NovelToon NovelToon
GITA & MAR

GITA & MAR

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Pengasuh / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Gita yang gagal menikah karena dikhianati sahabat dan kekasihnya, menganggap pemecahan masalahnya adalah bunuh diri dengan melompat ke sungai.

Bukannya langsung berpindah alam, jiwa Gita malah terjebak dalam tubuh seorang asisten rumah tangga bernama Mar. Yang mana bisa dibilang masalah Mar puluhan kali lipat beratnya dibanding masalah Gita.

Dalam kebingungannya menjalani kehidupan sebagai seorang Mar, Gita yang sedang berwujud tidak menarik membuat kekacauan dengan jatuh cinta pada majikan Mar bernama Harris Gunawan; duda ganteng yang memiliki seorang anak perempuan.

Perjalanan Gita mensyukuri hidup untuk kembali merebut raga sendiri dan menyadarkan Harris soal keberadaannya.


***

Cover by Canva Premium

Instagram : juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Contact : uwicuwi@gmail.com


Nover ini belum rampung. Disarankan untuk membacanya setelah TAMAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

008. Menyelami Kisah Lain

“Apa kamu bilang? Berani betul bentak-bentak aku. Aku yang jagain anakmu selama kamu kerja. Harusnya berterima kasih. Coba cari di mana biaya jaga anak sebulan cuma lima ratus ribu. Diminta Samsul buat nambah pelitnya minta ampun. Parah kamu itu, Mar!” Wanita tua yang berstatus mertua Mar berteriak tak kalah berangnya.

Mar yang bertubuh pendek dan berisi terdiam karena tak menyangka mendapat perlawanan sama sengitnya. Mar lalu mundur dan mendekati Jaya. “Siapa Samsul?” tanya Mar.

“Bapak,” jawab Jaya singkat.

Mar kembali maju mendekati mertuanya. “Kalau Bapak mencintai Ibu harusnya Bapak bisa ngasih tanpa diminta. Lagian yang dijaga cucu sendiri pelit amat.” Mar menyilangkan tangan di dadanya.

“Minta Bapak apa maksudmu? Mencintai bagaimana?” Mertua perempuan Mar menunduk melihat Hasan yang masih merengek. Kali ini bayi itu merangkak ke kaki Mar.

“Yah, itu, dong. Minta ke suaminya Ibu. Pak Samsul,” kata Mar seraya mencibir.

“Itu anakku, edan! Suamiku udah lama modar. Mulutmu asal ngomong. Udah gila kamu? Dimintai bantu adik ipar payahnya kebangetan. Kalau nggak minta dari Samsul, uangku dari mana?” Mertua Mar semakin berang.

“Ya, terserah dari mana. Dagang, kek. Bikin live mandi lumpur, kek. Terserah.” Mar dengan jiwa Gita menjawab dengan ketus. Terutama karena teringat isi dompet kain Mar yang isinya tak lebih dari seratus ribu.

Mar mengambil Hasan dari lantai dan menggendongnya dengan kaku. Hasan tiba-tiba diam dan mengamati ibunya dengan serius. Biasanya ia dengan mudah mengangkat beban berat saat nge-gym. Sore itu ia sedikit terhuyung saat dari jongkok langsung berdiri dengan cepat mendekap Hasan.

“Badan cebol ini ternyata menyulitkan,” gumam Mar, kemudian kembali mendekati Jaya. “Kenapa dia marah? Kamu bilang Samsul itu Bapak .... Ck.” Mar berdecak menyalahkan Jaya.

“Ya benar Bapak. Bapaknya aku. Bukan bapaknya ibu atau bapaknya bapak. Ke mana ibuku yang sebenarnya?” Jaya semakin yakin dengan kesimpulannya. Ia pernah mendengar anak tetangga mereka yang hilang di waktu magrib dan didapati dengan kondisi kerasukan. Ibunya pasti kerasukan. Tubuhnya sama tapi cara berbicaranya saja sudah berbeda. “Kamu jin, kan? Kamu pasti jin perempuan yang mengambil badan ibuku. Aslinya ibuku orangnya lembut banget. Suaranya pelan dan ibuku nggak pernah teriak-teriak.” Jaya yang sudah sangat dewasa di usia sepuluh tahun karena keadaan kali itu tidak mempedulikan neneknya yang menggerutu di ambang pintu. Ia sudah biasa dimarahi dan dimaki oleh neneknya. Terutama jika sang ibu belum pulang menyetor uang belanja.

“Jin? Aku jin? Masa? Aku juga enggak tau.” Mar mengangkat bahu. Jangankan anak kecil seperti Jaya, ia juga bingung dengan beberapa jam terakhir dalam hidupnya.

“Edan semua! Aku pulang sekarang. Kalau nggak ada uang jangan berani-berani titip anak ke aku.” Mertua Perempuan Mar melanjutkan omelannya.

Pintu rumah yang berjarak hanya satu meter dari jalanan gang yang sempit membuat Mar, Jaya dan mertua perempuan Mar seketika menoleh pada rombongan orang yang berduyun-duyun keluar gang.

“Nek Imah nggak ikut ke jembatan? Katanya ada korban!” Seorang pria yang berjalan tergesa-gesa menyapa Mertua Mar.

Wanita tua yang dipanggil Nek Imah tadi belum pulih dari rasa heran. Hanya diam tak menjawab. Biasanya pun Mar begitu juga. Lebih banyak diam meresapi kejadian sekelilingnya. Tapi kali itu tubuh Mar yang dihuni Gita langsung tanggap mendengar kata jembatan.

“Jembatan? Jembatan mana?” Mar keluar rumah, menyerahkan Hasan ke pelukan Nek Imah. “Tunggu, Pak. Aku ikut!” seru Mar, memakai sandal kecil di depan pintu.

“Mar! Jaga anakmu!” teriak Nek Imah.

“Itu juga cucunya Ibu!” balas Mar.

“Tunggu! Aku juga ikut!” Jaya menyusul Mar keluar rumah. Memakai sandal dan terburu-buru menjajari perempuan pendek bertubuh gempal yang biasa ia panggil Ibu.

“Kamu ikut juga?” Mar menoleh Jaya.

“Aku harus jaga badan ibuku dari Jin kayak kamu.” Jaya menyipitkan mata memandang Mar.

“Hari ini tanggal berapa? Hari apa? Cepat jawab.” Mar mencerna jawaban Jaya. “Harus lihat jembatannya. Aku harus tau di mana aku berada. Kenapa aku begini. Ini kehidupan apa. Apa yang sedang terjadi.” Mar mengikuti ke mana langkah orang yang berduyun-duyun.

“Aduh, capek.” Mar berhenti terengah-engah. “Jauh banget ini.” Setengah berjongkok memegang kedua lutut. Jaya lalu tiba di sebelahnya.

“Ayo, Bu. Udah dekat,” kata Jaya, menunjuk jembatan tempat semua warga berkerumun mengitari sebuah ambulans.

“Aku capek. Ini ibumu kerjanya apa, sih? Kenapa jalan segini aja udah ngos-ngosan?”

Jaya meraih tangan Mar. “Ibuku yang asli pasti bakal langsung lari ke sana. Ibu sering ke jembatan,” kata Jaya. “Ayo…ayo.”

Mar terseret-seret mengikuti langkah Jaya. Bocah sepuluh tahun itu menerobos gerombolan orang yang mengitari ambulans.

“Ada apa, Pak? Ada apa?” Mar melompat-lompat di belakang tubuh warga yang penasaran dengan hal yang sama. Beberapa kali melompat tak membawa hasil. Ia hanya bisa melihat punggung-punggung orang asing. Mar kesal. Dengan segenap tenaga yang dikerahkannya, Mar menerobos kerumunan. Jaya mengikutinya di belakang. “Setidaknya aku sekarang bersyukur pernah punya badan tinggi.”

“Minggir-minggir. Ambulans mau berangkat!” jerit seorang pria.

Sebuah tandu baru saja didorong masuk dan pintu ambulans sudah setengah tertutup.

“Tunggu! Aku mau liat! Aku mau liat!” Mar kembali melompat-lompat. Tak ada yang menggubrisnya. Ia menyipitkan mata memandang ke dalam ambulans. Sebuah pemandangan yang membuatnya membeku di tempat. “Itu aku …,” bisik Mar.

“Oke, minggir semua. Tontonan sudah selesai.” Pria berbaju putih menutup pintu ambulans dan mengibas-ibaskan tangan. Mar mendekati pria itu dan menarik celananya sampai pria itu terlonjak. “Ngapain kamu?” tanyanya sinis pada Mar.

Wajah Mar sangat cemas. “Itu…perempuan itu udah meninggal?”

“Bukan warga sini. Sepertinya datang memang untuk bunuh diri. Sayangnya dia gagal. Badannya masih hangat dan masih bernapas biasa. Mungkin pingsan. Banyak luka -luka lecet. Sudah…sudah. Sana!” usir pria itu.

Mar menguatkan cengkeramannya pada celana sopir ambulans. “Mau dibawa ke rumah sakit mana?”

“Enggak baca tulisan di ambulans? Ada di ambulans." Supir itu menunjuk nama rumah sakit yang terpampang jelas. "Lepasin,” kata supir ambulans menepuk tangan Mar.

Mar menyipitkan mata. “Kenapa ditanya gitu aja sulit banget buat jawab. Masih jadi sopir udah sombong banget. Ck!” Mar melepaskan cengkeramannya pada celana pria itu.

Dengan suara khasnya, ambulans pergi menjauhi jembatan. Meninggalkan Mar yang berdiri dengan sejuta pertanyaan. Warga masih berbisik-bisik dengan jelas. Mar setengah termenung menyimak percakapan orang-orang.

“Bisa jadi bukan bunuh diri. Kamu sepemikiran denganku, kan?”

“Betul…betul. Bisa jadi korban lainnya.”

Lamunan Mar dibuyarkan oleh tepukan Jaya di lengannya. “Udah hampir malam, Bu. Ibu harus kembali ke rumah majikan. Ibu pulang cuma untuk ngasih belanja aku dan Hasan, kan?”

“Kerja? Kerja apa? Jangan bilang ada yang lebih aneh lagi.” Mar frustasi dan cemberut menatap Jaya. Semuanya semakin membingungkan.

“Ibu pembantu rumah tangga di perumahan sana.” Jaya menunjuk bagian pemukiman yang berada di atas bukit. Perumahan mewah itu adalah tempat di mana ibunya bekerja lebih dari lima tahun. “Ibu harus masuk kerja. Ibu selalu bilang ... kasihan anak perempuan Pak Harris kalau Ibu nggak masuk kerja,” lirih Jaya.

To be continued

1
Ina dewi
gita haris main kebangka yukk,, itu kota kelahiran aku,nnti kita jalan2🤭🤭
Herlina Lina
yg ini ngekek ampun2
ternyata pak Harris realistis dg ortu2 kebanyakan juga wkwkwk
Herlina Lina
kayanya suami ku kudu begini juga deh kek ngajuin semacem proposal gt🤣🤣🤣
Herlina Lina
aku deg2an dan ternyataaa😄😄😄
Herlina Lina
udh kayak dispenser ya😄
Herlina Lina
hehehe kebetulan bgt gambaran nenek Helena yg ada d pikiran ku ya begini ♥️
Herlina Lina
Alhamdulillah
baik2 lah nek Helena sama Gita Krn Gita sayang kx sama Chika bukan hanya sama pak Harris saja
Herlina Lina
gak tau kenapa setelah kenal karya tulis kak author juskelapa kx sekarang kalau saya baca awal nya aja udh gak Nemu gaya sejenis punyak kak author ini JD ky kurang klop ya,,hmm
bukan membandingkan soalny karya novel ini tu enak bgt d baca trs ada ilmu2 yg BS d ambil terkadang pokoknya maa sya Allah deh♥️
sehat selalu buat author ya....yg udh berkreasi dg segala kesibukan yg d miliki d kehidupan nyata♥️
💕💕syety mousya Arofah 💕💕
askum kak njusss... udah 26 in kak.. aku nagih janji.. ✌️✌️ nunggu novel baru lahir loh dr kmren
Herlina Lina
terharu nya aku ♥️
Herlina Lina
Bu gendis mirip kakak perempuan saya yg selalu panggil suami saya "om" pdhl adik ipar nya hehehe emang sudah dr sana nya d benerin juga msh balik lagi....mungkin cara nya bersopan santun atau gmn sy juga Ndak tau tp insya Allah tetep syg seperti layaknya saudara kandung♥️
Herlina Lina
sayang Chika banyak2 ♥️
Herlina Lina
bahagia nya ♥️
Herlina Lina
aamiin♥️
Herlina Lina
ya ampuun 😄
Herlina Lina
Alhamdulillah ♥️
Herlina Lina
cakep bgt nih kata2 nya♥️
Herlina Lina
pernah denger rumor2 bgni wkt dlu d RS Krn urus anak dan baru tau secara LBH jelas versi tulisan
makasih kak jus kelapa♥️ JD tambah info kecurangan2 yg bisa aja d lakuin sama dokter
Herlina Lina
ya ampuuunn bunga ngekek
Herlina Lina
aku padamu bunga♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!