Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 228
Perbatasan Lautan Hampa – Koordinat Sektor Terlarang.
Kabut ungu di luar Bahtera Teratai Merah perlahan menipis, memperlihatkan pemandangan yang membuat siapa pun menahan napas.
Di tengah kehampaan yang sunyi, melayang sebuah "Pulau" raksasa.
Itu bukanlah pulau yang terbuat dari tanah dan batu. Itu adalah kerangka kepala (tengkorak) seekor makhluk purba yang ukurannya sebesar bulan kecil. Tulang-tulangnya putih pucat, memancarkan aura kuno yang menekan jiwa.
Di rongga mata tengkorak raksasa itu, terlihat api kehidupan. Obor-obor raksasa menyala, dan bangunan-bangunan primitif yang terbuat dari tulang rusuk dan kulit binatang didirikan di sana.
"Pulau Tulang..." gumam Nana, mencocokkan koordinat di Peta Bintang. "Peta mengatakan Gerbang Portal Kuno menuju Sektor Pusat terletak di dalam rahang tengkorak itu."
"Tempat yang menyeramkan," komentar Shu Ling, ekor tikusnya melingkar gugup. "Aku tidak mencium bau harta karun. Hanya bau keringat dan darah lama."
Shi Hao berdiri di haluan kapal, menatap pulau itu dengan mata menyala.
"Ini bukan sekadar tulang," kata Shi Hao. "Ini adalah sisa jasad Leviathan Void. Makhluk yang bisa menelan bintang."
"Siapa pun yang tinggal di sana dan menjadikan mayat monster ini sebagai rumah... pasti bukan orang sembarangan."
Tiba-tiba, dari arah pulau tulang itu, sebuah benda melesat dengan kecepatan supersonik.
WUUUSH!
Benda itu menghantam perisai energi kapal.
BLARR!
Seluruh Bahtera Teratai Merah bergetar hebat, miring ke samping.
"Serangan musuh?!" teriak Tie Shan siaga.
Shi Hao melihat benda yang menancap di perisai energi (yang retak sedikit). Itu bukan energi atau sihir.
Itu adalah sebatang Tombak Tulang raksasa sepanjang sepuluh meter. Tidak ada Qi di tombak itu. Hanya kekuatan lemparan fisik murni yang begitu besar hingga mampu meretakkan perisai kapal tingkat Dewa.
"Kekuatan fisik murni..." Shi Hao menyipitkan mata. "Menarik."
Dari arah pulau, puluhan sosok melompat tinggi ke angkasa. Mereka tidak terbang menggunakan Qi atau pedang terbang. Mereka melompat murni dengan kekuatan otot kaki mereka, melintasi ruang hampa, dan mendarat di atas lambung kapal Shi Hao dengan suara berdebum berat.
DUM. DUM. DUM.
Mereka adalah raksasa. Manusia setinggi tiga hingga empat meter, berkulit perunggu gelap, dipenuhi tato totem yang bersinar merah. Mereka hanya mengenakan celana kulit binatang, memamerkan otot-otot yang seteras baja.
Mereka adalah Klan Barbar Tulang (Bone Barbarian Clan).
Pemimpin mereka, seorang pria tua tapi kekar dengan kalung tengkorak naga, melangkah maju. Dia membawa gada tulang raksasa di bahunya. Aura Darah Vitalitas (Blood Vitality) yang memancar darinya begitu panas hingga mendistorsi udara di sekitarnya.
Gu Man (Kepala Suku Klan Barbar). Ranah: Tubuh Emas Sempurna (Setara dengan Dewa Sejati Tahap Menengah dalam hal fisik).
"ORANG LUAR!" suara Gu Man menggelegar tanpa bantuan Qi, murni dari kekuatan paru-parunya.
"Pulau Tulang adalah Tanah Suci Leluhur! Siapa yang berani mendekat akan dijadikan pupuk!"
"Pergi! Atau kami hancurkan besi terbang ini!"
Para prajurit barbar di belakangnya menghentakkan kaki, membuat lambung kapal penyok. Mereka membenci kultivator Qi yang mereka anggap lemah dan licik.
Wuming hendak mencabut pedangnya. "Orang-orang biadab. Biar kuajari mereka sopan santun."
Shi Hao mengangkat tangan, menahan Wuming.
"Jangan, Wuming. Mereka adalah kultivator Tubuh Fisik. Sihir dan Pedang hanya akan menghina mereka. Jika kau ingin bicara dengan barbar, kau harus menggunakan bahasa barbar."
Shi Hao melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang penuh otot padat dan tato naga samar.
Dia berjalan keluar dari anjungan, melompat ke geladak terbuka, berhadapan langsung dengan Gu Man dan pasukannya.
Ukuran Shi Hao (tinggi manusia normal) terlihat seperti anak kecil di hadapan para raksasa setinggi tiga meter itu.
Gu Man menunduk menatap Shi Hao dengan remeh.
"Kecil," dengus Gu Man. "Apa kau kaptennya? Kau terlihat seperti ranting kering. Satu hembusan napas saja kau patah."
Shi Hao tersenyum santai. Dia tidak mengeluarkan Qi Nirwana ataupun Aura Pedang. Dia menyegel Dantian-nya sendiri.
Dia hanya mengaktifkan Garis Keturunan Naga Kekacauan di dalam sumsum tulangnya.
"Kepala Suku," kata Shi Hao tenang. "Aku butuh meminjam jalan lewat portal di pulau kalian."
"Tidak boleh!" tolak Gu Man kasar. "Portal itu suci! Orang luar yang lemah dilarang masuk!"
"Bagaimana kalau kita bertaruh?" tawar Shi Hao.
Gu Man mengangkat alis tebalnya. "Bertaruh?"
Shi Hao mengepalkan tangan kanannya. Suara tulang-tulang jarinya berbunyi seperti ledakan.
"Tiga Tinjuan," kata Shi Hao.
"Kau dan aku. Tanpa Qi. Tanpa Sihir. Tanpa Senjata. Murni adu otot."
"Jika aku mundur satu langkah saja setelah menerima tinjumu, aku akan pergi dan meninggalkan kapal ini untuk kalian."
Mata para prajurit barbar berbinar mendengar tawaran "kapal" itu.
"Tapi..." lanjut Shi Hao, matanya menajam. "Jika kau yang mundur... atau jatuh... Kau harus membiarkan kami lewat."
Gu Man tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. Tawanya mengguncang kapal.
"HAHAHA! Ranting kecil ini mau adu tinju denganku? Aku sudah membunuh Naga Void dengan tangan kosong saat kau masih menyusu!"
Gu Man melempar gada tulangnya ke samping. Dia membusungkan dadanya yang seluas tembok benteng.
"Baik! Aku terima tantanganmu! Aku bahkan tidak akan memukulmu. Aku akan membiarkanmu memukulku duluan. Jika kau bisa membuatku bergeser satu inci saja, aku akan panggil kau Kakek!"
"Deal," kata Shi Hao singkat.
Shi Hao mengambil kuda-kuda sederhana. Kaki menapak kuat di geladak logam.
Dia menarik napas dalam. Di dalam tubuhnya, darah naga mendidih. Otot-otot di lengan kanannya memadat, sedikit membesar, dan urat-urat emas muncul di permukaan kulit. Sisik naga halus melapisi kepalan tangannya.
Ini bukan teknik kultivasi. Ini adalah Kekuatan kekuatan kasar murni dari seekor Naga Kekacauan.
"Bersiaplah, Pak Tua," peringat Shi Hao.
Gu Man menyeringai, mengaktifkan teknik pertahanan Tubuh Besi Tulang Baja. Kulitnya berubah warna menjadi abu-abu metalik. Dia percaya diri tidak ada serangan fisik yang bisa menembusnya.
Shi Hao melangkah maju.
Satu langkah. Pinggang berputar. Bahu didorong. Tinju diluncurkan.
Gerakannya sederhana, tapi sempurna.
"TINJU PENGHANCUR GUNUNG!"
BUM.
Tinju kecil Shi Hao bertemu dengan dada raksasa Gu Man.
Untuk sepersekian detik, hening.
Lalu... Gelombang kejut (Shockwave) meledak dari titik benturan.
BLARRRRRR!
Mata Gu Man melotot keluar seolah mau copot. Mulutnya terbuka lebar dalam teriakan tanpa suara.
Dia merasakan bukan sebuah tinju manusia, tapi sebuah asteroid yang menabrak dadanya.
Tulang rusuk bajanya... Bengkok.
"UGHHH!"
Kaki Gu Man yang menapak kuat di lantai kapal terseret mundur. Satu meter. Dua meter. Sepuluh meter.
Dia terus mundur, kakinya membajak lantai baja kapal hingga menciptakan parit dalam.
Gu Man mencoba menahan, tapi momentum pukulan Shi Hao terus mendorongnya.
Akhirnya, keseimbangannya hilang.
GEDEBUK!
Gu Man jatuh terjengkang, pantatnya menghantam lantai, berguling dua kali sebelum berhenti tepat di pinggir geladak.
Hening.
Para prajurit barbar yang tadi tertawa kini menganga lebar. Rahang mereka jatuh ke lantai.
Pemimpin mereka... Orang terkuat di Klan Barbar... Diterbangkan oleh satu pukulan dari "Ranting Kecil"?
Shi Hao berdiri tegak di tempatnya semula. Dia mengibaskan tangannya pelan, seolah baru saja menepuk lalat.
"Satu tinju," kata Shi Hao. "Masih ada dua lagi. Mau lanjut?"
Gu Man duduk di lantai, memegangi dadanya yang memar ungu (sebuah cetakan tinju tercetak jelas di sana). Dia batuk, mengeluarkan sedikit darah kental.
Alih-alih marah, mata Gu Man tiba-tiba bersinar dengan kekaguman yang fanatik.
Bagi Klan Barbar, Kekuatan adalah Kebenaran.
Gu Man melompat bangun, mengabaikan rasa sakitnya.
"HEBAT!" teriak Gu Man girang. "Kekuatan Naga! Itu murni Kekuatan Naga Fisik!"
Gu Man berlari ke arah Shi Hao. Wuming dan Tie Shan bersiaga, mengira Gu Man akan menyerang balik.
Tapi Gu Man justru memeluk Shi Hao (hampir meremukkan tulang Shi Hao dengan pelukan beruangnya) dan menepuk punggungnya keras-keras.
"Saudara! Kau bukan Ranting! Kau adalah Batang Besi!"
"Aku kalah! Klan Barbar tidak pernah ingkar janji!"
Gu Man melepaskan Shi Hao, lalu berbalik menghadap pasukannya.
"DENGAR SEMUANYA! ORANG INI ADALAH TAMU HORMAT KITA! SIAPKAN PESTA DAGING! BUKA GERBANG PULAU!"
Shi Hao tersenyum canggung sambil membetulkan tulang bahunya yang sedikit geser karena pelukan itu.
"Diplomasi sukses," bisik Shi Hao pada Wuming yang masih bengong.
"Tuan..." Wuming menggelengkan kepala. "Tuan benar-benar monster. Memukul kultivator fisik sampai terbang tanpa menggunakan Qi..."
Gu Man merangkul bahu Shi Hao. "Ayo, Saudara! Sebelum ke Portal, kau harus minum Arak Tulang bersama kami! Siapa namamu?"
"Shi Hao."
"Nama yang bagus! Ayo, Shi Hao! Kita makan daging!"
Pulau Tulang – Aula Tengkorak.
Tim Asura disambut sebagai pahlawan. Ternyata, Klan Barbar ini sangat ramah pada mereka yang telah membuktikan kekuatan fisik. Tie Shan bahkan langsung akrab dengan mereka, beradu panco dengan para prajurit barbar.
Namun, di tengah pesta, Gu Man menjadi serius saat Shi Hao bertanya tentang Portal Kuno.
"Portal itu..." Gu Man meletakkan gelas araknya yang terbuat dari tengkorak.
"Kami menjaganya bukan karena kami pelit. Tapi karena portal itu rusak."
"Rusak?" Shi Hao mengerutkan kening.
"Ya. Portal itu mengarah ke Sektor Pusat, tapi Batu Kunci Dimensi-nya dicuri seratus tahun lalu oleh sekelompok Pemburu Bayaran."
"Tanpa batu itu, portal hanya akan mengirimmu ke dalam ruang angkasa. Kau akan tercabik-cabik."
Shi Hao terdiam. "Pemburu Bayaran? Siapa?"
"Mereka menyebut diri mereka Anjing Pemburu," jawab Gu Man dengan kebencian. "Mereka mencuri artefak leluhur kami."
Mata Shi Hao dan Nana bertemu.
Musuh yang mengejar mereka... ternyata memegang kunci pintu keluar mereka.
"Kebetulan sekali," Shi Hao menyeringai dingin, meremas gelas tulangnya hingga hancur menjadi debu.
"Mereka sedang mengejar kami sekarang."
Gu Man terkejut, lalu tertawa lebar. Dia mengambil gada besarnya.
"Mereka datang ke sini? Hahaha! Bagus!"
"Kalau begitu, Saudara Shi Hao... bagaimana kalau kita adakan Pesta Perburuan Anjing bersama-sama?"
Tepat saat itu, alarm dari Bahtera Teratai Merah berbunyi nyaring, terdengar sampai ke dalam aula pesta.
"MUSUH TERDETEKSI! TIGA KAPAL PERANG KELAS PEMBURU MENDEKAT!"
Shi Hao berdiri. Matanya menyala dengan api peperangan.
"Tamu tak diundang sudah datang. Ayo kita sambut mereka."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛