NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PERSAHABATAN DAN LANGKAH PERTAMA AKADEMIK

Setelah insiden penyerangan di perbukitan oleh anak buah Yogi Marla, Rimba memutuskan untuk tidak langsung berkonfrontasi lebih jauh. Ia tahu bahwa musuh yang ia hadapi kali ini memiliki akar yang kuat di Kota Provinsi. Untuk itu, ia memilih untuk kembali menenggelamkan diri dalam latihan. Di dalam Dimensi Independen, Rimba menghabiskan waktu sekitar sepuluh bulan—waktu yang sangat cukup bagi seorang praktisi tingkat lima untuk memperhalus kontrol energinya. Baginya, kekuatan tanpa presisi hanyalah tenaga kasar yang sia-sia.

Pagi itu, Rimba keluar dari dimensinya dengan tubuh yang terasa lebih ringan namun padat oleh energi. Ia menuruni tangga rumah pemberian Kakek Jayadi dengan langkah santai. Di ruang makan, aroma nasi goreng dan telur mata sapi sudah menggoda selera.

"Selamat pagi, Nak Rimba. Ayo sarapan dulu, ini sudah disiapkan," sapa Bu Mamai dengan ramah, didampingi Bu Ida yang sedang merapikan meja.

"Pagi, Bu. Wah, harum sekali," jawab Rimba sambil duduk. Ia menyantap sarapan itu dengan lahap. Kehangatan rumah ini benar-benar menjadi oase baginya yang selama ini terbiasa hidup sebatang kara. Setelah selesai, ia berpamitan dengan sopan. "Bu Mamai, Bu Ida, saya berangkat ke kampus dulu ya."

Sebelum benar-benar menuju Universitas Buana Cakrawala, Rimba memacu motor besarnya mencari mesin ATM. Ia menyadari bahwa di kota besar seperti ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan pembayaran digital atau emas batangan dari dimensi jika ingin urusannya lancar. Ia menarik uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah, sebuah angka yang cukup tebal untuk dimasukkan ke dalam ransel selempangnya.

Tak jauh dari sana, ia mampir ke sebuah minimarket. Rimba membeli beberapa bungkus cokelat kualitas premium, berpikir bahwa mungkin ia akan bertemu teman baru yang bisa diajak berbagi. Tak lupa, beberapa botol minuman energi juga ia masukkan ke dalam tasnya.

Saat ia kembali ke motornya, sebuah kehadiran hitam pekat melompat dengan lincah ke jok belakang. Itu adalah Cesar. Serigala hitam itu telah tumbuh pesat selama sepuluh bulan di dalam dimensi. Tubuhnya tidak lagi gempal seperti anak anjing; sekarang Cesar terlihat ramping, atletis, dengan kaki-kaki yang panjang dan kuat. Bulu hitamnya yang lebat dan tatapan matanya yang tajam mulai menunjukkan jati dirinya sebagai predator puncak, bukan lagi peliharaan biasa.

"Ayo, Cesar. Kita lihat seperti apa dunia kampus hari ini," gumam Rimba.

Di persimpangan jalan menuju kampus, lalu lintas sedikit tersendat. Rimba menghentikan motornya di samping sebuah mobil SUV keluarga. Kaca tengah mobil itu turun, menampakkan wajah seorang gadis kecil yang imut, mungkin berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Matanya membulat besar menatap ke arah jok belakang motor Rimba.

"Kak, itu anjing apa serigala?" tanya gadis itu dengan suara polos yang nyaring.

Rimba menoleh dan tersenyum ramah. "Ini serigala, Dik."

"Wah! Lucu sekali, imut! Bulunya hitam, cantik," serunya kegirangan. "Aku boleh minta tidak, Kak? Aku mau pelihara di rumah."

Rimba terkekeh pelan. "Wah, kalau yang ini tidak bisa, Adik kecil. Dia ini sahabatku, bukan barang pemberian."

Wajah gadis itu langsung berubah cemberut. Ia berpaling ke arah ibunya yang sedang menyetir. "Ma... Mama... kakak itu pelit!" adunya dengan nada manja yang menggemaskan.

Rimba tertawa kecil. Ia merogoh tasnya, mengambil sebatang cokelat berukuran besar yang baru dibelinya tadi, lalu mengulurkannya melalui jendela mobil. "Ini untukmu sebagai gantinya. Jangan bilang kakak pelit lagi, ya?"

Mata gadis itu kembali berbinar. Ia menerima cokelat itu dengan semangat. "Terima kasih, Kakak! Hehehe... ternyata Kakak tidak pelit, cuma serigalanya saja yang tidak boleh diminta."

Kemacetan mulai terurai. Mobil itu mulai melaju perlahan. Gadis kecil itu mengeluarkan kepalanya sedikit dari jendela yang masih terbuka dan berteriak, "Kakak! Kalau nanti ketemu lagi, boleh ya aku main sama serigalanya?!"

Rimba hanya menjawab dengan acungan jempol dan senyuman lebar saat motornya melesat mendahului mobil tersebut.

---

Raungan mesin Harley Davidson milik Rimba memasuki area parkir kampus Universitas Buana Cakrawala. Begitu ia turun, Cesar ikut melompat turun dengan anggun. Serigala itu tidak lagi bermanja-manja di kaki Rimba seperti dulu; ia berdiri tegak di samping tuannya, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan waspada, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi yang sangat setia.

Langkah Rimba di sepanjang selasar parkiran disambut oleh banyak sapaan.

"Hai, Rimba!"

"Pagi, Rimba!"

"Halo, jagoan!"

Rimba membalas sapaan itu dengan anggukan dan senyuman sopan. Ia menyadari banyak mahasiswa yang menatap Cesar dengan perasaan campur aduk antara kagum dan takut. Mahasiswa laki-laki yang baru bisa ia kenali dari kepala mereka yang masih botak plontos sisa orientasi kemarin, sementara para mahasiswi tampak sangat modis hingga ia sulit membedakan mana yang junior dan mana yang senior.

"Heo, Rimba! Tunggu!" sebuah teriakan terdengar dari arah belakang.

Rimba menoleh dan melihat pria yang kemarin memicu aksi "Salut" di kantin berlari kecil mendekatinya. Pria itu sempat mengerem mendadak saat melihat sosok Cesar yang gagah di samping Rimba.

"Waduh... Rim, ini... ini serigala kan? Benar-benar serigala?" tanyanya dengan mata melotot.

"Iya, namanya Cesar. Tenang saja, dia sudah terlatih," jawab Rimba santai. "Apa kegiatanmu hari ini?"

"Aku mau mengurus Kartu Rencana Studi (KRS) untuk semester ini. Kamu juga?"

"Sama. Aku juga belum tahu siapa dosen waliku."

"Kalau begitu ayo kita ke gedung Tata Usaha dulu. Eh, kenalkan, namaku Firman," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.

"Rimba," jawabnya singkat. Sambil berjalan beriringan dengan Cesar yang mengikuti dengan langkah tenang, Rimba bertanya, "Jurusan apa, Fir?"

"Aku di Fakultas Hukum. Kalau kamu?"

"Aku di Teknik Informatika, IT."

"Wah, anak IT ternyata. Pantas kau terlihat sangat tenang, biasanya anak IT itu logikanya kuat," seloroh Firman.

Mereka tiba di gedung Tata Usaha, sebuah bangunan enam lantai yang juga berfungsi sebagai kantor para dosen. Suasananya cukup ramai oleh mahasiswa yang mengantre. Firman menuju salah satu loket, sementara Rimba mendekati loket yang kebetulan sedang kosong.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya di balik kaca pembatas.

"Saya ingin mengurus rencana studi semester ini, Bu," kata Rimba lugas.

"Nama?"

"Rimba Dipa Johanson."

Wanita itu mengetikkan nama tersebut di komputernya. Matanya sedikit memicing saat melihat data di layar monitor. "Rimba Dipa Johanson... jurusan IT? Jalur beasiswa khusus?"

"Benar, Bu."

Sebuah printer di sampingnya berderit, mengeluarkan selembar kertas resmi. "Ini lembar rencana studimu. Bawa ini ke Pak Ramli Subroto. Beliau adalah dosen walimu. Ruangannya ada di lantai lima, di deretan ruang dosen IT. Setelah beliau tanda tangan dan memberikan cap, bawa kembali ke sini."

Rimba menerima kertas itu dan berjalan menuju lift bersama Firman. Di dalam lift yang cukup sempit, Cesar duduk diam di depan kaki Rimba, membuat beberapa mahasiswa lain yang ada di dalam lift merapat ke dinding karena takut. Firman keluar di lantai empat, sementara Rimba melanjutkan ke lantai lima.

Setelah menelusuri koridor, Rimba menemukan papan nama bertuliskan "Ramli Subroto, M.T.". Ia mengetuk pintu kayu itu dengan pelan.

"Masuk!" sebuah suara berat terdengar dari dalam.

Rimba masuk dan melihat seorang pria berusia pertengahan empat puluh tahun yang tampak sibuk merapikan tumpukan kertas dan jurnal di meja kerjanya. Rimba duduk di kursi di hadapan meja tersebut, sementara Cesar langsung mengambil posisi tiarap di dekat kaki tuannya.

Pak Ramli mendongak, menyesuaikan kacamatanya, lalu tertegun sejenak melihat Rimba, dan lebih tertegun lagi melihat Cesar. Namun, ia kemudian tersenyum tipis.

"Wah... jadi kamu yang namanya Rimba? Mahasiswa baru yang membuat gempar karena membatalkan masa orientasi tahun ini?" tanya Pak Ramli dengan nada yang tidak menghakimi, melainkan sedikit geli.

Rimba tersenyum malu. "Ah, bukan membatalkan, Pak. Hanya... sedikit interupsi."

"Hahaha, terserah kamu sajalah. Ada yang bisa saya bantu?"

Rimba menyerahkan lembar studinya. Pak Ramli memeriksanya sebentar, mengangguk-angguk kecil, lalu membubuhkan tanda tangan dan cap basah di atas kertas tersebut. "Semua sudah sesuai. Ada lagi?"

"Tidak ada, Pak. Terima kasih banyak."

"Satu pesan saya, Rimba. Di kampus ini, kecerdasan memang penting, tapi karakter lah yang menentukan seberapa jauh kamu akan melangkah. Saya harap kamu bisa fokus pada studimu," ucap Pak Ramli bijak.

"Baik, Pak. Permisi."

Rimba kembali ke lantai dasar, menyerahkan lembaran itu ke loket yang sama. Ibu petugas itu kembali mengetik sesuatu di komputernya dan memberikan paraf terakhir. "Selesai. Jadwal kuliahmu sudah sinkron. Kau bisa mengeceknya di portal web kampus kapan saja melalui ponselmu."

"Terima kasih, Bu."

Rimba melangkah keluar dari gedung Tata Usaha yang mulai terasa pengap oleh kerumunan mahasiswa. Di depannya terbentang lapangan rumput hijau yang sangat luas dengan lima pohon beringin raksasa yang tampak sangat tua dan rindang. Angin sepoi-sepoi berhembus, menerbangkan beberapa helai daun kering.

Rimba tidak berniat ke kantin yang bising. Ia berjalan menuju salah satu pohon beringin yang paling besar di pojok lapangan. Cesar mengikuti di sampingnya dengan langkah mantap. Di bawah naungan pohon yang sejuk itu, Rimba duduk bersandar pada akar beringin yang menonjol keluar dari tanah. Cesar pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Rimba, matanya yang tajam tetap terjaga mengamati sekitar.

Rimba mengeluarkan satu botol minuman dingin dari tasnya, membuka tutupnya, dan menyeruputnya perlahan. Ia menatap gedung-gedung kampus di sekelilingnya. Suasana ini benar-benar kontras dengan kesunyian desa Kenanganya atau keganasan dimensinya. Di sini, di bawah pohon ini, ia merasa menjadi manusia biasa untuk sejenak—seorang mahasiswa yang sedang menunggu petualangan akademiknya dimulai.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!