Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Minggu sore itu terasa berbeda dari biasanya. Rumah Nana tampak lebih rapi, lebih wangi. Bu Hapsari bahkan mengganti taplak meja ruang tamu dengan yang baru warna krem dengan motif bunga kecil yang jarang dipakai kecuali ada tamu istimewa. Vas di sudut meja diisi bunga segar. Tirai dibuka agar cahaya senja masuk lembut ke dalam ruangan.
Nana yang biasanya santai mengenakan kaos rumah, kali ini duduk canggung dengan gamis pastel dan hijab senada. Tangannya dingin, padahal cuaca tidak sedang hujan.
“Nggak usah tegang,” bisik Bu Hapsari pelan sambil merapikan sedikit lipatan hijab putrinya.
“Nana nggak tegang, Ma,” jawabnya cepat meski jari-jarinya saling bertaut gugup di pangkuan.
Bu Hapsari tersenyum kecil. Ia hafal sekali ekspresi anaknya kalau sedang berusaha terlihat tenang.
Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah. Jantung Nana seakan ikut berhenti sesaat. Nafasnya tertahan. Ia tidak tahu kenapa momen sederhana seperti itu terasa seperti pengumuman besar dalam hidupnya.
Bu Hapsari berdiri lebih dulu, diikuti Papa yang berjalan ke arah pintu. Nana ikut berdiri, tapi langkahnya terasa berat.
Pintu terbuka.
Bu Karin masuk lebih dulu dengan senyum hangat, wajahnya terlihat bahagia seperti sedang menunaikan sebuah niat baik yang sudah lama dipikirkan. Di belakangnya, seorang laki-laki tinggi berbahu tegap mengenakan kemeja putih sederhana melangkah masuk.
Itu pasti Izzan.
Sikapnya tenang. Tegap. Cara jalannya terukur, seperti orang yang terbiasa hidup dengan disiplin. Sorot matanya tajam tapi tidak dingin lebih kepada tatapan yang terbiasa mengamati.
“Itu Izzan,” bisik Bu Hapsari pelan di samping Nana.
Nana menelan ludah.
“Assalamu’alaikum,” sapa Bu Karin ceria.
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka bersamaan.
Izzan melangkah sedikit maju. “Assalamu’alaikum, Om, Tante.”
Suaranya dalam dan teratur. Tidak keras, tapi jelas. Ada wibawa yang tidak dibuat-buat.
Namun saat matanya bertemu Nana, ada sepersekian detik jeda yang sulit dijelaskan. Seolah keduanya sama-sama terkejut melihat versi nyata dari sosok yang sebelumnya hanya ada dalam cerita orang tua.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Nana pelan.
“Ini Nana,” ujar Bu Hapsari memperkenalkan.
Izzan mengangguk sopan. “Saya Izzan.”
“Tau,” jawab Nana spontan, lalu langsung merasa salah tingkah. “Maksudnya… Mama sudah cerita.”
Izzan tersenyum tipis. Senyum yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat suasana mencair sedikit.
Mereka dipersilakan duduk. Nana dan Izzan berhadapan dengan jarak meja kecil di antara mereka. Orang tua mulai berbincang tentang banyak hal akademi, kelulusan, rencana penempatan tugas, cerita masa kecil yang membuat Bu Karin dan Bu Hapsari beberapa kali tertawa bersama.
Nana hanya mencuri pandang sesekali. Izzan terlihat jauh lebih dewasa dari bayangannya. Rahangnya tegas. Posturnya tinggi. Gerak-geriknya minim tapi penuh kesadaran. Tidak seperti anak laki-laki SMA yang dulu pernah ia lihat bermain sampai magrib.
“Kamu kelas 12, ya?” tanya Izzan akhirnya, membuka percakapan langsung padanya.
“Iya. Lagi sibuk-sibuknya try out,” jawab Nana.
“Capek?”
“Lumayan,” Nana tersenyum kecil. “Tapi sudah biasa.”
Izzan mengangguk pelan. “Dulu waktu SMA juga rasanya begitu. Tiba-tiba semua terasa penting.”
Nana sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Izzan akan mengingat masa SMA-nya dengan nada ringan seperti itu.
“Rencana mau ambil jurusan apa?” lanjut Izzan.
“Farmasi… kalau lolos,” ucap Nana pelan.
“InsyaAllah,” balas Izzan singkat namun terdengar tulus.
Tidak ada kesan meremehkan. Tidak ada nada menggurui. Hanya dukungan sederhana.
Percakapan mereka ringan. Tentang sekolah, tentang kebiasaan bangun pagi, tentang bagaimana Nana sering begadang belajar. Izzan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Setiap Nana menjawab, ia memperhatikan dengan serius, seolah menghargai setiap kata.
Dan itu justru membuat Nana merasa… dihargai.
Namun di balik sikap tenangnya, ada sesuatu yang tak seorang pun tahu.
Beberapa minggu terakhir, Izzan sebenarnya tengah dekat dengan seseorang. Seorang adik kelas SMA yang dikenalnya saat pulang ke kota beberapa bulan lalu. Gadis ceria yang sering membalas pesannya dengan cepat. Yang tertawa lepas di kafe saat mereka tak sengaja bertemu. Yang membuatnya merasa kembali menjadi anak SMA, bukan taruna tingkat akhir yang sebentar lagi memikul tanggung jawab besar.
Belum ada status.
Belum ada janji.
Belum ada keberanian untuk menyatakan perasaan.
Dan sore ini, ia duduk di hadapan Nana gadis yang diperkenalkan orang tuanya sebagai kemungkinan masa depan.
Izzan menatap cangkir tehnya sejenak. Uap tipis naik perlahan. Hatinya terasa berada di dua arah yang berbeda. Satu sisi ingin mengikuti arus yang orang tuanya buka dengan penuh niat baik. Sisi lain masih terikat pada rasa yang belum selesai.
“Nana suka baca?” tanyanya, kembali fokus.
“Suka novel,” jawab Nana, kali ini lebih santai.
“Genre apa?”
“Romance… kadang islami. Kadang yang sedih,” Nana tertawa kecil.
“Aku juga,” ujar Izzan. “Kalau lagi nggak sibuk.”
Kali ini Nana tersenyum lebih lepas. “Taruna baca novel?”
“Taruna juga manusia,” balas Izzan ringan.
Semua tertawa kecil.
Suasana semakin hangat. Bahkan Papa ikut menimpali beberapa candaan. Bu Karin terlihat puas melihat percakapan itu berjalan alami.
Tak ada pembicaraan tentang lamaran. Tak ada kalimat “kapan menikah”. Hanya perkenalan. Hanya dua orang yang mencoba saling mengenal di bawah pengawasan doa orang tua.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Sore mulai meredup. Langit berubah keunguan. Lampu ruang tamu dinyalakan.
Nana menyadari dirinya sudah tidak setegang awal tadi. Ia bahkan beberapa kali berani menatap langsung saat berbicara. Izzan pun tampak lebih santai, meski sikap tegapnya tetap tidak hilang.
Ketika akhirnya Bu Karin melihat jam dan memberi isyarat untuk pamit, Nana merasakan sesuatu yang aneh—seperti ada momen yang belum selesai.
Izzan berdiri lebih dulu. “Kami pamit dulu, Om, Tante.”
“Terima kasih sudah datang,” jawab Papa.
Saat Izzan sedikit menoleh ke arah Nana, tatapan mereka kembali bertemu.
“Terima kasih sudah menerima kami,” ucapnya sopan.
“Iya… sama-sama,” jawab Nana.
Kali ini suaranya lebih stabil.
Ada hening kecil di antara mereka. Bukan hening canggung. Lebih seperti jeda yang menyimpan banyak kemungkinan.
Izzan mengangguk tipis sebelum melangkah keluar.
Pintu tertutup perlahan.
Suara mobil menjauh.
Dan Nana berdiri diam di ruang tamu yang kini kembali sunyi.
“Gimana?” tanya Bu Hapsari lembut.
Nana menarik napas pelan.
“Dia… baik,” jawabnya jujur.
Hanya satu kata. Tapi di dalamnya ada banyak hal yang belum bisa ia uraikan.
Baik dalam sikap.
Baik dalam cara mendengar.
Baik dalam cara menatap tanpa membuatnya merasa kecil.
Nana tidak tahu masa depan seperti apa yang sedang dibuka untuknya. Ia juga tidak tahu bahwa di hati Izzan, masih ada nama lain yang belum sepenuhnya hilang.
Yang ia tahu, sore itu telah mengubah sesuatu.
Sesuatu yang pelan-pelan mulai tumbuh—bukan cinta, bukan harapan besar.
Tapi rasa penasaran.
Dan mungkin… awal dari kisah yang belum ia mengerti arahnya.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang