Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Naka si-alan!
Shanum menatap tajam Naka, "sejak kapan otak Lo mesum begitu?" tuduhnya menunjuk ke arah wajah Naka.
Naka hanya mendengus terkekeh kecil, tanpa menjawab apapun ia menggaruk alisnya. Dan apa yang dilakukan Shanum sekarang? Ia justru mendekati Naka. Tidak untuk duduk di pangkuannya, tapi----
Shanum menaikan pan tat di atas meja samping laptop Naka dan duduk disana sampai kakinya menggantung, ia ayunkan kecil kemudian menarik sedikit ujung rok pendek yang naik ketika ia duduk.
"Ka, gue laper..." rengek Shanum ujung-ujungnya. Selalu, tatapan memelas seperti esok mati itu adalah kelemahan Naka.
Oke, jika Chika dan Pandu mencari kelemahan dan pawang dari seorang Mainaka Praveen Rajendra sebenarnya cukup dekat.
"Mau masak mie?" tanya Naka, ia kembali beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah rak kabinet, dari rak ke dua teratas ia mengambil dua mie cup dan sosis siap makan.
Dulu, saat pertama kali datang kesini, Shanum tak expect Naka begitu prepare, katakan ia dibesarkan oleh tante Desti yang memang selalu mengajarkan Naka untuk prepare masalah perut dimanapun apalagi tempat kerja.
Lalu ia menaruh itu di meja, "bikin gih, gue juga masih laper, tadinya lagi makan, tapi udah ngga selera nerusin makan yang itu." Ia menunjuk sisa makanan tadi dengan dagunya, yang sudah kembali dibungkus plastik bersiap meluncur ke tempat sampah.
Lagi, sekali lagi Shanum main masak-masakan begini, dengan ia yang menjadi pembantu rumah tangganya, sementara si tuan muda tetap menjadi tuan muda, "hah, lo mah sengaja banget jemput gue tuh buat disuruh-suruh begini kan?"
Naka tersenyum menahan tawa yang semakin geli, "anggap aja simulasi, Sha.."
Shanum menatap malas Naka, "Lo tau ngga kenapa gue mengurungkan niat buat daftar OSIS taun kemarin?"
Naka mengangkat dagunya seolah sedang bertanya----kenapa?
Shanum meraih dua cup mie, "karena Lo udah daftar duluan dan gue udah feeling Lo punya jabatan ketos. Gue bosen liat muka lo lagi Lo lagi dari dulu, " ia langsung mengambil langkah seribu ke arah dapur untuk menyeduh mie cup dan membawanya kembali ke dalam ruangan Naka, sementara Naka tertawa renyah.
Ada suara kresek-kresek di dapur ketika bang Handi mondar-mandir, "eh mbak Sha...lagi apa?"
"Seduh mie dong bang, hujan-hujan begini, buat yang mulia raja Mainaka jelek Rajendra."
Bang Handi tertawa mendengar ocehan Shanum. Interaksi sepasang remaja ini memang lucu bin ajaib. Jarang terlihat romantis, tapi justru disitulah letak manisnya.
Sikap manis dan romantis yang sengaja diciptakan tidak untuk semata-mata mendapatkan perhatian.
"Ngopi mbak, yang paling enak sih..." Bang Handi menunjukan gelas setengah kosong kopi hitam yang tengah disesapnya.
Shanum menarik tuas air panas dari dispenser, lalu menutup kembali tutup cup yang tadi ia buka setengahnya, membawa itu kembali ke ruangan.
"Ka..." panggilnya meminta dibukakan kembali pintu. Namun samar terdengar obrolan ramai di depan sana. Mbak Fitri seperti sedang menyapa akrab beberapa orang yang dikenalnya, cukup terdengar sebab hujan yang turun kini semakin kecil hampir berbentuk gerimis mengundang saja. Iya...mengundang rasa lapar.
Sejurus kemudian, Naka membuka pintu dan menarik Shanum masuk ke dalam dengan segera, "eh ..ini masih panas Ka, ntar tumpah ihhh .." Shanum bahkan menyerahkan salah satunya pada Naka karena rasa panas yang membakar di telapak tangan.
"Savero sama Lutfi di depan." Lirih Naka tanpa mukadimah, memancing Shanum untuk membeliak. Bahkan saking seringnya, para karyawan sudah terbiasa dengan kedatangan mereka yang Naka bawa ke ruang kerjanya.
"Ha?!"
Dan Shanum tak bisa lebih panik lagi saat Naka kembali angkat bicara, "mereka biasa datang kesini, lewat samping juga."
"Ihhhh mau ngapain sih?!" sewot Shanum mulai panik, menaruh cup mie di meja.
"Terus gimana?!" tambahnya lagi.
Baru saja bicara dari balik pintu ruangan suara Lutfi menyeru memanggil, "Ka!" disusul Vero mengetuk pintu ruangan. Tak ada lagi kesempatan untuk Shanum lari ataupun mengelak sekarang.
"Awas!"
Satu-satunya ide yang terpikir oleh Shanum saat itu adalah, menyerbu masuk ke dalam kolong meja Naka, dimana space tertutup yang bisa ia temukan dengan cepat, Naka hampir membuka pintunya, tapi Shanum menahan, "bentar ih, itu tas gue."
Heboh sekali gadis itu.
Heboh, panik dan kesusahan yang ia buat sendiri.
Naka bukannya membantu justru tersenyum geli sambil mendengus konyol, dengan santainya ia hanya menonton kehebohan Shanum. Padahal, kalaupun teman-temannya itu tau kebenaran yang sebenar-benarnya ia sudah sangat siap, tapi Shanum....
Hampir masuk, Shanum malah kembali bangkit, "eh, sepatu...sepatu...bentar Ka, jangan dibukain dulu ih .." hecticnya menunjuk ke arah sepatunya lalu meraup itu untuk ikut masuk ke dalam kolong meja bersama dirinya dan tasnya.
"Udah?" tanya Naka begitu santai siap meraih handle pintu.
Jempol Shanum mengacung dari bawah meja ke atas, dan hal itu cukup membuat Naka geli-geli konyol melihat kelakuan tunangannya itu.
Ceklek..
"Hah, anjirrr lama banget! Lagi ngapain sih Lo, nonton bo kep ya?" tuduh Lutfi jelas hanya candaan belaka.
Shanum melotot, sebab...ia terlupa dengan mie miliknya.
"Widih...bau mie, cocok!" Vero, si penyuka makan itu memang selalu notice dengan makanan, meski begitu....badannya justru yang paling bagus, selain ia yang memang senang olahraga, mungkin ia tipe manusia yang makan banyak tapi tak gendut.
Dari celah bawah meja dapat Shanum lihat bayangan yang bergerak entah siapa yang menarik sofa jadi lebih dekat ke arah meja yang jelas, dugh!
Kaki si alan seseorang tak sengaja menendang meja. Shanum menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
"Maruk amat bang, lapar? Bikin sampe dua begitu.."
Naka menarik kursinya menatap Shanum sebentar yang dibalas tatapan sengit Shanum dengan kepalan tangannya dari bawah.
Ada dengus tertahan dan---yeaah! Naka tentu saja duduk di tempatnya menempatkan Shanum dalam posisi yang what the fu-ckkkk! Mainakaaaaa!
Sebab pandangan Shanum tepat di area bawah perut Naka yang duduk di depannya, sangat dekat dan apa itu...
Ia baru saja mengingat sesuatu, ia hanya memberikan baju dan celana ganti saja untuk Naka, lalu untuk yang di dalam?
An jing sekaliiii! Shanum membayangkan hal yang tidak-tidak.
Terdengar sekali dari atasnya Naka menggeser cup mie ke arah Savero, "Lo kalo mau, bikin sendiri Fi..." sempat Naka beranjak demi mengambil satu lagi mie cup dari rak dan memberikan itu untuk Lutfi.
Ada suara pintu terbuka dan obrolan santai ala-ala Savero, Lutfi dan Naka disana yang tak begitu dianggap oleh Shanum, karena yang jelas....
Matanya sampai juling ketika dengan sengaja Naka menggeser kursinya lebih mepet lagi dan duduk menghadap ke arah Shanum.
Nakaaa si-alan! Jerit Shanum membatin dan memalingkan wajahnya yang panas hingga ke telinga.
.
.
.
.