Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK PALSU
Klinik Keluarga Sehat terletak di kawasan Cengkareng—daerah pinggiran Jakarta yang padat, jalan sempit penuh motor parkir sembarangan, warung-warung kecil berjejer di kiri kanan.
Rajendra turun dari angkot—bayar tiga ribu—lalu berjalan menyusuri gang kecil sesuai alamat di dokumen.
Kliniknya ada di ujung gang—bangunan ruko dua lantai dengan cat hijau muda yang sudah kusam, papan nama "Klinik Keluarga Sehat" terpasang di atas pintu dengan huruf-huruf yang sebagian sudah luntur.
Tidak terlihat seperti klinik yang sering dikunjungi orang kaya seperti kakeknya.
Rajendra masuk lewat pintu kaca—disambut bau antiseptik campur pengharum ruangan yang terlalu kuat. Ruang tunggu kecil dengan kursi plastik biru, meja resepsionis di sudut, seorang suster muda duduk di belakang meja sambil main HP.
Suster itu mendongak begitu mendengar pintu terbuka.
"Selamat siang, mau periksa?" tanyanya dengan nada ramah tapi tidak terlalu antusias.
"Siang. Saya mau tanya soal rekam medis pasien lama."
Suster itu mengerutkan dahi.
"Pasien lama? Siapa namanya?"
"Dimas Baskara. Beliau katanya pernah periksa di sini tahun 2009."
Suster itu berpikir sebentar—lalu menggeleng pelan.
"Saya belum kerja di sini tahun 2009. Tapi bisa saya cek di komputer. Tunggu sebentar ya."
Ia membuka komputer tua di mejanya—layar CRT yang butuh beberapa detik untuk menyala—lalu mengetik sesuatu.
Rajendra berdiri di depan meja—menatap layar dari jauh, mencoba lihat apa yang muncul.
Suster itu scroll ke bawah—lalu berhenti.
"Ada. Dimas Baskara. Tanggal lahir 12 Agustus 1931. Periksa terakhir 15 Mei 2009."
Rajendra menatapnya—pikiran berputar cepat.
Data itu match dengan dokumen yang dibawa Daniel ke pengadilan.
Berarti dokumen itu memang dari sini.
Tapi apakah itu berarti dokumen itu asli?
"Bisa saya lihat detailnya?" tanya Rajendra hati-hati.
Suster itu menatapnya dengan tatapan curiga.
"Maaf, rekam medis pasien itu rahasia. Saya tidak bisa kasih lihat ke orang lain kecuali pasien sendiri atau keluarga langsung dengan surat kuasa."
"Saya cucu beliau. Beliau sudah meninggal tahun lalu."
Suster itu menatapnya—masih ragu.
"Kalau begitu Bapak harus bawa surat kematian dan kartu keluarga yang buktikan Bapak cucunya. Baru saya bisa kasih akses."
Rajendra mengangguk—sudah mengantisipasi ini.
"Oke. Tapi boleh saya tanya—siapa dokter yang periksa beliau waktu itu?"
Suster itu melihat layar lagi.
"Dr. Hendra Gunawan."
"Dr. Hendra ada di sini sekarang?"
"Tidak. Beliau sudah tidak praktik di sini lagi. Pindah ke klinik lain."
"Klinik mana?"
Suster itu menatapnya dengan tatapan lebih curiga sekarang.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa kasih informasi pribadi dokter. Kalau Bapak mau ketemu Dr. Hendra, Bapak bisa coba hubungi IDI atau cari sendiri."
Rajendra diam sebentar—lalu mengangguk pelan.
"Oke. Terima kasih."
Ia berbalik—berjalan keluar klinik—lalu berhenti di luar, berdiri di tepi jalan sambil berpikir.
Dr. Hendra Gunawan.
Dokter yang katanya periksa kakeknya.
Dokter yang mungkin tidak pernah ketemu kakeknya sama sekali.
Rajendra meraih ponselnya—menelepon Hartono.
Nada sambung berbunyi tiga kali—lalu suara Hartono menjawab.
"Rajendra? Sudah sampai klinik?"
"Sudah. Datanya ada di komputer mereka—match sama dokumen yang dibawa ke pengadilan. Tapi dokter yang periksa kakek sudah tidak ada di sini. Namanya Dr. Hendra Gunawan."
Hartono diam sebentar—terdengar suara kertas dikutak-katik di seberang.
"Dr. Hendra Gunawan... saya kenal nama itu. Tunggu, saya cek dulu."
Hening beberapa detik—lalu Hartono bicara lagi dengan nada lebih serius.
"Rajendra, Dr. Hendra Gunawan kehilangan izin praktik tahun 2008 karena kasus malpraktik. Dia tidak boleh praktik lagi sampai sekarang."
Rajendra terdiam—pikiran langsung jelas.
"Berarti dokumen itu palsu. Kalau Dr. Hendra kehilangan izin praktik tahun 2008, dia tidak mungkin periksa kakek tahun 2009."
"Tepat. Tapi kita butuh bukti lebih kuat—copy dokumen resmi dari IDI yang buktikan Dr. Hendra tidak punya izin praktik tahun 2009. Dan kita butuh saksi dari klinik itu yang bisa konfirmasi bahwa data di komputer mereka bisa dimanipulasi."
"Saya akan coba dapetin itu."
"Hati-hati. Kalau mereka tahu kamu investigasi, mereka bisa hapus data atau buat dokumen palsu tambahan."
"Saya paham."
Sambungan terputus.
Rajendra memasukkan ponselnya kembali ke saku—lalu berjalan kembali ke klinik.
Kali ini ia tidak masuk lewat pintu depan—tapi berjalan ke samping bangunan, mencari pintu belakang atau jendela yang terbuka.
Ada gang kecil di samping klinik—sempit, gelap, bau sampah.
Rajendra berjalan masuk—hati-hati jangan sampai injak genangan air kotor.
Di ujung gang ada pintu besi tua—mungkin pintu belakang untuk staff.
Ia mencoba dorong—terkunci.
Ia melirik ke atas—ada jendela kecil di lantai dua yang setengah terbuka.
Terlalu tinggi untuk dicapai langsung.
Rajendra melihat sekeliling—ada tumpukan kardus bekas di pojok gang.
Ia menyusun kardus itu jadi tangga darurat—naik perlahan—meraih tepi jendela—menarik tubuhnya ke atas.
Jendela terbuka lebih lebar—ruangan di dalamnya gelap, seperti gudang kecil.
Rajendra masuk—kaki mendarat di lantai keramik dingin—lalu berdiri diam sebentar, mendengar.
Tidak ada suara.
Ia berjalan pelan—keluar dari gudang—masuk ke koridor kecil.
Koridor itu menuju ke tangga—tangga turun ke lantai satu.
Rajendra turun perlahan—mencoba tidak buat suara.
Lantai satu lebih ramai—terdengar suara orang bicara dari ruang tunggu, suara komputer menyala, suara telepon berdering.
Ia berhenti di tangga terakhir—mengintip.
Ruang administrasi ada di sebelah kanan—pintunya terbuka sedikit—terlihat dua orang staff sedang kerja di depan komputer.
Rajendra menunggu—sampai salah satu staff berdiri dan keluar ruangan, mungkin ke toilet.
Tinggal satu orang.
Ia berjalan cepat—masuk ke ruangan—staff yang tersisa tidak menyadari karena sedang fokus ngetik sesuatu dengan headphone di telinga.
Rajendra melihat sekeliling—ada lemari arsip di pojok ruangan.
Ia berjalan ke sana—membuka laci paling atas—penuh folder manila berisi dokumen pasien.
Ia cari berdasarkan abjad—B untuk Baskara.
Ada.
Folder dengan label "Dimas Baskara - 1931".
Rajendra membuka folder itu—di dalamnya ada beberapa lembar kertas.
Lembar pertama: formulir pendaftaran pasien dengan tanda tangan—tapi tanda tangannya tidak mirip tanda tangan kakeknya yang Rajendra kenal.
Lembar kedua: catatan medis tanggal 15 Mei 2009—diagnosis awal demensia—tanda tangan Dr. Hendra Gunawan di bawah.
Rajendra menatap kertas itu—lalu meraih ponselnya, memfoto semua halaman dengan cepat.
Klik. Klik. Klik.
"Eh! Ada orang!"
Rajendra menoleh—staff yang tadi pakai headphone sekarang menatapnya dengan mata melebar.
"Siapa kamu?! Kenapa masuk ke sini?!"
Rajendra tidak jawab—ia menutup folder cepat—memasukkan ponsel ke saku—lalu berlari keluar ruangan.
"Maling! Ada maling!" teriak staff itu keras.
Rajendra berlari ke tangga—naik cepat ke lantai dua—kembali ke gudang—loncat keluar lewat jendela—mendarat di tumpukan kardus yang runtuh.
Ia bangkit cepat—lari keluar gang—keluar ke jalan besar—terus lari tanpa melihat ke belakang.
Suara orang berteriak masih terdengar dari belakang—tapi jauh.
Rajendra berhenti setelah berlari dua blok—bersembunyi di balik warung kecil—napas tersengal, jantung berdebar keras.
Ia meraih ponselnya—membuka galeri foto—melihat foto-foto dokumen yang baru diambil.
Jelas. Semua jelas.
Tanda tangan palsu. Diagnosis palsu. Dokter yang tidak punya izin praktik.
Ini cukup untuk buktikan dokumen itu palsu.
Rajendra menelepon Hartono lagi—kali ini Hartono langsung angkat.
"Rajendra? Ada apa?"
"Saya dapat bukti. Foto dokumen asli dari klinik. Tanda tangannya palsu. Dan gue bisa buktikan Dr. Hendra tidak punya izin praktik tahun 2009."
Hartono terdiam sebentar—lalu bicara dengan nada kagum tapi juga khawatir.
"Kamu dapat dari mana?"
"Jangan tanya. Yang penting kita punya bukti."
"Oke. Kirim ke email saya sekarang. Saya akan analisis dan siapkan untuk sidang berikutnya."
"Siap."
Rajendra menutup telepon—lalu mengirim semua foto ke email Hartono.
Setelah semua terkirim, ia duduk di tepi jalan—masih napas terengah—menatap jalanan yang ramai.
Ponselnya bergetar—pesan dari Dina.
"Bro, lu di mana? Arief bilang besok kita harus full day testing buat demo Senin. Lu bisa datang?"
Rajendra menatap pesan itu—lalu mengetik balasan.
"Gue bisa. Besok gue datang pagi."
Balasan datang cepat.
"Oke. Btw lu oke? Suara lu di telpon tadi kayak abis lari marathon."
Rajendra tersenyum tipis.
"Gue oke. Cuma capek dikit."
"Istirahat yang cukup ya. Jangan sampe sakit. Kita butuh lu fit buat Senin."
Rajendra memasukkan ponselnya kembali ke saku—lalu berdiri, berjalan ke halte bus terdekat.
Hari ini produktif.
Dapat bukti dokumen palsu.
Besok fokus ke LokalMart.
Senin demo untuk investor.
Dua minggu lagi sidang pengadilan lagi.
Semuanya berjalan bersamaan—seperti juggling bola api yang kalau satu jatuh semuanya ikut terbakar.
Tapi dia tidak akan jatuh.
Tidak kali ini.
Bus datang sepuluh menit kemudian—penuh sesak dengan orang pulang kerja.
Rajendra masuk—berdiri di pojok belakang karena tidak ada tempat duduk—menatap jendela yang menampilkan Jakarta sore hari.
Macet. Panas. Berisik.
Tapi entah kenapa, hari ini dia merasa sedikit lebih ringan.
Karena dia tahu—dia tidak sendirian.
Ada Hartono yang bantuin urusan hukum.
Ada Arief, Rian, Dina yang bantuin urusan bisnis.
Ada Bambang yang percaya sama visinya.
Ada Anton yang kasih modal dan koneksi.
Semua orang ini percaya padanya.
Dan dia tidak akan mengecewakan mereka.
Malam itu, Rajendra sampai kamar kos jam delapan malam.
Lelah. Kotor. Berkeringat.
Ia langsung mandi—air dingin yang menyegarkan—lalu pakai baju rumah sederhana, duduk di tepi kasur, membuka laptop.
Email dari Hartono sudah masuk.
Subjek: Analisis Dokumen Klinik
Rajendra,
Saya sudah analisis foto-foto yang kamu kirim. Beberapa temuan:
1. Tanda tangan di formulir pendaftaran tidak match dengan tanda tangan almarhum di dokumen resmi lainnya.
2. Dr. Hendra Gunawan kehilangan izin praktik sejak 15 Maret 2008 berdasarkan keputusan IDI. Saya sudah dapat copy surat keputusan resmi dari teman di IDI.
3. Diagnosis "awal demensia" di catatan medis terlalu general dan tidak ada detail pemeriksaan klinis—ini mencurigakan karena diagnosis demensia biasanya butuh tes kognitif yang detail.
Kesimpulan: dokumen ini kemungkinan besar palsu atau setidaknya dibuat dengan prosedur yang tidak sah.
Sidang berikutnya kita akan hadirkan: - Copy surat keputusan IDI tentang pencabutan izin Dr. Hendra - Ahli grafologi untuk analisis tanda tangan - Dr. Sutanto sebagai saksi ahli counter
Kita punya peluang bagus untuk menang.
Salam,
Hartono
Rajendra membaca email itu dua kali—lalu tersenyum kecil.
Peluang bagus untuk menang.
Tapi dia tahu—ini baru setengah jalan.
Sidang masih dua minggu lagi.
Dan dalam dua minggu, banyak hal bisa terjadi.
Ia menutup laptop—berbaring di kasur—menatap langit-langit.
Besok harus bangun pagi.
Testing marathon untuk platform LokalMart.
Harus pastikan semuanya perfect sebelum demo Senin.
Tidak boleh ada bug. Tidak boleh ada error. Tidak boleh ada yang salah.
Karena ini kesempatan terakhir untuk convince investor besar.
Kalau gagal, LokalMart bisa mati sebelum sempat hidup.
Rajendra menutup mata—mencoba tidur.
Tapi pikiran tidak berhenti.
Selalu ada sesuatu yang harus dipikirkan. Selalu ada masalah yang harus diselesaikan. Selalu ada tekanan yang harus ditanggung.
Kadang dia bertanya—kapan ini akan selesai?
Kapan dia bisa napas lega tanpa mikirin pengadilan, tanpa mikirin investor, tanpa mikirin musuh di mana-mana?
Tapi jawaban selalu sama.
Belum.
Belum sekarang.
Mungkin tidak akan pernah.
Karena begitulah hidup—satu masalah selesai, masalah baru datang.
Yang bisa dia lakukan cuma terus bergerak maju.
Satu langkah dalam satu waktu.
Sampai dia sampai di tempat yang dia mau.
Atau sampai dia tidak bisa jalan lagi.
[ END OF BAB 13 ]