⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 (Part 1) Sweat, Tears, and The "Special Responsibility"
Kalau ada yang bilang olahraga itu menyehatkan, Gia pengen banget ngajak orang itu duel argumen di depan Mahkamah Konstitusi. Baginya, olahraga sore ini adalah bentuk peroncean harga diri yang dibalut dalam kedok "pendewasaan fisik"
Matahari jam empat sore di lapangan SMA Garuda Bangsa masih terasa seperti panggangan air fryer. Gia berdiri di garis start dengan napas yang sudah tersengal padahal lari saja belum dimulai. Di sampingnya, Pak Radit berdiri tegak, memegang papan jalan dan stopwatch digital yang bunyinya sangat intimidatif.
"Pak, 15 putaran itu kalau dikonversi ke langkah kaki manusia normal, bisa sampai ke Bekasi lho, Pak," keluh Gia sambil membenarkan ikat rambutnya yang mulai kendor.
Pak Radit melirik jam tangannya. "Satu putaran lapangan ini cuma 400 meter, Gia. 15 putaran itu enam kilometer. Untuk ukuran orang yang katanya 'mau jadi dewasa', lari enam kilo itu dasar banget. Ayo, mulai. In 3, 2, 1... go!"
PRIIIIIT!
Gia terpaksa lari. Awalnya dia masih mencoba lari dengan gaya estetik—rambut melambai, punggung tegak, mirip-mirip iklan minuman isotonik. Dia ingin tetap kelihatan slay di depan Pak Radit. Tapi memasuki putaran ketiga, semua estetika itu log out dari raganya.
"Angkat kakinya, Gia! Jangan diseret kayak zombi kurang asupan!" teriak Pak Radit dari tengah lapangan.
Gia cuma bisa membalas dengan tatapan maut yang sayu. Keringat mulai membanjiri wajahnya, luntur sudah sunscreen mahal yang dia pakai tadi pagi. Sekarang wajahnya lebih mirip donat gula yang kena panas, lengket dan berantakan.
Putaran kelima, paru-paru Gia rasanya mau meledak. Dia berhenti sebentar, membungkuk sambil memegangi lututnya.
"Pak... break... bentar... butuh oksigen... atau... nafas buatan..." rengek Gia putus-putus.
Pak Radit berjalan menghampiri. Bukannya kasihan, dia malah berdiri di depan Gia, menutupi sinar matahari dengan badannya yang bongsor. "Nggak ada nafas buatan buat orang yang cuma lari lima putaran terus nyerah. Kamu kemarin berani banget kan nantangin Siska? Mana mentalnya tadi?"
Gia mendongak, matanya yang perih kena keringat menatap Pak Radit dengan kesal. "Itu... itu beda urusan, Pak! Itu urusan hati, ini urusan otot! Otot saya nggak sekuat hati saya!"
Pak Radit terkekeh. Dia mengambil botol minumnya sendiri, lalu menyodorkannya ke Gia. "Minum dulu tiga teguk. Terus lanjut. Saya temenin."
Gia langsung merebut botol itu. Dia nggak peduli lagi soal indirect kiss atau apalah itu, yang penting air! Tapi tunggu—apa kata Pak Radit tadi? Dia mau nemenin?
Pak Radit mulai melepas jam tangannya,
memberikannya pada Gia untuk dipegang. Dia mulai melakukan stretching kecil. Kaos polo hitamnya yang ketat itu mengikuti setiap gerakan otot bahunya. Gia hampir tersedak air yang lagi dia minum.
"Ayo. Jangan liatin saya terus, nanti putarannya nggak nambah-nambah," kata Pak Radit sambil mulai lari kecil di samping Gia.
...
Mereka lari berdampingan. Pak Radit lari dengan sangat stabil, nafasnya teratur, seolah-olah dia cuma lagi jalan santai di mal. Sementara Gia? Dia sudah mirip ikan mas koki yang megap-megap di luar akuarium.
"Pak..." panggil Gia di putaran kedelapan.
"Hm?"
"Bapak beneran... nggak ada apa-apa sama Tante Siska?"
Pak Radit menghela napas, tapi kakinya nggak berhenti bergerak. "Gia, kamu itu obsesif banget ya sama masa lalu orang. Saya sama Siska itu udah selesai dua tahun lalu. Dia itu ambisius, saya... ya begini. Kami nggak sejalan."
"Nggak sejalannya kenapa? Bapak kurang kaya buat dia? Atau dia kurang sabar nungguin Bapak jadi PNS?"
Pak Radit melirik Gia dengan tatapan tajam yang bikin Gia langsung tutup mulut. "Dia mau saya berhenti jadi guru dan kerja di perusahaan bapaknya. Saya nggak mau. Sesimpel itu."
Gia terdiam. Dia nggak nyangka alasannya bakal seserius itu. "Berarti... Bapak sayang banget ya sama profesi Bapak?"
"Saya suka ngajar. Saya suka liat anak-anak yang awalnya nggak bisa apa-apa jadi bisa. Termasuk anak bandel kayak kamu yang sekarang berhasil lari delapan putaran tanpa pingsan."
Gia tersenyum tipis. Ada rasa bangga yang aneh mekar di dadanya. Tapi rasa bangga itu langsung sirna saat kakinya tiba-tiba lemas. Putaran kesepuluh adalah batas maksimal hardware Gia. Dia limbung, dan kalau Pak Radit nggak sigap menangkap pinggangnya, Gia sudah pasti bakal mencium aspal lapangan untuk kedua kalinya.
"Gia!" Pak Radit menahan beban tubuh Gia.
...
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..