Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perintah Pembunuhan Darah
Arus Sungai Hitam di bawah Kota Angin dikenal deras dan mematikan. Airnya yang keruh bercampur limbah kota mengalir deras menuju muara diLaut Selatan. Di sungai inilah banyak mayat korban pertikaian geng
Malam itu, sungai kembali memakan korban. Namun, korban yang satu ini menolak untuk mati.
UHUK!
Sebuah tangan berlumuran darah mencengkeram lumpur di tepian sungai yang dipenuhi ilalang tinggi. Ye Chen menyeret tubuhnya keluar dari udara yang sedingin es. Napasnya terdengar seperti parutan kasar.
Rasa sakit yang menyengat menjalar dari bahu kirinya.
“Sialan…” desis Ye Chen, berbaring telentang di atas lumpur
Luka tusukan dari Pedang Darah Menangis milik Han Feng bukan luka biasa. Pedang itu adalah senjata Tingkat Kuning Atas yang ditempa dengan darah 99 bayi baru lahir. Sifatnya jahat dan korosif.
Ye Chen bisa merasakan Qi asing berwarna merah—Qi Iblis Darah—sedang menggerogoti daging di sekitar lukanya, mencegah pembekuan darah dan mencoba menyusup ke jantungnya. Jika dia orang biasa, dia pasti sudah mati keracunan sepuluh menit yang lalu.
"Aku harus... mengeluarkan ini..."
Ye Chen memaksakan diri untuk duduk. Wajahnya pucat pasi, bibir membiru karena dingin dan kehilangan darah.
Dia merobek jubahnya yang sudah hancur, menampilkan bahu kirinya. Lubang tusukan itu tidak lagi merah, melainkan hitam legam dan mengeluarkan nanah berbau busuk. Daging di sekitarnya melepuh seolah dibakar asam.
“Bertahanlah,” perintahnya pada dirinya sendiri.
Ye Chen mengaktifkan Mutiara Penelan Surga.
Biasanya, dia menggunakan mutiara ini untuk menyerap energi murni dari luar ke dalam. Kali ini, dia harus melakukan hal yang jauh lebih berbahaya: menggunakan mutiara itu untuk menyedot racun dari dalam tubuhnya sendiri, melewati jalur meridian yang rapuh di dekat jantung.
Tangannya menempel pada luka di bahu kiri.
"Telan!"
ZZZTTT!
Rasa sakitnya seribu kali lebih parah dari yang ditusuk. Tubuh Ye Chen sangat hebat. Matanya memutih sejenak. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang merobek daging busuk itu secara paksa dari tulangnya.
Asap hitam tipis mulai keluar dari luka itu, tersedot ke telapak tangan kanan Ye Chen, lalu menghilang ke dalam tubuhnya menuju
Qi Iblis Darah milik Han Feng menjerit saat dilahap oleh kekuatan purba Mutiara Penelan Surga. Bagi Mutiara itu, Qi Han Feng hanyalah camilan kecil yang sedikit pedas.
Lima menit yang menyiksa berlalu.
Ye Chen jatuh terkulai lemas. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Namun, luka di bahunya kini telah berubah menjadi merah segar. Darah hitam sudah habis.
Dia segera mengambil sebotol Bubuk Penghenti Darah dari Kantong Penyimpanan—rampasan dari Pasar Hantu—dan menaburkannya ke luka itu.
Sssst.
Pendarahan berhenti.
“Han Feng…” gumam Ye Chen, matanya menatap ke arah siluet Kota Angin di kejauhan. “Qi-mu memang busuk, sama seperti pemiliknya.”
Ye Chen tidak berani istirahat terlalu lama. Sungai ini masih terlalu dekat dengan kota. Pasukan Han Feng pasti akan menyisir sungai begitu fajar tiba.
Dia □ dua butir Pil Pemulih Qi, lalu bangkit berdiri. Dia mengambil pedang raksasa Pemecah Gunung-nya yang terletak di lumpur.
"Ayo pergi. Kita cari tempat untuk membuka hadiah utama."
Ye Chen menghilang ke dalam hutan lebat yang mengelilingi sungai, bergerak menuju pegunungan liar di sebelah barat.
Sementara itu, diRumah Tuan Muda Han.
Suasana di hunian mewah itu sunyi senyap, namun udaranya terasa berat dan menyesakkan. Para pelayan berjalan menunduk, gemetar ketakutan, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Di aula utama, Han Feng duduk di kursi kebesarannya. Seorang tabib tua sedang merawat wajahnya dengan hati-hati.
Hidung Han Feng, yang dulu mancung dan bangga, kini diperban tebal. Wajah tampannya bengkak dan ungu.
"Sakit?" tanya Han Feng datar.
"T-Tuan Muda... tulangnya remuk cukup parah. Hamba sudah memberikan salep Tulang Giok, tapi... tapi mungkin bentuknya tidak akan kembali sempurna seperti sedia kala," jawab tabib itu dengan suara bergetar.
Mata Han Feng berkedut.
"Tidak sempurna?"
"Ampun, Tuan! Hamba akan berusaha semampu—"
CACAH!
Han Feng memukul kepala tabib itu dengan pelan. Namun tepukan itu mengandung Qi yang menghancurkan otak. Tabib tua itu ambruk, darah mengalir dari tujuh lubang di kepalanya.
"Bawa pergi sampah ini," perintah Han Feng dingin.
Dua bayangan pengawal muncul dan menyeret mayat itu pergi tanpa suara.
Han Feng berdiri, berjalan menuju cermin besar. Dia melihat bayangannya sendiri: hidung diperban, mata lebar, harga diri hancur.
"Asura..." Han Feng menyentuh perban di wajahnya. Rasa sakit fisik ini tidak seberapa dibandingkan rasa malu yang dihajar di depan umum oleh seorang ahli Tingkat 2.
Seorang bawahan masuk ke aula, berlutut dengan satu kaki.
"Lapor, Tuan Muda. Kami kehilangan jejak di saluran udara. Arus sungai terlalu deras. Tapi kami menemukan potongan jubah hitam yang tersangkut di akar pohon sekitar lima mil di hilir."
"Lima mil..." Han Feng mendaftar di balik perbannya. "Dia terluka parah oleh pedangku. Racun darahnya tidak akan hilang jauh."
Han Feng berbalik, menatap bawahannya dengan mata merah menyala.
"Keluarkan Perintah Pembunuhan Darah(Perintah Pembunuhan Berdarah)."
Bawahan itu tersentak kaget. "Perintah Pembunuhan Darah? Tuan, itu berarti melibatkan seluruh dunia bawah tanah..."
"Aku tidak peduli!" bentak Han Feng. "Sebarkan lukisan wajahnya—atau setidaknya ciri-cirinya: pemuda dengan pedang hitam raksasa, diplomasi Pemadatan Qi awal, dan aura iblis. Tempel di setiap gerbang kota, setiap kedai arak, setiap pos bayaran."
Han Feng mengangkat satu jari.
"Siapapun yang bisa membawakannya padaku, akan kuberi hadiah10.000 Batu Roh dan status Murid Inti Sekte Pedang Darah."
"Dan bagi siapa saja yang bersembunyinya... satu klan akan kubantai sampai ke akar-akarnya."
"Laksanakan!"
"Siap, Tuan Muda!"
Malam itu, burung-burung pembawa pesan terbang dari Mansion Han ke segala penjuru. Berita tentang hadiah 10.000 Batu Roh menggemparkan seluruh wilayah.
Para pemburu bayaran, terlibat lepas (Rogue Cultivators), dan bandit-bandit gunung yang tadinya tidur, kini bangun dan mengembangkan senjata mereka. Ye Chen bukan lagi sekadar buronan sekte. Dia kini adalah harta karun berjalan.
Tiga hari kemudian.
Di sebuah gua tersembunyi di balik air terjun kecil di kakiPegunungan Kabut.
Ye Chen duduk bersila di atas batu datar. Di hadapannya, terhampar sebuah peta kulit binatang purba yang dia curi dari pelelangan.
Kondisi fisiknya sudah pulih 90%. Bahunya sudah sembuh total, meninggalkan bekas luka baru. Dan yang lebih penting, pertarungan hidup dan mati melawan Han Feng telah memadatkan fondasi kultivasinya.
Ranah Pemadatan Qi Tingkat 2 Puncak. Sedikit lagi menuju Tingkat 3.
"Jadi ini Peta Reruntuhan Dewa Pedang..."
Ye Chen meneliti peta itu. Peta itu tidak lengkap. Ini hanyalah sepertiga bagian dari peta utuh. Tepinya bergerigi seolah disobek paksa.
Namun, bagian yang ada padanya menunjukkan sebuah lokasi yang sangat spesifik.
Ada tanda silang merah yang berdenyut pelan jika dialiri Qi, terletak di kedalaman Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang (Ten Thousand Beast Mountain Range).
"Lokasi ini..." Ye Chen mengerutkan kening.
Dia mengenali kontur geografisnya. Itu adalah Lembah Gema Hantu.
Lembah itu terkenal sebagai zona terlarang. Konon, siapa pun yang masuk ke sana akan terjebak dalam ilusi suara dan dimakan oleh roh-roh penasaran. Bahkan kultivator Ranah Pembentukan Inti pun enggan masuk ke sana.
Tapi yang menarik perhatian Ye Chen bukanlah bahayanya, melainkan tulisan kuno yang samar di pojok peta.
"Di mana gema kematian terdengar, di situlah pedangku beristirahat. Hanya dia yang memiliki Hati Asura yang boleh melangkah."
"Hati Asura?" Ye Chen tertegun.
Apakah ini kebetulan? Teknik yang dia dapatkan dari Mutiara Penelan Surga bernama Sutra Hati Asura. Dan pemilik reruntuhan ini mensyaratkan hal yang sama?
Mungkinkah Dewa Pedang kuno itu... juga pewaris Mutiara ini sebelum Ye Chen? Atau mungkin musuhnya?
Apapun itu, Ye Chen tahu dia harus pergi ke sana. Han Feng mungkin kaya dan berkuasa, tapi Ye Chen memiliki warisan yang bisa menelan langit.
Tiba-tiba, telinga Ye Chen menangkap suara langkah kaki yang diseret di luar gua air terjun. Langkah kaki itu ringan, hati-hati, tapi tidak bisa menyembunyikan getaran ketakutan.
Ye Chen menyimpan peta itu ke dalam Kantong Penyimpanan secepat kilat. Tangan kanannya menyambar gagang pedang Pemecah Gunung.
"Siapa di luar?" suaranya menggema menembus tirai air.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara yang familiar.
"Tuan... Tuan Asura? Ini saya... Gou San."
Ye Chen mengendurkan ototnya sedikit. "Masuk."
Sosok Gou San muncul dari balik tirai air, basah kuyup dan menggigil. Wajah preman itu pucat pasi, matanya liar melihat ke kiri dan kanan seolah dikejar hantu.
"Ada apa?" tanya Ye Chen. "Bukankah kusuruh kau tetap di kota dan mengumpulkan informasi?"
"Tuan... Kota Angin sudah gila," kata Gou San dengan napas terengah. Dia jatuh berlutut di depan Ye Chen.
"Han Feng mengeluarkan Perintah Pembunuhan Darah. Wajah Tuan—atau setidaknya ciri-ciri Tuan—sudah ditempel di mana-mana. Hadiahnya 10.000 Batu Roh!"
Ye Chen mengangkat alisnya. "10.000? Hargaku mahal juga."
"Bukan hanya itu, Tuan! Geng Mata Asura... anak buah saya..." suara Gou San pecah, air mata bercampur air sungai di wajahnya. "Mereka ketahuan. Salah satu pelacur yang kami bayar berkhianat. Pasukan Han Feng menyerbu markas kami pagi ini."
Mata Ye Chen menyipit tajam. "Lalu?"
"Mereka semua mati. Dipenggal dan kepalanya digantung di gerbang kota. Hanya saya yang berhasil lolos lewat jalur tikus karena saya sedang buang air di luar saat penyerbuan."
Gou San bersujud, keningnya membentur batu. "Tuan Asura... mereka membantai saudara-saudara saya! Saya memang sampah, tapi mereka adalah keluarga saya! Tolong... tolong balaskan dendam kami!"
Aura dingin meledak dari tubuh Ye Chen. Air di kolam gua itu membeku seketika.
Dia baru saja merekrut mereka. Dia baru saja memberi mereka nama. Dan Han Feng membantai mereka seperti binatang hanya untuk memancingnya keluar.
Ini bukan lagi soal peta. Bukan lagi soal harta.
Ini penghinaan pribadi.
"Gou San," panggil Ye Chen pelan.
"Ya, Tuan?"
"Berdiri. Hapus air matamu."
Ye Chen berjalan melewati Gou San, menuju mulut gua. Dia menatap air terjun yang menderu.
"Kau bilang kepalanya digantung di gerbang kota?"
"Be-benar, Tuan."
"Kalau begitu, kita akan ke sana."
Gou San terbelalak. "Ke sana? Tuan, itu bunuh diri! Seluruh kota sedang memburu Anda! Ada ratusan kultivator yang ingin kepala Anda!"
Ye Chen menoleh. Mata hitamnya telah hilang, digantikan oleh warna merah darah yang mengerikan. Aura Asura sepenuhnya mengambil alih.
"Biarkan mereka datang. 10.000 Batu Roh? Itu uang yang banyak," Ye Chen mencabut pedang raksasanya.
"Tapi malam ini, mata uang yang berlaku di Kota Angin bukanlah batu roh."
"Lalu apa, Tuan?"
Ye Chen menyeringai, sebuah senyuman yang menjanjikan kiamat.
"Kepala."
Ye Chen melangkah menembus air terjun. Pedang hitam di punggungnya berdengung, haus akan pesta yang akan segera dimulai.
(Akhir Bab 16)