Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pratama melepaskan pelukannya perlahan, namun jemarinya tetap mengunci jemari Luna seolah tak ingin kehilangan kontak sedetik pun.
Ketegangan yang membara sejak semalam kini mencair, berganti dengan binar jenaka yang sudah lama tidak Luna lihat di mata suaminya.
"Ayo pulang, Dik. Kasihan motor Riana sudah kerja keras mengejarmu," ajak Pratama sambil membantu Luna memutar arah motor bebek itu.
Baru saja Luna hendak naik ke boncengan, ia berhenti sejenak dan menarik ujung jaket Pratama.
Perutnya mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring di tengah sunyinya pinggir jalan itu.
"Mas, beli makan dulu ya? Aku lapar sekali," rengek Luna dengan wajah cemberut yang manja, persis seperti Luna yang dulu sering meminta jajan pasar sepulang sekolah.
Pratama terkekeh pelan. Ia menatap istrinya dari atas ke bawah, seolah baru menyadari bahwa wanita di depannya ini adalah pemimpin ribuan karyawan di gedung pencakar langit.
"Wah, kita mau beli makan apa hari ini, Bu CEO? Apa kita harus memesan meja di hotel bintang lima?" goda Pratama dengan nada bercanda yang sangat kental.
Luna spontan tertawa terbahak-bahak, tawa lepas yang sempat hilang ditelan drama penculikan dan rahasia besar kemarin.
Ia mencubit pelan pinggang Pratama yang membuat suaminya mengaduh.
"Ih, Mas! Jangan meledek terus! Aku tetap Luna yang suka jajan sembarangan, tahu!"
Luna kembali tertawa, lalu menunjuk sebuah warung tenda di pinggir jalan yang asap bakaran ikannya sudah mengepul menggoda selera.
"Makan lalapan ikan bakar di situ saja, Mas CEO! Pakai sambal terasi yang pedas, biar pusing di kepalaku hilang semua," jawab Luna semangat.
Pratama tersenyum lebar. Ia merasa bebannya terangkat.
Panggilan "Mas CEO" dari mulut Luna seolah menjadi tanda bahwa mereka sudah impas soal status sosial.
"Siap, laksanakan! Mari kita berangkat, Nyonya Besar Jati Grup," sahut Pratama sambil menghidupkan mesin motor.
Di dalam mobil sedan hitam yang masih terparkir tidak jauh dari sana, Papa Jati dan Arini saling pandang sambil tersenyum lebar melihat keceriaan itu.
"Lihat, mereka bahkan lebih suka makan di pinggir jalan daripada di restoran mahal milik Papa," bisik Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Papa Jati.
"Begitulah mereka, sayang. Sama seperti kita, lebih suka yang sederhana tapi bermakna," jawab Papa Jati lembut, sambil diam-diam memperhatikan ke arah warung lalapan, memastikan anak dan menantunya benar-benar bahagia malam ini.
Mereka akhirnya menepi di sebuah warung tenda lesehan yang cukup ramai di pinggir jalan raya.
Bau harum bakaran arang dan bumbu kecap tercium sangat menggoda.
Pratama membentangkan tikar plastik yang sedikit usang di sudut lesehan yang agak jauh dari kebisingan jalan, lalu mereka duduk bersila saling berhadapan.
Tanpa canggung, Pratama memesan menu andalan mereka.
"Pak, gurami bakar dua, ayam bakar dua, sama teh panasnya dua ya," ujar Pratama dengan suara mantap.
Sambil menunggu pesanan datang, Luna menatap suaminya yang kini terlihat jauh lebih rileks. Ia mengulurkan tangannya di atas meja kayu rendah itu, lalu menggenggam jemari Pratama dengan erat.
Cahaya lampu bohlam kuning di warung itu memantul di mata Luna yang masih sedikit sembab.
"Seperti mimpi, Mas," gumam Luna pelan.
"Mimpi yang mana, Dik? Mimpi punya suami tukang soto, atau mimpi ketahuan kalau kamu sebenarnya bos besar?" goda Pratama, meski tangannya membalas genggaman Luna dengan tak kalah erat.
Luna menggeleng kecil, sebuah senyum tulus terukir di bibirnya.
"Mimpi bisa duduk seperti ini lagi sama kamu. Tadi di perempatan jalan, aku benar-benar pikir semuanya sudah berakhir. Aku pikir aku akan kehilangan Mas untuk selamanya."
Pratama menghela napas, ia membawa tangan Luna ke pipinya, merasakan kehangatan yang nyata.
"Mas yang minta maaf, Dik. Mas terlalu keras kepala. Mas lupa kalau cinta itu bukan soal siapa yang lebih kaya atau siapa yang paling kuat, tapi soal siapa yang paling tidak sanggup kehilangan."
"Mas janji jangan lepasin tangan aku lagi ya?" tanya Luna manja.
"Janji. Tapi nanti kalau guraminya datang, dilepas dulu ya? Mas mau makan pakai tangan, nanti tangan kamu kena sambal terasi," canda Pratama lagi, membuat Luna tertawa kecil di tengah suasana haru mereka.
Di sisi lain, di dalam mobil sedan hitam yang perlahan melintas di depan warung itu, Papa Jati melirik dari balik kaca jendela.
Ia tersenyum tipis melihat pemandangan indah itu.
"Mereka sudah aman, Arini. Sekarang, giliran kita yang cari makan malam, yuk?" bisik Papa Jati kepada wanita di sampingnya.
Arini menganggukkan kepalanya dengan senyum simpul, tangannya masih terpaut mesra di jemari Papa Jati.
"Ayo, Mas. Aku juga sudah lapar melihat mereka makan seseru itu."
Mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan area perempatan, melaju menuju kawasan pesisir yang lebih tenang, menjauh dari keramaian pusat kota.
Mereka berhenti di sebuah warung seafood sederhana di pinggir dermaga, tempat tersembunyi yang menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan rahasia mereka selama ini.
"Selamat malam, Pak Jati, Bu Arini! Seperti biasa ya?" sapa pemilik warung yang sudah sangat mengenal mereka.
Di sini, Papa Jati bukan lagi CEO besar yang disegani, melainkan hanya seorang pelanggan setia bernama "Mas Jati".
"Iya, Pak. Kepiting saus padang dan udang bakarnya jangan lupa," jawab Papa Jati santai sambil menarikkan kursi untuk Arini.
Sembari menunggu makanan, Arini menatap laut lepas yang gelap.
"Mas, apa kita akan terus seperti ini? Aku merasa sedikit bersalah pada Luna. Dia menganggapku sahabat, tapi aku malah diam-diam menjalin hubungan dengan ayahnya."
Papa Jati menghela napas, menggenggam tangan Arinj dengan lembut.
"Aku tahu, sayang. Tapi kamu lihat sendiri kan, Luna baru saja melewati badai besar dengan Pratama. Jika kita beritahu sekarang, aku takut fokusnya pecah lagi. Biarkan mereka menikmati masa-masa 'bulan madu kedua' mereka dulu."
Arinj tersenyum getir namun setuju. "Iya, kamu benar. Lagipula, aku suka cara kita sekarang. Tidak ada kamera, tidak ada urusan perusahaan. Hanya aku dan kamu."
"Dan sepiring kepiting saus padang," timpal Papa Jati sambil tertawa kecil saat pesanan mereka tiba.
Sementara itu, di warung lesehan seberang kota, Luna dan Pratama baru saja memulai pesta gurami bakar mereka.
Luna menyuapi Pratama dengan potongan ikan yang lembut, tertawa saat sambal terasinya ternyata jauh lebih pedas dari yang mereka duga.
Dua pasangan ini, di dua tempat berbeda, sama-sama sedang merayakan cinta yang penuh rahasia—yang satu baru saja terbongkar, dan yang satu lagi masih tersimpan rapat di bawah temaram lampu warung makan.
Pratama membantu Luna menaiki motor milik Riana, sementara ia sendiri menaiki motor bebeknya.
Mereka melaju beriringan, membelah angin malam yang kini terasa lebih bersahabat.
Sesampainya di depan kontrakan kecil mereka, Pratama memarkirkan motornya dan menatap bangunan sederhana itu dengan perasaan yang campur aduk.
Ia menoleh ke arah Luna yang sedang merapikan hijabnya setelah melepas helm.
Ada rasa ragu yang tiba-tiba menyelinap di hati Pratama saat melihat istrinya—sang CEO Jati Grup—berdiri di depan pintu kayu yang catnya sudah mulai mengelupas.
"Dik," panggil Pratama pelan, langkahnya terhenti di ambang pintu.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa tinggal di sini lagi? Maksud Mas, setelah semua yang terjadi, dan setelah Mas tahu siapa kamu sebenarnya... rumah ini jauh dari kata layak untukmu."
Luna menghentikan gerakannya. Ia melangkah mendekat, masuk ke dalam rumah dan menghirup aroma soto yang tadi ia masak.
Ia berbalik, menatap Pratama dengan tatapan yang sangat dalam dan tulus.
"Mas, ini rumah suamiku. Dan aku adalah istrimu," ucap Luna mantap.
"Bagiku, kenyamanan itu bukan soal lantainya dari marmer atau semen, tapi soal siapa yang ada di dalamnya. Dan aku mau..."
Luna menggantung kalimatnya sejenak. Ia melangkah satu langkah lebih dekat hingga jarak mereka sangat tipis, lalu ia mengedipkan sebelah matanya dengan nakal—sebuah sisi genit yang jarang ia tunjukkan.
"...aku mau Mas segera kunci pintunya, karena di luar dingin sekali, dan aku butuh pelukan suamiku untuk menghangatkan suasana," lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.
Pratama terpaku sejenak, wajahnya memerah mendengar godaan istrinya.
Ia tidak menyangka "Bu CEO" ini bisa seberani itu setelah drama air mata tadi sore.
"Oh, jadi sekarang Bu CEO sudah pintar menggoda, ya?" sahut Pratama sambil tertawa kecil.
Ia segera menutup pintu kayu itu dan menguncinya rapat-rapat, meninggalkan kebisingan dunia luar di belakang mereka.
Di dalam kesederhanaan kontrakan itu, hanya ada mereka berdua.
Tidak ada rahasia, tidak ada jabatan, hanya ada Pratama dan Luna yang siap memulai babak baru dalam pernikahan mereka.
Lampu kamar yang temaram menciptakan suasana hangat di dalam ruangan yang sederhana itu.
Luna merebahkan tubuhnya di samping Pratama, menyandarkan kepalanya di lengan kokoh suaminya.
Jemarinya yang lentik mulai bermain, mengelus lembut brewok tipis di rahang Pratama yang selalu membuatnya merasa tenang.
"Mas," panggil Luna lirih, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang lebih jernih.
"Besok setelah pulang jualan, antar aku ke TK, ya? Aku mau pamit secara resmi. Aku tidak mungkin terus menghilang tanpa kabar, apalagi identitasku sudah terbuka seperti ini."
Pratama menoleh, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.
"Iya, sayang. Besok setelah jualan kita habis, Mas antar kamu ke sana. Kamu harus berpamitan dengan baik pada anak-anak dan guru-guru yang lain."
"Terima kasih, Mas," gumam Luna. Ia kemudian sedikit bangkit, menumpu tubuhnya dengan siku dan menatap wajah Pratama dengan tatapan yang sangat manja.
"Mas..."
"Hmm? Ada apa lagi, Sayang?" Pratama mengusap pipi Luna yang masih sedikit kemerahan.
"Main seperti kemarin, yuk?" bisik Luna sambil memberikan senyum penuh arti yang membuat jantung Pratama berdegup lebih kencang.
Pratama sempat tertegun, ia menatap istrinya dengan penuh perhatian.
"Kamu tidak capek? Tadi sore kamu menangis, habis dari pasar, lalu masak soto sebanyak itu. Mas khawatir kamu kelelahan."
Luna menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya kini berpindah menyentuh bibir Pratama.
"Rasa capeknya hilang kalau dekat Mas."
Mendengar itu, pertahanan Pratama runtuh. Ia tidak bisa menolak permintaan wanita yang sangat dicintainya itu.
Dengan perlahan, Pratama menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya yang hangat, merapatkan jarak di antara mereka.
Ia menatap mata Luna dalam-diam sebelum akhirnya mendaratkan ciuman lembut di bibir istrinya, menyalurkan rasa cinta dan kerinduan yang sempat tertahan oleh kemarahan kemarin.
Malam itu, di dalam kontrakan kecil yang penuh kesederhanaan, mereka berdua seolah menghapus sisa-sisa luka dengan kehangatan yang baru.