kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Di balik jendela paviliun yang tertutup gorden tipis, Kirana berdiri mematung. Ia ternyata memaksakan diri turun untuk mencari Alendra. Ia melihat segalanya melalui celah kecil. Ia melihat bagaimana Alendra mencium kening Patricia, sesuatu yang dilakukan Alendra dengan penuh perasaan yang tidak pernah ia rasakan. Namun ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Kirana mencengkeram dadanya. Rasa sesak itu datang lagi, lebih hebat. Ia terbatuk, dan kali ini darah yang keluar lebih banyak. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan api cemburu yang luar biasa.
Kirana membatin dengan suara parau "Jadi Najwa juga mendukungmu, Patricia? Kalian semua menganggapku penghalang? Baiklah... jika aku harus pergi dari dunia ini, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia begitu saja."
Najwa keluar dari paviliun dengan hati yang berat. Ia bertemu Kirana di koridor menuju rumah utama. Gestur Kirana sangat dingin, matanya merah.
"Kirana, kamu pucat sekali. Kamu harus periksa ke dokter..."
Kirana tersenyum getir, menepis tangan Najwa yang ingin menyentuhnya "Jangan pura-pura peduli, Najwa. Kamu baru saja dari paviliun itu, kan? Menikmati pemandangan suamiku yang sedang memuja madunya? Nikmati saja peranmu sebagai penonton, karena drama ini baru saja dimulai."
Kirana berjalan pergi dengan langkah angkuh namun goyah.
Ishaq yang baru saja berbicara dengan Alendra, melihat istrinya berdiri mematung di koridor." sayang...kenapa disini?"
" ah...aku menunggu mu mas" jawab Najwa tersenyum.
Ishaq langsung memeluk pinggang istrinya dari samping," ayo pulang sayang, sudah 15 menit meninggalkan bayi kita" bisik ishaq.
Di paviliun, Patricia kembali meringkuk, sementara Alendra berdiri di balkon rumah utama, menatap langit yang sudah keemasan dengan pikiran yang terbagi, antara istri yang ia cintai, Kirana dan cinta sejatinya yang baru saja ia temukan kembali dalam luka, Patricia.
***
Malam yang sunyi di kediaman Suhadi menjadi saksi bisu atas batin yang terkoyak. Di paviliun samping, Patricia baru saja selesai membersihkan diri. Uap air hangat masih menyelimuti kulitnya yang putih bersih...Saat ia berdiri di depan cermin kecil, ia menatap bayangannya sendiri dengan tatapan nanar.
Handuk putih yang melilit tubuhnya tak mampu menyembunyikan bekas-bekas keunguan yang menghiasi area dadanya hingga leher. Bahkan di bagian pahanya juga masih ada...Jejak itu masih ada, kontras dan nyata, mengingatkannya pada malam di gudang tua ketika Alendra menyelamatkannya dengan cara yang paling primitif sekaligus suci.
Di balik gorden jendela yang sedikit tersingkap, Kirana berdiri mematung. Matanya membelalak, pupilnya bergetar hebat melihat pemandangan di depan matanya. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat tanda-tanda itu.
Kirana membatin dengan rahang mengeras. "Setega itu kamu, Mas? Dengan kondisi dia yang sekarat, kamu justru meninggalkan tanda sedalam itu? Sesuatu yang bahkan tidak pernah ada di tubuhku selama beberapa bulan ini!"
Kirana membekap mulutnya sendiri, menahan isak tangis yang hampir meledak. Ia berbalik dan berlari kecil menuju kamar utama dengan langkah goyah, tangannya terus mencengkeram dadanya yang mulai terasa nyeri tertusuk-tusuk.
Di kamar utama, Alendra sudah bersandar di kepala ranjang, sedang membaca beberapa dokumen kantor. Begitu Kirana masuk dengan napas memburu dan wajah pucat pasi, Alendra segera meletakkan berkasnya.
"Kiran? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali." tanya Alendra lembut.
Kirana tidak menjawab. Ia langsung naik ke ranjang dan memeluk Alendra dengan posesif. Ia mencium Alendra dengan terburu-buru, seolah sedang mencoba menghapus bayangan Patricia dari ingatan suaminya. Gesturnya kasar, penuh dengan keputusasaan.
"Layani aku, Mas... Sekarang. Tunjukkan kalau aku ini istrimu!" ucap Kirana dengan suara seraknya, memang sudah beberapa hari ini ia tidak pernah melayani Alendra, karena ia merasa sakit setiap penyatuan, ia beralasan sedang datang bulan.
Alendra tertegun. Ia mencoba membalas sentuhan Kirana dengan lembut, namun ia bisa merasakan tubuh Kirana yang gemetar hebat. Saat mereka mulai menyatu, Kirana justru merasakan sakit yang luar biasa. Penyakitnya bereaksi hebat terhadap tekanan fisik dan emosi yang melonjak.
Setiap kali Alendra menyentuhnya, pikiran Kirana justru melayang pada sosok Patricia di paviliun. Ia membayangkan betapa ganasnya Alendra malam itu, betapa liarnya suaminya saat menggagahi gadis belia itu hingga meninggalkan bekas yang tak kunjung hilang.
Kirana meringis kesakitan, matanya terpejam rapat "Kenapa sakit sekali? Kenapa aku tidak bisa merasakannya seperti dia merasakannya?"gumamnya dalam hati.
Baru beberapa menit berlalu, Kirana mendadak mendorong dada Alendra dengan sisa tenaganya yang lemah. Wajahnya meringis kesakitan, peluh dingin membanjiri dahinya.
"Keluar... Keluar, Alendra! Pergi!"
Alendra terkejut, berusaha memegangi bahu Kirana "Kiran? Ada apa? Apa aku menyakitimu? Maaf..."
Kirana berteriak histeris dengan suara parau "PERGI! Aku benci melihatmu! Kamu hanya melakukannya padaku karena kewajiban! Matamu... matamu bicara kalau kamu memikirkan dia! Pergi ke paviliun itu kalau kamu mau! Pergi!"
Alendra terpaku di tepi ranjang. Ia melihat istrinya meringkuk membelakanginya, bahunya naik turun karena isak tangis yang tertahan. Alendra merasa sangat hina, ia merasa gagal menjadi suami bagi kedua istrinya. Ia memungut kaosnya, memakainya dengan gerakan lambat, lalu berjalan keluar kamar dengan hati yang hancur.
Begitu pintu tertutup, Kirana kembali terbatuk. Ia meremas sprei ranjangnya, merasakan sesak yang teramat sangat ia segera mengambil obatnya dalam botol yang kemasannya ia rubah menjadi vitamin, sehingga Alendra tida curiga. Di sisi lain, Alendra berdiri di balkon, menatap ke arah paviliun yang lampunya masih menyala.
Ia tidak tahu bahwa di dalam sana, Patricia juga sedang menangis, meraba bekas-bekas di tubuhnya yang menjadi tanda bahwa ia bukan lagi gadis suci, melainkan wanita yang terikat selamanya pada pria yang kini sedang diusir oleh istri pertamanya sendiri.
___
Pagi yang cerah di Jakarta tidak selaras dengan mendungnya hati penghuni kediaman Suhadi. Di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia yang mulai membusuk dan cinta yang tumbuh di tempat yang salah.
Di sebuah ruangan dokter yang dingin, Kirana duduk mematung. Jemarinya mencengkeram tas kulit mahalnya hingga buku-bukunya memutih. Di depannya, sang dokter menatapnya dengan raut wajah penuh simpati yang sangat dibenci Kirana.
"Kanker serviks Anda sudah memasuki stadium lanjut, Nyonya Kirana. Sel-selnya menyebar lebih cepat dari perkiraan kami. Saya mohon... untuk saat ini, hindari hubungan suami istri. Itu hanya akan memicu pendarahan hebat dan memperparah luka di rahim Anda." ucap sang Dokter dengan iba.
Kirana memejamkan mata, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang tirus. Ia teringat kejadian semalam, saat ia mencoba bersaing dengan Patricia namun tubuhnya justru mengkhianatinya dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Saran saya, segera lakukan pengobatan di Singapura atau Jerman. Setidaknya kita bisa memperlambat prosesnya..."ucapan Dokter berhenti saat Kirana memotong dengan suara bergetar namun tegas "Tidak, Dokter. Saya tidak akan pergi ke mana-mana. Jika saya pergi, gadis itu akan sepenuhnya mengambil alih suami dan posisi Saya. Saya lebih baik mati di sini sebagai nyonya rumah daripada berobat di sana dan pulang sebagai orang asing."