NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Dan Perasaan

Dimas dan Naina tiba di kamar hotel.

Naina dan Dimas sedikit terperangah saat membuka pintu kamar.

Di balik pintu kamar hotel yang mewah, dunia seakan berhenti berputar, hanya ada mereka berdua, dalam kehangatan cahaya lilin dan aroma mawar yang memenuhi udara di dalam sana.

Mereka berdua menjadi canggung dan berusaha menyembunyikan perasaan itu. Dimas masuk, diikuti oleh Naina.

Dimas perlahan menyibak tirai kamar, memperlihatkan pemandangan kota yang gemerlap di bawah sana.

Naina yang melihat pemandangan itu sangat takjub. Tidak pernah ia melihat pemandangan seindah itu sebelumnya.

Kamar hotel yang didekorasi dengan indah, dengan tempat tidur berukuran king yang ditaburi kelopak bunga mawar.

Setelah seharian penuh dengan acara pernikahan yang melelahkan, ingin rasanya segera merebahkan diri di sana.

Dalam keheningan, mereka sama-sama tidak tau akan jantung yang berdebar sangat kencang.

Terlihat Dimas menyeka baju pengantinnya dan membiarkan tubuhnya hanya di balut dengan baju kaos dan celana pendek selutut.

Sedangkan, Naina tampak berdiri dengan bola mata yang terus saja mengitari kamar hotel, ia masih takjub akan keindahan di sana.

"Kamu gak bersih-bersih?" Tanya Dimas membuyarkan pandangan Naina.

"I-iya, Mas?" Naina terlihat kebingungan.

"Kamu ngapain bengong di situ?"

"Anu, maaf, Mas. Aku takjub saja sama bangunan ini. Dari awal kita masuk, semua tampak indah sekali. Kamar ini pun tidak kalah indahnya. Aku mana pernah tidur di tempat seperti ini. Pemandangan dari atas sini juga sangat indah sekali."

Dimas sedikit nyengir. "Ini namanya hotel, satu minggu ke depan kita bakal tinggal di sini sampai rumah kita sudah siap di tempati."

Naina mengangguk tanda mengerti. Wajah lugunya membuat Dimas menyunggingkan senyum.

"Yasudah, sana bersih-bersih dulu. Aku mau duduk di balkon."

"Baik, Mas." Balas Naina.

"Baju kamu sudah di siapkan di dalam lemari." Sambung Dimas.

"Iya. Terimakasih banyak."

Dimas berlalu meninggalkan Naina."

Detak jantung Naina semakin tidak karuan, seolah terbawa suasana dan perasaan.

***

Naina duduk menatap dirinya di cermin. Satu persatu hiasan dikepalanya ia lepaskan.

"Tidak terasa... Aku sudah menjadi seorang istri. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik." Ucap Naina pada diri sendiri.

"Banyak hal yang aku lalui sampai aku berada di titik ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi ke depan, tapi yang jelas... aku akan menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya."

Setelah melepaskan semua riasan Naina bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Satu persatu pakaian ia buka.

"Ini bak mandi kok beda sekali. Kenapa bentuknya seperti ini?" Tanya Naina saat dirinya melihat bath-up yang besar berisi air tapi penuh dengan kelopak bunga mawar, yang membuat ia tidak ingin untuk menggunakannya.

Naina bertambah bingung saat kran air yang ia putar tidak mengeluarkan air.

Naina terus mencoba beberapa kali tapi hasilnya nihil. Beberapa menit berlalu ia tetap saja tidak berhasil. Dia menatap sekeliling kamar mandi dan semakin kebingungan.

"Aduh, ini semua bagaimana cara menggunakannya?"

*

Langkah kaki mendekat ke arah Dimas, yang membuat pria itu terbelalak sesaat.

"Naina?" Dimas kebingungan saat Naina ada di depannya dan hanya memakai sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya. Wajah Dimas memerah seketika, jantungnya berdegup kencang.

"Ma-maaf, Mas. Aku tidak tau caranya menyalakan air. Bak mandinya di penuhi bunga, jadi aku mau mandi pakai air biasa saja."

"Bak?" Tanya Dimas yang semakin bingung.

"Mas bisa bantu hidupkan airnya? Aku sudah mencoba tetapi tidak bisa."

Dimas berjalan menuju kamar mandi, dan melihat keadaan di dalam sana. Ia sedikit geli hati saat teringat Naina mengatakan 'bak mandi' yang jelas-jelas itu adalah bath-up.

Mata Dimas tertuju pada kran bawah. "Pantas saja gak keluar, ini kran bawanya masih tertutup."

"Oalah." Naina tertawa kecil melihat Dimas memutar kran itu yang berhasil membuat air mengalir dari kran.

"Terimakasih, ya, Mas. Maaf aku tidak mengerti. Di desa kita mandinya di sungai. Tidak ada benda-benda seperti ini."

"Iya. Sama-sama." Jawab Dimas.

Dimas menyibak tirai yang menutupi kaca besar sebagai dinding kamar mandi. Hingga tampak jelas dari dalam sana pemandangan di luar kamar mandi yang membuat mata Naina terbelalak lebar.

"Hah? Ke-kenapa di buka?" Tanya Naina sedikit panik.

"Memang seperti ini." Jawab Dimas santai seolah tidak ada yang aneh.

"Tapi kalau dibuka, nampak dari luar, kan?"

Wajah keduanya sama-sama memerah. Dimas dengan segera menutup tirai itu lagi. Dengan terburu-buru ia pergi meninggalkan Naina.

"Astaga..." Ucap Dimas yang saat ini kembali ke balkon. Jantungnya semakin berdetak tidak karuan.

Sementara Naina, ia duduk di pinggiran Bathup, ia terlihat mengatur nafas dan detak jantung yang sulit di kendalikan.

"Haaahhh! Bagaimana, ya? Padahal kita sudah suami istri. Tapi aku merasa malu." Ucap Naina sambil menutup wajahnya.

*

Setelah keadaan mulai membaik, perlahan, Naina mulai mengguyur tubuhnya dibawah air yang mengalir seperti hujan.

Sedangkan Dimas, pria itu terlihat juga mengatur nafas, wajahnya masih merah dengan melihat Naina yang hanya mengenakan handuk tadi. Di tambah kepolosan Naina membuat dia sedikit 'gemas'.

*****

Malam semakin larut,

Dimas dan Naina sedari tadi, sejak insiden kamar mandi masih diam-diaman, karena mereka memang tidak tau ingin membahas apa, bicara apa, cerita apa. Hingga masing-masing mereka menyibukan diri dengan urusan masing-masing.

Dimas yang masih asik duduk di balkon kamar sembari menikmati kopi dan memainkan gawai. Sedangkan Naina hanya diam di depan meja rias. Naina sendiri bingung harus apa. Benar-benar Secanggung itu. Padahal seharusnya mereka bersenang-senang sebagai pengantin baru.

***

"Aku tidak tau apakah ini adalah hal yang baik? Apakah aku terlalu egois dengan menikahi seorang gadis karena keterpaksaan? Apakah langkah ku ini sudah benar? Lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini? Menjalani dengen keterpaksaan yang aku sendiri pun tidak tau sampai kapan."

"Lalu Naina... apa yang ada dipikirannya sehingga mau menerima pernikahan ini?"

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!