SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Pengakuan menyakitkan
"Ga-galuh." Melihat tatapan sendu Galuh hati Roki gelisah.
"Jadi kalian pacaran? Maksudnya apa ini, Mas? Aku masih gak yakin meski kamu pernah bilang ..." Rasanya sakit mengakui bahwa suaminya punya wanita idaman lain. Dia masih tidak percaya ini terjadi dalam kehidupan rumah tangganya.
Matanya menatap tangan Caca merangkul posesif lengan sang suami. Menyadari kemana tatapan mata Galuh, Roki cepat-cepat melepaskan rangkulan tangannya dari tangan dia.
"Galuh ini .." Belum juga selesai bicara, ibunya bersuara memotong ucapannya.
"Kalian berdua pacaran? Ibu tidak salah dengar kan? Sejak kapan kalian punya hubungan?" cerca Bu Desi penasaran, setahunya sang putra sulit menyukai perempuan dan dekat pun baru-baru ini saat dijodohkan dengan Galuh.
"Bu tolong jangan ..."
Bu Desi mengangkat tangannya, mencegah sang putra bicara.
"Saya Caca, Tante. Saya dan Roki sudah pacaran 2 tahun, tapi Roki malah menikah sama wanita lain disaat statusnya masih jadi pacar saya," ucap Caca menunduk sedih.
"Maaf jika kedatangan saya kesini buat ulah, tapi saya tidak bisa diam terus sedangkan saya dan Roki sering menghabiskan waktu bersama. Saya mau menagih janji kekasih saya, dia sudah janji sama saya mau nikahi saya tapi .. tapi dia malah menikah sama orang lain." Air mata palsu meluncur deras di pipinya, ia juga sempat melirik Galuh tersenyum tipis penuh rencana.
Tubuh Galuh merasa lemas, dia merasa dadanya terasa sesak, tubuhnya gemetar, kakinya lemas seakan tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Galuh terduduk lesu di kursi yang ada di teras depan.
Dari jauh, Raka juga bisa mendengar pengakuan gila mereka, sorot matanya tajam dan ia menatap iba Galuh. Tidak percaya wanita itu dikhianati oleh suaminya, lebih parahnya sama laki-laki.
"Dia brengsek juga, masa pacaran sama cowok? Otaknya gak waras, kasihan Galuh."
"Ya ampun Roki, kenapa tidak bilang dari dulu jika kamu punya pacar, tahu gitu kalian sudah ibu nikahkan sebelum kakek kamu menjodohkan kamu sama anak temannya." Bukannya marah, Bu Desi malah terlihat senang, ia berpikir dengan Roki punya kekasih mungkin saja bisa menikahkan keduanya dan Caca bisa cepat hamil.
"Hubungan kalian sudah sejauh mana?" sambung Bu Desi sedangkan Galuh diam menatap kosong ke depan.
"Bu, cukup, jangan banyak bertanya." Mata Roki tertuju pada ibunya dan Galuh, entah mengapa ia tidak bisa melihat Galuh sedih. Perasaannya berbeda terhadap Galuh, namun jika dia terang-terangan maka dia yang akan hancur sebab dia tahu Caca suka nekat.
"Gak bisa Roki, ibu harus tahu sejauh mana hubungan kalian ini. Jujur sama Tante kalian sudah ngapain aja?" desak Bu Desi.
"Kami sering berciuman, Tante. Sering saling memuaskan."
Deg.
Apa?" Syok itu yang Galuh dan Bu Desi rasakan.
Hancur sudah kepercayaan Galuh untuk suaminya. Hatinya teriris sakit, jiwanya terguncang hebat mendengar kenyataan jika suaminya sering berhubungan badan dengan wanita lain.
"Jadi ini alasan kamu tidak mau menyentuhku karena kamu memiliki wanita idaman lain." Batin Galuh tersayat perih. Cairan bening menetes membasahi wajah cantiknya.
*******
Kontrakan Andina.
Orang-orang mulai meninggalkan kontrakan Andina, tinggal keluarga inti saja di dalam sana. Melihat orang-orang sedang sibuk bicara, Arya meraih tangan Andina membawanya ke luar rumah.
Mereka berhenti di samping rumah. "Jujur, saya memang menerima pernikahan ini tapi saya tidak bisa menyukai kamu. Sebelum saya menikahimu saya sudah tertarik sama orang lain, saya mohon jangan terlalu berharap sama saya, takutnya kamu sakit sendiri."
Bukan karena Arya tega, tapi karena saat ini hatinya bukan untuk Andina. Untuk bisa menyukai Andina butuh proses, ia ingat betul ketika menyukai Shakira move on nya lama, butuh waktu 2 tahun untuk bisa melupakannya. Dan ada kemungkinan besar ini juga sama, dia bukan tipe yang mudah jatuh cinta tapi sekalinya suka malah salah orang terus. Dulu menyukai Shakira eh wanitanya memilih kembali sama masa lalunya dan sekarang menyukai Galuh, eh ternyata istri orang.
Bibir Andina terpaksa senyum, sudah ia duga laki-laki yang sudah menikahinya pasti punya wanita yang disukai. "Kamu tenang saja, saya tidak akan memaksa kamu menyukai saya karena saya sadar betul siapa saya. Jika suatu hari nanti kamu dan wanita yang kamu sukai ditakdirkan bersama, saya yang akan mundur dengan suka rela."
Arya diam, apa bisa dia bersama Galuh?
"Ya sudah, sekarang kamu pergi ..."
"Arya!" sentak bunda Nurul tiba-tiba ada di depan mereka.
Keduanya terbelalak, Arya mematung, tenggorokannya tercekat, tatapan mata sang bunda begitu tajam, ia panik apa bundanya mendengar semua yang dia bicarakan?
"Bu-bunda. Sudah lama bunda disini?"
Pletak!
Kepala Arya di jitak samping ada suara bunyi.
"Otak dangkal kamu, baru saja bunda bilang bahagian istri kamu eh sekarang malah minta dia meninggalkan tempat ini, kamu edan atau kurang waras sih? Perasaan bunda dan Appa tidak pernah ngajarin kamu buat kurang ajar apalagi nyuruh istri pergi." Tangannya berada di dia sisi pinggang, matanya melotot tajam seakan ingin menerkam Arya hidup-hidup.
"Bunda bukan gitu, tadi maksudnya A Arya dia nyuruh aku pergi ke dalam, ini sudah magrib mau malam, nanti kedinginan. Ucapan A Arya kepotong sama ucapan bunda, beneran kok, aku gak bohong, Bun." Andina membela, gak mungkin juga bilang yang sebenarnya.
Mata bunda Nurul memicing curiga. "Jangan bohong Andina, bunda tahu kalian nikah terpaksa."
"Terpaksa bukan berarti tidak menerima kan, Bun? Wajar jika kita masih canggung karena kita butuh waktu untuk mengenal satu sama lainnya." Lalu Andina menatap Arya tulus, mata mereka saling bertemu.
"Sekalipun kita nikah terpaksa tapi aku tidak akan terpaksa menjadi istrinya. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan akan melayani suamiku sepenuh hati. Karena sekarang aku tahu letak surgaku ada dimana, di A Arya." Tidak ada kebohongan dalam ucapannya, tidak ada keraguan, yang ada kejujuran serta tekad. Mau dianggap ataupun tidak itu urusan nanti tapi bagi Andina, berbakti pada suami adalah kewajiban mutlak.
Deg.
Arya terpaku pada wajah cantik Andina, perkataan dengan nada suara lembut itu menggetarkan hati tanpa sadar. Ia merasa dihargai, merasa dijadikan tujuan, namun juga ia menolak untuk tidak percaya. Ia yakin yang dilakukan Andina hanya sandiwara di depan bundanya.
Senyum cerah bunda Nurul kembali menghiasi wajahnya. "Kamu emang baik Nak, bunda yakin kamu memang yang terbaik buat anak bunda."
Kemudian bunda Nurul merangkul pundak Andina. "Bersabarlah dalam mengambil hati anak bunda, Arya memang sulit menyukai perempuan. Sekalinya suka malah sama orang yang gak tepat. Bunda harap kamu adalah pilihan terakhirnya."
Keduanya hilang dari pandangan Arya, menyisakan tanda tanya besar di benaknya. "Apa aku bisa dengan mudah melupakanmu, Galuh? Kenapa jadi seperti ini sih?"