Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hutan Kabut Ilusi dan Peti Mati Hitam
Matahari pagi di Kota Awan Putih tertutup oleh lapisan awan tebal yang menggantung rendah. Suasana di alun-alun Akademi Bintang terasa dingin dan lembap, kontras dengan semangat membara dari ribuan peserta yang telah lulus tahap pertama.
Hari ini adalah Ujian Tahap Kedua. Ujian yang akan menyaring kerikil dari emas murni.
Di depan gerbang hutan buatan yang terletak di belakang akademi, Tetua Mo berdiri melayang di udara. Jubah birunya berkibar tertiup angin. Di bawahnya, sekitar dua ribu peserta berdiri tegang.
"Dengar baik-baik," suara Tetua Mo bergema tanpa pengeras suara. "Di belakangku adalah Hutan Kabut Ilusi. Ini adalah habitat bagi Binatang Buas Roh (Spirit Beasts) tingkat rendah yang dipelihara akademi."
Dia mengangkat sebuah token giok berwarna hijau.
"Tugas kalian adalah bertahan hidup selama tiga hari di dalam hutan ini. Di leher setiap Binatang Buas, tergantung token seperti ini. Kalian harus mengumpulkan minimal sepuluh token untuk lulus."
Tetua Mo berhenti sejenak, matanya yang tajam menyapu kerumunan.
"Namun, akademi tidak peduli dari mana kalian mendapatkan token itu. Dari binatang buas... atau dari peserta lain."
Bisikan-bisikan cemas langsung pecah.
"Artinya kita boleh saling serang?"
"Ini bukan ujian bertahan hidup, ini pertempuran kerajaan (Battle Royale)!"
"Hanya ada satu aturan," lanjut Tetua Mo, suaranya menjadi dingin. "Dilarang membunuh sesama peserta. Jika lawan menyerah atau pingsan, hentikan serangan. Tapi... kecelakaan di dalam hutan yang penuh binatang buas, kadang tidak bisa dihindari."
Kalimat terakhir itu mengandung makna tersirat yang mengerikan. Jangan sampai ketahuan membunuh.
"Ujian dimulai!"
Gerbang besi raksasa terbuka dengan suara berderit. Kabut putih tebal langsung menyembur keluar, menelan pandangan dalam jarak lima meter.
"Maju!"
Ribuan peserta berhamburan masuk. Wang Long, tuan muda arogan dari Keluarga Wang, memimpin kelompoknya yang terdiri dari sepuluh orang. Sebelum masuk, dia menoleh ke arah Ye Chen dan membuat gerakan menyayat leher dengan ibu jarinya.
Ye Chen hanya menatapnya datar. Dia membetulkan letak pedang terbungkus kain di punggungnya, lalu melangkah santai ke dalam kabut, seolah sedang berjalan-jalan di taman.
Begitu masuk ke dalam hutan, dunia berubah.
Suara hiruk-pikuk peserta lain menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Kabut di sini bukan kabut biasa. Itu mengandung formasi ilusi tingkat rendah yang mengacaukan indra arah dan pendengaran.
Seorang peserta biasa akan berputar-putar di tempat yang sama selama berjam-jam.
Tapi Ye Chen memiliki Benih Niat Pedang di dalam Lautan Kesadaran-nya. Niat Pedang adalah musuh alami dari segala ilusi. Ia memotong kepalsuan untuk melihat kebenaran.
Ye Chen memejamkan mata sejenak. Saat dia membukanya lagi, kilatan perak samar melintas di pupilnya. Kabut di depannya seolah terbelah, memperlihatkan jalan setapak yang jelas.
"Arah jam sepuluh... ada tiga Binatang Buas. Arah jam dua... ada jebakan alami."
Ye Chen bergerak ke arah jam sepuluh.
Baru lima menit berjalan, semak-semak di depannya berguncang.
GRRR!
Tiga ekor Macan Dahan Kabut (Mist Prowler Tigers) melompat keluar. Mereka adalah Binatang Buas Tingkat 1 Puncak (Setara Pemadatan Qi Tingkat 3). Bulu mereka abu-abu, menyatu sempurna dengan kabut.
Ye Chen tidak mencabut pedangnya.
"Hanya kucing kecil," gumamnya.
Saat macan pertama menerkam, Ye Chen hanya memiringkan tubuhnya sedikit. Cakar macan itu lewat di samping telinganya.
BAM!
Ye Chen meninju rusuk macan itu dengan tangan kosong. Tidak ada teknik Qi, hanya kekuatan fisik Tubuh Guntur Asura.
Tulang rusuk macan itu remuk. Binatang seberat 200 kilogram itu terlempar menabrak pohon dan pingsan seketika.
Dua macan lainnya ragu sejenak, tapi insting buas mereka memaksa mereka menyerang bersamaan.
Ye Chen berputar, kakinya menyapu rendah.
Langkah Kilat Hantu: Sapuan Ekor Naga!
Kedua kaki depan macan-macan itu patah. Mereka jatuh tersungkur, melolong kesakitan.
Ye Chen berjalan mendekat, mengambil token giok yang tergantung di leher mereka satu per satu.
"Tiga token. Tujuh lagi."
Dia tidak membunuh mereka. Di wilayah akademi, membunuh aset berharga seperti binatang pelatih ini mungkin akan mengurangi poin penilaiannya.
Ye Chen memasukkan token itu ke saku jubahnya dan hendak pergi.
"Hei! Berhenti di sana!"
Suara langkah kaki berat mendekat dari arah belakang. Lima orang pemuda muncul dari balik kabut, mengepung Ye Chen. Mereka mengenakan seragam biru muda yang seragam—tanda bahwa mereka berasal dari satu klan atau perguruan bela diri yang sama.
Pemimpin mereka, seorang pemuda berwajah kasar dengan bekas cacar, memegang gada berduri.
"Serahkan tokenmu, dan tinggalkan 'peti mati' di punggungmu itu. Mungkin kami akan membiarkanmu pergi dengan satu tangan patah saja," kata si Muka Cacar sambil menyeringai.
Mereka melihat Ye Chen mengalahkan tiga macan itu, tapi mereka pikir Ye Chen pasti kelelahan. Ini adalah taktik pengecut: menjadi nelayan yang mengambil keuntungan di air keruh.
Ye Chen menatap mereka. "Kalian mau merampokku?"
"Merampok? Ini ujian, Bodoh! Yang kuat memakan yang lemah!" seru salah satu anak buahnya. "Lagipula, kau hanya sendirian. Kami berlima berada di Pemadatan Qi Tingkat 3 dan 4. Kau tidak punya harapan."
Ye Chen menghela napas panjang. Dia melepaskan ikatan kain di dadanya yang menahan pedang raksasa di punggung.
DUM!
Dia menurunkan bungkusan "peti mati" itu ke tanah. Tanah hutan yang gembur amblas sedalam sepuluh senti karena beratnya.
Kelima perampok itu terbelalak. Benda apa itu? Kenapa suaranya seberat itu?
"Kalian benar. Yang kuat memakan yang lemah," kata Ye Chen pelan.
Dia tidak membuka kain pembungkus pedangnya. Dia hanya memegang gagang pedang yang tersembunyi di balik kain itu.
"Jadi, bersiaplah dimakan."
"Serang dia! Dia cuma menggertak!" teriak si Muka Cacar.
Kelima orang itu menerjang serentak. Pedang, gada, dan tombak mengarah ke Ye Chen.
Ye Chen mengangkat bungkusan besar itu dengan satu tangan seolah itu adalah ranting kayu.
WUUUNG!
Dia mengayunkannya secara horizontal seperti tongkat pemukul raksasa.
"Apa—?!"
Perampok terdepan mencoba menangkis dengan pedangnya.
TRANG!
Pedang besinya hancur berkeping-keping. Bungkusan kain Ye Chen—yang berisi 500 kg Besi Meteor Hitam—terus melaju tanpa hambatan, menghantam dada perampok itu.
BUAGH!
Orang itu terlempar seperti layang-layang putus, menabrak dua temannya di belakang. Ketiganya berguling-guling di tanah, muntah darah, tulang dada mereka retak parah.
Dua orang yang tersisa, termasuk si Muka Cacar, mengerem langkah mereka dengan wajah pucat pasi.
"I-itu... senjata macam apa itu?" Si Muka Cacar gemetar. Dia melihat bungkusan kain itu tidak rusak sedikitpun, padahal baru saja menghancurkan pedang besi.
Ye Chen menyandarkan "peti mati"-nya di bahu.
"Kalian bilang ini peti mati, kan? Benar. Ini peti mati untuk kesombongan kalian."
Ye Chen melangkah maju satu langkah.
Langkah Kilat Hantu!
Dia menghilang dan muncul di depan si Muka Cacar.
"Ampun! Saya—"
PLETAK!
Ye Chen menepuk kepala si Muka Cacar dengan sisi datar bungkusan pedangnya. Tepukan "pelan" itu cukup untuk membuat mata si Muka Cacar memutih dan dia ambruk pingsan dengan benjol sebesar telur angsa.
Orang terakhir menjatuhkan senjatanya dan berlutut, kencing di celana. "Saya menyerah! Ambil token saya! Jangan pukul saya!"
Ye Chen mengambil token dari kelima orang yang pingsan dan menyerah itu. Total dia sekarang punya 8 token.
"Pergi. Sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan kakimu," perintah Ye Chen.
Orang terakhir itu lari terbirit-birit, meninggalkan teman-temannya yang pingsan.
Ye Chen mengikat kembali pedangnya ke punggung. Dia tidak merasa bangga. Melawan kerikil seperti ini tidak membantunya berkembang.
Namun, saat dia hendak bergerak lebih dalam ke hutan, getaran aneh muncul dari dalam Kantong Penyimpanan-nya.
Bukan getaran biasa. Itu adalah resonansi panas.
Peta Reruntuhan Dewa Pedang bereaksi!
Ye Chen segera mencari tempat tersembunyi di balik akar pohon besar dan mengeluarkan peta kulit binatang itu.
Permukaan peta yang tadinya bergambar statis, kini memiliki titik cahaya baru yang berkedip-kedip. Titik itu berada di dalam wilayah Hutan Kabut Ilusi, tapi jauh di kedalaman—di Zona Terlarang yang ditandai dengan warna merah di peta akademi.
"Pecahan peta kedua..." mata Ye Chen berbinar. "Ada di dalam ujian ini?"
Ini masuk akal. Akademi Bintang didirikan ratusan tahun lalu di atas reruntuhan sekte kuno. Mungkin pendiri akademi menemukan pecahan peta itu tapi tidak bisa memecahkan rahasianya, lalu menyegelnya di zona terlarang.
"Ujian ini menjadi jauh lebih menarik," Ye Chen tersenyum tipis.
Dia menyimpan peta itu kembali. Tujuannya berubah. Bukan lagi sekadar lulus ujian, tapi menyusup ke Zona Terlarang.
Namun, baru saja dia berdiri, sebuah sinyal kembang api merah meledak di langit di atas hutan, tidak jauh dari posisinya.
DUAR!
Itu bukan sinyal bantuan akademi. Itu sinyal khusus klan keluarga.
Ye Chen menyipitkan mata. Dia mengenali pola ledakan itu dari ingatan masa lalunya sebagai tuan muda.
Sinyal Pengepungan Keluarga Wang.
"Wang Long memanggil pasukannya," gumam Ye Chen. "Dan arahnya... tepat di jalur menuju Zona Terlarang."
Sepertinya Wang Long tidak hanya ingin lulus. Dia ingin membersihkan saingan potensial.
"Bagus. Sekalian lewat, sekalian membersihkan sampah."
Ye Chen melesat menuju arah sinyal itu. Di dalam kabut tebal, sosoknya seperti hantu pemangsa yang sedang berburu mangsa yang salah memilih lawan.
Sementara itu, di sebuah lembah kecil di dalam hutan.
Wang Long berdiri di atas batu besar, mengipas-ngipaskan kipas lipatnya dengan gaya angkuh. Di sekelilingnya, ada sekitar dua puluh peserta ujian yang telah tunduk padanya.
Di hadapan mereka, terpojok di dinding tebing, adalah seorang gadis muda dengan pakaian hijau yang robek-robek. Dia memegang cambuk panjang, wajahnya cantik namun pucat karena kelelahan.
"Nona Lin Xia," kata Wang Long sambil tersenyum licik. "Keluarga Lin dan Keluarga Wang sudah lama bersaing di Kota Awan Putih. Hari ini, di dalam hutan ini, tidak ada yang akan tahu jika putri jenius Keluarga Lin 'tidak sengaja' dimakan binatang buas."
Gadis itu, Lin Xia, menggertakkan gigi. "Wang Long, kau pengecut! Kau menyuap peserta lain untuk mengeroyokku?"
"Uang adalah kekuatan, Nona Lin. Sama seperti Qi," Wang Long tertawa. "Tapi aku berbaik hati. Jika kau menyerahkan tokenmu dan bersujud memanggilku 'Tuan', mungkin aku akan membiarkanmu pergi dengan pakaian utuh."
Para pengikut Wang Long tertawa menjijikkan.
"Dalam mimpimu!" Lin Xia mengibaskan cambuknya. Cambuk Ular Hijau!
Namun Wang Long hanya menjentikkan jarinya.
"Patahkan tangannya."
Dua pengikut Wang Long yang berada di Tingkat 4 maju menerjang.
Lin Xia mencoba melawan, tapi dia sudah kehabisan tenaga setelah dikepung selama satu jam. Cambuknya ditangkis, dan sebuah tendangan menghantam perutnya.
"Ugh!" Lin Xia terlempar menabrak dinding tebing. Dia jatuh terduduk, putus asa.
Wang Long turun dari batu, berjalan mendekati Lin Xia dengan tatapan predator. "Sayang sekali wajah cantik ini..."
Tiba-tiba.
WUUUNG!
Sebuah benda besar berbentuk persegi panjang melayang dari atas tebing, berputar di udara dengan suara mengerikan.
Benda itu jatuh tepat di antara Wang Long dan Lin Xia.
BOOOOM!
Tanah bergetar hebat. Debu mengepul. Wang Long terpaksa melompat mundur karena kaget.
Saat debu menipis, semua orang melihat benda itu.
Sebuah bungkusan kain lusuh yang panjang dan besar, tertancap vertikal di tanah.
"Peti mati?" gumam salah satu pengikut Wang Long.
Dari atas tebing, terdengar suara datar yang menembus kabut.
"Kudengar ada yang sedang memamerkan kekayaan di sini."
Semua orang mendongak.
Ye Chen berdiri di ujung tebing, jubah hitamnya berkibar. Dia melompat turun, mendarat dengan ringan di atas ujung gagang "peti mati" itu, menatap Wang Long dari ketinggian.
"Wang Long," sapa Ye Chen. "Kebetulan sekali. Aku sedang butuh pemanasan sebelum makan siang."
Wajah Wang Long berubah merah padam karena marah. Dia mengenali "si pembawa peti mati" yang mempermalukannya di gerbang kemarin.
"KAU! Sampah miskin!" Wang Long menunjuk Ye Chen. "Kau datang mengantar nyawa? Bagus! Bunuh dia sekalian! Siapa yang bisa membawa kepalanya, akan kuberi 100 Batu Roh!"
Dua puluh peserta ujian itu serentak menghunus senjata mereka, menatap Ye Chen seperti serigala kelaparan.
Ye Chen tersenyum miring di balik capingnya.
"Dua puluh lawan satu? Tidak adil."
Ye Chen menendang gagang senjatanya. Pedang Pemecah Gunung (yang masih terbungkus) melompat keluar dari tanah, berputar di udara, dan jatuh ke genggaman tangannya.
"Seharusnya kalian bawa seratus orang."
Pertempuran di Hutan Kabut Ilusi akan segera berubah menjadi mimpi buruk bagi Tuan Muda Wang.
(Akhir Bab 26)