Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana memutuskan selamnya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu
Alana tampak terkejut. Kursinya bergeser saat ia berdiri terlalu cepat. Ujung gaunnya sedikit tersenggol meja, membuat gelas bergetar pelan. Wajahnya pucat, tapi matanya menatap Arka lurus, tak lagi hanya takut, ada sesuatu yang lain di sana.
“Aku tak akan lupa dengan hutangku, Tuan,” ucap. Suaranya gemetar di awal, tapi menguat di akhir kalimat. “Jika pemilik rumah sudah tak menginginkan aku di sana, apakah mungkin aku harus bertahan?”
Ruangan yang tadinya hanya tegang kini seperti dipenuhi percikan api.
Rafael tetap berdiri di sisi meja, satu tangannya menyentuh sandaran kursi. Tatapannya berpindah dari Alana ke Arka tanpa terburu-buru. Ia tidak menyela. Tidak juga menunjukkan emosi. Tapi sorot matanya lebih tajam dari biasanya, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Apa maksudmu?” tanya Arka. Suaranya naik setengah nada. “Apa kau ingin memfitnah mamaku kalau dia mengusirmu?”
Alana menggeleng cepat. “Aku tak akan berani memfitnah, Tuan.”
Arka melangkah lebih dekat. Sepatu kulitnya menghantam lantai dengan bunyi tegas. Jarak antara mereka kini hanya beberapa langkah. Bu Sari yang berdiri di dekat pintu tampak gelisah, tangannya saling menggenggam, tapi tidak berani ikut campur.
“Kembali,” kata Arka, pendek dan tegas. “Atau kau harus melunasi hutangmu.”
Kalimat itu jatuh seperti palu. Tegas. Dan mengikat. Rafael akhirnya bergerak. Kursinya terdorong pelan ke belakang saat ia berdiri penuh. Posturnya menjulang, tenang, tapi memberi tekanan yang tak terlihat.
“Berapa hutangnya?” tanya Rafael datar.
Arka menoleh. Tatapan keduanya bertemu, dua lelaki dengan keras kepala masing-masing, dua arah angin yang tak pernah benar-benar sejalan.
“Aku lunasi,” lanjut Rafael.
Alana menoleh kaget. “Tuan ... jangan!”
Rafael mengangkat satu jari sedikit, isyarat halus agar ia diam. Bukan kasar, tapi cukup membuat Alana menelan lanjutan kata-katanya.
Arka tersenyum sinis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Apa hubungan kamu sehingga mau melunasi hutangnya?”
Rafael membalas dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tidak perlu ada hubungan. Aku melakukan semua karena rasa empati saja.”
“Empati?” Arka terkekeh pendek. “Kau pikir aku bodoh?”
Suasana makan siang itu kini benar-benar berubah menjadi medan tempur tanpa senjata.
“Pasti kalian sudah lama saling mengenal,” lanjut Arka, suaranya merendah tapi lebih berbahaya. “Kau sengaja mengirimnya untuk mendekati aku, kan?”
Alana mengerjap. “Apa?”
“Dan kau,” Arka menuding, “Sengaja menggodaku?”
Alana tampak benar-benar terpukul oleh tuduhan itu. Napasnya tercekat. Matanya membesar, bukan karena takut, lebih ke tak percaya, "Aku menggoda, Tuan?” ulangnya pelan. “Apa tak salah itu, Tuan?”
Rafael menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya masih tenang, tapi rahangnya mengeras samar. Ia memperhatikan perubahan ekspresi Arka, kemarahan yang bercampur sesuatu yang lebih dalam.
“Arka,” ucap Rafael akhirnya, suaranya rendah, stabil. “Nada bicaramu berlebihan.”
Arka langsung menoleh. “Jangan ikut campur.”
“Aku sudah ikut campur sejak kamu masuk tanpa permisi dan membentak seseorang di rumahku.”
Kalimat itu diucapkan tanpa meninggi, tapi justru terasa menekan.
Arka mendengus. “Rumahmu?” Ia melirik sekitar. “Kau memang selalu suka menyebut apa pun milikmu.”
“Kalau kamu datang untuk ribut,” balas Rafael, “Pilih tempat yang lebih pantas.”
“Kalau kamu tidak menyembunyikan orang yang seharusnya ada di rumahku, aku tidak akan ke sini. Tak sudi aku menginjakan kaki di sini!"
Alana menegang. “Aku bukan barang yang disembunyikan,” ucapnya pelan, tapi jelas.
Kepala Arka menoleh cepat. “Kau masih berani menyela?”
“Aku hanya tidak ingin Tuan salah paham.”
“Kalau begitu jawab,” potong Arka. “Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Alana terdiam sepersekian detik. Ingatan tentang pagi itu kembali, suara keras, tatapan dingin, kalimat mamanya Arka yang memintanya pergi. Ia tidak ingin memperkeruh. Tidak ingin membuka aib. Tidak ingin membuat keadaan lebih buruk.
“Aku pergi karena situasinya tidak memungkinkan,” jawabnya hati-hati.
“Situasi tidak memungkinkan?” ulang Arka. “Kata yang bagus untuk lari.”
Rafael menggeser sedikit posisinya, kini berdiri setengah di antara mereka. Bukan menghalangi, tapi cukup jelas menunjukkan batas.
“Cukup!" ucap Rafael. “Dia tamuku.”
“Tamumu?” Arka mengulang dengan nada mengejek. “Cepat sekali.”
“Kebetulan,” balas Rafael singkat.
“Ah, ya. Kebetulan.” Arka mengangguk-angguk. “Kebetulan kamu lewat. Kebetulan dia pingsan. Kebetulan kamu bawa pulang. Kebetulan kamu siapkan baju. Kebetulan kamu bayar hutangnya.”
Rafael tidak terpancing. “Kalau kamu suka kata itu, pakai saja.”
Arka menatapnya tajam beberapa detik. Lalu tertawa tanpa suara.
“Kau tidak berubah,” ujar Arka. “Masih suka masuk ke wilayah orang lain.”
“Kamu juga tidak berubah,” jawab Rafael tenang. “Masih suka menganggap semua orang milikmu.”
Ketegangan di antara mereka terasa bukan baru sehari. Ada sejarah yang panjang, berat, dan belum selesai.
Alana memandang keduanya bergantian. Ada banyak hal yang tidak ia mengerti. Tentang cara mereka saling bicara. Tentang nada lama di setiap kalimat. Tentang luka yang tidak terlihat tapi terasa nyata.
“Berapa jumlah hutangnya?” tanya Rafael lagi, menatap Arka lurus.
"Aku tak menginginkan uangmu!" jawab Arka dengan nada tajam.
"Apa yang kau harapkan dari Alana? Memperbudaknya? Apa ini yang kau bilang dirimu lebih baik dariku?" tanya Rafael dengan nada mengejek.
"Baik, buruknya aku bukan kau yang menilai!"
"Baik, sekarang kau tanya Alana, apakah kau baik di matanya?" tanya Rafael.
Arka memandangi Alana. Gadis itu menunduk. Dia tak bisa menjawab jika seandainya Arka benar-benar bertanya apakah dirinya baik atau buruk. Karena, dibilang baik, pria itu ada memperlakukan dirinya buruk dengan memaksa berhubungan.
"Alana, apa kau mau di sini atau ikut aku kembali. Revan yang memintaku menjemputmu!" ujar Arka.
Mendengar nama Revan, Alana menjadi ragu. Dia menyayangi bocah itu. Salah satu yang membuat dia betah adalah anak itu. Arka tersenyum melihat wajah gadis itu yang tampak ragu dan berpikir. Dalam hatinya yakin kalau Alana akan memilih ikut dengannya.
**
Selamat Sore. Mama mau rekomendasi-kan novel teman di bawah ini. Terima kasih.
Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya.
Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Yuk ikuti karya Ramanda insyaallah cerita menarik dan seru. Dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya 🙏🏻
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
enyah saja kau arka
😡