Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelidiki
Keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil yang terus melaju membelah kegelapan malam, hanya interupsi suara mesin yang menderu halus dan rintik gerimis yang membasuh kaca jendela.
Di kursi kemudi, Shyla duduk mematung dengan ketenangan yang mengintimidasi--- meski tubuhnya rileks, sorot matanya yang sedingin es mencerminkan ketajaman insting seorang detektif yang tengah membedah teka-teki.
Di sampingnya, Leta menunjukkan gestur defensif dengan tangan terlipat di dada, tatapannya terpaku pada lampu-lampu kota yang buram di balik jendela, memendam kegelisahan seorang jaksa yang terbiasa berurusan dengan logika dan bukti nyata.
Sementara itu, di kursi belakang, suasana tak kalah sunyi-- Steven yang biasanya penuh celoteh kini terdiam, meski binar matanya yang sarat rasa ingin tahu tak bisa disembunyikan, ditemani Tiffany yang duduk waspada dengan sisa-sisa ilmu bela diri yang mengalir di nadinya.
Aroma pesta pernikahan Sky dan Evelyn yang seharusnya manis kini telah berganti menjadi bau antiseptik yang seolah sudah tercium dari kejauhan, membawa mereka menuju rumah sakit demi mengungkap misteri tumbangnya enam tamu secara bersamaan.
Sebagai satu-satunya pemilik darah sihir di antara mereka, Shyla merasakan kekosongan aura yang justru terasa janggal-- firasatnya berbisik bahwa meski indranya tak menangkap getaran magis di aula tadi, fenomena pingsannya para tamu bukanlah sekadar medis biasa, melainkan sebuah permainan sihir yang sangat rapi dan berbahaya.
Suara Shyla rendah, mata tertuju pada aspal hitam di depan. "Enam orang. Di waktu yang bersamaan, di tengah momen lantai dansa. Itu bukan kebetulan, itu adalah pesan yang ditulis dengan tinta yang tidak bisa kita lihat."
Leta tetap menatap jendela, tangan terlipat erat. "Sebagai jaksa, aku terbiasa mencari pola dalam kekacauan, Shyla. Tapi pingsan massal tanpa jejak racun atau serangan fisik? Itu di luar nalar hukum mana pun. Jika ini memang serangan, mereka melakukannya dengan sangat bersih hingga terlihat seperti takdir yang buruk.. kalo serangan jantung--- 6 orang di waktu bersamaan, sangat mencurigakan."
Steven condong ke depan dari kursi belakang, nada bicaranya cepat. "Tapi ayolah, Shyla! Kak Sky itu orang baik. Siapa yang tega mengacaukan pernikahannya dengan Evelyn? Aku memperhatikan tamu-tamu tadi, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Semuanya tertawa... sampai tiba-tiba mereka tumbang seperti boneka yang talinya diputus."
Tiffany menyentuh lengan Steven agar tenang. "Kak Steven, diamlah sebentar. Kak Shyla, jujur saja... kau merasakan sesuatu, kan? Maksudku, sesuatu yang 'berbeda'. Kami memang hanya diajarkan bela diri fisik, tapi instingku bilang ini bukan soal siapa yang memukul siapa."
Steven kembali condong ke depan dari kursi belakang, suaranya berbisik penuh antusiasme. "Justru itu yang aneh, kan? Aku sempat memotret posisi jatuh mereka sebelum petugas medis datang. Mereka jatuh dengan pola yang hampir simetris. Kalau ini bukan sihir seperti yang biasa kau ceritakan, Shy, mungkinkah ini sesuatu yang lebih... modern? Maksudku, siapa yang butuh ilmu sihir kalau mereka punya teknologi."
Shyla mengerem perlahan saat lampu merah, sorot matanya mendingin. "Itulah masalahnya, Stev. Aku tidak merasakan aura sihir sedikit pun di aula tadi. Kosong. Dan kekosongan itulah yang paling menakutkan. Biasanya, sihir meninggalkan jejak seperti aroma atau sisa energi. Tapi ini... seolah-olah seseorang menghapus eksistensi energi mereka dari dalam."
Leta menoleh ke arah Shyla, alisnya bertaut. "Maksudmu, sihir yang bekerja tanpa meninggalkan jejak sihir? Apa itu mungkin secara turun-temurun di keluargamu?
Shyla terdiam sejenak. "Ada satu jenis sihir kuno yang hanya bisa dirasakan jika korbannya sudah mati... atau jika pelakunya jauh lebih kuat dari kami."
Steven menelan ludah, suaranya mengecil. "Oke, mendadak aku menyesal ikut karena kepo. Tapi... kalau ini memang sihir, apa bela diri kita bisa berguna?"
Tiffany melirik saudara kembarnya dengan sinis. " Setidaknya bela diri Kak Kevin lebih lincah darimu, Kak Steven.. kenapa juga Kak Kevin tidak ikut dan lebih memilih tidur di ranjang yang membosankan itu."
Steven mendelik tidak Terima. " Setidak nya aku lebih hebat dari mu."
Shyla mulai menjalankan mobil lagi. "Siapkan fisik kalian. Jika aku benar, musuh yang kita hadapi tidak menyerang jantung dengan pedang, tapi menyerang nalar dengan sesuatu yang tak terlihat. Leta, siapkan koneksi hukummu, kita mungkin butuh akses isolasi penuh di rumah sakit nanti."
Leta mengangguk tegas. "Lakukan bagianmu sebagai detektif dan... 'ahli' keluarga kita. Aku akan memastikan tidak ada prosedur rumah sakit yang menghalangi kita."
Mobil berhenti dengan halus di parkiran rumah sakit yang sunyi. Shyla mematikan mesin, kesunyian malam langsung menyergap mereka.
"Ingat, tetap waspada. Jangan menyentuh apa pun tanpa sarung tangan. Jika aku tidak bisa merasakan sihir, berarti ada 'sains' yang bekerja di sini yang tidak kita pahami." semuanya mengangguk.
Mereka melangkah masuk ke lobi rumah sakit yang remang-remang. Shyla mengeluarkan lencana peraknya dengan gerakan efisien. "Detektif Shyla dari Kepolisian Pusat. Di mana enam pasien yang dibawa dari gedung pernikahan Grand Hotel Dua jam yang lalu?"
Petugas Medis wajahnya pucat, menghindari kontak mata. "Mereka... mereka tidak dipindahkan ke bangsal perawatan, Detektif. Langsung ke koridor bawah. Ruang jenazah. Tim medis tidak bisa menemukan denyut nadi sejak mereka tiba di ambulans."
Langkah sepatu mereka bergema di lorong yang dingin. Di depan pintu besi itu, suara isak tangis histeris dari para istri korban memecah kesunyian malam.
Leta melipat tangan, matanya menyipit melihat keluarga yang berduka. "Kejadian ini akan menjadi kasus yang rumit. Jika mereka mati sebelum sempat dirawat, berarti ini bukan sekadar pingsan. Ini eksekusi."
Shyla berjalan mendekati pintu ruang jenazah, mencoba merasakan energi di udara. "Tetap waspada. Leta, urus prosedur hukum untuk otopsi segera. Steven, Tiffany, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati area ini. Aku akan masuk ke dalam. Ada yang tidak beres... meskipun aku tidak merasakan sihir, kematian ini terasa terlalu 'terencana' untuk sebuah kecelakaan."
Tiffany berbisik. "Hati-hati, Kak. Jika sihirmu tidak bisa mendeteksinya, berarti musuh kita menggunakan sesuatu yang jauh lebih nyata daripada hantu."
Shyla membuka pintu kamar jenazah, hawa dingin menusuk. "Henti jantung masal? Itu alasan yang terlalu nyaman bagi medis untuk menyerah pada sebuah misteri."
Leta berdiri di samping salah satu jenazah, menatap kain putih dengan tajam. "Sebagai jaksa, aku tidak bisa membawa 'firasat' ke pengadilan. Tapi melihat wajah-wajah keluarga yang menangis di luar sana, aku tahu ada yang tidak beres. Shyla, periksalah. Gunakan instingmu yang tidak bisa dibantah itu."
Shyla menyentuh pinggiran kain putih, menutup matanya sejenak. "Nadiku berdenyut aneh. Tidak ada sisa sihir, benar... tapi ada kekosongan yang tidak wajar di sini. Seperti nyawa mereka tidak hilang karena sakit, melainkan 'dihapus' oleh sesuatu yang sangat halus. Sesuatu yang melampaui sihir, namun memiliki ketajaman yang sama mematikannya."
Steven berbisik. "Jadi, bukan sihir, tapi rasanya seperti sihir?"
Mata Shyla terbuka, berkilat tajam. "Bukan. Ini lebih buruk. Ini adalah racun yang meniru cara kerja sihir. Kita tidak hanya mencari seorang pembunuh, kita mencari seorang alkemis yang tahu cara menipu takdir."
"Menarik.. musuh kali ini benar-benar membuatku sangat antusias.. tapi siapapun dia, tidak akan mungkin bisa melarikan diri dari darah keluarga kita." Leta mengangkat satu sudut bibir nya.
Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan jejak masa depan yang berusaha mengubah takdir dengan cara yang paling berdarah.
•
•
•
BERSAMBUNG