Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pantai Selatan dan Larangan Hijau
Perjalanan dari Imogiri menuju Pantai Parangtritis memakan waktu sekitar tiga puluh menit, menuruni jalanan aspal yang berkelok membelah bukit kapur. Angin malam yang tadinya sejuk berbau tanah dan bunga, kini perlahan berubah. Udara menjadi lengket, berat, dan berbau garam yang tajam.
Suara deru motor tua Seno perlahan kalah oleh suara gemuruh yang jauh lebih purba dan agung: Deburan ombak Samudra Hindia.
Mereka tidak berhenti di area wisata Parangtritis yang ramai lampu warung remang-remang. Seno membelokkan motornya ke arah barat, menuju Parangkusumo. Tempat ini lebih sunyi, lebih gelap, dan aura mistisnya jauh lebih pekat. Konon, di sinilah gerbang utama menuju Keraton Laut Selatan berada.
Seno memarkir motor di dekat gumuk pasir.
Dia turun, melepas helm, dan membiarkan angin laut yang kencang mengacak-acak rambutnya yang mulai memutih. Tatapannya lurus ke arah laut lepas yang hitam pekat. Di kejauhan, ombak bergulung-gulung setinggi rumah, menghantam bibir pantai dengan suara ledakan yang mengerikan.
BLAAAR!
Alya turun dari boncengan, memeluk tubuhnya sendiri. Dinginnya angin laut ini berbeda. Rasanya menusuk sampai ke sumsum tulang.
"Pak," Alya berteriak melawan suara ombak. "Ombaknya gede banget! Kita mau ambil air di sana? Itu namanya bunuh diri!"
Gulo, si Bajang, menyembulkan kepalanya dari dalam tas Alya. Begitu melihat hamparan air raksasa itu, matanya melotot. Dia mencicit ketakutan dan langsung masuk lagi ke dalam tas, menutup retsleting dari dalam. Gulo adalah makhluk hutan dan gunung; laut adalah neraka baginya.
Seno tidak menjawab Alya. Dia mengeluarkan bungkusan dari tas motornya.
Isinya bukan peralatan masak, melainkan sesajen sederhana: Kembang setaman (mawar, melati, kenanga), sebuah kelapa muda hijau (degan ijo), dan dupa.
Seno berjalan menuju Cepuri Parangkusumo, sebuah area berpagar tembok rendah di mana terdapat dua buah batu karang keramat: Batu Cinta. Batu tempat pertemuan legendaris antara Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama) dengan Kanjeng Ratu Kidul.
Seno duduk bersila di depan batu itu. Dia menyalakan dupa.
Asap dupa tidak naik ke atas, melainkan langsung terseret angin menuju ke laut, seolah ada yang menghisapnya dari sana.
Alya duduk di belakang Seno, memperhatikan dengan waswas.
Dia teringat satu pantangan paling terkenal di pantai ini: Jangan Pakai Baju Hijau.
Alya buru-buru memeriksa pakaiannya. Dia masih pakai kebaya lurik cokelat dan kain jarik dari Imogiri tadi. Aman. Jaket denimnya biru. Aman.
Tapi tunggu...
Alya meraba saku jaketnya. Ada bungkus permen rasa melon yang warnanya hijau mencolok.
Alya buru-buru membuang bungkus permen itu ke tempat sampah jauh-jauh. Better safe than sorry.
Seno selesai berdoa. Dia berdiri, lalu berjalan menuju bibir pantai.
Pasir pantai basah terasa dingin di kaki telanjang mereka.
Ombak datang menjilat-jilat ujung kaki Seno, buihnya putih bersinar di bawah cahaya bulan yang timbul tenggelam.
Seno mengeluarkan sebuah bambu kuning kecil (bumbung) yang ujungnya disumbat ijuk.
Dia memberikannya pada Alya.
DENGAR BAIK-BAIK. KITA TIDAK MENGAMBIL AIR LAUT. AIR LAUT ITU ASIN DAN PENUH AMARAH. KITA MENCARI 'AIR TAWAR' YANG KELUAR DARI PASIR SAAT OMBAK SURUT.
Alya mengerutkan kening. "Air tawar di pantai? Emang ada?"
Seno mengangguk.
ADA MATA AIR KEHIDUPAN YANG TERSEMBUNYI DI BAWAH PASIR INI. AIR ITU HANYA MUNCUL BEBERAPA DETIK SETELAH OMBAK BESAR MENGHANTAM, SEBELUM TERTUTUP AIR LAUT LAGI. ITU ADALAH 'AIR MATA' SAMUDRA. MURNI. TAWAR.
Tugas Alya adalah menunggu momen itu. Saat ombak surut, dia harus lari ke tengah, mencari gelembung air tawar di pasir, menyiduknya dengan bambu, lalu lari balik sebelum ombak berikutnya menghantam.
"Gila..." gumam Alya. "Ini mah Mission Impossible."
Seno menatap Alya tajam. Dia menunjuk dada Alya.
JANGAN TAKUT. LAUT BISA MENCIUM RASA TAKUT. KALAU KAMU RAGU, KAMU TENGGELAM. KALAU KAMU YAKIN, OMBAK AKAN MEMBERI JALAN.
Seno melangkah maju, berdiri pasang kuda-kuda di garis depan, tepat di mana ombak pecah. Dia akan menjadi tameng. Dia akan menggunakan tenaga dalamnya untuk memecah kekuatan ombak, memberi Alya celah waktu beberapa detik.
"Siap, Pak!" Alya mengencangkan ikatan jariknya (dia sudah menyingkapnya sedikit agar bisa lari). Dia memegang bambu itu erat-erat.
Ombak pertama datang.
Tingginya tiga meter. Dinding air hitam yang mengerikan.
WUUUSSSHHHH!
Seno tidak lari. Dia menghentakkan kakinya ke pasir. Dia mendorong kedua telapak tangannya ke depan dengan gerakan Silat Dapur: Jurus Membelah Bubur Panas.
Niat dan energi Seno berbenturan dengan ombak.
Secara ajaib, ombak itu pecah terbelah dua di depan Seno, airnya menghantam ke kiri dan kanan, menyisakan jalur kering di tengah-tengah.
Kekuatannya dahsyat. Kaki Seno amblas ke dalam pasir sampai betis, menahan gempuran ribuan ton air itu.
"SEKARANG!" teriak hati Seno yang bergema ke Alya.
Alya berlari sekencang kijang masuk ke jalur kering itu.
Dia memindai pasir basah dengan matanya yang sudah tajam.
Di mana? Di mana air tawarnya?
Di sekelilingnya, air laut bergemuruh. Buih-buih sisa ombak mendesis seperti ular.
Alya melihatnya.
Lima meter di depannya. Ada pusaran kecil di pasir yang mengeluarkan air bening yang tidak berbuih.
Itu dia!
Alya melompat, berlutut, dan membenamkan tabung bambunya ke titik itu.
Air masuk.
Gluk... gluk... gluk...
Satu detik. Dua detik.
Bambu penuh. Alya menyumbatnya kembali dengan ijuk.
Tapi dia terlalu lama.
Seno di garis depan sudah tidak kuat menahan ombak susulan.
Ombak kedua datang. Lebih besar. Lebih ganas.
Dan kali ini, ombak itu tidak sekadar air.
Puncak ombak itu membentuk wujud.
Kepala-kepala ular raksasa yang terbuat dari air hijau lumut.
Pasukan Nyi Blorong. Penjaga pantai yang tidak suka ada yang mencuri air suci mereka.
Ular-ular air itu mendesis, siap menerkam Alya yang masih berlutut di tengah pantai.
"ALYA! AWAS!" Seno, yang pertahanannya jebol, terlempar mundur oleh hantaman air.
Alya menoleh. Dinding air berbentuk ular itu sudah ada di atas kepalanya.
Dia akan mati. Dia akan diseret ke dasar laut dan dijadikan abdi dalem selamanya.
Tapi Alya tidak mau mati. Belum sekarang. Dia baru saja dimaafkan oleh gurunya. Dia baru saja punya keluarga baru.
Rasa takutnya berubah menjadi nekat.
Tangan Alya bergerak sendiri.
Dia tidak lari. Dia justru berdiri tegak menghadapi ombak itu.
Dia teringat latihan melempar garam dan membalikkan mangga.
Ikuti tenaga lawan. Balikkan.
Alya tidak punya sutil. Tapi dia punya bambu berisi Air Suci di tangan kirinya, dan tangan kanannya bebas.
Dia merogoh saku. Garam habis (sudah dipakai lawan prajurit bayangan).
Alya berteriak pada laut.
"GUE NGGAK PAKAI BAJU HIJAU! GUE CUMA MAU MINTA AIR DIKIT BUAT NYELAMATIN ORANG! PELIT AMAT SIH!"
Teriakan jujur dan polos itu... anehnya memiliki kekuatan.
Alya menghentakkan tangan kanannya ke depan, meniru gerakan Seno tadi.
Ombak ular itu ragu sejenak.
Di dunia gaib, kejujuran adalah mata uang yang langka. Kebanyakan manusia datang ke sini meminta kekayaan dengan penuh keserakahan. Anak ini datang meminta air untuk menyelamatkan orang lain.
Dan ada satu hal lagi.
Di leher Alya, masih tergantung kalung pemberian ibunya yang dia bawa kabur. Kalung liontin giok kecil (warisan neneknya).
Giok itu bersinar hijau lembut.
Itu bukan hijau sembarangan. Itu hijau restu.
Ombak besar itu tidak jadi menghantam keras. Dia pecah menjadi buih lembut tepat satu meter di depan wajah Alya, membasahi tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki, tapi tidak menyeretnya.
Air laut itu terasa... memeluk. Seperti sapaan dari seorang Ratu yang memaklumi kenakalan anak kecil.
Alya terbatuk-batuk, basah kuyup, asin, dan kedinginan. Tapi dia masih berdiri tegak. Dan bambu di tangannya masih tergenggam erat.
Seno berlari tertatih-tatih menghampiri Alya. Dia menarik tangan Alya, menyeretnya menjauh dari bibir pantai sebelum ombak ketiga datang.
Mereka ambruk di pasir kering yang aman.
Napas mereka memburu.
Seno menatap Alya dengan takjub. Dia melihat ombak ular tadi sengaja berhenti.
Anak ini... dia punya bakat alami yang lebih besar dari sekadar melihat hantu. Dia punya karisma yang disukai alam.
Seno memeriksa bambu di tangan Alya.
Dia membuka sumbatnya sedikit, mencium baunya.
Tidak bau amis laut.
Bau tanah. Bau hujan. Bau kehidupan.
Air tawar murni dari dasar samudra. Banyu Panguripan.
Seno menutupnya lagi, lalu tertawa. Tawa tanpa suara yang mengguncang bahunya. Dia mengacak-acak rambut Alya yang basah lengket oleh air laut dan pasir.
Alya ikut tertawa, meski giginya gemeletuk kedinginan.
"Kita dapet, Pak? Kita dapet dua-duanya?"
Seno mengangguk mantap.
Bunga Wijayakusuma dari gunung. Air Tawar dari laut.
Unsur Langit dan Unsur Samudra.
Sekarang, Seno memiliki semua bahan untuk memasak Hidangan Terakhir bagi Sang Penagih.
Mereka berjalan kembali ke motor dengan langkah gontai tapi hati penuh kemenangan.
Gulo akhirnya berani keluar dari tas. Dia melihat Alya yang basah kuyup, lalu dengan "baik hati" menjilati pasir yang menempel di pipi Alya.
"Ih! Gulo asin!" Alya mendorong muka monyet itu.
Di langit timur, fajar mulai menyingsing.
Tujuh hari lagi menuju Purnama.
Bahan sudah lengkap.
Sekarang tinggal satu masalah: Resepnya.
Bagaimana cara menggabungkan bunga mistis dan air suci ini menjadi masakan yang bisa dimakan?
Dan lebih penting lagi... apakah masakan itu cukup untuk membatalkan kontrak dengan Iblis?
Saat motor mereka meninggalkan Pantai Parangtritis, sesosok wanita cantik berkebaya hijau pupus berdiri di atas bukit pasir, menatap kepergian mereka.
Dia tersenyum misterius.
"Masaklah dengan baik, Seno. Tunjukkan pada dunia bahwa rasa bisa mengalahkan takdir."
Angin laut membawa bisikan itu, menghilang ditelan gemuruh pagi.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.