NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Mobil terus melaju menanjak, menembus kabut tipis yang mulai turun menyelimuti jalur Puncak.

Suasana di dalam kabin mendadak berubah menjadi sangat emosional ketika Akhsan menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang dimana napas yang sarat akan beban masa lalu yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

"Seperti Zahra, yang seharusnya tidak meninggal terbakar jika pagi itu aku tak menguncinya di gudang," gumam Akhsan dengan suara yang bergetar hebat.

Matanya menatap kosong ke jalanan di depan.

Aruna tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, namun jemarinya yang tersembunyi di balik gaunnya mengepal sangat kuat.

"Polisi masih belum menemukan pelaku pembakar rumah itu sampai sekarang," lanjut Akhsan dengan nada penuh penyesalan.

"Aku merasa sangat bersalah karena sudah melakukan itu kepada Zahra. Aku menguncinya untuk menghukumnya, tapi aku tidak pernah bermaksud membunuhnya dengan api itu."

Aruna menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat.

Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan keyakinan penuh bahwa Akhsan adalah orang yang dengan sengaja menyulut api untuk melenyapkannya. Namun, mendengar pengakuan Akhsan barusan—bahwa pria itu "hanya" menguncinya dan bukan yang membakar rumah itu—membuat dunianya seakan berputar.

'Kalau bukan Akhsan... lalu siapa?' batin Aruna dengan gejolak emosi yang hampir meledak.

"Kenapa Anda menceritakan ini padaku, Tuan Akhsan?" tanya Aruna dengan suara yang diusahakan tetap datar, meski hatinya sedang bergemuruh.

"Karena kau sangat mirip dengannya, Aruna," jawab Akhsan sambil menoleh sejenak, menatap Aruna dengan mata yang berkaca-kaca.

"Setiap kali melihatmu, aku merasa Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk menebus dosa atas kuncian pintu di pagi maut itu."

Di belakang mereka, taksi yang membawa Sisil semakin mendekat.

Sisil yang melihat dari kejauhan bagaimana Akhsan menatap Aruna, semakin mempererat cengkeramannya karena Akhsan meninggalkanya.

Ia tidak tahu rahasia besar apa yang sedang dibicarakan di dalam mobil mewah itu, yang ia tahu hanyalah satu: perjalanan ini harus berakhir dengan kematian.

Tiga jam perjalanan yang penuh ketegangan batin itu berakhir di sebuah lokasi pemotretan eksklusif di puncak tebing yang menawarkan pemandangan lembah yang sangat curam.

Kabut tebal mulai turun, menyelimuti area puncak dengan hawa dingin yang menusuk.

Tanpa mereka sadari, Sisil telah sampai lebih awal.

Dengan wajah yang masih terbungkus perban dan gerakan yang dipacu adrenalin kegilaan, ia menyelinap di antara kru yang sedang sibuk.

Dengan sebuah pisau kecil, ia menyabotase kabel-kabel lampu flash bertegangan tinggi dan melonggarkan baut pada pagar pengaman di tepian jurang.

Aruna keluar dari ruang ganti dengan gaun merah darah yang menjuntai indah, sangat kontras dengan latar kabut putih.

Ia tampak seperti dewi maut yang menawan. Akhsan berdiri tak jauh dari sana, matanya terpaku penuh pemujaan pada sosok Aruna, sama sekali tidak menyadari maut yang mengintai di bawah kakinya.

"Satu... dua... action!" teriak fotografer.

Tepat saat Aruna berpose di dekat pagar pengaman, Sisil yang bersembunyi di balik tenda peralatan menarik kabel lampu utama yang sudah dikelupasnya.

"BRAAAKK! CESS!"

Kabel besar itu terputus, memercikkan aliran listrik yang kuat dan mengenai genangan air di dekat kaki Akhsan.

Sentakan listrik itu membuat Akhsan terperanjat hebat dan kehilangan keseimbangan.

Secara refleks, Akhsan mencoba meraih apa pun yang ada di dekatnya agar tidak jatuh.

"Aruna!" teriak Akhsan panik.

Ia berhasil menangkap tangan Aruna, namun berat tubuh Akhsan yang terseret ke belakang justru menarik Aruna ikut terjatuh.

Pagar pengaman yang sudah disabotase oleh Sisil tidak mampu menahan beban mereka berdua.

KRAAAKK!

Pagar itu patah. Suasana seketika menjadi hening yang mematikan saat tubuh Akhsan dan Aruna terlempar ke arah jurang yang gelap.

Akhsan tetap memeluk tubuh Aruna dengan erat, seolah di detik-detik terakhirnya, ia tidak ingin melepaskan "Zahra" untuk kedua kalinya.

"AAAAAAKH!"

Mereka berdua terjatuh ke dalam jurang yang diselimuti kabut tebal, hilang dari pandangan para kru yang berteriak histeris.

Sisil muncul dari balik bayang-bayang, berdiri di tepi jurang dengan tawa yang pecah dan mengerikan.

"Hahaha! Mati! Kalian harus mati bersama! Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tanah ini yang akan memilikinya!"

Namun, di dalam kegelapan jurang itu, tangan Akhsan masih mendekap Aruna, melindungi kepala wanita itu dari benturan bebatuan tajam saat mereka terus merosot jatuh ke bawah.

"Apa?!"

Suara Christian menggelegar di dalam mobilnya. Ponsel yang digenggamnya terjatuh ke lantai mobil saat suara panik dari pihak fotografer mengabarkan bahwa Aruna dan Akhsan telah jatuh ke jurang.

Tanpa pikir panjang, ia memutar arah kemudi dan memacu mobilnya secepat kilat menuju titik koordinat pemotretan.

Jantungnya berdegup kencang, ketakutan kehilangan wanita yang ia cintai kini lebih besar daripada dendam apa pun.

Sementara itu, di dasar jurang yang lembap dan berbatu, suasana begitu mencekam.

Akhsan terbaring dengan posisi miring, masih mendekap tubuh Aruna dengan sisa-sisa kekuatannya.

Punggung Akhsan tertancap dahan pohon yang patah saat mereka terjatuh tadi, menjadi tameng hidup yang melindungi Aruna dari benturan maut.

Darah segar merembes cepat, membasahi kemejanya yang putih.

"A-akhsan..." suara Aruna bergetar.

Ia merasakan cairan hangat yang kental di tangannya.

Saat ia menarik tangannya, ia melihat darah yang begitu banyak.

Akhsan merintih, wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu tidak apa-apa, Zahra?" bisiknya lemah.

Mendengar nama itu disebut di saat kritis seperti ini, tembok pertahanan Aruna runtuh seketika.

PIa tidak bisa lagi bermain peran. Kebenciannya menguap, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa melihat pria itu mempertaruhkan nyawa untuknya.

"Mas Akhsan!! Mas, kamu masih punya hutang ke aku!! Aku Zahra!! Aku istrimu yang kamu kunci di gudang itu!" teriak Aruna histeris.

Air matanya kini mengalir deras, membasahi wajahnya yang selama ini tersembunyi di balik topeng.

Akhsan tersenyum getir, seolah sudah menduga kebenaran itu sejak lama.

"Aku tahu, Zahra. Aku selalu tahu itu kamu..."

Aruna segera bangkit meski kakinya sendiri terkilir.

Dengan gerakan cepat, ia merobek gaun merah mahalnya yang kini sudah kotor oleh tanah.

Ia melilitkan kain panjang itu ke punggung Akhsan, berusaha menekan luka akibat tancapan pohon agar darahnya tidak terus mengucur.

"Mas, jangan bergerak! Tetaplah sadar! Aku akan mencari bantuan ke atas," ucap Aruna dengan suara yang parau.

Ia mencengkeram tangan Akhsan yang dingin. "Jangan mati sekarang! Kamu belum membayar semua perbuatanmu padaku!"

Aruna mencoba merangkak di antara bebatuan licin, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Di atas sana, ia bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan kru dan suara mesin mobil yang mendekat.

Ia harus bertahan dan harus menyelamatkan pria yang baru saja membuktikan bahwa di balik segala kebrengsekannya, masih ada secercah cinta yang rela berkorban nyawa.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!