Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
James Bernardo, yang dulu pergi dengan hati hancur dan dendam pada Kenneth, kini kembali ke lingkaran kehidupan keluarga Graciano melalui putrinya.
James Bernardo kini telah menjadi pengusaha sukses di luar negeri, namun luka lama tentang pengkhianatan Kenneth dan kehilangan Hazel tetap membekas, meski ia sudah memiliki keluarga sendiri.
Putrinya, Alexa Bernardo, tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Alexa adalah primadona di SMA elit tempat Kenzo dulu bersekolah, dan kini ia berada di tahun terakhirnya. Namun, di balik wajah malaikatnya, Alexa adalah seorang stalker ulung yang terobsesi pada satu pria, Kenzo Graciano.
Dinding kamar Alexa tidak dipenuhi poster artis, melainkan potongan artikel berita, foto-foto candid Kenzo saat berolahraga, hingga jadwal harian pria itu yang berhasil ia dapatkan secara ilegal.
"Kau sangat sempurna, Kenzo," bisik Alexa sambil mengelus layar tabletnya yang menampilkan foto Kenzo saat pidato kelulusan.
Alexa tahu persis sejarah kelam antara ayahnya dan Kenneth, meskipun James tidak pernah menceritakan detailnya. Baginya, memiliki Kenzo adalah cara terbaik untuk memenangkan kembali apa yang dulu ayahnya lepaskan.
Sore itu, Queenstown diguyur hujan tipis. Kenzo Graciano duduk di kursi belakang mobil sedan hitamnya, menatap bosan ke arah jendela. Di usia dua puluh empat tahun, hidupnya hanya berputar di antara ruang rapat dan laporan keuangan. Ia adalah pria yang sangat tertutup, bahkan cenderung dingin, meski sebenarnya ia memiliki hati yang sangat lembut, terutama jika mengingat Liora, sahabat masa SMA-nya yang meninggal karena sakit tujuh tahun lalu.
Satu kali sebulan, ia akan ke makam. Makam yang sering ia kunjungi adalah makam Liora sahabatnya, tempat ia sering berbagi cerita yang tidak bisa ia sampaikan pada siapa pun.
Mobil terhenti di sebuah lampu merah yang cukup lama. Mata Kenzo yang tajam tanpa sengaja menangkap sosok seorang gadis di trotoar, tepat di bawah halte bus yang penuh sesak.
Gadis itu adalah Alexa Bernardo.
Kenzo tertegun. Ia menurunkan kaca mobilnya sedikit. Alexa berdiri dengan anggun meskipun sedang menunggu bus di tengah gerimis. Ia mengenakan trench coat berwarna krem pucat yang dipadukan dengan syal kasmir berwarna marun, warna yang sangat kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, sedikit lembap karena percikan air hujan.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Alexa berpakaian. Sederhana, namun sangat berkelas. Ia tidak memakai perhiasan mencolok, hanya sebuah jam tangan kulit yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang modern. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tua yang sampulnya sudah mulai memudar.
"Alexa?" gumam Kenzo pelan.
Ia ingat gadis itu. Putri James Bernardo. Terakhir ia melihatnya saat mereka masih remaja, Alexa adalah gadis kecil yang pendiam dan selalu bersembunyi di balik punggung ayahnya. Kini, ia telah bertransformasi menjadi wanita yang memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Lampu berubah hijau. Mobil Kenzo mulai melaju perlahan, namun matanya tetap tertuju pada spion, memperhatikan Alexa yang akhirnya naik ke dalam bus dengan senyum tipis di wajahnya.
Alexa sebenarnya menyadari keberadaan mobil mewah keluarga Graciano itu, namun ia tidak menoleh. Ia ingin semuanya mengalir dengan natural. Ia baru saja kembali ke kota ini setelah menyelesaikan studinya di luar negeri.
.
.
Beberapa hari kemudian, Kenzo sedang berada di sebuah pameran seni rupa, tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama Liora. Saat ia sedang menatap sebuah lukisan pemandangan pegunungan yang tenang, sebuah suara lembut terdengar di sampingnya.
"Warna birunya sangat dalam, ya? Seolah-olah pelukisnya ingin kita tenggelam di sana tanpa merasa takut."
Kenzo menoleh dan menemukan Alexa berdiri di sana. Kali ini ia mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu dan celana bahan yang jatuh dengan sempurna. Wajahnya hanya dipoles makeup tipis, membuatnya terlihat sangat segar.
"Alexa Bernardo?" tanya Kenzo, memastikan.
Alexa tersenyum manis, sebuah senyuman yang terasa tulus dan tidak dibuat-buat. "Kenzo Graciano. Senang melihatmu lagi setelah sekian lama. Aku dengar kau sekarang yang memegang kendali di perusahaan?"
"Begitulah," jawab Kenzo singkat, namun anehnya, ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Alexa. "Kau... menyukai lukisan ini?"
"Aku menyukai ketenangannya," jawab Alexa pelan. Ia menatap Kenzo dengan tatapan yang dewasa.
"Aku sering melihatmu di makam Liora belakangan ini. Maaf jika aku terkesan mengintip, tapi makam nenekku tepat berada di beberapa blok dari sana. Aku selalu kagum melihat kesetiaanmu pada seorang teman."
Kenzo terdiam. Ini pertama kalinya seseorang menyebut Liora sebagai teman dengan nada yang begitu menghargai, bukan dengan rasa kasihan atau kecurigaan.
Sejak pertemuan itu, mereka mulai sering bertemu secara tidak sengaja. Kadang di toko buku, kadang di kedai kopi. Alexa tidak pernah mengejar Kenzo. Ia justru terlihat sangat mandiri dan asyik dengan dunianya sendiri, hal yang justru membuat Kenzo merasa penasaran.
Suatu malam, James Bernardo mengadakan jamuan makan malam kecil untuk menyambut kembalinya Alexa, dan keluarga Kenneth Graciano diundang.
Kenzo memperhatikan Alexa sepanjang malam. Cara Alexa berbicara dengan ibunya, Hazel, terlihat sangat akrab dan sopan. Alexa tidak berusaha menarik perhatian Kenzo, namun anehnya, mata Kenzo-lah yang tidak bisa berhenti mengikutinya.
"Dia sudah sangat dewasa, bukan?" bisik Kenneth yang menyadari tatapan putranya.
Kenzo hanya berdehem, mencoba menyembunyikan ketertarikannya.
Malam itu, sebelum pulang, Kenzo menghampiri Alexa di teras. "Alexa, jika kau punya waktu luang akhir pekan ini... aku ingin menunjukkan mu sebuah galeri kecil yang baru buka. Kurasa kau akan menyukainya."
Alexa menatap Kenzo, senyumnya kali ini terasa lebih hangat. "Aku akan sangat senang, Kenzo."
Tidak ada obsesi, tidak ada rencana jahat. Hanya dua orang dari masa lalu yang mencoba saling mengenal kembali di tengah sisa-sisa sejarah keluarga mereka yang rumit.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
terimakasih
ceritanya bagus