Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa impostor nya
Erlangga berangkat sekolah seperti biasa, meskipun setelah ini dia harus waspada karena pasti ada mata-mata RUDE di sekolah nya.
"Gue cuma mau bilang, menurut gue ada orang terdekat lo yang jadi impostor selama ini." Bisik Erlangga pada Kevin.
"Maksud lo?." Kevin menatap Erlangga.
"Lo dulu pertama kali diajak siapa ke Caffe jadi-jadian itu?." Tanya Erlangga.
"Gue dateng sama Karina, kita emang sering ke sana sejak SD karena emang kopi nya enak." Ucap Kevin.
"Eh bentar, jangan-jangan itu narkoba yang bikin lo kecanduan. Bukan kopi nya yang enak, tapi ada narkoba nya." Ucap Erlangga.
"N-ngga mungkin lah, buktinya gue baik-baik aja meskipun ngga minum kopi disana." Sangkal Kevin.
"Gue sih bersyukur banget kalo lo ngga kecanduan, tapi ngga mungkin sih." Erlangga sudah trust issue.
"N-ngga mungkin kan." Kevin jadi ikutan curiga, apa benar dia sudah kecanduan narkoba tanpa sadar?.
"Coba lo inget-inget pertama kali lo masuk ke Caffe itu." Ucap Erlangga.
"Waktu itu gue kelas 5 SD. Gue pulang les sore-sore bareng Karina, kita emang sering pulang jalan kaki berdua dan haus makanya mampir ke Caffe itu. Biasanya kita beli minuman kaleng di minimarket, tapi gatau kenapa hari itu kita pengen nyicipin kopi karena rame banget yang beli." Jujur Kevin.
"Yakin cuma begitu?." Erlangga masih merasa janggal.
"Ya awal mula nya cuma gitu, terus gue sama Karina jadi sering beli kopi disana setiap pulang les. Sampe waktu kita udah SMP, kita di tawarin sama waiters yang udah kita kenal buat naik ke lantai dua. Lantai dua dan tiga itu kan lantai VIP, jadi kita ya mau-mau aja." Ujar Kevin.
"Oke terus." Erlangga mulai tertarik.
"Di sana kita diajarin tentang judi, karena kita banyak uang dan masih polos jadi mereka mikir kita mangsa empuk. Ya gitu, dengan polosnya gue sama Karina mulai judi di sana. Kita sering ke sana kalo lagi galau atau banyak pikiran, kita anggep itu semua sebagai hiburan aja." Kevin bercerita semuanya.
"Ya dari cerita lo ngga ada yang aneh emang, tapi kenapa gue tetep ngerasa ada yang janggal." Ujar Erlangga.
"Janggal apanya sih." Kevin sendiri juga tidak tau janggal nya dimana.
"Lo SMP dimana?." Tanya Erlangga.
"Di SMP **** Deket akademi militer." Jawab Kevin.
"Saat SMP lo masih les kaya waktu SD?." Tanya Erlangga.
"Ngga, gue panggil tutor ke rumah. Kenapa sih, tanya-tanya emangnya lo wartawan." Kesal Kevin.
"Lokasi sekolah dan rumah lo jauh dari Caffe itu, tapi kenapa waktu SMP lo masih sering kesana? apa cuma karena pengen hiburan aja? masa sih? kan ada banyak Caffe lain di deket sekolah lo." Ujar Erlangga.
Deg.
Kevin bahkan baru kepikiran sekarang, kenapa dia sampe effort pergi ke Caffe yang jauh hanya demi hiburan yang menghabiskan uang itu? memang ada banyak Caffe yang memiliki fasilitas billiard atau bahkan judi kartu, kenapa dia tetap memilih di Caffe itu.
"Ah karena Karina yang ngrengek minta ke sana. Dia kan jadi atlet judo dari tawaran mereka, Karina masuk ke club judo milik mereka dan jadi atlet lewat jalur itu." Ucap Kevin.
"Nggatau kenapa pikiran gue jelek banget sekarang." Gumam Erlangga melirik Kevin.
"Sialan jangan bilang." Kevin mengerti isi pikiran Erlangga.
Atlet judo atau bela diri memiliki keunggulan di kekuatan fisik. Banyak atlet yang menggunakan cara curang yaitu menggunakan doping (minum obat terlarang biar kuat) sebelum bertanding. Karina memang menjadi atlet terkenal dan mendapatkan banyak juara. Tapi Kevin tidak pernah berpikir dia memakai doping, karena Kevin tidak peduli pada apapun yang Karina lakukan.
"Simpen aja dulu, belum ada bukti nya. Kalau gegabah nanti malah dia waspada atau lapor kemana-mana." Gumam Erlangga.
"Gatau kenapa, gue jadi ngerasa marah banget sekarang." Kevin menahan kesal, memiliki jika selama ini Karina melakukan itu.
Kevin dan Erlangga jadi diam-diam mengamati Karina. Mulai dari gelagat semuanya normal-normal saja, tidak ada yang aneh sama sekali. Erlangga bahkan mulai berpikir jika dugaan nya salah tapi_
"Eh besok gue tanding mewakilkan sekolah kita di kejuaraan nasional. Lo dateng ya, dari dulu lo ga pernah mau dateng kalo gue tanding." Ucap Karina.
"Ngga minat." Tolak Kevin.
"Sekali ini aja." Rengek Karina.
"Ada something kemarin, gue ngga di bolehin kemana-mana lagi sama bokap gue. Tolong ngertiin gue lah." Ucap Kevin, mencari alasan tanpa menyinggung Karina.
"Emang lo kenapa?." Karina terlihat kaget.
"Gue hampir di culik waktu bolos kemarin, bersyukur banget gue pergi sama Erlan dan ketemu bokap nya Erlan di jalan." Bohong Kevin.
"Omg. Lo gapapa kan? sorry gue nggatau." Karina terlihat khawatir.
"Ya, intinya gue ga bisa dateng jadi nggausah maksa." Ucap Kevin.
"Oke, semoga semuanya cepet membaik." Karina mengangguk.
Sebenarnya Kevin berbohong, dia akan datang melihat pertandingan itu sekalian melihat apakah Karina akan terlihat berbeda saat diatas ring. Dia ingin meyakinkan diri, apakah Karina bisa di percaya atau justru dia sudah terjerumus ke dalam pusaran narkoba.
Erlan juga diam-diam memiliki pemikiran yang sama, dia sudah tau dimana lokasi dan cara masuknya. Dia akan pergi sendiri untuk melihat sendiri, layaknya anak muda pubertas yang memiliki rasa penasaran tinggi.
Hari pertandingan, sudah satu hari berlalu dan malam ini Erlangga sudah siap menyusup diam-diam untuk menonton pertandingan Karina. Lokasinya ada di sebuah GOR (Gedung Olah Raga) besar, masuknya bisa gratis tapi jika ingin di depan harus membayar kursi VIP.
Erlangga membeli tiket di tengah, dia berdandan biasa saja. Tidak terlalu tertutup tapi juga tidak terlalu terbuka, dia duduk di kursi tengah tapi bisa melihat jelas ke arah matras.
Sebenarnya Kevin juga sudah berada di sana, dia mengambil kursi VIP paling depan. Dia menyamar menjadi pria tua dan duduk mengamati dengan serius, ini adalah hari penentuan apakah Karina layak di sebut sebagai teman atau tidak.
"Gue emang ga suka lo sebagai lawan jenis, tapi gue suka temenan sama lo. Semoga aja lo ngga ngecewain gue Rin." Batin Kevin.
Akhirnya pertandingan yang di tunggu-tunggu tiba, Karina naik ke matras dan sudah memakai pengaman sesuai aturan. Kevin dan Erlangga menatap dengan serius dari kursi mereka masing-masing.
Sejauh ini terasa normal, tapi Kevin yang berada di depan merasakan keanehan. Mata Karina terlihat merah berbeda dari biasanya, itu bukan merah karena menangis tapi merah karena pengaruh dosis tinggi karena matanya sayu dan kurang fokus.
"Ngga mungkin." Gumam Kevin kecewa berat.
aneh ga sih 🤔🤔🤔