NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Luka yang Tak Terlihat

Siang itu, kantin rumah sakit cukup ramai.

Aroma makanan hangat bercampur dengan suara percakapan para dokter muda dan mahasiswa koas yang sedang beristirahat. Di sudut dekat jendela, Camille Rivera duduk sendirian dengan nampan makan siang yang hampir tak disentuh.

Ia sedang menunggu.

Menunggu satu orang.

Daniel De Luca.

Beberapa minggu terakhir, kebersamaan mereka semakin intens. Jadwal praktik yang sama, diskusi kasus yang panjang, bahkan kopi malam setelah jaga yang melelahkan.

Daniel selalu hadir dengan perhatian kecil yang sederhana—membawakan air mineral tanpa diminta, mengingatkan waktu istirahat, atau sekadar bertanya, “Kau sudah makan?”

Perhatian-perhatian itu yang membuat hati Camille perlahan luluh.

Ia merasa nyaman.

Merasa dilihat.

Merasa dihargai.

Perasaan yang jarang ia rasakan di rumahnya sendiri.

Camille tersenyum kecil saat melihat pesan dari Daniel.

“5 menit lagi. Tunggu ya.”

Ia membalas singkat.

“Oke.”

Namun senyum itu perlahan memudar ketika bayangan seseorang berdiri di hadapannya.

Langkah kaki yang tegas.

Sepatu hak tinggi yang terdengar keras di lantai.

Camille mendongak.

Wajahnya langsung pucat.

“Mama …”

Elena Rivera berdiri di sana dengan tatapan tajam yang membuat udara di sekitar mereka mendadak membeku.

Beberapa orang mulai memperhatikan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Elena dingin, menusuk.

Camille berdiri perlahan. “Mama… ini tempatku praktik.”

“Elena Rivera tidak punya anak perempuan yang kabur dari rumah tanpa izin.”

Nada suaranya semakin meninggi.

Beberapa mahasiswa mulai saling berbisik.

Camille menunduk. “Aku tidak kabur. Aku hanya—”

“Diam!”

Tamparan itu datang begitu cepat.

Suara kerasnya menggema di kantin.

Semua terdiam.

Camille terdorong sedikit ke samping. Pipi kirinya langsung memerah.

“Berani sekali kau mempermalukan keluarga kita!” bentak Elena. “Satu minggu kau menghilang! Tinggal di apartemen kakakmu seperti perempuan tak tahu diri!”

Camille gemetar.

Ia memang pergi dari rumah seminggu lalu. Ia tak tahan lagi.

Setiap hari direndahkan di hadapan adik laki-lakinya, Mateo Rivera. Setiap keputusan selalu dianggap salah. Setiap pencapaian dianggap tak berarti hanya karena ia perempuan.

Papanya bahkan tak pernah membelanya.

Baginya, anak laki-laki adalah kebanggaan.

Anak perempuan hanyalah pelengkap.

“Mama, tolong jangan di sini…” suara Camille bergetar.

Namun Elena justru menarik lengannya kasar.

“Kau pikir dengan menjadi dokter kau bisa melawan keluarga? Kau tetap perempuan! Tempatmu di rumah, bukan di sini pamer kepintaran!”

Beberapa orang berdiri hendak melerai, tapi ragu.

Elena mendorong Camille hingga hampir terjatuh.

“Kau memalukan! Tinggal bersama kakak laki-lakimu tanpa izin Papamu! Apa kata orang?!”

Air mata Camille jatuh.

Bukan karena sakit fisik.

Tapi karena luka yang terlalu lama dipendam.

Dan saat itulah suara tegas terdengar dari belakang.

“Cukup.”

Daniel berdiri di sana.

Wajahnya biasanya tenang, kini tegang.

Ia melangkah mendekat dan berdiri di antara Camille dan ibunya.

“Ini rumah sakit, Nyonya,” ucapnya terkendali. “Jika ada masalah pribadi, jangan lakukan kekerasan di sini.”

Elena menatap Daniel dengan tajam.

“Kau siapa? Jangan ikut campur urusan keluarga kami.”

“Saya rekan praktiknya.”

Tatapan Daniel tidak goyah.

“Elena Rivera tidak butuh nasihat dari anak muda.”

“Tapi Camille butuh perlindungan,” jawab Daniel pelan namun tegas.

Kantin benar-benar sunyi sekarang.

Elena mendengus.

“Kau pikir kau bisa menyelamatkannya? Anak ini terlalu lembek! Terlalu manja!”

Camille akhirnya bersuara, meski gemetar.

“Aku tidak manja, Ma… Aku hanya ingin dihargai.”

Tamparan kedua hampir melayang, tapi Daniel menangkap pergelangan tangan Elena sebelum mengenai wajah Camille.

Gerakan itu cepat, tapi tetap penuh kontrol.

“Tolong,” suara Daniel lebih rendah sekarang. “Hentikan.”

Elena menarik tangannya kasar, wajahnya merah menahan amarah dan malu karena diperhatikan banyak orang.

“Baik,” katanya dingin. “Kalau kau memilih memalukan keluarga, jangan pernah kembali ke rumah.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis.

Elena berbalik dan pergi dengan langkah cepat.

Beberapa detik setelahnya, kantin masih hening.

Camille berdiri kaku.

Daniel menatapnya pelan.

“Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu membuat air mata Camille pecah.

Ia tidak menjawab.

Daniel menariknya perlahan menjauh dari kerumunan, menuju lorong yang lebih sepi.

Begitu mereka sampai di sudut tangga darurat, Camille terduduk lemas.

“Aku selalu salah,” isaknya. “Sejak kecil. Apa pun yang kulakukan tidak pernah cukup.”

Daniel duduk di depannya.

“Karena kau perempuan?”

Camille mengangguk.

“Papaku hanya bangga pada Brian dan Mateo. Semua yang dia lakukan selalu benar. Aku harus sempurna. Tidak boleh membantah. Tidak boleh gagal. Bahkan saat aku diterima di fakultas kedokteran terbaik, Papa hanya berkata—itu biasa saja.”

Daniel mengepalkan tangannya pelan, menahan amarah.

“Kau tahu kenapa aku menghormatimu?” tanyanya.

Camille menggeleng.

“Karena kau kuat. Bukan karena nilai atau prestasimu. Tapi karena kau tetap berdiri meski tidak pernah dipeluk.”

Camille menatapnya.

Mata Daniel jujur.

“Aku melihat caramu memperlakukan pasien. Caramu memperhatikan detail. Itu bukan karena kau ingin dipuji. Itu karena kau peduli.”

Isak Camille perlahan mereda.

“Kenapa kau baik padaku?” tanyanya lirih.

Daniel terdiam beberapa detik.

Karena di situlah konflik itu mulai nyata.

Ia menyadari sesuatu.

Ia nyaman dengan Camille.

Ia peduli padanya.

Ia ingin melindunginya.

Namun di sudut hatinya, masih ada satu nama.

Valeria.

Daniel menghela napas.

“Karena kau pantas diperlakukan baik.”

Jawaban yang aman.

Tapi tidak sepenuhnya jujur.

Camille menunduk.

Ia tahu perasaannya tumbuh.

Ia tahu ia mulai berharap.

Dan itu menakutkan.

Di saat yang sama, di ruang ICU beberapa lantai di atas mereka, Valeria masih terbaring diam.

Tanpa sadar bahwa di luar sana—

Hati orang-orang di sekitarnya mulai berubah arah.

Camille berdiri perlahan.

“Aku tidak akan pulang,” ucapnya lebih tegas sekarang. “Aku tidak akan kembali hanya untuk direndahkan.”

Daniel mengangguk.

“Jika kau butuh tempat aman… kau punya teman.”

Camille menatapnya.

Teman.

Kata itu terasa hangat sekaligus menyakitkan.

Karena ia mulai menginginkan lebih dari sekadar itu.

Namun ia juga tahu—

Hati Daniel belum sepenuhnya kosong.

Dan konflik itu kini tak lagi hanya tentang keluarga.

Tapi tentang perasaan yang tumbuh di waktu yang tidak tepat.

Di lorong rumah sakit yang sunyi itu—

Dua hati berdiri berdampingan.

Satu mulai berharap.

Satu masih terbelah.

1
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!