tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: KLINIK KEHENINGAN
Bau antiseptik yang tajam dan bunyi detak jam dinding yang monoton menyambut kesadaran Elara. Ia terbangun di sebuah ruangan serba putih di Rumah Sakit Umum Blackpool. Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari butiran debu yang menari dengan tenang di udara. Tidak ada synthesizer, tidak ada suara ombak yang mengamuk, tidak ada raungan api. Hanya ada keheningan yang begitu murni hingga telinganya terasa berdenging.
Elara mencoba menggerakkan tangannya, dan ia merasakan perih yang menusuk di punggung telapak tangannya. Sebuah selang infus terpasang di sana, mengalirkan cairan bening yang dingin ke dalam tubuhnya yang masih terasa remuk. Memorinya kembali dengan cepat—lompatan dari mercusuar, rasa asin air laut yang mencekik, dan tangan Arlo yang perlahan melonggar dalam genggamannya.
"Arlo..." bisiknya, suaranya parau dan hampir hilang.
"Dia selamat, El. Dia ada di bangsal sebelah."
Elara menoleh dengan susah payah. Jamie duduk di kursi plastik di sudut ruangan, wajahnya tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya. Pakaiannya masih tampak lembap, menunjukkan bahwa ia belum sempat pulang atau bahkan sekadar berganti baju sejak semalam.
"Jamie..." Elara menghela napas lega, sebuah beban berat seolah terangkat dari dadanya. "Apa dia... apa dia sadar?"
Jamie menggelengkan kepala perlahan. "Dokter bilang dia mengalami hipotermia berat dan syok neurotik. Dia bernapas, tapi jiwanya seolah masih terjebak di suatu tempat yang tidak bisa kita jangkau. Tapi setidaknya, dia tidak lagi berada di menara terkutuk itu."
Jamie berdiri dan mendekat ke tempat tidur Elara. Ia meletakkan sebuah kantong plastik transparan di atas meja nakas. Di dalamnya ada kaset tape kecil yang diberikan Arlo sebelum mereka melompat—satu-satunya benda yang berhasil diselamatkan Elara dari amukan laut.
"Polisi banyak bertanya, El," lanjut Jamie dengan suara rendah. "Mereka menemukan sisa-sisa peralatan elektronik di mercusuar. Mereka menganggap Arlo hanya musisi eksentrik yang melakukan percobaan berbahaya. Aku tidak menceritakan pada mereka tentang 'frekuensi' atau tentang suara-suaramu yang dia curi. Aku pikir... biarlah itu tetap menjadi rahasia kita."
Elara menatap kaset itu. "Terima kasih, Jamie."
"Kenapa kau melakukannya, El?" tanya Jamie tiba-tiba. Tatapannya kini penuh rasa ingin tahu yang tajam. "Kenapa kau melompat bersamanya? Kau punya kehidupan yang sempurna di London. Kau bisa saja membiarkan dia tenggelam dalam kegilaannya sendiri."
Elara terdiam cukup lama, matanya terpaku pada butiran infus yang menetes satu demi satu. "Karena selama sepuluh tahun ini, aku adalah orang yang tenggelam, Jamie. London, pekerjaanku, kesunyian yang kubangun... itu semua hanyalah cara agar aku tidak mendengar hatiku sendiri. Arlo memang gila, tapi kegilaannya adalah satu-satunya hal yang jujur di hidupku. Aku tidak melompat untuk menyelamatkannya saja. Aku melompat untuk menyelamatkan diriku sendiri dari menjadi mayat hidup."
Jamie hanya mengangguk, seolah jawaban itu masuk akal bagi seseorang yang tumbuh besar bersama kakaknya. Ia kemudian pamit untuk melihat kondisi Arlo, meninggalkan Elara sendirian dalam refleksi yang menyakitkan.
Sore harinya, dengan kursi roda dan bantuan seorang perawat, Elara akhirnya diizinkan untuk mengunjungi Arlo. Ruangan Arlo jauh lebih sunyi. Pria itu terbaring di sana, wajahnya pucat pasi, hampir menyatu dengan warna bantalnya. Tanpa jaket denim dan gitar yang selalu melekat padanya, Arlo tampak sangat kecil dan rapuh. Ia tidak lagi terlihat seperti dewa distorsi yang menguasai frekuensi; ia hanya seorang pria yang hancur oleh beban cintanya sendiri.
Elara meminta perawat untuk meninggalkannya sendirian. Ia mendekati tempat tidur Arlo, mengambil tangan pria itu, dan menggenggamnya. Kali ini, tangan itu tidak sedingin saat di laut, namun tetap terasa pasif.
"Arlo," bisik Elara di dekat telinga pria itu. "Lagunya sudah selesai. Kau dengar? Tidak ada lagi suara statis. Tidak ada lagi gema. Hanya ada aku, di sini."
Arlo tidak membuka matanya, namun kelopak matanya bergetar sedikit. Jari manisnya memberikan tekanan yang sangat lemah, hampir tak terasa, pada telapak tangan Elara. Sebuah kode Morse kecil dari kedalaman komanya.
Elara mengeluarkan kaset kecil itu dari kantong plastik. Ia membawa pemutar kaset portable kecil yang dipinjamnya dari Jamie. Ia memasangkan earphone ke telinga Arlo, dan satu lagi ke telinganya sendiri. Ia menekan tombol *play*.
Berbeda dengan semua rekaman sebelumnya, kaset ini tidak berisi musik. Tidak ada synthesizer, tidak ada drum yang menghentak. Hanya ada suara napas dua orang yang sedang duduk bersama. Lalu, terdengar suara Elara dari masa lalu, tertawa karena sesuatu yang konyol.
"Arlo, berhenti merekam. Aku sedang tidak ingin bernyanyi," suara Elara muda terdengar begitu cerah, begitu penuh harapan.
"Aku tidak sedang merekam nyanyianmu, El," suara Arlo membalas, terdengar hangat dan penuh kasih sayang yang tidak terdistorsi. "Aku sedang merekam momen ini. Karena suatu hari nanti, jika dunia ini menjadi terlalu berisik dan kita lupa siapa kita, aku ingin kita punya bukti bahwa kita pernah memiliki keheningan yang indah ini."
Rekaman itu berakhir begitu saja. Elara menangis, tapi kali ini bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis pelepasan. Arlo tidak pernah ingin mencuri suaranya untuk menyakitinya; ia menyimpannya sebagai kompas untuk jalan pulang.
Elara menyadari bahwa lagu "About You" bukan tentang obsesi terhadap orang lain, melainkan tentang ketakutan akan kehilangan diri sendiri saat orang tersebut pergi. Selama sepuluh tahun, mereka berdua telah tersesat dalam distorsi. Arlo tersesat dalam suara, dan Elara tersesat dalam kesunyian.
Sekarang, di kamar rumah sakit yang sederhana ini, mereka akhirnya bertemu di tengah. Di sebuah titik frekuensi yang tidak butuh alat canggih untuk didengar. Titik itu bernama penerimaan.
"Ayo bangun, Arlo," kata Elara sambil mencium kening pria itu. "Kita masih punya 112 bab lagi untuk dijalani. Dan aku ingin kau yang menulis bait-bait berikutnya bersamaku. Tanpa kaset, tanpa kabel. Hanya kita."
Di luar jendela, langit mulai berubah warna menjadi ungu keemasan. Hujan telah berhenti, meninggalkan udara yang segar dan bersih. Dan untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Elara Vance tidak lagi merasa perlu mencari bintang di atap gedung. Bintang itu ada di sana, di dalam detak jantung Arlo yang lemah namun konstan, dan di dalam keberaniannya untuk tidak lagi merasa takut pada keheningan.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐