Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *6
Terus berjalan tanpa henti, akhirnya Rin sampai ke rumah sakit tempat papanya di rawat. Saat dia tiba, hari sudah sangat larut malam. Tubuhnya basah oleh hujan yang terus turun dari tadi sore hingga sekarang.
"Rin. Apa yang terjadi? Kamu dari mana saja, ham? Kenapa tubuhmu basah kuyup begini?" Sang mama terlihat sangat khawatir.
Rin tidak menjawab. Dia terus diam bak patung bernyawa yang tidak bisa bicara. Hati yang luka membuatnya kehilangan separuh dari kesadaran yang ia miliki.
"Rin."
"Mama." Akhirnya, Rin angkat bicara. "Mereka, pergi bersama."
"Mereka? Si-- siapa? Ah, sudahlah. Jangan bahas yang lain dulu. Sekarang, kamu ganti baju. Kebetulan, tadi mama minta bibi buat antarkan pakaian buat kita. Mama minta bibi juga menyiapkan satu baju untukmu."
Sang mama mengeluarkan sepasang baju dari tas yang ada di sudut ruang rawat, lalu menyerahkan ke tangan anak sulungnya. Gadis itu masih tidak bicara. Matanya sayu sekali.
"Rin. Ganti baju sekarang. Semakin lama kamu kedinginan, semakin besar kemungkinan untuk sakit. Jangan tambah beban mama, Rin. Keluarga kita sudah punya banyak masalah. Jadi tolong, jangan di tambah lagi."
Rin masih tidak menjawab. Tapi, dia melirik ke arah papanya yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Rin beranjak tanpa bicara menuju kamar mandi.
Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang. Tapi paginya, apa yang Mela takutkan terjadi. Rin demam akibat kehujanan. Dia pun harus di rawat di ruang rawat sebelah. Untungnya, demam Rin tidak terlalu parah. Jadi, tidak butuh perawatan yang berat. Dia hanya perlu beristirahat setelah diberikan obat penurun panas.
"Rin. Gimana perasaan kamu sekarang?" Sang mama bertanya sambil berjalan mendekat.
Rin yang sejak tadi melamun, langsung mengalihkan pandangannya dari jendela kamar rawat ke arah sang mama. Dengusan pelan ia lepaskan. "Sudah lebih baik, Ma."
"Syukurlah."
"Heh. Rin, apa yang terjadi sih sebenarnya? Kenapa kamu main hujan-hujanan, hm? Gak puas ya main hujan-hujanan saat masih kecil."
Rin tidak menjawab. Sebaliknya, dia memberikan tatapan serius ke arah mamanya. "Mama. Aku bersedia pergi ke desa. Aku bersedia menikah dengan pria desa yang kakek jodohkan itu."
Seketika, wajah Mela berubah. Entahlah. Entah harus bahagia, kaget, atau sedih. Mela sendiri tidak tahu dengan perasaan yang mana yang lebih kuat yang bisa ia rasakan saat ini. Tapi yang jelas, ucapan anak sulungnya itu sungguh sangat mengejutkan buat Mela.
"Rin. Kamu ... apa maksudnya?"
"Tidak ada maksud. Aku siap pergi ke desa untuk menikah. Hanya itu saja."
"Kamu yakin?"
"Iya."
"Lalu, Marvel?"
Rin malah tertawa pahit. Hanya sesaat. Karena detik berikutnya, gadis itu malah menangis sambil mengigit punggung tangannya dengan kuat.
Sang mama yang melihat ulah anaknya itu langsung di buat panik. "Rin. Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Jangan bikin mama panik, Rin."
Susah payah Rin berusaha menahan kepiluan yang sedang menyusup ke dalam hatinya. Saat berhasil, dia pun berucap. "Marvel dan Yara kabur bersama, Ma."
"Apa! Jangan bercanda kamu, Rin." Kaget Mela bukan kepalang.
"Mana mungkin. Mana mungkin aku bercanda di saat situasi kita sedang kritis, Ma. Mereka kabur bersama. Itulah kenyataannya."
"Tidak. Mama tidak percaya. Kamu jangan asal bicara. Bagaimana bisa adikmu melakukan hal itu, Rin!"
Rin malah semakin tergugu. "Mama tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya, Ma." Kali ini, nada bicara Rin meninggi. Lebih lantang dari sebelumnya.
Saat itu, Mela masih tidak bisa percaya. "Tidak. Mana mungkin Yara melakukan hal gila ini. Sudah kabur dari rumah agar tidak menunaikan tanggung jawab, sekarang malah kabur dengan pacar kakaknya. Bagaimana bisa begitu? Yara tidak mungkin sebodoh itu, Rin. Tidak mungkin."
Kali ini, Rin malah tertawa sambil menangis.
"Mama bilang tidak mungkin? Benar, aku juga tidak percaya awalnya. Aku tidak percaya adikku akan bersikap gila. Dia tega menyakiti hati kakaknya hanya karena tidak ingin menikah."
"Rin."
"Aku sudah buktinya, Ma. Tuduhan untuk Yara bukan hanya sebatas tuduhan yang tak beralasan. Aku punya bukti. Yara menginap di apartemen Marvel malam itu. Ku temukan pakaiannya. Ku dengar kata saksi yang mengucapkan dengan jelas kalau mereka bersama malam itu."
"Kenapa, Ma? Kenapa mereka begitu? Kenapa mereka malah tega mengkhianati aku? Mereka adalah dua orang terdekat yang paling aku percaya. Aku menyayangi mereka berdua. Tapi kenapa mereka malah-- Kenapa? Mereka terlalu kejam."
Air mata Rin jatuh bagai air hujan turun dengan sangat deras. Sungguh, luka hatinya terlalu parah. Rasanya teramat sakit. Dua orang yang paling dia percaya. Dua orang yang sangat ia sayangi malah mengkhianati dirinya. Dunia mana yang tidak akan runtuh bagi Rin sekarang.
"Rin."
Sang mama kehabisan kata-kata untuk di ucapkan. Yang ia bisa hanya memanggil nama Rin dengan nada pelan. Walau bagaimanapun, Rin dan Yara adalah anaknya. Siapa yang harus ia bela sekarang? Dia juga tidak tahu.
"Rin. Mama tidak tahu harus berkata apa sekarang. Tapi, satu hal yang mama minta padamu. Tolong, Nak. Jangan bicara soal ini pada papamu."
Rin langsung menoleh. Lalu, memberikan tatapan tajam yang lekat pada Mela. Hati Mela semakin terasa tak karuan. Perasaan bersalah, sedih, juga sangat cemas. Semua berkumpul jadi satu dalam hatinya saat ini.
"Rin. Mama tidak berniat untuk membela Yara, Nak. Hanya saja, kondisi papa mu sedang tidak baik-baik saja. Kamu juga tahu sendiri, bukan? Papa mu, kondisinya sangat buruk saat ini. Jika papa mu tahu apa yang Yara lakukan, dia akan, dia akan drop, Rin."
Rin langsung menundukkan wajah. Mamanya benar. Apa yang baru saja mamanya katakan adalah fakta. Kondisi papanya buruk. Jika tahu apa yang adik dan pacarnya lakukan, maka tidak menutup kemungkinan kalau, papanya akan hilang kendali gara-gara emosi yang memuncak.
"Rin."
"Aku ingin sendiri sekarang, Ma. Biarkan aku istirahat dengan tenang. Aku sudah sangat lelah."
Mamanya mengangguk pelan. "Baiklah. Panggil mama jika kamu butuh sesuatu, Rin."
Rin tidak menjawab. Sang mama pun langsung beranjak walau dengan langkah yang berat. Ruangan itu hening sesaat setelah kepergian Mela.
*
Karena kesanggupan Rin untuk pergi ke desa buat menikah dengan pria desa itu, papanya pulih lebih cepat dari yang diprediksikan. Hari ini, orang tua itu sudah kembali ke rumah. Walau wajahnya masih terlihat pucat, tapi raut bahagia bisa dilihat cukup jelas dari wajahnya.
"Rin. Terima kasih banyak."
"Untuk apa?"
"Karena kamu sudah bersedia pergi ke desa untuk melanjutkan wasiat yang kakek mu buat. Papa sangat senang."
Rin tidak menjawab. Namun hatinya berkata.
'Papa bahagia? Tapi aku sangat terluka. Aku kehilangan mimpi indah ku hanya dalam sekejap. Itu rasanya luar biasa menyakitkan."