Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
Sebenarnya, Taehyung tahu kalau gadis bernama Ryn Moa menyukainya. Dari cara gadis itu menatap dan selalu memilih duduk di tempat yang bisa melihatnya, juga dari cara teman-temannya berperilaku mencurigakan setiap kali Taehyung lewat. Bukan karena ia sok peka, akan tetapi karena ia merasa dunia berputar di sekelilingnya begitu sangat konsisten dengan kehadiran gadis itu. Ia hanya cukup lama hidup dengan pola yang sama untuk mengenali tanda-tandanya. Ada jenis tatapan yang tidak meminta balasan, hanya ingin memastikan keberadaan. Tatapan yang pura-pura singkat tapi selalu kembali. Tatapan yang berhenti sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Ryn Moa punya semua itu, dan Taehyung melihatnya sejak awal. Ia tidak bodoh soal perasaan orang lain. Ia hanya… terbiasa tidak menanggapinya. Bukan karena ia kejam. Lebih karena ia lelah. Dalam hidupnya, perhatian seperti itu datang seperti musim. Ada masanya ramai, ada masanya berlalu. Dan selama ini, ia selalu berdiri di tempat yang sama, tidak benar-benar ikut hanyut.
Sejak SMA, lalu berlanjut ke bangku kuliah, Taehyung selalu berada di posisi yang sama, disukai tanpa diminta, diperhatikan tanpa usaha, diharapkan tanpa pernah benar-benar berjanji apa pun. Ia tidak pernah memberi harapan, tapi entah mengapa, orang-orang sering menaruh harapan padanya. Perhatian seperti itu sering datang dan pergi dalam hidupnya. Ada yang terang-terangan, ada yang diam-diam. Ryn Moa termasuk yang diam-diam, tapi konsisten. Dan entah bagaimana, konsistensi itu dulu terasa aman. Tidak menuntut, Tidak mengganggu. Ryn Moa tidak pernah mendekat berlebihan. Tidak pernah mencari alasan aneh untuk berbicara. Tidak pernah memasuki ruang pribadinya tanpa diundang. Ia hanya ada, Selalu ada. Jika Taehyung duduk di bangku belakang, Ryn Moa akan memilih bangku samping, bukan tepat di sebelahnya, tapi cukup dekat untuk melihat. Jika Taehyung berdiri berbincang dengan teman-temannya, Ryn Moa akan berada di sudut ruangan, berpura-pura sibuk dengan ponsel atau buku. Dan Ida,...Tuhan, temannya itu bahkan tidak pandai berpura-pura. Setiap kali Taehyung lewat, Ida selalu terlalu cepat menoleh, terlalu lama menatap, lalu terlalu gugup menarik Ryn Moa pergi sambil berbisik keras, “UDAH, UDAH, JANGAN KELIHATAN!”
Taehyung tidak pernah memikirkannya terlalu jauh. Ia hanya merasa… ya, lucu saja. Lucu bagaimana Ryn Moa selalu pura-pura sibuk setiap kali ia lewat. Lucu bagaimana gadis itu langsung menegakkan punggung saat Taehyung menoleh. Lucu bagaimana pipinya memerah saat mata mereka tak sengaja bertemu. Kadang Taehyung bahkan sengaja memperlambat langkahnya hanya untuk melihat apakah Ryn Moa akan bereaksi. Dan hampir selalu, ya. Gadis itu akan mengangkat kepala, lalu buru-buru menunduk kembali seolah tertangkap basah melakukan kejahatan besar. Semua itu dulu terasa ringan. Hampir seperti kebiasaan kecil yang tidak perlu dianalisis. Ryn Moa adalah bagian dari latar belakang hidupnya. Ada, tapi tidak menuntut untuk diperhatikan. Dan Taehyung nyaman dengan itu. Namun semenjak beberapa minggu terakhir, ia mulai menyadari hal lain. Ryn Moa sudah tidak terlalu fokus padanya lagi. Kesadaran itu tidak datang dalam bentuk satu momen besar. Tidak ada kejadian dramatis. Tidak ada kalimat yang terucap. Hanya detail kecil yang menumpuk. Ia tidak lagi cepat menoleh. Tidak lagi tampak gugup. Bahkan terkadang, ia seperti lupa bahwa Taehyung ada di ruangan yang sama.
Pertama kali Taehyung menyadarinya adalah di kelas Metodologi Penelitian. Biasanya, saat ia masuk ruangan, Ryn Moa akan menyesuaikan posisi duduknya. Kali ini, gadis itu bahkan tidak mengangkat kepala. Tangannya sibuk mencoret-coret catatan, wajahnya fokus, bukan pura-pura fokus. Perubahan itu tidak terjadi drastis dan tiba-tiba. Justru itu yang membuatnya terasa aneh. Karena perubahan paling berbahaya bukanlah yang mencolok, tapi yang pelan-pelan membuat sesuatu yang biasa menjadi asing. Sekarang dia lebih sering bersama J-hope. Lebih sering tertawa dengan laki-laki itu. Lebih sering memandangi J-hope dengan tatapan yang dulu pernah ia arahkan ke Taehyung, dan entah mengapa, itu membuat dadanya terasa… aneh. J-hope selalu datang dengan suara ribut, tawa keras, dan energi yang seperti tidak pernah habis. Ia tipe orang yang membuat ruang terasa hidup, bahkan saat suasana sedang datar. Dan Ryn Moa yang biasanya canggung, tampak nyaman di dekatnya. Mereka sering terlihat berjalan berdampingan. J-hope berbicara panjang lebar tentang hal-hal sepele, sementara Ryn Moa menimpali dengan komentar singkat yang justru membuat J-hope semakin semangat. Rasa ini bukan sakit atau marah, tapi lebih seperti ada sesuatu yang ditarik perlahan dari tempatnya. Taehyung tidak tahu sejak kapan ia mulai memperhatikan mereka lebih lama dari seharusnya. Tidak tahu kapan perhatiannya beralih dari “oh, mereka dekat” menjadi “kenapa mereka dekat?”
“Bro,” kata Jungkook sambil menepuk bahunya pelan. “Kau ngelihatin mereka terus kayak CCTV. Kau cemburu ya?”
“APA? Tidak!” seru Taehyung cepat.
Ia hampir tersedak ludah sendiri. Jungkook memicingkan mata, lalu menyeringai. Ia sudah mengenal Taehyung cukup lama untuk tahu bahwa reaksi berlebihan adalah bentuk penyangkalan paling klasik.
“Kalau belum sadar, biar aku yang kasih tahu. kau mulai suka Ryn Moa.”
“Tidak!” ulang Taehyung.
Nada suaranya naik setengah oktaf. Beberapa orang di sekitar mereka bahkan sempat menoleh. Taehyung langsung berdehem, pura-pura membenahi kerah jaketnya. Jungkook mengangguk-angguk dramatis.
“Ya, ya. Tentu. Sama seperti kau tidak suka strawberry milk padahal tiap minggu beli tiga kotak.”
Taehyung menoleh kesal.
“Strawberry milk itu… murah,” dalihnya lemah.
“Dan perasaanmu juga murah ya? Bisa dibantah sesering itu?”
Taehyung mendecak pelan, lalu memalingkan wajah. Ia tidak mau melanjutkan percakapan itu untuk sekarang. Namun matanya, lagi-lagi, kembali mencari sosok Ryn Moa.
Saat ini gadis itu sudah hampir sampai ujung koridor. J-hope masih mengoceh entah tentang apa, tangannya bergerak ke sana kemari dengan ekspresi berlebihan. Ryn Moa mendengarkan sambil sesekali mengangguk, sesekali menyela dengan komentar singkat. Ada momen kecil ketika J-hope hampir menabrak orang lain karena terlalu semangat bercerita, dan Ryn Moa refleks menarik lengannya. Mereka tertawa begitu lepas. Mereka tampak… serasi. Pikiran itu muncul begitu saja. Dan Taehyung tidak menyukainya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan yang tidak ia pahami sepenuhnya. Ini hanya rasa tidak terbiasa, katanya pada diri sendiri. Hanya ego yang terusik karena perhatian yang biasa ia dapatkan kini berpindah arah. Ia selalu berpikir dirinya kebal terhadap hal seperti ini. Bahwa ia tidak peduli pada siapa yang menyukainya atau tidak. Bahwa ia adalah seorang yang bebas. Namun, jauh di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik. Atau mungkin, ini lebih dari itu.
Taehyung tidak menjawab suara itu. Ia hanya berdiri di sana, di tengah koridor kampus yang ramai, dengan perasaan yang untuk pertama kalinya terasa tidak bisa ia kendalikan. Dan di kejauhan, tawa Ryn Moa kembali terdengar, ringan, lepas, dan bukan lagi untuknya. Entah kenapa, kali ini… Taehyung berharap tawa itu bisa kembali menoleh ke arahnya.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....