NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Yang Terjatuh

Theo dan Maerin bergegas masuk ke dalam rumah, namun tak melihat ada tanda-tanda tamu atau pemilik kereta kuda yang terparkir di depan rumahnya. Ia hanya melihat kepala desa dan Silas sedang berbincang ringan, sebab tak terlihat ekspresi wajah yang sedang serius diantara mereka.

"Oh kalian sudah kembali?" Tanya kepala desa.

"Ya, kami kembali. Lalu itu kereta kuda siapa yang ada di luar? Dan semua warga desa berkerumun di halaman depan juga." Tanya Theo.

"Oh maaf, itu kereta kuda pesanan saya untuk perjalanan kita." Jawab Silas.

"Itu mencolok sekali dan terlihat sangat mewah. Aku sempat khawatir jika ada seseorang yang tak kuharapkan tiba-tiba berkunjung." Kata Theo yang terlihat sedikit tidak nyaman.

"Kurasa, aku keluar dulu untuk menginformasikan pada warga agar lebih kondusif." Kepala desa menyela percakapan antara Theo dan Silas.

"Terima kasih banyak, kepala desa. Maaf jadi merepotkan anda." Ucap Maerin.

"Aku tak keberatan, tenang saja." Kepala desa menjawab dengan tersenyum sambil berjalan keluar.

"Maafkan saya, saya hanya memerintahkan mata-mata untuk mendapatkan kereta kuda dengan cepat. Ini sepenuhnya salah saya sebab memberikan perintah yang kurang detail." Kata Silas.

"Sudah terlanjur juga, jadi setidaknya kau harus berpura-pura sebagai bangsawan yang sedang melakukan perjalanan. Aku dan Maerin yang akan menjadi pelayanmu. Aku hanya tak ingin identitas asliku terbongkar. Setidaknya aku ingin dikenang sebagai orang biasa oleh semua warga desa dan orang-orang yang kukenal selama aku meninggalkan istana. Yah sebenarnya aku sudah memberitahu kepala desa tentang identitas asliku." Ucap Theo.

"Kepala desa sudah mengetahui identitas anda?" Silas terkejut.

"Ya, beliau orang yang bisa dipercaya. Setidaknya ia berhak mengetahui kebenarannya." Ungkap Theo.

"Anda sudah pasti telah mempertimbangkannya dengan seksama." Kata Silas.

"Ya, sepertinya semua barang-barang yang akan dibawa sudah tak terlihat lagi." Kata Theo sambil mengamati sekeliling.

"Ya, saya sudah memasukkan ke dalam kereta kuda." Jawab Silas.

"Baiklah, aku akan mempersiapkan Milo. Kau lanjutkan kembali apa yang sedang kau kerjakan. Sementara istriku, sebaiknya kau segera bersiap." Kata Theo pada Silas dan Maerin.

Maerin mengangguk dan bersiap, sementara Silas, "Mengenai Milo, saya sudah menyiapkannya juga."

"Baiklah, aku akan bersiap. Setelah itu benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada warga desa. Dan setelahnya kita berangkat." Ucap Theo.

"Baik, sesuai perintah anda." Jawab Silas.

Maerin sedang mondar-mandir di dalam kamar, benar-benar terlihat sedang gugup dan cemas. Theo mendekatinya dan memeluk lembut Maerin untuk menenangkannya, "Istriku, coba tarik napas pelan-pelan dan dalam, lalu keluarkan perlahan."

"Aku takut. Aku benar-benar merasa cemas." Jawab Maerin.

"Akupun juga merasakan hal yang sama, namun jika semakin menunda lagi. Sudah pasti rasa takut dan cemas semakin besar hingga bisa menelan kita." Kata Theo.

"Kurasa itu benar. Baiklah aku sudah siap, mari bergegas berangkat." Ucap Maerin yang berusaha meyakinkan diri.

Tak lama kemudian Theo dan Maerin keluar menuju halaman. Tatapan warga desa begitu terlihat sedih karena merasa kehilangan karena kepergian Theo dan Maerin. Sementara anak-anak sedang asyik menyentuh dan mengagumi kereta kuda mewah yang baru pertama kali mereka lihat, belum menyadari bahwa itu adalah kereta kuda yang akan dinaiki Theo dan Maerin pergi dari desa. Mereka juga bermain dengan mata-mata yang menyamar sebagai pengawal. Theo berpamitan dengan kepala desa lalu memeluknya sebagai tanda perpisahan dan memeluk warga desa pria lainnya. Maerin juga melakukan hal yang sama, memeluk setiap warga desa wanita untuk berpamitan. Silas hanya berdiri di dekat pintu kereta sambil menunggu untuk membukakan pintu kereta. Setelah Theo dan Maerin selesai berpamitan dengan semua orang, mereka menuju kereta kuda yang pintunya telah dibukakan oleh Silas. Maerin menaikinya disusul dengan Theo setelahnya, lalu Silas yang terakhir naik dan menutup pintu kereta. Anak-anak terkejut dan terdiam saat menyaksikan itu, Theo dan Maerin menatap keluar dari jendela kereta kuda. Beberapa warga mulai melambaikan tangan ke arah mereka. Theo pun membalas lambaian itu dengan ekspresi yang terlihat sedih, sementara Maerin tak kuasa untuk menyaksikan detik-detik kepergian mereka, ia hanya berusaha menahan tangisnya sambil memeluk Theo dengan erat. Kereta berjalan menjauhi kerumunan warga dan disusul Milo dari belakang yang sedang ditunggangi salah satu mata-mata yang menyadari sebagai pengawal.

Anak-anak mulai menyadari bahwa Theo dan Maerin serta Milo pergi meninggalkan desa, "Paman Theo dan bibi Maerin mau kemana dengan naik kereta bagus itu dan membawa Milo juga?"

Kepala desa yang berada di kerumunan paling depan menjelaskan pada anak-anak, "Paman Theo dan bibi Maerin kembali ke kampung halamannya. Liburan mereka di sini sudah berakhir, mereka pulang bersama majikan bangsawannya yaitu tuan Silas." Kepala desa mengatakan kebohongan ini untuk menyembunyikan identitas asli Theo.

"Bohong.. Paman Silas pernah berkata akan selamanya tinggal di sini." Teriak salah satu anak.

"Ya itu harapan mereka. Namun kenyataannya mereka tidak bisa menetap di sini, sebab tuan yang dilayaninya sudah kembali dari perjalanan jauhnya dan mampir kemari sekaligus menjemput mereka untuk kembali pulang bersama." Kepala desa menjelaskan.

"Tidakkkk... jangan pergi Paman Theo, bibi Maerin." Anak-anak menangis sambil berlarian mengejar kereta kuda yang sudah jauh pergi. Orang-orang dewasa hanya menahan diri untuk tak menangis.

"Huaaa... Paman Theo, ajak aku juga!" Ucap seorang anak laki-laki yang paling depan berlari sambil menangis.

"Huaaaa.. jangan pergiii.." Teriakan anak-anak sambil menangis dan berlari mengejar kereta kuda yang dinaiki Theo.

"Pamaann.. kembalilah. Huaaa." Teriakan anak yang berlari paling depan, ia berusaha berlari dengan sekuat tenaga hingga tersandung kakinya sendiri dan terjatuh keras.

Theo meremas lututnya berusaha menahan untuk tak menoleh belakang meskipun samar-samar mendengar tangisan anak-anak. Maerinpun hanya bisa menangis sambil memeluk erat Theo.

Anak yang terjatuh tadi hanya bisa menangis sambil menatap kereta kuda yang makin menjauh itu. Beberapa orang dewasa menyusul anak-anak dari belakang, sebagian menghentikan anak-anak dan beberapa menolong anak kecil yang terjatuh itu. Mereka menggendong dan berusaha menenangkan mereka.

Silas hanya terdiam sambil memperhatikan Theo dan Maerin yang terlihat sangat menyedihkan itu. Hingga membuat hatinya melemah dan berkata, "Ini belum terlambat untuk mengubah keputusan Anda. Saya akan membuatkan alasan untuk Anda saat menghadap Baginda Raja."

"Tidak, Silas. Aku tak ingin membuat orang lain kesusahan lagi karenaku. Aku tahu betul ayah itu seperti apa. Aku tak ingin membuat orang-orang yang tak bersalah menderita lebih dari ini." Jawab Theo.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!