Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Pagi itu, langit California tampak abu-abu, seolah mendukung suasana hati Luna yang telah mati rasa. Sesuai janjinya, Luna bangun dengan topeng keangkuhan yang lebih tebal dari biasanya. Ia merias wajahnya dengan teliti, menutupi sembab di matanya dengan concealer mahal, dan mengenakan kemeja putih bersih yang kaku, citra sempurna seorang mahasiswi kedokteran yang masa depannya telah tertata rapi.
Di kampus, Ternyata janji menjadi asing itu benar-benar diuji.
Kantin universitas sedang berada di puncak keramaian. Luna duduk di meja sudut bersama beberapa teman jurusannya, pura-pura fokus pada salad buah di depannya. Tiba-tiba, suasana kantin yang riuh mendadak berubah. Suara langkah bot yang berat dan tawa maskulin yang kasar menandakan kedatangan anak-anak Teknik.
Zayn masuk paling depan.
Ia mengenakan kaos hitam tanpa lengan yang memperlihatkan tato di lengannya dengan jelas. Rambutnya berantakan, dan ia tampak sedang menertawakan sesuatu yang dikatakan Arlo. Saat langkah mereka melewati meja fakultas kedokteran, jantung Luna berdenyut nyeri, namun ia tetap menunduk, menatap potongan apel di piringnya seolah itu adalah hal paling menarik di dunia.
"Eh, lihat itu si Zayn," bisik salah satu teman Luna, Sarah. "Katanya semalam dia habis merayakan sesuatu. Lihat wajahnya, puas sekali ya?"
Zayn tidak berhenti. Ia berjalan melewati meja Luna tanpa melirik sedikit pun. Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan rahasia, bahkan tidak ada hembusan napas yang tertuju pada Luna. Zayn memesan kopi hitam, lalu duduk di meja panjang yang jaraknya hanya lima meter dari Luna, namun terasa seperti ribuan kilometer.
Luna memberanikan diri mendongak sebentar. Di sana, Zayn sedang memegang ponselnya. Ia tampak mengetik sesuatu dengan senyum tipis di bibirnya.
"Pasti lagi kirim pesan buat pacarnya di London," celetuk teman Luna yang lain.
Mendengar itu, Luna segera memalingkan wajah. Rasanya seperti ditikam berkali-kali. Ia teringat betapa hangatnya dekapan Zayn semalam, betapa posesifnya pria itu saat menyatukan tubuh mereka, namun kini... pria itu bahkan tidak menganggapnya ada di ruangan yang sama.
Zayn benar-benar menjalankan perannya sebagai orang asing dengan sempurna. Ia tertawa bersama teman-temannya, menggoda beberapa mahasiswi lain yang lewat, dan bersikap seolah malam panas di markas The Pit itu tidak pernah terjadi.
Tiba-tiba, Zayn berdiri. Saat ia hendak keluar kantin, langkahnya mengharuskan ia melewati sisi meja Luna. Untuk satu detik yang terasa seperti selamanya, ujung jaket kulit Zayn menyentuh bahu Luna. Aroma bensin dan tembakau yang sangat Luna kenali menyeruak masuk ke indra penciumannya, memicu memori tentang erangan Zayn di telinganya semalam.
Luna menahan napas, berharap Zayn akan berhenti atau setidaknya melambat. Namun, Zayn terus melangkah. Ia tidak menoleh. Ia bahkan tidak meminta maaf karena menyenggol bahu Luna. Baginya, Luna hanyalah rintangan tak kasat mata di jalan setapaknya.
"Aku duluan ke kelas," ucap Luna tiba-tiba dengan suara serak. Ia membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru.
Ia harus pergi. Menjadi asing ternyata jauh lebih menyakitkan daripada menjadi musuh. Luna berjalan menuju arah berlawanan, sementara di belakangnya, Zayn sempat menghentikan langkahnya tepat di pintu kantin. Ia tidak menoleh, tapi tangannya mencengkeram tali tasnya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Zayn memejamkan mata sejenak, menghirup sisa aroma vanila Luna yang tertinggal di udara sebelum ia benar-benar melangkah keluar, kembali ke dunianya yang gelap, meninggalkan Luna dalam kesunyian yang mencekam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰