Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Hakim ideal yang terasing
Hujan turun rintik sejak pagi, membasahi jalanan Kota Sagara yang lengang. Langit kelabu seolah menjadi cermin dari suasana hati Bima. Setelah benturan demi benturan dengan aparat yang tidak netral, mereka membutuhkan satu sosok kunci: seorang hakim yang masih memegang teguh keadilan.
Nama itu muncul dari percakapan panjang Kirana dengan seorang pengacara senior di kota provinsi yaitu Hakim Pratama Wibisono.
Ia dikenal sebagai hakim yang lurus, keras kepala dalam prinsip, dan karenanya sering “diparkir” di kota-kota kecil. Di lingkungan peradilan, ia dijuluki hakim idealis yang sulit diajak kompromi. Karena itulah, kariernya stagnan. Tak pernah naik jabatan, tak pernah dipromosikan ke kota besar.
Kini, Pratama Wibisono bertugas di Pengadilan Negeri Sagara, sebuah ironi sekaligus peluang.
Namun, menemui hakim itu bukan perkara mudah.
Bima dan Kirana datang ke pengadilan dengan berkas tebal dan harapan yang rapuh. Bangunan tua itu berdiri kokoh, tapi aura dingin menyelimuti lorong-lorongnya. Di sana, bisik-bisik dan tatapan curiga menjadi pemandangan biasa.
Seorang panitera memberi tahu bahwa Hakim Pratama jarang menerima tamu di luar jam sidang.
“Tapi kalau mau mencoba, beliau biasanya di perpustakaan kecil lantai dua,” katanya lirih, seolah takut didengar orang lain.
Tangga kayu itu berderit saat mereka naiki. Di ujung lorong, sebuah ruangan sederhana terbuka setengah. Di dalamnya, seorang pria paruh baya duduk di balik meja penuh buku. Rambutnya mulai memutih, wajahnya tegas, sorot matanya tajam namun tenang.
“Permisi, Pak,” sapa Kirana hati-hati.
Pria itu menatap mereka sejenak, lalu mengangguk. “Silakan masuk.”
Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan. Hakim Pratama mendengarkan tanpa menyela. Tangannya sesekali mengetuk meja pelan, menandakan ia sedang berpikir keras.
“Kasus kalian,” katanya akhirnya, “bukan sekadar persoalan hukum. Ini persoalan keberanian.”
Ia berdiri, melangkah ke jendela, menatap hujan yang turun di luar. “Di tempat seperti ini, keadilan sering kali kalah oleh kekuasaan. Bukan karena hukum lemah, tapi karena manusia yang menegakkannya goyah.”
Bima merasakan getaran harap di dadanya. “Kami hanya ingin kebenaran diungkap, Pak.”
Hakim itu menoleh, sorot matanya tajam menembus. “Kalian siap menanggung risikonya?”
Kirana mengangguk mantap. “Kami sudah terlalu jauh untuk mundur.”
Hakim Pratama terdiam lama, lalu kembali duduk. “Baik. Aku akan mempelajari berkas ini. Tapi ingat, begitu aku terlibat, kalian akan menjadi sasaran yang lebih besar.”
Keluar dari ruangan itu, langkah Bima terasa lebih ringan, meski bayangan bahaya belum sepenuhnya sirna.
Namun, keesokan harinya, kabar mengejutkan datang.
Hakim Pratama dipanggil mendadak ke kantor pengadilan tinggi provinsi. Tidak ada penjelasan resmi, hanya desas-desus bahwa ia mendapat “peringatan” karena dianggap terlalu dekat dengan pihak-pihak tertentu.
Kirana mengernyit. “Mereka sudah mencium gerak kita.”
Bima mengepalkan tangan. “Mereka mencoba menjauhkan kita darinya.”
Hari-hari berikutnya, Hakim Pratama tampak semakin terasing di kantornya sendiri. Rekan-rekannya menjaga jarak, beberapa bahkan terang-terangan menghindar. Undangan rapat penting tak lagi sampai padanya. Seolah ia perlahan disingkirkan tanpa suara.
Suatu sore, Bima dan Kirana kembali menemui hakim itu. Mereka mendapati beliau duduk sendirian di ruangannya, menatap tumpukan berkas dengan wajah lelah.
“Mereka mencoba menekan saya,” ujar Hakim Pratama tanpa basa-basi. “Tapi tekanan seperti ini bukan hal baru.”
“Apakah Bapak masih bersedia membantu kami?” tanya Bima ragu.
Hakim itu tersenyum tipis. “Justru karena tekanan itu, saya tidak boleh mundur. Kalau semua orang takut, lalu siapa yang tersisa untuk menegakkan keadilan?”
Kata-kata itu menancap kuat di benak Bima.
Hakim Pratama mulai memberi arahan strategis: jalur hukum yang paling aman, pasal-pasal yang bisa digunakan, serta cara melindungi saksi. Ia bekerja diam-diam, menghindari sorotan, namun langkah-langkahnya terukur dan pasti.
Di luar, bisik-bisik semakin kencang. Beberapa pihak mencoba mendekati keluarga Wijaya dengan tawaran damai yang mencurigakan. Ada pula ancaman halus yang diselipkan dalam bentuk nasihat palsu.
Namun, kehadiran Hakim Pratama memberi mereka perisai moral. Sosok itu menjadi simbol bahwa di tengah sistem yang retak, masih ada pilar yang berdiri tegak.
Suatu malam, Hakim Pratama berkata pada Bima, “Keadilan itu seperti cahaya kecil di lorong panjang. Kadang redup, kadang nyaris padam. Tapi selama ada satu orang yang menjaganya, lorong itu tak akan sepenuhnya gelap.”
Bima mengangguk, merasakan getaran harap yang menguat di dadanya.
Dan di tengah keterasingan seorang hakim ideal, mereka menemukan sekutu yang paling berharga, seseorang yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi satu kata: adil.
Keputusan Hakim Pratama untuk berdiri di sisi mereka bukanlah perkara kecil. Sejak hari itu, langkah-langkah kecil yang mereka tempuh terasa lebih terarah, namun juga semakin berbahaya. Bima bisa merasakan perubahan suasana setiap kali ia melangkah ke lingkungan pengadilan, tatapan tajam yang tak lagi berusaha disembunyikan, bisik-bisik yang berhenti mendadak ketika ia lewat, dan senyum-senyum palsu yang menyimpan ancaman.
Hakim Pratama menyusun strategi hukum dengan ketelitian tinggi. Setiap bukti diperiksa berlapis-lapis, setiap saksi dipetakan tingkat risikonya. Ia menolak terburu-buru, meski tekanan dari berbagai arah semakin kencang.
“Kita tidak boleh gegabah,” ujarnya suatu sore di ruang kerjanya. “Kesalahan kecil bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan seluruh kasus.”
Bima mengangguk, mencatat setiap arahan. Di benaknya, mulai terbayang betapa besar pengorbanan yang dipertaruhkan oleh hakim itu. Karier, reputasi, bahkan keselamatannya sendiri.
Hari-hari berlalu dengan ritme tegang. Kirana bolak-balik ke luar kota, mengamankan saksi-saksi kunci yang mulai mendapat intimidasi. Beberapa dari mereka memilih menghilang, pindah sementara ke tempat yang lebih aman. Yang tersisa hanyalah mereka yang benar-benar berani melawan arus.
Di tengah kesibukan itu, Bima sering menerima pesan singkat tanpa pengirim: potongan kalimat ancaman, foto-foto buram dari sudut gelap kota, bahkan rekaman suara samar yang memperingatkan agar ia berhenti. Setiap pesan dihapus setelah disalin, namun bekasnya tetap menempel di pikirannya.
Suatu malam, Bima menerima telepon dari Hakim Pratama.
“Besok pagi, datanglah lebih awal ke pengadilan,” kata hakim itu singkat. “Ada perkembangan penting.”
Keesokan harinya, Bima dan Kirana duduk berhadapan dengan Hakim Pratama di ruangan kecil yang pintunya terkunci rapat. Di atas meja, tergeletak sebuah map tebal bersegel merah.
“Aku menemukan jalur transaksi utama,” ujar Hakim Pratama. “Ini menghubungkan pemilik toko saingan, pejabat kota, dan beberapa aparat. Tapi begitu berkas ini resmi masuk, tidak ada lagi jalan kembali.”
Kirana menelan ludah. “Apa risikonya bagi Bapak?”
Hakim Pratama tersenyum samar. “Aku mungkin akan dipindahkan. Atau dipaksa pensiun dini. Atau lebih buruk.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan.
“Kenapa Bapak tetap mau melangkah?” tanya Bima lirih.
Hakim itu menatapnya lekat-lekat. “Karena aku sudah terlalu lama melihat keadilan dikorbankan. Dan suatu hari, aku tidak ingin bercermin lalu bertanya, ke mana perginya keberanianku.”
Kata-kata itu membekas dalam-dalam di hati Bima.
Namun, langkah mereka segera tercium.
Sore itu, sebuah surat resmi datang: Hakim Pratama ditugaskan sementara ke daerah terpencil di luar pulau, efektif dalam tiga hari. Alasan administratif. Tidak ada ruang bantahan.
Berita itu menghantam mereka seperti gelombang dingin.
“Mereka ingin memisahkan kita,” ujar Kirana geram.
Hakim Pratama hanya menghela napas. “Aku sudah menduganya. Tapi tiga hari ini cukup untuk mengamankan berkas penting.”
Mereka bekerja tanpa henti. Siang dan malam, menyusun laporan, menyalin dokumen, mengatur jalur distribusi bukti ke lembaga pengawas nasional dan media. Setiap langkah dilakukan dengan kehati-hatian ekstrem.
Di sela-sela kesibukan itu, Bima menyadari betapa sunyinya kehidupan Hakim Pratama. Tidak ada keluarga yang menemaninya, tidak ada rekan dekat yang terlihat. Kesepian itu terasa menyatu dengan idealismenya—seolah ia telah lama memilih jalan terjal ini sendirian.
Pada malam terakhir sebelum keberangkatan, mereka duduk bertiga di ruang kerja hakim. Lampu temaram menerangi wajah-wajah lelah namun teguh.
“Apa pun yang terjadi,” kata Hakim Pratama, “kalian harus terus maju. Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah.”
Bima mengangguk, tenggorokannya tercekat. “Terima kasih, Pak. Tanpa Bapak, kami mungkin sudah menyerah.”
Hakim itu tersenyum tipis. “Justru kalian yang mengingatkanku mengapa aku memilih profesi ini.”
Keesokan paginya, Bima mengantar Hakim Pratama ke terminal kecil di pinggiran kota. Bus tua bersiap membawa hakim itu menuju daerah penugasan baru. Hujan turun pelan, menambah suasana sendu.
Saat bus mulai bergerak, Hakim Pratama melambaikan tangan, sorot matanya penuh keyakinan.
Bima berdiri terpaku hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan.
Ia tahu, mereka baru saja kehilangan pelindung utama. Namun, di balik kehilangan itu, mereka telah memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi hukum yang kokoh dan keberanian yang menular.
Dan di tengah keterasingan seorang hakim ideal, Bima belajar satu hal penting—bahwa satu orang yang berani bisa menyalakan ribuan harapan di tengah gelapnya ketidakadilan.