NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29- Malam yang Panjang

Pukul empat sore di toko buku, udara terasa seberat timah; tebal, lengket, dan seolah tidak menyisakan ruang bagi paru-paru Alea untuk mengembang. Ia berdiri mematung di depan rak buku kategori Self-Improvement. Tangannya yang menggenggam kemoceng hanya tergantung lemas di sisi tubuhnya, tidak melakukan gerakan pembersihan sama sekali. Matanya kosong, menatap deretan judul buku tentang cara menjadi bahagia, cara menyembuhkan luka, dan cara mencintai diri sendiri. Baginya saat ini, semua judul itu terasa seperti ejekan tertulis yang sangat kejam, seolah-olah kertas-kertas itu sedang menertawakan kehancurannya.

Dinda, yang sedari tadi mondar-mandir di balik meja kasir, akhirnya tidak tahan lagi. Sahabatnya itu terlihat seperti lilin yang sudah mencapai dasar sumbunya; tinggal menunggu satu hembusan napas kecil sampai apinya padam total. Dinda meletakkan pemindai kode barang dengan suara yang sengaja diperkeras, berharap Alea tersentak, namun Alea tetap tidak bergeming. Dinda menghela napas, meninggalkan tumpukan stok buku baru, dan menghampiri Alea.

“Al,” panggil Dinda pelan, hampir berbisik.

Alea tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip. Satu helai rambut jatuh menutupi kelopak matanya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun untuk menyingkirkannya. Ia tampak seperti benda mati yang diletakkan secara paksa di antara rak-rak kayu itu.

“Alea!” Dinda akhirnya menepuk bahu Alea sedikit keras.

Alea tersentak hebat, kemoceng di tangannya jatuh ke lantai kayu dengan suara pluk yang hampa.

“Eh, iya, Din? Kenapa? Ada pelanggan yang mau bayar? Maaf, aku nggak dengar belnya berbunyi.” Suara Alea terdengar tipis dan kering, seolah nyawanya sedang tidak berada di dalam tubuhnya.

Dinda menatap Alea dengan wajah penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ia membungkuk, mengambil kemoceng itu dan menyerahkannya kembali.

“Pelanggan apanya, Al? Toko sepi dari tadi. Kamu kenapa, sih? Entah sudah berapa puluh judul buku yang kamu tatap tanpa berkedip sampai matamu merah begitu. Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali, Alea. Bibirmu bahkan hampir nggak ada warnanya.”

Alea memaksakan senyum tipis, jenis senyum yang hanya merupakan tarikan otot di bibir tanpa sedikit pun melibatkan hatinya. “Nggak, Din. Aku cuma, sedikit kurang tidur saja. Kepalaku agak berat, mungkin karena efek cuaca yang lagi tidak menentu akhir-akhir ini.”

“Jangan bohong padaku. Aku sudah mengenalmu bukan cuma sehari dua hari.” Dinda menyandarkan punggungnya ke rak buku, menghalangi pandangan Alea dari buku-buku itu. “Ini soal kejadian di mobil kemarin, kan? Sejak Aksa mengantarmu pulang kemarin lusa, kamu jadi kayak mayat hidup begini. Dia bilang apa lagi padamu sampai kamu 'runtuh' begini? Dia melakukan sesuatu?”

Alea membungkuk lambat, gerakannya kaku seperti sebuah mesin yang kekurangan pelumas. “Dia nggak salah, Din. Dia benar. Benar sekali. Aku yang salah. Aku yang terlalu sensitif, terlalu kekanak-kanakan, dan terlalu suka membawa beban yang harusnya sudah aku buang.”

“Sensitif kenapa? Cerita padaku, Al. Jangan disimpan sendiri terus sampai dadamu sesak.”

Alea menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. “Kemarin di mobil, ada lagu lama yang diputar di radio. Lagu yang dulu selalu diputar Hanif tiap kali dia menjemputku. Lagu yang dia putar saat dia bilang dia sangat mencintaiku, sebelum akhirnya dia pergi begitu saja tanpa kata. Refleks, aku mematikan radionya dengan kasar. Dan Aksa, dia bilang kalau aku nggak sopan sama benda mati. Dia bilang masa lalu bukan alasan buat aku bersikap buruk di depannya.”

Dinda mengumpat pelan di balik giginya. “Ya ampun, si Bapak CEO itu memang logikanya terlalu lurus. Dia pikir perasaan manusia itu kayak laporan keuangan yang bisa dihitung pakai angka? Dia nggak tahu ya kalau trauma itu bukan pilihan yang bisa kita pilih atau tolak?”

“Tapi dia benar, Din,” sela Alea, suaranya mulai bergetar. Satu tetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. “Aku ini menyedihkan. Aku membandingkan dia sama Hanif terus. Aku merasa nggak pantas ada di dekat orang sehebat dia. Lihat deh, dia sukses, dia bisa mengatasi masalah luar kota yang rumit, dia bisa mengurus ibunya yang sakit sendirian tanpa kehilangan akal. Sedangkan aku? Dengar lagu lama saja langsung gemetaran kayak orang gila. Aku merasa...aku ini produk gagal, Din. Aku cuma perempuan rusak yang hanya akan jadi beban buat dia.”

“Al, berhenti bicara begitu tentang dirimu sendiri!”!seru Dinda, mencoba memegang tangan Alea yang terasa sedingin es.

“Aku capek, Din. Benar-benar capek,” potong Alea. “Rasanya duniaku seperti berhenti berputar, sementara orang-orang di luar sana berlari menuju masa depan yang cerah. Aku merasa nggak mengenali diriku sendiri lagi. Aku lelah pura-pura tersenyum saat ada pelanggan yang masuk, lelah pura-pura baik-baik saja di depan Aksa seolah-olah aku wanita kuat yang setara dengannya, bahkan aku lelah pura-pura tegar di depanmu. Aku cuma ingin berhenti sejenak. Berhenti jadi Alea.”

Dinda tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap sahabatnya dengan perasaan pedih yang sama besar. Ia tahu, kata-kata motivasi apa pun sekarang hanya akan terdengar seperti sampah di telinga Alea.

Malamnya, setelah toko ditutup dan gemerlap lampu Jakarta mulai mengambil alih, kegelapan yang sesungguhnya baru dimulai bagi Alea. Di kamar kostnya yang sempit, suasana terasa semakin menyesakkan. Kamar berukuran 3x4 meter itu seolah perlahan-lahan mengecil, dinding-dinding bercat putih kusam itu seolah bergerak mendekat, menjepit dadanya hingga ia sulit untuk sekadar menarik oksigen.

Ia berdiri di depan cermin kamar mandi yang sedikit berkerak, menatap pantulan perempuan yang matanya sudah kehilangan binar kehidupan. Ia menangis lagi. Kali ini bukan tangisan yang meraung-raung, melainkan air mata yang jatuh begitu saja tanpa suara, terus-menerus, membasahi kemeja kerjanya yang belum sempat ia lepas.

“Kenapa aku selemah ini? Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain yang bisa bangun dengan semangat setiap pagi?” bisiknya pada pantulannya sendiri.

Ia merasa hampa, seolah-olah ada lubang hitam besar di tengah dadanya yang sedang mengisap seluruh energinya. Ia menghitung hari-hari yang terasa monoton dan melelahkan. Pagi berangkat ke toko dengan topeng keceriaan, sore dijemput Aksa dengan suasana canggung yang mencekik karena ia takut salah bicara lagi, dan malam berakhir meringkuk sendirian di atas kasur single yang sudah mulai menipis busanya.

Suara tetangga kost yang sedang tertawa di lorong atau suara motor yang lalu lalang di depan pagar terdengar seperti kebisingan dari dunia lain yang tidak bisa ia jangkau. Ia merasa terasing di tempatnya sendiri.

Ia ingin lari, tapi kakinya terasa seberat timah. Ia ingin bercerita pada Aksa, ingin bilang bahwa ia sedang hancur dan butuh dipeluk, tapi ia takut pria itu akan memandangnya sebagai beban atau sekadar "proyek" yang harus diperbaiki. Aksa adalah seorang CEO yang dunianya penuh dengan logika dan efisiensi, mana mungkin dia bisa mengerti kerumitan hati yang hancur hanya karena sepotong melodi di radio?

Alea menatap tangannya yang bergetar saat mencoba menyeduh teh hangat, namun ia membatalkannya karena perutnya terasa sangat mual. Malam itu terasa abadi. Setiap detak jarum jam di dinding kostnya terdengar seperti palu besar yang sedang menghantam paku ke dalam hatinya. Ia meringkuk di bawah selimut, memeluk bantal gulingnya dengan erat sampai jemarinya memutih, seolah-olah jika ia melepaskan pelukan itu, jiwanya akan tercerai-berai. Di tengah kegelapan, ia berbisik lirih dengan suara yang nyaris hilang.

“Tolong, besok pagi jangan bangunkan aku dulu. Aku masih sangat lelah.”

Namun, ia tahu kenyataan tidak pernah berpihak pada orang yang menyerah. Besok matahari akan tetap terbit dengan angkuh. Pintu toko tetap harus dibuka. Dan yang paling ia takuti adalah fakta bahwa Aksa mungkin akan kembali menjemputnya besok sore, menatapnya dengan pandangan dingin yang menuntutnya untuk menjadi "normal" kembali, sementara ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk sekadar bernapas tanpa merasa sakit.

1
Gaza Nesia
dewasa bnr si aksa
Gaza Nesia
tapi emang rata rata gitu gak sih, klo banyak masalah jdi nggak fokus kerja😓
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!