengkonfirmasi atau menyangkal karena ketidakjelasan itu terasa lebih aman dari memilih salah satu.

Sampai hari itu.

---

Hari ketika Gill masuk ke kelas XI-A dan meletakkan susu kotak di meja Ara dan berkata dengan nada yang sama datarnya seperti orang menyebutkan fakta cuaca bahwa mereka berdua adalah pasangan.

Mike sudah cukup berpengalaman untuk tidak memperlihatkan apa yang ia rasakan di tempat umum. Senyumnya tidak berubah. Kata-katanya tetap terukur. Ia keluar kelas dengan cara yang terlihat biasa dan berjalan ke ruang OSIS karena itu tujuan yang paling masuk akal yang bisa ia berikan kepada dirinya sendiri untuk bergerak ke satu arah.

Tapi di dalam ruang OSIS yang kosong karena masih terlalu pagi untuk ada rapat apa pun, Mike duduk di kursinya dan menatap meja di depannya selama cukup lama untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya yang tidak biasa bergerak.

Bukan marah.

Bukan cemburu dalam artian yang sederhana.

Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ada di tempatnya tiba-tiba dipindahkan tanpa pemberitahuan dan sekarang ada ruang kosong di tempat itu yang belum tahu harus diisi dengan apa.

Mike menatap mejanya.

Selama ini ia menjaga jarak yang tepat dari banyak hal. Dari keputusan yang terlalu emosional, dari situasi yang tidak bisa ia kendalikan, dari perasaan yang tidak bisa ia prediksi arahnya. Itu yang membuatnya bisa berfungsi dengan baik, bisa menjadi Mike Miller yang semua orang kenal, bisa menjalankan hari-harinya dengan presisi yang membuat semuanya terlihat mudah dari luar.

Ara adalah satu-satunya pengecualian yang ia izinkan.

Dan ternyata pengecualian itu sudah mengambil tempat yang lebih besar dari yang ia sadari.

Karena kalau tidak, berita yang pagi ini ia dengar tidak seharusnya membuat ia duduk di ruang OSIS yang kosong dengan sesuatu yang terasa seperti kehilangan meski ia tidak pernah memiliki apa pun untuk kehilangan.

Mike menarik napas panjang.

Meluruskan posisi duduknya.

Membuka buku catatannya ke halaman pertama yang kosong dan mulai menulis agenda rapat minggu depan yang belum perlu ditulis selama tiga hari ke depan tapi perlu ia tulis sekarang karena tangannya perlu melakukan sesuatu yang terasa produktif.

Di luar ruang OSIS, jam sekolah berjalan seperti biasa.

Di dalam ruang itu, Mike menulis agenda rapat dengan tulisan yang lebih rapi dari yang biasanya perlu karena kerapian adalah satu-satunya hal yang terasa bisa ia kendalikan saat itu.

---

Tiga hari setelahnya, Mike berdiri di lorong depan UKS dan menunggu Ara serta Via keluar.

Di sebelahnya, Gill bersandar di dinding yang berlawanan.

Mereka sudah berbicara. Mike sudah minta maaf. Gill sudah menjawab dengan cara yang tidak membutuhkan lebih dari yang perlu tapi terasa cukup. Dan Mike mendengarkan kata-kata Gill tentang Ara bukan barang yang dimiliki siapa pun dengan cara yang lebih dalam dari yang terlihat dari luar.

Karena Mike tahu Gill benar.

Itu yang paling sulit diterimanya.

Bukan bahwa Ara memilih orang lain. Bukan bahwa orang yang dipilih itu adalah seseorang yang selama ini ada di pinggiran sekolah tanpa pernah benar-benar terlihat oleh kebanyakan orang. Bukan bahwa semuanya terjadi terlalu cepat untuk Mike sempat memproses.

Yang paling sulit adalah bahwa cara Gill membicarakan Ara, cara ia mendeskripsikan Ara sebagai seseorang yang sudah terlalu lama menjaga semua orang selain dirinya sendiri, terdengar seperti sesuatu yang Mike seharusnya sudah mengatakan duluan.

Tapi tidak pernah mengatakan.

Karena Mike terlalu sibuk dengan versinya sendiri tentang Ara yang nyaman baginya, versi yang memahami tekanan menjadi sempurna, versi yang tidak membutuhkan lebih dari kehadiran satu sama lain sebagai konfirmasi bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi hal yang sama.

Ia tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana keadaan Ara di balik semua itu.

Mike menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap plafon lorong.

Di sebelahnya, Gill masih diam.

Dan Mike, yang selama hidupnya selalu tahu kata-kata yang tepat untuk situasi apa pun, tidak menemukan satu pun kata yang tepat untuk saat ini.

Jadi ia diam juga.

Menunggu pintu UKS terbuka.

Dan ketika akhirnya terbuka dan Ara keluar dengan Via di belakangnya, Mike menatap Ara yang langsung menatap ke arah mereka berdua dengan ekspresi yang sudah mempersiapkan diri untuk hal terburuk.

Mike tersenyum.

Bukan senyum yang ia bentuk di depan cermin setiap pagi. Bukan yang terukur dan tepat ukurannya dan sudah dilatih sampai terasa natural.

Hanya senyum biasa.

Sedikit lebih kecil dari biasanya. Sedikit lebih lelah. Tapi lebih dari itu, lebih nyata dari hampir semua senyum yang sudah ia berikan kepada siapa pun di sekolah ini.

"Semuanya baik-baik saja," ia berkata.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia mengucapkan kalimat itu dan tidak sedang mempersiapkan versi yang perlu ia sampaikan kepada dirinya sendiri agar terdengar meyakinkan.

Karena memang begitu keadaannya.

Baik-baik saja.

Tidak sempurna. Tidak sesuai rencana. Tapi baik-baik saja dengan cara yang, Mike mulai belajar, mungkin lebih penting dari sempurna.

---

Via menariknya pergi dari sana beberapa menit kemudian.

Ia mengikuti langkah Via ke arah kantin, berjalan di sebelahnya dengan tangan di saku dan langkah yang tidak terburu-buru.

Via tidak langsung bicara. Via jarang langsung bicara ketika baru mulai berjalan bersama seseorang, seperti ia perlu beberapa langkah dulu untuk memutuskan apakah percakapan yang akan dimulai layak untuk energi yang perlu dikeluarkan.

"Mike," Via berkata akhirnya, setelah sekitar dua puluh langkah.

"Hm."

"Kamu baik-baik aja?"

Mike menoleh ke Via sebentar. Pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan ke Ara di UKS tadi, tapi dari arah yang berbeda dan dengan nada yang berbeda pula. Bukan khawatir yang dibungkus sopan. Lebih seperti pertanyaan langsung dari seseorang yang tidak akan puas dengan jawaban yang tidak jujur.

"Lumayan," Mike menjawab.

Via diam dua langkah. "Lumayan yang akan jadi baik-baik aja, atau lumayan yang artinya belum tahu?"

Mike menatap lorong di depannya.

"Belum tahu," ia menjawab akhirnya. Lebih jujur dari yang biasanya ia berikan kepada pertanyaan seperti itu.

Via mengangguk. Tidak mengomentari. Tidak memberi saran yang tidak diminta. Tidak mencoba mengisi keheningan dengan kata-kata yang terasa seharusnya menghibur tapi tidak benar-benar bisa.

Hanya berjalan di sebelahnya.

Dan Mike, yang selama hidupnya selalu merasa perlu untuk memenuhi setiap keheningan dengan sesuatu yang terdengar tepat dan terukur dan sesuai ekspektasi, menemukan bahwa berjalan di lorong sekolah dalam diam di sebelah seseorang yang tidak memintanya untuk menjadi apa pun terasa seperti istirahat yang lebih nyata dari apapun yang ia lakukan dalam waktu cukup lama.

Mereka sampai di depan kantin.

"Via," Mike berkata sebelum masuk.

Via menoleh.

"Makasih." Ia tidak menjelaskan untuk apa. Tapi Via mengangguk dengan cara yang menyampaikan bahwa ia mengerti tanpa perlu penjelasan.

Mereka masuk ke kantin bersama.

Dan untuk pertama kalinya dalam cukup lama, Mike tidak mempersiapkan ekspresi yang tepat sebelum masuk ke ruangan yang penuh orang.

Ia hanya masuk.

Dengan wajah yang ada.

Dan menemukan bahwa ternyata itu sudah cukup.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!