Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Theo
"Saya ingin mengakui sesuatu pada anda, kepala desa." Theo terlihat serius.
"Kau kenapa terlihat serius begitu?" Tanya kepala desa dengan penasaran.
"Saya merasa tidak enak sudah merepotkan anda selama ini, sebelum saya pergi. Saya ingin mengakui bahwa sebenarnya saya putra kedua kerajaan Cyrven." Theo mengatakannya dengan hati-hati.
"Apa?" Kepala desa terkejut.
"Saya tak ada maksud apapun, saya tak memiliki niatan buruk sama sekali. Hanya saja saya ingin menjalani kehidupan menjadi orang biasa dan berbahagia." Theo menjelaskan.
Kepala desa dan istrinya pun berlutut, meskipun Theo dari kerajaan lain, tetap saja ia adalah seorang bangsawan. Tentu saja kepala desa merasa harus menghormatinya layaknya bangsawan. Tapi Theo meminta kepala desa dan istrinya untuk tetap memperlakukan Theo seperti biasa. Lalu kepala desa bertanya, "Jika boleh tahu, kenapa anda mengungkapkan identitas asli anda pada kami?"
"Kepala desa, jangan bersikap formal seperti ini. Cukup bersikap seperti biasanya saja. Saya merasa tidak nyaman." Kata Theo.
Istri kepala desa yang peka kemudian mengajak Maerin untuk membantunya menyiapkan makan malam. Sebab kepala desa mengajak Theo dan Maerin untuk makan malam bersama sebelum mereka pergi meninggalkan desa ini.
Theo pun mengatakan alasan kenapa dia mengungkapkan identitas aslinya pada kepala desa, "Saya mempercayai anda, kepala desa. Dan jika suatu hari anda atau warga desa sedang kesulitan namun semoga saja anda hal itu tak akan terjadi. Jangan segan untuk meminta bantuan saya. Saya pasti akan membantu dengan segera. Saya sudah menganggap desa ini adalah rumah saya. Saya benar-benar mengatakannya dengan tulus."
"Saya sangat menghargainya. Anda memang orang yang sangat baik." Ucap Kepala desa.
"Panggil saya Theo seperti biasanya, kepala desa." Theo mengingatkan kembali untuk bersikap seperti biasanya.
"Baiklah, baiklah. Saya akan berusaha." Jawab kepala desa.
"Ayolah, kepala desa. Jangan seperti ini, saya jadi merasa canggung." Kata Theo.
"Sudahlah jangan memaksa kepala desa lagi, beliau pasti butuh waktu memproses fakta mengejutkan ini." Kata Maerin yang muncul dari dalam.
"Dengarkanlah ucapan istrimu, orang tua ini memang butuh waktu untuk memproses informasi mengejutkan ini. Hehehehe." Ucap kepala desa.
"Sudah, mari makan bersama. Makanan sudah siap untuk disantap." Ajak Maerin.
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan, mereka makan sambil mengobrol dan bercanda ringan. Setelah selesai makan, Maerin membantu membersihkan meja makan dan piring kotor. Sementara Theo dibantu kepala desa menyiapkan Milo untuk kembali pulang sambil menunggu Maerin. Di dapur istri kepala desa berkata, "Jangan lupakan kami dan desa ini ya." Suara istri kepala desa terdengar menahan tangis.
"Jangan katakan itu, sebab kami akan selalu mengingat kalian dan desa ini. Ini adalah rumah kami, rumah kakek nenek yang kami sayangi, serta rumah..." Maerin terdiam dan tak melanjutkan ucapannya sebab dia teringat saat ia keguguran dan kehilangan bayinya yang belum lahir. "...bagaimana mungkin kami melupakannya desa ini?" Lanjut Maerin.
Istri kepala desa tak kuasa menahan tangisnya, beliau langsung menangis tepat saat memeluk Maerin. Maerinpun memeluk erat sambil menangis. Setelah mereka saling menenangkan, mereka berjalan keluar menuju Theo dan kepala desa berada. Di luar ternyata Theo sudah siap, kemudian Maerin mendekat ke arah Theo. Dan mengisyaratkan Maerin untuk naik gerobak di depan, di area pengemudi. Setelah berpamitan, Theo pun ikut naik di area pengemudi. Milo yang sudah besar, dengan mudahnya menarik Theo dan Maerin yang sedang naik di gerobak yang ditarik Milo. Maerin dan Theo melambai ke arah kepala desa dan istrinya selagi gerobak yang mereka naiki bergerak menjauhi rumah kepala desa.
Tak lama saat sampai di rumah, ternyata Silas tertidur di bangku panjang di teras rumah. Setelah memasukkan Milo ke kandangnya, Theo menghampiri Silas dan membangunkannya pelan.
Silas pun terbangun dan meminta maaf sebab ketiduran. Theopun meminta Silas untuk berhenti bersikap formal. Keduanya duduk dan tiba-tiba Theo menanyakan sesuatu, "Jadi aku cukup penasaran setelah mengetahui fakta ini. Apakah mata-mata yang dikirim oeh mendiang kakakku untuk menjagaku itu masih ada hingga sekarang?"
"Ya, mereka masih ada dan menjaga anda dari kejauhan." Jawab Silas.
"Jadi mereka diam-diam mengawasiku?" Tanya Theo.
"Ya, anda benar." Ucap Silas.
"Bukankah kakakku sudah tak lagi ada, jadi mereka bisa saja telah berhenti mengawasiku. " Jawab Theo menggunakan logikanya.
"Tapi perintah untuk mereka adalah menjaga anda selama anda berkelana." Theo menjelaskan.
"Jadi selama ini aku telah menyusahkan banyak orang tanpa kusadari?" Theo menyimpulkan.
"Anda tak perlu merasa terbebani dan bersalah. Cukup jalani hidup anda yang bahagia. Saya rasa itu sudah cukup sebagai penebusan anda." Silas mengatakan itu sambil terbayang Victor.
"Ya, kurasa kau benar. Aku akan melanjutkan mimpi kakak. Jadi tolong bantu aku mewujudkannya, Silas." Ucap Theo.
Silas yang semula duduk bersebelahan dengan Theo, tiba-tiba berdiri dan selanjutnya melakukan sumpah setia pada Theo. Theo pun tak ragu, menerima sumpah setia Silas. Setelah prosesi sumpah setia dengan sederhana, mereka masuk ke dalam rumah.
Keesokan pagi, terdengar suara gaduh di luar rumah. Theo berjalan keluar untuk mengecek dan mendapati anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah.
"Paman... tepati janji kemarin." Salah satu anak berteriak antusias.
"Tentu saja. Kebetulan sekarang waktunya memberi makan Milo, maukah kalian membatu paman untuk memberi makan Milo?" Tanya Theo.
"Tentu saja." Jawab mereka bersamaan.
"Nah ayo menuju kandang Milo." Ajak Theo.
Mereka menuju kandang Milo, anak-anak sangat antusias dan semangat. Theo hanya tersenyum samar mengamati anak-anak. Setelah selesai memberikan makan. Theo mengeluarkan Milo dari kandang. Anak-anak bermain dengan Milo, sementara itu Theo membersihkan kandang Milo. Milo pun hanya menurut saja saat anak-anak mengajaknya bermain. Selagi Theo membersihkan kandang Milo, ia berpikir tentang Milo. Baiknya membawanya ke istana atau tetap membiarkan Milo berada di desa ini. Hal itu membuatnya berpikir cukup lama, sebab jika ia membawa Milo ke istana maka sudah pasti Theo tak punya banyak waktu bermain dengan Milo seperti sekarang. Milo mungkin akan di tempatkan di kandang kuda istana bersama kuda-kuda istana yang lain. Apakah Milo akan menyukainya? Milo sudah pasti tak sebebas di desa ini. Namun, jika Milo tetap di desa ini. Theo akan merepotkan kepala desa lagi untuk meminta tolong merawat Milo, kepala desa mungkin tak akan menolak permintaannya. Tapi ia merasa sudah cukup banyak merepotkan kepala desa, jadi Theo tak ingin lagi menambah untuk merepotkan kepala desa dengan hal ini. Theo merasa sebaiknya membicarakan hal ini dengan Maerin, mungkin Maerin mempunyai pendapat lain. Setelah membersihkan kandang Milo, Theo menemui Maerin untuk meminta pendapatnya. Dan Maerin cukup serius memikirkan hal ini. Tak lama kemudian, Maerin berpendapat.
Bersambung...