Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medali Kemenangan dan Kilas Kamera
Di pinggir lapangan yang masih menyisakan aroma rumput basah, Putra masih sibuk membantu Vilov melepaskan legguard yang berat. Vilov sesekali menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan, meskipun bibirnya sudah mulai bisa mengerucut kesal karena tawa Putra yang belum juga reda.
"Lu mah, judulnya doang bantu-bantu, tapi sekalian ngeledekin gue juga, Put!" ucap Vilov dengan suara yang masih sedikit berat.
Putra mendongak, menatap wajah sembab Vilov sambil tertawa kecil . "Ya lagian lu aneh banget, Vil. Yang lain pada lari-lari seneng, pelukan, teriak-teriak juara, lu malah duduk di pojokan gawang sambil nangis sesenggukan. Nggak jelas banget tau nggak," balas Putra.
"Hati Hello Kitty gue ini lagi terharu, Put! Lu nggak bakal paham gimana rasanya jadi benteng terakhir yang hampir jantungan pas penalti tadi," bela Vilov sambil memukul pelan bahu Putra.
"Ih, Hello Kitty macam apa lu? Hello Kitty biasanya lucu, bukan yang hobi teriak pakai toak masjid terus nangis bombay begini, haha!" Putra tertawa semakin lebar, membuat Vilov akhirnya ikut tertawa meski hatinya masih terasa sangat emosional.
Di tengah obrolan mereka, suara peluit Pelatih kembali terdengar, namun kali ini nadanya lebih santai. Pelatih mengumpulkan semua pemain di tengah lapangan untuk memberikan pengumuman penting.
"Selamat buat kalian semua! Perjuangan kita berbuah manis. Tapi acara belum selesai, karena malam ini jam tujuh, akan ada acara formal pembagian piagam, medali kemenangan, dan piala bergilir di aula utama. Saya harap kalian semua datang dengan pakaian yang rapi dan sopan. Kita rayakan kemenangan ini bersama-sama!" seru Pelatih yang disambut sorakan antusias dari seluruh anggota tim.
Vilov dan teman-temannya pun segera berkemas. Sambil merapikan tasnya, Vilov menyenggol lengan Tije yang sedang asyik memoleskan bedak tipis di wajahnya. "Husstt, nanti malam lu berangkat sama siapa, Je?" tanya Vilov penuh selidik.
Tije memberikan senyuman ledek yang sangat menyebalkan di mata Vilov. "Gua sama cowok gue lah! Masa juara begini berangkat sendiri. Lu gimana sih," jawab Tije bangga.
Vilov mendengus, lalu beralih ke arah Tika. "Kalau lu, Tik? Sama siapa?"
"Gue sama temen gue, dianterin pakai motor. Udah deh, Vil, nggak usah nanya-nanya lagi. Lu sama Putra lagi aja kenapa sih? Ribet banget," ucap Tika telak.
Belum sempat Vilov membalas, Putra yang ternyata berdiri di belakangnya tiba-tiba menyahut. "Iya lu, Vil. Gue udah di depan mata begini, lu malah sibuk nanya bareng yang lain. Emang lu mau berangkat sama siapa lagi kalau bukan sama gue?"
Vilov menoleh, wajahnya memerah seketika. "Ya... ya gengsi lah kalau gue yang ajak lu duluan! Masa cewek yang agresif terus, haha," ucap Vilov dengan jujur yang malah membuat Putra geleng-geleng kepala.
"Nggak usah pakai gengsi-gengsian. Jam setengah tujuh gue jemput. Jangan dandan lama-lama," ucap Putra sebelum akhirnya mereka semua bubar untuk pulang ke rumah masing-masing demi membersihkan diri dan beristirahat sejenak.
Malam pun tiba dengan cepat. Udara Cilegon malam itu terasa lebih bersahabat. Vilov sudah siap dengan pakaian terbaiknya—bukan jersey, melainkan outfit kasual namun rapi yang membuatnya terlihat lebih manis dari biasanya. Ia berdiri di depan teras rumahnya, sesekali melirik jam tangan.
Tak lama kemudian, suara motor yang sangat ia kenali terdengar. Putra datang dengan jaket hitam yang membuatnya terlihat sangat gagah di bawah lampu jalan.
"Kalo janjian aja lu datengnya lama banget! Tapi kalo nggak janjian, tiba-tiba nongol di depan pager kayak jelangkung," protes Vilov langsung saat Putra menghentikan motornya. Ia masih teringat kejadian pagi tadi saat ia dibangunkan paksa oleh klakson motor Putra.
"Hahaha, sengaja gue. Biar lu ada seninya nungguin gue," balas Putra enteng sambil memberikan helm kepada Vilov.
Mereka pun membelah jalanan malam menuju lokasi acara. Sesampainya di aula utama, suasana sudah sangat ramai. Lampu-lampu sorot menyinari panggung yang penuh dengan piala dan piagam. Vilov dan Putra berjalan beriringan masuk ke dalam gedung, namun karena banyaknya orang, mereka sempat merasa kebingungan.
"Etdah, berasa anak ilang kita, Put. Teman-teman kita pada kemana ya? Kok yang kelihatan malah anak-anak sekolah lain semua," gumam Vilov sambil berjinjit mencari sosok Tika atau Tije.
"Iya, pada kemana ya mereka. Tadi katanya kumpul di kiri," ucap Putra yang juga sibuk mengedarkan pandangan mencari teman-teman setimnya.
Tiba-tiba, dari arah kerumunan, Pelatih menghampiri mereka berdua. "Nah, ini dia dua sejoli telat. Ayo, Vil, tim putri sudah kumpul di sana. Putra, lu juga ditungguin anak-anak di sebelah kiri panggung. Jangan misah terus kalian berdua," perintah Pelatih dengan nada bercanda.
Vilov dan Putra akhirnya berpisah menuju tim masing-masing. Begitu Vilov sampai di barisan tim putri, sambutan "hangat" langsung ia terima.
"Behhh... pahlawan kita dateng! Bareng pangerannya pula," ledek Tije saat Vilov duduk di sampingnya.
"Haha, berlebihan banget lu, Tije! Pahlawan apaan, gue cuma kiper yang beruntung," balas Vilov mencoba rendah hati, meski wajahnya berseri-seri.
Di seberang ruangan, Putra pun mengalami hal yang sama. Ia langsung dirangkul oleh teman-teman setimnya dan dihujani ledekan karena kedatangannya yang berbarengan dengan Vilov. Rupanya, kabar tentang Putra yang menjemput dan mengantar Vilov pulang sudah tersebar luas di kalangan kedua tim.
Acara pembagian medali berlangsung dengan khidmat namun meriah. Saat nama tim Vilov dipanggil sebagai Juara 1, aula bergemuruh. Vilov naik ke panggung dengan bangga, menerima medali emas yang berkilauan dan piagam penghargaan. Namun, kehebohan sebenarnya terjadi setelah acara formal selesai.
Saat sesi foto bebas, kedua tim—tim putra dan tim putri—berkumpul menjadi satu di depan panggung. Di sinilah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para sahabat mereka dimulai. Tim masing-masing mulai memberikan kode-kode nakal untuk Putra dan Vilov.
Salah satu pemain dari tim putra, yang memang paling jahil, berteriak dengan suara lantang hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Put! Foto dong sama Vilov! Masa udah pulang bareng, jemput bareng, tapi belum ada foto berdua pakai medali?"
Ucapan itu langsung disambar oleh Tika dengan semangat yang sama. "Iyaaa Put, Vil! Masa kenangan juara ini nggak ada dokumentasi berduanya sih? Gimana sih kalian, nggak asyik banget!"
Sontak saja, kedua tim itu pun berteriak serempak seperti sedang melakukan demo. "FOTO! FOTO! FOTO!"
Vilov dan Putra hanya bisa berdiri mematung di tengah kerumunan. Mereka tidak bisa melarikan diri karena teman-temannya sudah menarik mereka untuk berdiri berdampingan di tengah. Tije, dengan sigap sudah menyiapkan kamera ponselnya.
"Ayo, satu... dua... tegak dikit dong badannya, jangan kaku kayak kanebo kering!" seru Tije.
Cekrek! Cekrek!
Tije mengambil foto mereka hingga beberapa kali. Dalam jepretan itu, Putra dan Vilov tampak berusaha menahan malu yang luar biasa. Wajah keduanya terlihat merah padam di bawah lampu aula. Tidak ada penolakan dari keduanya, yang ada hanyalah ketegangan yang manis. Putra memberanikan diri sedikit mendekat ke arah Vilov, sementara Vilov hanya bisa menunduk sambil memegang medalinya erat-erat.
"Nah, cakep! Ini bakal jadi foto bersejarah di grup hockey kita," ucap Tije puas sambil menunjukkan hasil fotonya yang menangkap ekspresi canggung namun bahagia dari Putra dan Vilov.
Malam itu, di tengah kemeriahan perayaan juara, Vilov menyadari satu hal. Piala dan medali ini memang sangat berharga, tapi keberanian Putra untuk berdiri di sampingnya di depan semua orang adalah kemenangan yang jauh lebih besar bagi hatinya.