NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 10

​Mutiara berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka lebar. Matanya menyisir deretan pakaian yang tertata sangat rapi dan lengkap, mulai dari daster rumahan yang nyaman, seragam kerja, hingga gaun tidur sutra.

Namun, tujuannya hari ini berbeda. Ia ingin menemui Fajar, pria yang selama tiga tahun ini mengisi hatinya, tapi kini terasa asing.

"Aku benar-benar beruntung menikah dengan pria super kaya seperti om Arkan, karena baju saja sudah disiapkan. Bahkan sampai----"

Mutiara tidak meneruskan ucapannya, pipinya merah merona karena di sana juga ada segitiga pengaman dan bahkan kacamata pelindung.

Saat dia mengambil kedua benda tersebut, ternyata benar-benar ukurannya. Dia sampai berpikir kalau suaminya yang sekarang itu sudah benar-benar mengetahui ukuran tubuhnya, walaupun mereka hanya melakukannya sekali saja.

"Gila! Apa ini kelebihan menikah dengan pria tua? Dia bisa langsung mengerti kita dan tahu ukuran tubuh kita gitu?"

Mutiara tersenyum malu-malu, lalu ia menjatuhkan pilihan pada sebuah kemeja premium dengan potongan slim-fit dan celana bahan yang jatuh sempurna di kakinya. Kain mahal itu membalut tubuh Mutiara.

Memberikan kesan elegan sekaligus tegas. Saat ia bercermin, ia tidak melihat lagi Mutiara yang rapuh. Ia melihat wanita berkelas yang siap mengambil kembali harga dirinya.

"Ternyata kalau pakai baju mahal aku cantik juga, kelihatan seperti orang kaya," ujar Mutiara Sambil tertawa kecil.

Dia menertawakan dirinya yang terlalu norak, tetapi walau bagaimanapun juga dia merasa bersyukur dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya.

"Mending turun buat sarapan dulu, setelah itu berpamitan untuk menyelesaikan semuanya."

​Ketika dia tiba di ruang makan, Mutiara disambut oleh pemandangan yang menyejukkan hati. Di sana nenek Mia dan Arkan sedang berbincang hangat.

"Pagi, Nek."

Mutiara mendekat ke arah neneknya, lalu dia mengecup kening neneknya dengan penuh kasih sayang. Nenek Mia tersenyum hangat sambil mengelus lengan wanita yang kini sudah bersuami itu.

"Pagi, Tiara. Kamu cantik sekali hari ini," puji Nenek Mia dengan senyum lebar.

​Arkan menarik kursi untuknya, "Sarapan dulu. Kita butuh energi untuk memulai hari yang baru, kan?"

"Ya," jawab Mutiara.

​Mutiara tersenyum tulus. Melihat keakraban Arkan dan neneknya, ia merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, ada rumah yang menunggunya kembali.

​"Oiya, kamu sudah rapi begini mau ke mana?"

"Mau pergi ke tempat kerja," jawab Mutiara.

"Loh, kok mau pergi ke tempat kerja? Kamu itu sudah jadi istri aku loh, walaupun memang itu adalah hak kamu untuk bekerja setelah kita menikah, tetapi apa tidak sebaiknya kamu tinggal di rumah saja menemani Nenek?"

"Untuk saat ini memang aku tidak berencana untuk bekerja, aku hanya ingin ke tempat kerjaku untuk mengundurkan diri. "

"Baguslah kalau seperti itu, kalau memang kamu membutuhkan uang, berapa pun akan aku kasih. Nggak usah kerja aja, temani Nenek di masa tuanya."

"Ya, tapi untuk uang nggak perlu, Om sudah kasih aku kartu. Pas aku cek uangnya banyak banget loh, Itu sudah lebih dari cukup."

"Ya sudah, kalau begitu sarapan dulu. Nanti kalau sudah selesai sarapan, aku akan antarkan kamu ke tempat kerja."

Nenek Mia yang sejak tadi memperhatikan obrolan keduanya langsung menegur keduanya.

"Kalian ini sudah nikah loh. Apa tidak sebaiknya kalian mengganti panggilan?"

Mutiara dan Arkan saling pandang, walaupun mereka sudah menikah tetapi memang belum saling mengenal.

"Tapi menurutku memanggil Om itu lebih romantis, Nek."

"Dasar kamu itu, ya udah terserah kamu aja."

Setelah sarapan Arkan benar-benar mengantarkan Mutiara, saat tiba di depan perusahaan milik Fajar, pria itu sempat terdiam sejenak. Lalu, dia menolehkan wajahnya ke arah Mutiara dan berkata.

"Ini beneran tempat kerja kamu?"

"Iya."

"Lalu, pria yang menjadikan kamu pion itu adalah pemilik perusahaan ini?"

"Iya, makanya aku mau mengundurkan diri. Memangnya kenapa Om? Om kenal sama pemilik perusahaan ini?"

"Udah jangan dibahas, kamu sekarang mengundurkan diri saja. Kalau sudah, nanti kamu pulang dan temani nenek di rumah. Atau, kalau misalkan kamu mau jalan-jalan, minta diantar sama sopir."

"Oke," ujar Mutiara.

Wanita itu berpamitan kepada suaminya, setelah itu Mutiara turun dari mobil dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut.

​Langkah kaki Mutiara menggema di koridor kantor Fajar. Begitu pintu ruangan terbuka, suara bariton yang sudah sangat ia hafal langsung menyambar tanpa ampun.

"Bagus ya, kamu! Baru ingat kerja? Dua hari kamu menghilang tanpa kabar! Kamu pikir karena kita pacaran, kamu bisa seenaknya bolos kerja?"

​Mutiara diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Hal ini justru membuat Fajar semakin meradang.

"Jangan diam saja! Aku bisa pecat kamu sekarang juga kalau kamu masih tidak tahu aturan. Ingat, Mutiara, posisi kamu di sini tetap karyawan!"

​Mutiara melangkah maju, menatap tepat ke manik mata Fajar dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Terima kasih sudah mengingatkan posisi saya, Pak. Terima kasih sudah mengobati nenek dan memberikan luka yang dalam untuk saya. Silakan pecat saya sekarang kalau memang itu yang anda mau. Atau kalau anda terlalu pengecut untuk melakukannya, biar saya yang mempermudah jalanmu. Saya mengundurkan diri."

​Fajar tertawa meremehkan, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesaran. Mutiara itu merupakan gadis penurut, wanita yang begitu mencintai dirinya sampai rela hubungan mereka disembunyikan selamanya ini.

"Mengundurkan diri? Jangan membuat lelucon. Tiga tahun kita bersama, Tiara. Kamu tidak akan bisa hidup tanpa pekerjaan ini, apalagi tanpa aku. Jangan drama hanya karena aku tegur dan juga cemburu."

"Cemburu?"

"Ya, kamu bertingkah seperti ini pasti karena cemburu terhadap Rena, kan? Udah deh, nggak usah banyak tingkah. Aku udah bilang sama kamu, hubungan kita akan tetap berlanjut. Yang penting kamu nurut sama aku."

"Maaf, tapi sekarang aku bukan lagi wanita yang bisa kamu perdaya."

"Maksud kamu bagaimana?" tanya Fajar dengan heran dan mulai penasaran.

​Tanpa sepatah kata pun Mutiara mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya, lalu meletakkannya di atas meja. Surat Pengunduran Diri.

"Tanda tangani. Sekarang."

​Fajar mendengus, dia merasa wanita yang ada di depannya hanya sedang menggertak sambal. Dengan kasar, ia meraih pena dan membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut.

"Ini! Ambil mainanmu ini. Paling besok kamu sudah menangis memohon untuk kembali ke ruangan ini."

​Mutiara mengambil surat yang sudah ditandatangani itu dengan tangan yang stabil. Lalu, dia tersenyum dengan begitu lebar, bahkan menarik napas lega.

​ "Terima kasih, Pak Fajar. Saya akan segera menyerahkan ini ke bagian HRD. Mulai detik ini, saya bukan lagi bawahanmu, aku juga memutuskan bukan lagi kekasihmu. Kita putus, aku tak mau jadi lelucon lagi."

"Maksudnya apa?!" teriak Fajar.

​Mutiara tak menjawab, dia berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak, meninggalkan ruangan itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

​Fajar tertegun. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, lalu beralih ke meja yang kini terasa kosong. Amarahnya tiba-tiba berubah menjadi rasa sesak yang aneh. Ia mulai melempar berkas-berkas di mejanya dengan kalap.

​"Sialan! Dia benar-benar pergi?! Apa-apaan dia! Lihat saja, dia pasti akan merangkak kembali padaku!"

​Namun di dalam hatinya, Fajar mulai merasa takut. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat binar di mata Mutiara yang bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang kebencian dan kebebasan.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!