NovelToon NovelToon
Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Mertua Kejam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ...

Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.

Penasaran ikutin terus ya kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Kantor Imigrasi Jadi Saksi Pertemuan Awal

Anisa berdiri sedikit ke belakang dari majikannya, menenteng map cokelat yang sedari tadi sudah ia cek berulang kali. Ruang imigrasi itu penuh, tapi sunyi semua orang duduk tenang nyaris tidak ada yang berisik, mereka hanya sedang menunggu namanya dipanggil oleh petugas.

  "Masih menunggu Antrian," gumam gadis itu.

Anisa bukan datang untuk dirinya sendiri, tetapi ia datang mengantar bosnya mengurus paspor. Sedari tadi tatapan gadis itu lurus ke depan, dan sesekali menunduk, tidak banyak bicara ia hanya mendengar petugas menyebutkan nomor antrian yang mulai di panggil ke depan.

Sebagai ART ia sudah terbiasa selangkah dibelakang dengan majikannya, iapun memilih kursi kosong di bagian pojok sana, duduk tanpa terlihat mencolok, dan mengamati tanpa banyak bicara.

Di barisan kursi seberang, seorang laki-laki datang bersama dua orang perempuan. Satu paruh baya, satu lagi masih muda. Cara mereka berbicara membuat Anisa langsung tahu mereka adalah sebuah keluarga.

  "Umi nomornya sudah keluar," kata adik perempuannya itu.

  Perempuan paruh baya itu mengangguk. "Iya duduk dulu."

“Umi”.

Kata-kata itu terdengar asing tapi hangat di telinga Anisa. Ia baru tahu kemudian, laki-laki itu memiliki keturunan Arab. Berbeda dengan dirinya yang berasal dari kampung kecil di Jawa Tengah, tumbuh dengan panggilan sederhana yang tak pernah istimewa.

Dan tak lama kemudian, salah satu keluarga itu berdiri dari duduknya, ia melangkah ke arah Anisa yang masih duduk menunggu nomor antrian.

Pemuda berkulit sawo matang itu bertanya pada Anisa.

“Maaf, Mbak… ini loket foto di sebelah sana, ya?”

Anisa menoleh. Laki-laki itu berdiri tak jauh darinya, map biru di tangan, raut wajahnya sopan. Ia mengangguk kecil.

“Iya, Mas. Lurus saja, nanti belok kiri.”

“Terima kasih.”

Hanya itu. Singkat. Biasa. Tidak ada yang istimewa.

Namun entah kenapa, setelah itu Anisa beberapa kali merasa pandangannya bertemu dengan pandangan laki-laki itu, bukan tatapan yang menganggu, lebih memastikan jika orang yang ditatap masih ada dihadapannya.

Saat urusan hampir selesai, mereka kembali bertemu di dekat pintu keluar. Laki-laki itu terlihat ragu sejenak, lalu memberanikan diri.

“Mbak… kalau boleh, saya minta nomor WhatsApp?”

Anisa terdiam. Bukan karena tidak mau, tapi karena ia benar-benar tidak hafal nomor ponselnya sendiri. Ia jarang menelepon, jarang pula dihubungi.

“Aku… eh… aku nggak hafal nomor, Mas,” katanya jujur, sedikit kikuk.

Laki-laki itu tersenyum kecil, tidak memaksa. “Oh… nggak apa-apa.”

Anisa menarik napas, lalu berkata pelan, “Kalau Instagram… ada.”

Ia menyebutkan nama akunnya. Laki-laki itu mencatat cepat di ponselnya.

Tidak ada janji ataupun rencana bertemu lagi, namun tatapan pria itu seolah mengisyaratkan sesuatu yang belum dipahami oleh Anisa.

Mereka berpisah di depan gedung imigrasi, kembali ke hidup masing-masing. Anisa mengantar bosnya pulang, sementara laki-laki itu pergi bersama Umi, dan adiknya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam di rumah majikan terasa selalu berbeda, setelah semua penghuni terlelap, suara televisi yang sejak sore menyalah kini sudah mati, lampu-lampu di beberapa ruang dipadamkan dan lorong-lorong panjang kini hanya diterangi dari cahaya dinding.

  Anisa menutup pintu dapur pelan, setelah memastikan peralatan dapur bersih, ia menggantungkan celemeknya di paku dekat wastafel, tubuhnya lelah tapi hatinya lega karena hari ini ia menyelesaikan tugasnya tanpa teguran.

Ia melangkah kecil, ke kamar belakang, tepatnya khusus kamar pembantu, tidak besar juga tidak terlalu kecil, tapi rapi dan bersih. Satu kasur tipis, lemari plastik dua tingkat, dan cermin kecil di dinding. Di sudut, sajadahnya terlipat rapi.

Anisa duduk di tepi kasur, kakinya pegal sejak pagi ia mengantar majikan ke kantor imigrasi mengurus paspor, sesampainya di rumah ia langsung disambut dengan pekerjaan lain.

"Akhirnya pekerjaanku selesai juga," gumam Anisa lega.

  Ia pun mulai meraih handphone salah satu alat penghibur di tengah-tengah waktu senggangnya bekerja, di saat Anisa mulai membuka kunci handphone-nya, tiba-tiba ada suatu notifikasi.

Zaki mengikuti Instragramnya.

Nama itu membuatnya berhenti sejenak, ia membuka foto profil, wajah yang sama, pemuda di imigrasi tadi, ada sedikit senyum di tengah-tengah wajah lelahnya, laki-laki itu ternyata benar-benar mengikutinya.

"Ah... baru kenal sebentar," gumam Anisa tapi bibirnya tak lepas melebarkan senyum

Anisa ragu jarinya menggantung di layar. "Mau apa ya dia follow aku?" batinnya bertanya.

Belum sempat ia menutup aplikasi, pesan masuk.

Zaki: Assalamu’alaikum. Ini Zaki yang tadi di imigrasi. Maaf kalau mengganggu.

Anisa menatap layar beberapa detik. Hatinya sedikit canggung. Tidak terbiasa dihubungi laki-laki asing.

Namun pesannya sopan. Tidak berlebihan. Ia mengetik balasan singkat.

Anisa: Wa’alaikumussalam. Iya, gak apa-apa.

Tak lama, balasan datang lagi.

Zaki: Terima kasih sudah kasih IG. Tadi saya mau minta WA tapi katanya gak hafal.

Anisa tersenyum kecil malu.

Anisa: Iya, jarang dipakai soalnya.

Zaki: Oh begitu. Lagi istirahat?

Anisa: Iya, baru selesai kerja.

Zaki tidak langsung membalas. Anisa mengira percakapan selesai. Ia bahkan sudah hendak meletakkan ponsel ketika notifikasi muncul lagi.

Zaki: Kerja di Jakarta sudah lama?

Anisa berpikir sejenak. Pertanyaannya masih wajar.

Anisa: Baru setahun.

Zaki: Asalnya Jawa Tengah ya?

Anisa sedikit terkejut. “Kok dia tahu,” batinnya.

Anisa: Iya.

Zaki mengirim pesan suara singkat. Suaranya terdengar lembut dan tenang.

“Saya tadi mau bilang terima kasih juga karena sudah bantu jelasin alur di imigrasi. Umi saya jadi gak bingung.”

Anisa tak menyangka ia memperhatikan hal kecil itu. Padahal ia hanya membantu sebisanya karena melihat ibu Zaki terlihat kebingungan.

Anisa: Sama-sama. Kebetulan sering nganter majikan.

Zaki: Semoga gak keberatan saya chat. Kalau mengganggu bilang saja.

Kalimat itu membuat Anisa merasa dihargai. Tidak memaksa, tidak genit.

Anisa: Gak mengganggu kok.

Percakapan berlanjut ringan. Tentang cuaca Jakarta yang panas. Tentang antrean imigrasi yang panjang. Tentang rencana Zaki membuat paspor untuk orang tuanya.

Tidak ada rayuan. Tidak ada kata manis. Hanya obrolan biasa. Justru itu yang membuat Anisa tenang.

Jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ia harus bangun subuh.

Anisa: Saya tidur dulu ya. Besok kerja pagi.

Zaki: Baik. Istirahat yang cukup. Selamat malam, Anisa.

Anisa tidak langsung membalas. Ia membaca ulang pesan terakhir itu. Lalu mengetik singkat.

Anisa: Selamat malam.

Ia meletakkan ponsel di samping bantal. Lampu kamar dimatikan. Ruangan menjadi gelap, hanya cahaya bulan masuk dari ventilasi kecil.

Anisa menutup mata, dalam benaknya Zaki hanya seorang kenalan yang kebetulan bertemu di gedung imigrasi, tidak ada kata istimewa dalam pertemuan itu.

Namun suatu hal yang belum ia tahu bahwa pesan sederhana malam ini adalah awal dari cerita panjang yang kelak mengubah hidupnya.

Dan untuk saat ini Anisa hanya seorang perantau yang ingin bekerja dengan baik membantu keluarganya di kampung.

Bersambung .....

Assalamualaikum ....

Setelah lama merenung akhirnya bisa up juga.

Semoga banyak yang suka ya dengan kisah Anisa dan Zaki. Dan minta Alfatihah juga ya untuk almarhum Zaki....

1
Soraya
mampir thor
Ina Jumi
kok sy bingung y ringkasan creta sama jln ceritanya kok g nyambung
Naufal hanifah
/Heart//Heart//Heart/
Seroja_layu
ya allah nyesek baca ini😓
Nar Sih
blm end bnr an kan kak ,besok masih lanjut kan kak anisa dan zaki nya🙏
Asyatun 1
lanjut
Nar Sih
terharuu kakk😭😭
Amalia Putri
Tambah semangat Zaki,lanjut thor💪💪💪💪
Seroja_layu
beruntung anisa... di cintai secara ugal ugalan
Nar Sih
selamat ya nisa dan zaki ,semoga sehat calon byi nya juga ibu nya
Nar Sih
ya alloh pedes bnr ucapan abi mu ya zaki ,padahal orang beragama tpi kok gk bisa jga omgan ,sabarr nisa dan zaki ,pergi jauh aja pulang kampung biar jauh dri keluarga mu
Nar Sih: kak mau tanya kok penasaran ,sampai sekarang anisa ngk tau makam nya zaki ya ,trus ank nya gimana kak
total 2 replies
Anisa-tri
Astagfirullah Tuan Khalid pernyataan anda seperti orang yang tak punya pendidikan. gak kebayang gimana Anisa menghadapi itu. jika memang yang dikatakan itu nyata
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Nar Sih
sabarr zaki dan anisa💪
Nar Sih
zaki suami yg baik dan bnr,,syg banget sama anisa ,moga ngk ada rencana jht ibu mertua mu ke kmu ya nisa
Seroja_layu
romantis...
Seroja_layu
aaaaaaa..... sedih banget ya allah.
Anisa-tri
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Anisa
Sugiharti Rusli
pasti secara ekonomi mereka b-2 masih harus struggling kan,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!