Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bocah Cahaya
Debu jalanan Trowulan terasa lebih panas dibandingkan tanah manapun yang pernah diinjak Subosito. Ibu kota Majapahit ini adalah hutan bata merah yang tak berujung; setiap sudutnya dipenuhi oleh prajurit berzirah kulit, pedagang dari negeri seberang, dan aroma masakan dari warung-warung pinggir jalan yang menusuk hidung.
Di tengah arus manusia itu, Subosito—yang kini hanya dikenal sebagai Sura—berjalan menyeret kakinya, memanggul bundelan kain tebal yang menyembunyikan identitas Garuda di punggungnya.
Subosito sedang mencari penginapan paling murah di pinggiran kota, tempat di mana orang-orang buangan bisa membaur menjadi satu. Namun, langkahnya terhenti di sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding tinggi pergudangan.
"Warna jiwamu sangat panas, kakak. Sampai-sampai mataku perih melihatnya," sebuah suara kekanak-kanakan terdengar dari atas tumpukan peti kayu.
Subosito menegang, secara otomatis, tangannya bergerak ke arah hulu belati di balik bajunya, tetapi segera ingat: dia adalah Sura, si bisu yang tak punya kekuatan. Dia menoleh perlahan.
Di sana duduk seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, wajahnya cemong oleh jelaga, mengenakan pakaian compang-camping yang kebesaran. Namanya Jati, seorang pencopet kecil yang baru saja menampakkan diri di antara kerumunan di dermaga.
Jati melompat turun dengan lincah. Mata yang jernih menatap langsung ke arah dada Subosito, seolah kain goni itu transparan. "Orang lain hanya melihat kuli bisu yang malang, tapi aku melihat matahari. Ada matahari yang terpendam di dalam tubuhmu, kakak!"
Subosito kaget, tetapi berusaha tetap bersikap biasa saja. Pemuda itu hanya menggeleng kaku dan mencoba melanjutkan langkahnya. Namun, Jati justru berlari menyalipnya dan menghadang jalan.
"Jangan berpura-pura. Aku lahir dengan Netra Sejati . Aku bisa melihat hawa keberadaan manusia," bisik Jati dengan nada serius yang tak pantas bagi usianya.
"Kakak ingin ikut Sayembara Jagat Raya, bukan? Tapi lihat dirimu kak, bahkan tidak tahu di mana tempat pendaftaran untuk kasta rendah seperti kita. Tanpa perantara, kakak hanya akan diusir oleh penjaga gerbang alun-alun sebelum sempat menyebut nama!"
Subosito menatap bocah itu lama. Peringatan Larasati tentang musuh yang bisa membaca pikiran masih terngiang, menurutnya bocah ini berbeda. Jati tidak membaca pikiran; dia melihat esensi.
Jati memperlihatkan gigi depannya yang tanggal satu. Aku bisa memasukkan namamu ke dalam daftar tanpa perlu menunjukkan surat jalan dari tempat asal kadipaten. Tapi…!” Jati menggantung kalimatnya, matanya melirik ke arah ujung gang.
"Ada harga yang harus dibayar," lanjutnya.
Belum sempat Subosito bereaksi, suara langkah kaki yang berat dan kasar bergema dari balik dinding. Empat orang pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka muncul, menutupi jalan keluar gang. Pemimpin mereka adalah seorang pria paruh baya dengan sisa baju zirah ksatria yang sudah karatan—sosok mantan ksatria yang kini menjadi pemimpin preman pasar.
"Ketemu kau, tikus kecil!" bentak sang pemimpin preman. "Kembalikan kantong koin milik saudagar tadi, atau aku akan mematahkan kedua tanganmu di depan temanmu ini!"
Rupanya para preman itu, sudah memperhatikan Jati dan Subosito sedari awal mereka bertemu.
Jati segera bersembunyi di belakang punggung Subosito, memegang erat kain goni kumalnya. "Kakak, tolong aku! Mereka adalah anjing-anjing pasar yang menghancurkan anak-anak yatim! Jika kakak melindungiku, aku bersumpah akan membawamu ke gerbang sayembara!"
Subosito menarik napas dalam. Ini adalah ujian pertamanya dan teringat akan pesan Larasati: Bertarunglah tanpa menggunakan kekuatan apimu.
Jika dia melepaskan satu percikan api emas saja di tengah ibu kota Majapahit, pasukan pembaca pikiran kerajaan akan langsung melacaknya. Subosito harus bertarung sebagai manusia biasa—sebagai Sura.
Sang pemimpin preman tertawa melihat sosok Sura yang bungkuk dan terlihat lemah. "Ohh, tikus ini punya pelindung baru? Singkirkan sampah bisu ini!"
Dua preman di depan maju dengan cepat. Yang satu menyerang Subosito dengan gada kayu, sementara yang lain mencoba menerjang dengan tangan kosong.
Subosito tidak bergerak hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Dengan gerakan yang sangat efisien—hasil dari teknik bela diri murni yang pernah diajarkan oleh Resi Bhaskara sebelum dicampuradukkan dengan sihir—Subosito memutar tubuhnya. Pemuda itu tidak memukul; hanya menggunakan momentum lawan. Subosito menarik lengan sang pemegang gada dan mengarahkannya ke perut kawannya sendiri.
Bugh!
Kedua preman itu bertabrakan dan tersungkur ke tumpukan sampah. Subosito tetap berdiri di tempatnya, tangannya masih tergantung lemas di samping tubuhnya, matanya tetap redup. Tidak ada hawa panas, tidak ada pendaran emas.
"Kurang ajar!" sang pemimpin preman mencabut sebilah pedang pendek. "Ternyata kau punya sedikit teknik, Bisu!"
Preman itu menerjang dengan tebasan mendatar. Subosito merasakan adrenalin berdesir, memicu api di punggungnya untuk bangkit, tetapi masih bisa menekannya dengan keras hingga jantungnya terasa perih. Subosito membayangkan dirinya adalah udara, udara tidak bisa dipotong oleh pedang.
Subosito menekuk lututnya, menghindar tepat di bawah ayunan pedang, lalu menghantamkan telapak tangan ke ulu hati sang kesatria karatan tersebut. Pukulan itu murni menggunakan kekuatan otot dan struktur tulang, tanpa bantuan energi tenaga dalam sedikit pun.
Sang pemimpin preman terengah-engah, matanya membelalak kaget karena serangan itu begitu tepat dan mematikan. Si preman mencoba menyerang lagi, Subosito bergerak seperti bayangan—tangannya menangkis pergelangan tangan lawan, memutarnya, dan dengan satu sentakan, pedang itu terlepas dan jatuh berdenting di lantai batu.
Dalam beberapa saat saja, empat preman itu tercerai-berai, mengerang kesakitan di atas tanah. Mereka melihat ke arah Sura dengan ngeri. Mereka tidak merasakan kesaktian luar biasa, tetapi mereka merasakan sebuah efektivitas bela diri yang belum pernah mereka temui di kuli manapun.
"Pergi," Subosito mengisyaratkan dengan tangan, pemuda itu tak berbicara, tetapi memancarkan mata yang tajam seolah-olah menyuarakan kata itu dengan sangat jelas.
Para preman itu pun lari terbirit-birit, meninggalkan gang sempit tersebut.
Jati keluar dari persembunyiannya, menatap Subosito dengan kekaguman. "Hebat...! Kakak benar-benar tidak menggunakan matahari itu. Kau bertarung seperti..., seperti hantu kayu. Dingin tapi keras! Oh iya, nama kakak siapa?"
Subosito hanya mengatur napasnya, mengarahkan jarinya ke tanah seolah menulis kata S-U-R-A. Dadanya terasa sesak karena menahan energi Garuda Paksi yang terus meronta ingin keluar membantu. Bertarung tanpa kekuatan api ternyata jauh lebih menguras tenaga batin daripada melepaskan ledakan besar.
“Sesuai janjiku, kak Sura,” Jati menepuk-nepuk debu di bajunya. "Ikuti aku. Kita akan melewati pasar kain dan menuju perbatasan Alun-alun Utara. Di sana ada seorang juru tulis tua yang berhutang nyawa saya. Dia akan memasukkan namamu ke dalam daftar peserta sebagai 'Si Bisu dari Lawu'!"
Jati mulai berjalan lincah di depan, sesekali mencopet buah dari lapak pedagang yang lengah sambil terus mengoceh. "Tapi kakak harus berhati-hati. Di Alun-alun Utara, penjagaannya lebih ketat. Para peserta sayembara sudah mulai berdatangan dari seluruh pelosok nusantara. Ada kesatria dari Bali, pendekar dari tanah Melayu, hingga para pembunuh bayaran dari kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Tengah!"
Subosito mengikuti bocah itu dalam diam. Pemuda itu menyadari bahwa Jati adalah teman yang sangat diperlukan di kota asing ini. Bocah ini memiliki kecerdikan jalanan yang tidak dimiliki oleh kesatria manapun.
Saat mereka keluar dari gang dan mendekati jalan utama menuju istana, Subosito melihat sebuah menara pengawas besar. Di atasnya, beberapa pria ditutupi kain putih dengan penutup mata tipis berdiri diam, menghadap ke arah kepadatan.
Para pembaca pikiran, batin Subosito.
Pemuda itu segera menundukkan kepala, memfokuskan pikirannya hanya pada rasa lapar di perut dan beratnya beban di pundaknya. Subosito harus menjadi "kosong" agar tidak tertangkap oleh radar batin para penjaga itu.
“Kita hampir sampai,” bisik Jati saat mereka melihat hamparan lapangan luas dengan gerbang bata merah yang megah di jarak jauh. "Itu dia, Alun-alun Utara. Jantung dari Sayembara Jagat Raya!"
Di depan gerbang itu, ribuan orang mengantre. Panji-panji Majapahit berkibar megah, dan suara terompet kerang sesekali terdengar, menandakan dimulainya babak kualifikasi fisik bagi para peserta kasta rendah.
Subosito merasakan getaran di punggung kembali menguat. Dirinya tahu, dari balik gerbang itu, tidak hanya akan bertarung demi amnesti atau pengampunan dosa, tetapi juga akan menghadapi takdir yang telah menunggunya sejak dirinya meninggalkan lereng Lawu. Identitas barunya sebagai Sura akan segera diuji oleh kengerian dan kemegahan arena terbesar di tanah ini.
Gerbang Alun-alun Utara akhirnya terbuka di depan mata Subosito. Namun, pendaftaran hanyalah pintu masuk menuju labirin intrik yang lebih dalam. Di tengah ribuan peserta, mampukah Sura tetap menyembunyikan "mataharinya" ketika bertemu dengan peserta lain?
Dan rahasia apa yang disembunyikan Jati tentang alasan sebenarnya membantu Subosito? Apakah bocah itu benar-benar hanya ingin membalas budi, atau sedang menjalankan misi lain?
Jangan melewatkan kelanjutan kisah Subosito.