Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sisik Api dan Pertaruhan Nyawa
SSSSHHHAAAA!
Ular Sanca Api raksasa itu menegakkan tubuhnya setinggi lima meter dari permukaan sungai magma. Sisik merah delimanya berkilauan mematikan di bawah cahaya suram lembah. Panas yang dipancarkannya begitu hebat hingga bebatuan di sekitarnya mulai meleleh dan menetes seperti lilin.
Bagi Ye Chen yang baru saja menghabiskan hampir seluruh tenaganya untuk membelah Iblis Besar, pemandangan ini adalah mimpi buruk.
"Binatang Buas Tingkat 2 Puncak..." Ye Chen menyeka keringat yang bercampur darah di dahinya. "Hampir setara dengan Han Yun dalam mode mengamuk. Tapi bedanya, makhluk ini memiliki keunggulan medan mutlak."
Ular itu tidak memberi waktu bagi Ye Chen untuk bernapas. Mulutnya yang lebar terbuka, memperlihatkan deretan taring setajam pedang yang meneteskan racun api.
WUSH!
Sebuah bola api cair ditembakkan dari mulutnya. Bola api itu bukan sekadar api biasa, melainkan magma yang dipadatkan dengan Qi, meledak saat bersentuhan dengan udara.
Ye Chen tidak bisa menangkis. Pedang Pemecah Gunung-nya terlalu berat untuk digerakkan cepat dalam kondisi lelah.
Dia menghentakkan kaki kirinya.
Langkah Naga Awan!
Sepatu bot peraknya bersinar. Ye Chen meluncur ke samping, nyaris jatuh dari jembatan batu sempit itu.
BLARR!
Bola api itu menghantam tempat Ye Chen berdiri sedetik yang lalu. Jembatan batu itu hancur berantakan, potongannya jatuh ke sungai magma di bawah.
"Jembatannya putus!"
Ye Chen mendarat di sebuah pilar batu kecil yang tersisa di tengah lautan api. Sekarang dia benar-benar terisolasi. Di depan ada ular raksasa, di bawah ada kematian cair, di belakang ada tebing curam.
Ular Sanca itu menyadari mangsanya terpojok. Matanya yang kuning vertikal memancarkan kecerdasan licik. Ia tidak menembak lagi. Sebaliknya, ia menyelam masuk ke dalam sungai magma.
Plung!
Permukaan magma menjadi tenang sesaat.
Ye Chen tahu ini taktik berburu. Ular itu akan menyerang dari bawah, mengguncang pilar batu tempatnya berdiri.
"Aku tidak bisa bertahan di sini. Jika aku jatuh, Tubuh Guntur-ku pun akan meleleh," pikir Ye Chen cepat.
Dia melihat ke dinding tebing di seberang, tempat gua sarang ular itu berada. Jaraknya sekitar dua puluh meter. Terlalu jauh untuk lompatan biasa tanpa pijakan, bahkan dengan sepatu pusaka.
Tiba-tiba, pilar batu di bawah kakinya bergetar hebat.
KRAK!
Ekor ular itu menghantam pilar dari dalam magma. Pilar itu miring dan mulai runtuh.
Di saat bersamaan, kepala ular itu melesat keluar dari magma di sisi kanan, rahangnya terbuka lebar untuk menelan Ye Chen yang sedang kehilangan keseimbangan.
Situasi kritis. Hidup dan mati dalam sekejap mata.
Namun, di tengah kepanikan itu, mata Ye Chen menjadi sangat dingin.
"Kau ingin memakanku? Gigimu kurang tajam!"
Alih-alih melompat menjauh, Ye Chen melakukan hal gila. Dia melompat ke arah kepala ular yang sedang menerjang itu.
Tangan kanannya mencengkeram gagang Pedang Pemecah Gunung.
"Berat Asura: Jatuh Bebas!"
Di udara, Ye Chen membatalkan efek peringanan tubuhnya. Dia membiarkan berat 500 kilogram pedangnya menariknya ke bawah dengan kecepatan gravitasi penuh.
Dia tidak menebas. Dia menghujamkan pedangnya lurus ke bawah.
Targetnya: Hidung Ular.
JLEB!
Pedang hitam raksasa itu menancap tepat di tengah moncong ular sanca itu, menembus sisik keras dan daging tebalnya hingga ke tulang tengkorak.
HISSSSS!!!
Ular itu menjerit kesakitan. Jeritannya begitu keras hingga memecahkan gendang telinga.
Ye Chen tidak melepaskan pedangnya. Dia berdiri di atas gagang pedang yang menancap itu, menunggangi kepala ular yang mengamuk.
"Bawa aku terbang!" teriak Ye Chen.
Ular itu mengibaskan kepalanya dengan liar, mencoba melempar Ye Chen jatuh ke magma. Tapi Ye Chen mencengkeram gagang pedang itu seperti paku yang dipasak mati.
Ular itu melompat-lompat, menabrak dinding tebing, mencoba meremukkan Ye Chen.
BAM! BAM!
Tubuh Ye Chen dihantamkan ke batu granit panas. Tulang rusuknya yang baru sembuh kembali retak. Punggungnya lecet parah. Baju zirahnya sudah hancur total.
"Argh..." Ye Chen muntah darah. Pandangannya kabur.
Tapi dia tidak lepas. Jika dia lepas, dia mati.
Ular itu, karena kesakitan yang luar biasa, akhirnya merayap naik ke tepian tebing gua sarangnya, mencoba melepaskan pedang itu dengan menggesekkannya ke tanah keras.
"Sekarang!"
Begitu ular itu berada di tanah padat, Ye Chen melepaskan pegangannya. Dia melompat salto dan mendarat di punggung ular itu, tepat di area "Tujuh Inci"—titik lemah jantung ular.
Ular itu mencoba membelit Ye Chen dengan tubuhnya yang panjang.
Ye Chen tidak punya tenaga untuk menggunakan teknik pedang lagi. Qi-nya habis. Niat Pedang-nya kering.
Hanya ada satu cara. Cara yang paling brutal dan primitif.
Ye Chen menjatuhkan dirinya ke sisik panas ular itu. Dia menempelkan kedua telapak tangannya langsung ke kulit ular yang membara.
"Mutiara Penelan Surga: Mode Parasit!"
WUUUNG!
Pusaran hitam muncul di telapak tangan Ye Chen.
Biasanya, dia menyerap energi dari makhluk mati atau benda mati. Menyerap dari Binatang Buas Tingkat 2 Puncak yang masih hidup dan mengamuk adalah pertaruhan gila. Energi liar binatang itu akan bertarung melawan jiwa Ye Chen.
Zzzzt!
Api dan magma dari dalam tubuh ular itu ditarik paksa keluar. Masuk ke tangan Ye Chen, membakar meridiannya.
"PANAS!"
Ye Chen berteriak. Rasanya seperti meminum lahar cair. Kulit tangannya melepuh, dagingnya hangus.
Tapi ular itu menjerit lebih keras.
Ia merasakan esensi kehidupannya—Qi Api Murni yang dikumpulkannya selama seratus tahun—disedot keluar oleh kutu kecil di punggungnya.
Ular itu berguling-guling, menghancurkan bebatuan di sekitarnya, mencoba membunuh Ye Chen.
Tapi Ye Chen sudah mengunci dirinya dengan sisa tenaga terakhir.
"Kau... adalah... makananku!"
Mata Ye Chen berubah menjadi hitam total. Aura Asura bangkit, menekan jiwa ular itu.
Perlahan tapi pasti, gerakan ular itu melambat.
Sisik merahnya yang berkilau mulai memudar menjadi abu-abu. Tubuhnya yang kekar mulai menyusut. Panas tubuhnya dingin.
Lima menit yang terasa seperti selamanya berlalu.
Ular Sanca Api itu mengejang untuk terakhir kalinya, lalu diam kaku. Mati kering.
Ye Chen jatuh terguling dari punggung bangkai ular itu. Dia terbaring di tanah berbatu yang panas, napasnya hanya tinggal satu-satu.
Seluruh tubuhnya hitam legam, hangus terbakar. Tangannya gemetar tak terkendali.
Tapi di dalam Dantian-nya, terjadi keajaiban.
Energi api murni dari ular itu tidak menghancurkannya. Mutiara Penelan Surga telah memurnikannya, membuang sifat liarnya, dan menyatukannya dengan Qi Guntur yang sudah ada.
Api dan Petir. Dua elemen penghancur.
Kulit Ye Chen yang hangus mulai retak dan mengelupas seperti kulit ular yang berganti. Di bawahnya, tumbuh kulit baru.
Bukan lagi warna perunggu. Kulit baru itu memiliki rona kemerahan yang sehat, dengan kilatan listrik samar di bawah permukaannya.
Ye Chen memaksa dirinya duduk.
"Tubuh Guntur Asura... Tingkat Lanjut."
Dia mengepalkan tangannya. Rasa sakit akibat luka bakar hilang. Dia merasa lebih kuat, lebih padat, dan lebih tahan panas.
Ye Chen berdiri, berjalan mendekati bangkai ular itu. Dia mencabut Pedang Pemecah Gunung dari kepala ular.
Lalu, dia membedah perut ular itu.
Dia mengambil Inti Dalam (Inner Core) yang berwarna merah delima dan Empedu Ular yang berwarna hijau zamrud.
"Target misi selesai," gumam Ye Chen.
Namun, matanya menangkap sesuatu yang lain di dalam perut ular itu. Sesuatu yang tidak bisa dicerna.
Sebuah cincin logam yang terbuat dari bahan aneh berwarna biru tua.
"Cincin Penyimpanan?"
Ye Chen mengambilnya. Cincin itu dingin, tidak terpengaruh oleh asam lambung ular atau magma.
Dia mencoba memasukkan kesadarannya. Segelnya sudah rusak.
Isinya: Tumpukan tulang manusia, beberapa senjata rusak, dan... sebuah Token Giok Putih dengan ukiran awan.
"Token Sekte Awan Putih Kuno?" Ye Chen terkejut.
Sekte Awan Putih adalah penguasa wilayah ini ribuan tahun lalu sebelum hancur dan digantikan oleh Akademi Bintang dan kota-kota lain.
"Sepertinya ular ini memakan seorang kultivator yang menemukan warisan kuno, tapi tidak sempat menikmatinya," Ye Chen menyeringai tipis. "Rejeki nomplok."
Dia menyimpan cincin itu. Dia tidak akan memeriksanya sekarang. Tempat ini masih berbahaya.
Ye Chen menjarah Kantong Penyimpanan dari tiga pembunuh bayaran yang tadi dia bunuh (Iblis Besar yang terbelah dua).
"Total panen hari ini... sangat besar."
Ye Chen menatap langit yang mulai gelap di atas lembah. Dia harus kembali. Wang Long pasti sedang menunggu kabar kematiannya.
"Maaf mengecewakanmu, Tuan Muda Wang. Tapi malaikat maut menolakku."
Ye Chen mengenakan jubah cadangan dari kantong penyimpanannya, menutupi tubuhnya yang baru pulih, lalu melesat pergi meninggalkan Lembah Magma.
Keesokan Harinya. Aula Misi Akademi Bintang.
Suasana aula sedang ramai-ramainya. Para murid sedang membicarakan gosip terbaru.
"Hei, kudengar Wang Long mengadakan pesta di Asrama Elit malam ini," kata seorang murid.
"Pesta apa?"
"Merayakan kematian musuhnya. Katanya si 'Peti Mati' itu mati di Lembah Magma. Wang Long menyewa Trio Iblis Lahar."
"Gila! Trio Iblis Lahar? Pantas saja dia mati. Sayang sekali, padahal dia lumayan kuat."
Di sudut ruangan, Wang Long sedang duduk santai di kursi malas, dikelilingi pengikutnya. Tangannya yang patah sudah dibebat rapi.
"Hahaha! Lihatlah, siapa yang tertawa terakhir?" Wang Long menyesap tehnya. "Di dunia ini, menyinggung Keluarga Wang adalah tiket satu arah ke neraka."
Tiba-tiba, pintu utama Aula Misi terbuka lebar.
Cahaya matahari siang menyusup masuk, menciptakan siluet panjang seseorang di ambang pintu.
Orang itu berjalan masuk dengan langkah tegap. Jubah putih akademinya bersih, rambut hitamnya terikat rapi. Namun aura yang dipancarkannya begitu tajam hingga udara di sekitarnya terasa menusuk.
Di lehernya, tergantung sebuah kalung pedang hitam.
Seluruh aula hening seketika. Gelas teh di tangan Wang Long jatuh dan pecah.
"Hantu...?" Wang Long memucat, matanya melotot. "Tidak mungkin... Iblis Lahar tidak pernah gagal!"
Ye Chen berjalan lurus melewati kerumunan yang membelah seperti Laut Merah. Dia tidak menoleh ke kiri atau kanan. Dia menuju meja resepsionis misi.
Gadis resepsionis itu gemetar melihat Ye Chen. "Tu-Tuan Ye? Anda kembali?"
Ye Chen tidak bicara. Dia mengambil dua benda dari sakunya dan meletakkannya di atas meja dengan bunyi tak yang tegas.
Sebuah Inti Merah yang masih panas.
Sebuah Empedu Hijau yang berbau obat kuat.
"Misi selesai," kata Ye Chen datar. "Verifikasi."
Seorang tetua penilai misi keluar dari ruang belakang. Dia mengambil inti itu dengan tangan gemetar.
"Energi api ini... murni! Ini inti dari Ular Sanca Api Tingkat 2 Puncak! Dan masih sangat segar, baru dibunuh kurang dari 24 jam lalu!" seru tetua itu.
"Apa?!"
"Dia membunuhnya sendirian?!"
"Ular Tingkat 2 Puncak setara dengan Pemadatan Qi Tingkat 9! Bagaimana mungkin Tingkat 4 bisa melakukannya?!"
Tatapan semua orang berubah dari meremehkan menjadi horor dan kagum.
Ye Chen menerima kantong berisi 500 Poin Kontribusi dan 100 Batu Roh.
Dia berbalik, matanya langsung tertuju pada Wang Long yang masih membeku di kursinya.
Ye Chen berjalan perlahan mendekati Wang Long.
Setiap langkah Ye Chen terdengar seperti detak jam kematian bagi Wang Long.
"K-Kau... Jangan mendekat! Ini area aman!" Wang Long mundur, menabrak meja di belakangnya. "Pengawal! Tahan dia!"
Dua pengikut Wang Long mencoba maju, tapi Ye Chen hanya melirik mereka.
Aura Pembunuh Asura.
Kedua pengawal itu merasa seperti melihat lautan darah. Lutut mereka lemas dan mereka jatuh terduduk, kencing di celana.
Ye Chen berhenti tepat di depan wajah Wang Long.
Dia mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan di telinga Tuan Muda itu.
"Pembunuh bayaranmu... rasanya agak renyah."
Wang Long berhenti bernapas.
Ye Chen menepuk pipi Wang Long yang diperban pelan-pelan—sebuah penghinaan yang halus namun menyakitkan.
"Pestamu malam ini dibatalkan. Tapi jangan khawatir, aku akan mengirimkan hadiah ke asramamu nanti. Mungkin... kepala Iblis Besar?"
Ye Chen tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Wang Long merosot ke lantai, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dia menyadari satu hal yang mengerikan.
Dia tidak sedang berurusan dengan murid biasa. Dia sedang berurusan dengan monster yang memakan monster.
Dan monster itu sekarang tinggal satu atap dengannya di Akademi Bintang.
(Akhir Bab 35)