Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Sandrina!” teriak Alecio berharap wanita itu bisa mendengar suaranya.
Sementara itu, di ujung lain lorong bercabang, Sandrina duduk memeluk lutut. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia sudah mencoba berjalan kembali, tapi setiap belokan terlihat sama. Kegelapan membuat waktu terasa lambat dan berat.
“Aku bodoh,” ucap gadis itu parau. “Kenapa tidak kembali saja tadi.”
Sandrina merasa perutnya perih dan tenggorokannya kering. Lalu, ia merasa mendengar sesuatu. Suara yang sangat jauh, terdengar seperti namanya dipanggil.
Sandrina mengangkat kepala. Namun, suasana hening lagi. Ia tertawa kecil dengan suara serak.
“Sekarang aku mulai berhalusinasi. Bagus sekali.”
Lalu suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
“Sandrina!”
Tubuh Sandrina membeku. Suara itu bukan gema acak. Namun, itu suara Alecio.
Sandrina menahan napas, mendengarkan dengan baik-baik untuk memastikan.
“Sandrina! Jawab aku!”
Jantung Sandrina melonjak begitu keras hingga dadanya sakit.
“Dia benar-benar datang,” ucap Sandrina tak percaya. Mata-matanya kembali berkaca-kaca.
Mungkin ini terasa aneh. Dari semua kemungkinan penyelamat yang bisa Sandrina bayangkan, suara pria itu justru membuat dadanya terasa hangat.
“Alecio!” teriak Sandrina sekuat tenaga. “Aku di sini!”
Suara itu pecah dan memantul aneh. Di lorong lain, Alecio berhenti mendadak. Ia yakin mendengar sesuatu.
“Sandrina!” balas pria itu semakin keras.
“Alecio! Aku di sini!”
Suaranya terdengar lebih dekat dan lebih nyata. Alecio berbelok cepat mengikuti gema. Ia tidak lagi berjalan hati-hati. Ia hampir berlari, mengabaikan cabang-cabang lain.
“Bicara lagi, Sandrina!” teriak Alecio sambil berjalan cepat.
“Kalau kau tersesat juga, kita mati bareng!” balas Sandrina spontan.
Dalam situasi genting pun, ia masih bisa cerewet.
Alecio hampir tersenyum lega. “Diam di tempat!”
“Kalau aku tahu jalan keluar, aku tidak akan diam di tempat!”
Beberapa detik kemudian, cahaya senter muncul di tikungan lorong. Sandrina menutup mata sesaat karena silau.
Di sana Alecio berdiri dengan napas berat, rambut sedikit berantakan, wajahnya tegang bukan main. Begitu melihat Sandrina duduk di lantai dengan wajah basah air mata, sesuatu di dalam dada Alecio runtuh. Ia berjalan cepat mendekat.
“Kau gila!” Suara Alecio terdengar lebih serak dari biasanya. “Kenapa kau masuk ke sini?”
Sandrina berdiri goyah. “Aku pikir ini jalan keluar.”
“Ini bukan jalan keluar. Ini labirin tua!”
“Ya, terima kasih atas informasinya setelah lima jam lebih aku terjebak di sini!” bentak Sandrina, meski suaranya gemetar.
Alecio berhenti tepat di depannya. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap dalam cahaya senter yang bergetar.
“Aku mencarimu,” ucap Alecio pelan. Nada itu berbeda, tidak dingin, tidak juga memerintah.
Sandrina menelan ludah. “Aku tahu.”
“Bagaimana?”
“Kau memanggil namaku seperti ... seperti kau kehilangan sesuatu.”
Alecio terdiam. Lalu mendesah kesal. “Kau memang merepotkan.”
Sandrina mendengus pelan. “Dan kau memang menyebalkan.”
Namun, ketika Alecio mengulurkan tangan, Sandrina tidak ragu untuk meraihnya.
Tangan gadis itu sangat dingin. Alecio menggenggamnya erat.
“Kita keluar sekarang,” kata sang ketua tegas.
“Kalau kau tersesat?”
“Aku tidak akan.”
“Kenapa?”
Alecio menatap lurus ke depan, lalu menjawab pelan, “Karena aku tidak akan membiarkanmu hilang.”
Sandrina terdiam.
Di tengah lorong batu tua yang lembap dan gelap, di antara gema napas dan detak jantung yang belum stabil, sesuatu berubah di antara mereka.
“Alecio?!”
Pria itu berhenti dua langkah di depannya. Napasnya masih terengah karena berjalan cepat tanpa peduli arah.
“Kenapa? Kamu takut,” ucap Alecio pendek, tetapi suaranya jelas menahan sesuatu.
Sandrina membuka mulut ingin membalas dengan kalimat pedas, namun ada suara yang membuatnya langsung terdiam.
Grrrruuuukkk
Suara itu menggema di lorong batu. Keduanya terdiam.
Sandrina mematung dengan tangan memegang perutnya yang lapar.
Alecio mengangkat satu alis perlahan. “Barusan, suara apa?”
Sandrina menutup perutnya dengan panik. “Itu bukan apa-apa.”
Kruuuuuuk ....
Perut Sandrina berbunyi lagi, kali ini lebih panjang dan memalukan.
Alecio menatapnya tanpa ekspresi selama tiga detik, lalu tanpa bisa dicegah, sudut bibirnya terangkat. “Kau hampir mati tersesat, tapi yang paling berisik justru perutmu.”
“Diam!” Sandrina memukul lengannya pelan. “Aku sudah lima jam di sini! Lima jam! Tanpa air! Tanpa makanan! Tanpa sinyal! Tanpa harga diri!”
Alecio menatapnya lekat-lekat..Wajahnya yang tadi menahan kepanikan kini berubah lebih lembut. Ia melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Sandrina.
“Kita secepatnya keluar,” katanya singkat. “Kau butuh makan sebelum pingsan dan menyalahkanku lagi.”
“Aku memang akan menyalahkanmu!” sahut Sandrina kesal. “Siapa suruh punya kamar rahasia seperti film horor?!”
Alecio berjalan lebih dulu sambil tetap menyorotkan senter. “Kau yang masuk tanpa izin.”
“Karena kau misterius!”
“Kau yang terlalu ingin tahu.”
“Karena kau menyebalkan!”
“Karena kau cerewet.”
Sandrina terdiam satu detik, lalu mendengus. “Ya sudah, itu memang benar.”
Alecio hampir tertawa.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di gedung utama. Ruang makan besar yang biasanya terasa formal malam itu berubah hangat. Lilin-lilin menyala, meja panjang sudah disiapkan dengan berbagai hidangan.
Begitu Sandrina masuk, Marcela langsung berdiri. “Sandrina!” serunya dengan wajah lega. “Kau baik-baik saja?!”
Sandrina nyaris menangis lagi. Kali ini bukan karena takut, tetapi karena haru. “Aku hampir jadi fosil di lorong itu.”
Marcela memeluknya erat. “Astaga, kasihan sekali kamu. Pasti tadi kamu ketakutan.”
Alecio duduk dengan tenang. “Dia juga berbunyi seperti kucing lapar.”
Sandrina menoleh tajam. “Kau masih berani mengejekku setelah hampir membuatku hilang di kastilmu sendiri?”
“Aku yang menemukannya,” balas Alecio santai.
“Setelah lima jam!”
Marcela tertawa kecil melihat mereka. “Benar-benar seperti pasangan suami istri yang belum sepakat soal warna cat rumah.”
“Apa?!” Sandrina dan Alecio berseru bersamaan.
Marcela semakin terhibur. “Baik, baik. Duduklah dulu. Sebaiknya makan sampai kenyang, sebelum kalian mulai perang dunia ketiga.”
Sandrina langsung duduk dan tanpa malu mengambil roti paling besar.
Alecio menatapnya. “Pelan-pelan.”
“Aku hampir mati!”
“Kau tersesat, bukan berperang.”
Sandrina menunjuknya dengan garpu. “Kalau aku mati, kau pasti menyesal.”
Alecio terdiam sepersekian detik. “Ya,” jawabnya pelan.
Sandrina yang sedang mengunyah langsung tersedak kecil. Sementara Marcela, memandang Alecio dengan tatapan berbeda.
Di sudut ruangan, Patrick dan Francisco berdiri pura-pura sibuk memeriksa sesuatu.
Patrick berbisik, “Itu bos kita?”
Francisco mengangguk pelan. “Versi baru. Update terbaru. Lebih banyak bicara.”
Patrick menyipitkan mata. “Dia bahkan membalas argumen.”
“Dan tidak mengalah,” tambah Francisco.
Mereka menatap ke arah meja makan. Sandrina sedang mengomel panjang lebar tentang betapa gelapnya lorong, betapa menyeramkannya suara tetesan air, betapa dia hampir mengira melihat hantu nenek-nenek.
Alecio mendengarkan. Sesekali menyela. Sesekali menyanggah, tetapi tidak pergi.
Patrick menghela napas. “Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan saya.”
Francisco mengangguk serius. “Saya takut besok bos kembali dingin dan kita kena marah karena berharap terlalu tinggi.”
Makan malam berakhir lebih larut dari biasanya. Sandrina terlihat jauh lebih segar. Pipinya kembali berwarna. Energinya kembali dan itu berarti mulutnya juga kembali aktif.
Saat mereka berjalan menyusuri koridor utama, Alecio berhenti. “Malam ini kau tidur di kamarku.”
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu