Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusat Gangguan
Sejak hari itu, sejak pertemuan pertamanya dengan Kedewa, hidup Rea terbagi menjadi dua era.
Era sebelum Kadewa, dan era setelah Kadewa.
Era sebelum Kadewa adalah masa yang tenang, damai, dan beradab.
Di mana musuh terbesarnya siswi yang baru masuk SMP seperti hanyalah PR Matematika, PR Fisika, ulangan dadakan, dan Pramoedya—kakak kandungnya sendiri yang menyebalkan tanpa jeda.
Hidupnya biasa saja.
Jantungnya patuh.
Otaknya tidak berisik.
Seperti bocah pada umumnya.
Lalu Kadewa datang.
Dan hidup Rea resmi berubah genre.
Era setelah Kadewa adalah medan perang batin yang menurut Rea cukup brutal.
Di mana jantungnya tidak lagi berdetak normal, tapi seperti drummer band metal yang lagi audisi festival.
Dag!
Dig!
Dug!
Deg!
Dog!
Tanpa aba-aba.
Tanpa aturan.
Dan otaknya?
Jangan ditanya.
Otaknya berubah fungsi menjadi pusat komando militer yang isinya strategi-strategi absurd.
Mulai dari, jalan pelan biar kelihatan manis saat ada Kadewa, pura-pura nggak lihat tapi sebenarnya lihat saat Kadewa main ke rumah, sampai latihan senyum di depan kaca lima menit demi Kadewa bisa meliriknya.
Semua itu ia lakukan demi satu nama dan satu orang bernama Kadewa.
Dan semua kekacauan itu berawal dari satu kalimat sial yang terlalu manis untuk ukuran anak SMP.
“Kalau Pram nggak jemput kamu pulang lagi, bilang ke aku aja. Aku jemputin."
Kalimat itu tidak lagi sekadar janji bagi Rea. Tapi itu adalah tiket emas, izin tidak tertulis dan alasan untuk Rea berharap.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Seperti theme song sinetron romantis yang sering Umma tonton di malam hari.
Dan Keesokan harinya, Rea memulai misi pertama.
Misi Menguji Janji Kadewa.
Pukul 14.30.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu, tapi Rea masih duduk di kursi kelasnya, sambil memegang ponsel, membuka chat Pram.
^^^Mas, jemput aku. Aku capek banget abis banyak kegiatan di sekolah.^^^
^^^Rea^^^
Hais, Aku baru sampai rumah Jojo. Jalan kaki aja kan dekat.
Mas Pram kembaran Hulk
Jawaban klise.
Jawaban kejam.
Tapi hari ini, jawaban Pram itu adalah bagian penting dari rencananya.
Rea menahan senyum.
Tidak. Salah. Bukan menahan senyum tapi Rea menahan kegembiraan yang hampir meledak seperti petasan lebaran di dalam dadanya.
Berhasil.
Sesuai harapan.
Pram sudah menjalankan perannya sebagai villain yang sempurna.
Saatnya si Hero beraksi.
Dengan jantung berisik tapi tangan gemetar, Rea membuka satu kontak lain.
Kontak yang ia simpan beberapa hari lalu.
Hari di mana Kadewa tanpa sengaja menghubunginya hanya untuk mencari Pram mau di ajak nongkrong.
Tapi Pram hari itu tidak bisa dihubungi karena tertidur hampir seharian penuh, efek begadang main game semalaman.
Rea masih ingat percakapan singkat itu. “Mas dapat nomor Rea dari mana?”
Jawaban Kadewa masih terngiang jelas. “Dari Jojo.”
Singkat dan sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Rea guling-guling di atas kasur sambil mendekap bantal seperti maniak yang baru dapat hadiah.
Lucunya?
Dia tidak perlu susah payah mencari nomor Kadewa.
Tidak perlu mengubek isi kontak kakaknya diam-diam.
Tidak perlu menyogok Joshua untuk mendapatkan nomornya.
Tidak perlu pakai jurus detektif tingkat akhir.
Justru Kadewa yang datang lebih dulu.
Rea harus sungkem pada Joshua karena malah memberikan nomor Rea lebih dulu ke Kadewa.
Dan tentu saja, sejak hari itu kontak tersebut disimpan memakai nama paling rahasia sepanjang sejarah hidup Rea.
Nama yang tidak boleh dibaca Pram, tidak boleh terbaca Umma, tidak boleh di baca Baba dan bahkan tidak boleh diketahui Pompom, kucing kesayangannya.
Pusat Gangguan⛔
Dengan jantung yang berdetak seperti alarm kebakaran, Rea mengetikkan pesan itu. Tangan kirinya sampai berkeringat dingin memegang ponsel.
^^^Mas Kadewa.^^^
^^^Maaf ganggu.^^^
^^^Mas Pram nggak bisa jemput Rea. Rea disuruh jalan kaki.^^^
^^^Kalau Mas nggak sibuk, Mas bisa gak jemput Rea?^^^
^^^Rea^^^
Sent!
Begitu pesan terkirim, Rea langsung memejamkan mata, menyesali seluruh hidupnya.
Dia yakin Kadewa pasti akan membalas, "Maaf, Re. Aku sibuk. Coba pesen ojek online aja."
Atau yang lebih menyakitkan. "Maaf… Ini... Rea yang mana, ya?"
Dia menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Tidak ada balasan.
Perasaan panik mulai naik ke tenggorokan, seperti air banjir yang mulai menutup jalan napas.
Pikirannya mulai liar.
Mungkin Kadewa lupa siapa Rea.
Mungkin Kadewa lupa pernah janji.
Mungkin Kadewa menganggap Rea cuma adik temennya yang suka drama.
Rea menatap layar ponselnya kosong.
Sunyi.
Ia menarik napas panjang.
Pelan.
Apa sih, yang sebenarnya dia harapkan?
Dengan sisa-sisa harga diri yang masih terselamatkan, Rea mulai menggeser kursinya, bersiap bangun.
Ia sudah hampir berdiri saat ponselnya bergetar.
Nama itu muncul di layar.
Pusat Gangguan ⛔
Satu pesan masuk.
Aku otw.
Tunggu di gerbang sekolah ya, Rea.
Lima menit lagi nyampe.
Rea membaca pesan itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan dunia serasa berhenti berputar.
Ia menjerit.
Tapi hanya di dalam hati, karena Reani Sarasvati Ayuna adalah anak baik-baik yang tahu cara menjaga harga diri di ruang publik.
Lima menit!
Rea bangkit seperti tentara yang baru dipanggil perang.
Rea langsung berlari cepat ke toilet, merapikan rambutnya yang tadi berantakan, dan mencuci wajahnya yang lusuh. Ia harus terlihat presentable.
Ini bukan cuma penjemputan.
Ini adalah kencan soft launching pertamanya!
Tentu menurut Rea.
Saat ia tiba di gerbang, ia melihat pemandangan yang membuat semua mata tertuju padanya.
Motor trail hitam Kadewa berhenti tepat di depan gerbang SMP nya. Kadewa, masih mengenakan seragam putih abu-abu, dengan Hoodie hitam sebagi luaran, ia terlihat sangat tampan seperti itu.
Mendadak Rea merasa kakinya kaku.
"Hai, Rea!" sapa Kadewa dengan senyum yang sama manisnya dengan pisang goreng Umma Hasnah waktu itu.
Rea menelan ludah, berusaha terlihat santai, padahal seluruh sistem tubuhnya sedang mode panik.
Ia melangkah mendekat dengan langkah sepelan mungkin agar tidak terlihat seperti rusa baru belajar jalan.
“Makasih, Mas… maaf udah ngerepotin,” ujar Rea, suaranya selembut sutra, setidaknya di telinganya sendiri.
Kadewa terkekeh kecil.
“Santai aja,” katanya sambil menyodorkan helm cross trail hitam miliknya ke arah Rea.
Helm itu masih hangat.
Entah karena panas matahari, atau karena sebelumnya dipakai orang yang membuat jantung Rea tidak berfungsi normal.
Gusti!!!
“Aku kan udah janji.” lanjutnya dengan nada santai tapi berhasil membuat dunia Rea sedikit bergetar, ia menambahkan. “Masa iya Masmu yang jelek itu nyuruh adiknya jalan kaki lagi.”
Rea mengangguk dan membuka chat Pram tadi, lalu menyodorkan layar ponselnya ke arah Kadewa tanpa banyak kata.
Kadewa melirik layar itu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
“Kejam juga ya hidup jadi adiknya Pram. Kalau aku jadi Mas dari adik kecil imut kayak kamu udah aku jemput tiap hari pakai helikopter.”
Rea ikut tertawa kecil.
Lebih ke suara gugup, sebenarnya.
Ia sama sekali lupa kalau wajahnya kemungkinan sudah memerah seperti kepiting rebus.
Dan Kadewa…
Tidak sadar.
Tidakkah dia lihat?
Tangan Rea gemetar.
Jari Rea dingin.
Napas Rea tidak stabil.
Tapi Kadewa hanya berdiri santai. Seolah di hadapannya bukan seorang gadis yang baru saja kehilangan separuh sistem pernapasannya.
Rea mengambil helm yang masih dipegang Kadewa.
Helm cross trail itu terasa berat di tangan Rea.
Tangannya sedikit bergetar saat mencoba memasangnya.
“Ini… helm punya Mas, ya?” tanyanya lirih, sambil sibuk menarik talinya yang entah kenapa seperti punya kehendak sendiri untuk tidak terkunci.
Kadewa mengangguk, memperhatikan Rea yang masih berkutat dengan tali helm, alisnya sedikit terangkat.
“Biar aku bantu,” katanya santai.
Rea refleks mengangkat wajah.
“Eh, nggak perlu, Mas. Rea bis—”
Kalimat Rea kalah cepat oleh jari Kadewa yang sudah lebih dulu menyentuh ujung tali helm.
Deg!
Dan dunia Rea sekaan berhenti saat itu juga.
Kadewa mendekat satu langkah.
Terlalu dekat.
Tangannya hangat. Jari-jarinya bergerak cepat, terampil.
Ia sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajah Rea.
“Napas, Rea,” gumamnya tanpa sadar. “Kamu keliatan kayak mau pingsan.”
Rea langsung menarik napas seperti orang baru ingat kalau fungsi paru-paru itu penting untuk tubuhnya.
Kadewa mengaitkan pengait helmnya dengan hati-hati.
Pelan.
Tidak buru-buru.
Lalu...
Klik!
Selesai.
Ia menjauh lagi, seolah barusan tidak membuat jantung seorang bocah SMP hampir meledak.
“Udah,” katanya ringan.
Rea menatapnya beberapa detik terlalu lama.
Baru sadar.
Langsung menoleh ke depan.
“M-makasih, Mas,” katanya, suaranya lebih kecil dari detak jantungnya sendiri.
Kadewa naik ke motor lebih dulu.
Satu kaki naik, satu kaki menyangga. Kedua tangannya santai di setang.
“Ayo, naik.”
Rea menelan ludah.
Ini langkah besar dalam hidupnya.
Ia melangkah mendekat ke motor Kadewa.
Tangannya menggantung di udara, bingung harus memegang bagian mana.
Pundak?
Hoodie?
Tas?
Jok?
Semuanya terasa salah.
Semuanya terasa terlalu dekat.
Semuanya terasa terlalu berbahaya untuk jantungnya.
Kadewa memperhatikan kebingungan itu. Lalu mengulurkan lengannya ke samping.
“Pegang sini aja,” katanya ringan, seolah itu hal paling normal di dunia.
Rea terdiam sesaat.
Lalu, dengan tangan yang sedikit bergetar, ia memegang lengan itu.
Pelan.
Hati-hati.
Lalu naik ke jok belakang Kadewa dan Rea akhirnya duduk di jok belakang teman baru kakaknya itu.
“Pegangan ya, Re. Aku ngebut dikit,” ucap Kadewa.
Mesin motor Kadewa mulai meraung halus.
Motor trail itu melesat, membelah jalanan Surabaya yang sore itu terasa lebih panas dari biasanya.
Rea refleks memeluk pinggang Kadewa, tapi segera ia sadar bahwa itu terlalu berlebihan.
Tangannya buru-buru menarik diri, lalu mencengkeram ujung Hoodie di pinggang Kadewa.
Tapi Kadewa rupanya menyadari kegugupan itu. Senyumnya terangkat sedikit.
“Gak usah malu, Re,” katanya sambil tertawa renyah. “Anginnya kenceng. Pegangan aja yang kuat, biar nggak jatuh.”
Mendengar izin itu, Rea mengambil napas panjang. Ia menutup mata sebentar, dan memeluk erat pinggang Kadewa lagi.
Punggung lebar yang terhalang tas itu terasa nyaman. Aroma parfum Kadewa yang mahal dan segar langsung menyeruak, membuat Rea merasa seperti terbang. Di belakang punggung Kadewa, Rea tersenyum lebar.
Ini adalah pelarian Kadewa.
Tapi ini juga adalah perjalanan cinta pertama Rea.
Rea tidak tahu, Kadewa menjemputnya karena ingin membalas budi pada Pram.
Kadewa pun tidak tahu, Rea meminta dijemput bukan karena dia lelah tapi karena ia sudah jatuh cinta setengah mati.
Saat itu, di tengah panasnya Surabaya, Kadewa hanya melihatnya sebagai utang pada sahabatnya.
Tapi Rea melihatnya sebagai sebuah masa depan.
Begitu motor berhenti di depan pagar rumah, Rea tidak langsung turun. Ia masih ingin menikmati sisa-sisa aroma dan kehangatan punggung Kadewa sesaat saja.
“Makasih ya, Mas,” ucapnya Rea pelan sambil turun begitu puas menghirup aroma Kadewa. Ia membuka helm milik Kadewa di kepalanya dan menyerahkan pada pemiliknya.
Kadewa meliriknya sebentar dan tersenyum.
“Sama-sama. Besok kalau Pram nyebelin lagi, chat aja.”
Ia mengatakannya ringan.
Tanpa tahu kalimat itu menancap begitu dalam di hati Rea.
Pandangan Kadewa sempat melirik sekilas dari cela pagar yang masih tertutup tepatnya ke arah garasi rumah Rea.
Sepi.
Kosong.
Tidak ada mobil Umma.
Tidak ada mobil Baba.
Bahkan motor Pram juga.
Mungkin masih di rumah Joshua.
"Orangtua kamu belum pulang kayaknya." Ucap Kadewa sambil memakai helm yang di pakai Rea tadi.
Rea lalu ikut menoleh dan mengangguk kecil.
Kadewa memiringkan kepalanya sedikit.
Nada suaranya berubah lebih tenang.
“Berani di rumah sendirian, kan?”
Rea mengangguk "berani. Kan udah biasa."
Lagian kalau Rea bilang gak berani memangnya Kadewa mau menemaninya? Gak kan?
Kadewa mengangguk-angguk kecil.
“Ya udah. Masuk sana. Kunci pintunya.”
Nada perintah kecil itu anehnya terasa seperti perlindungan.
Rea melangkah membuka pagar rumah.
Menoleh sesaat ke arah Kadewa lalu lanjut melangkah masuk ke halaman rumah.
Dan begitu sampai pintu rumah.
Tangan di gagang pintu terhenti sebentar.
Ia menoleh sekali lagi ke belakang.
Kadewa masih ada di sana.
Di atas motornya.
Menunggunya benar-benar masuk.
Dan mengerakkan tangannya, seolah menyuruh Rea masuk.
Rea tersenyum kecil dan menganggukkan kepala lalu melambaikan tangan sebentar setelah itu baru masuk kedalam rumah.
Begitu pintu rumah itu tertutup, Kadewa menyalakan kembali motornya.
Dan pergi.
Tanpa tahu, seseorang baru saja menyimpan hari itu di hatinya untuk waktu yang sangat, sangat lama.
Rea berdiri mematung beberapa detik di balik pintu kamarnya.
Lalu berlari.
Bukan ke kamar mandi.
Bukan ke kasur.
Tapi ke meja belajarnya.
Ia menarik laci, mengambil sebuah buku kecil, diary kesayangannya.
Rea duduk, membuka halaman baru.
Tangannya masih sedikit gemetar saat menuliskan tanggal hari itu.
Dear Diary,
Hari ini aku dijemput Mas Kadewa.
BENERAN.
Aku naik motor bareng dia.
Aku pegang pinggangnya.
Ya Allah aku masih hidup nggak sih ini?
Ia berhenti menulis.
Menatap tulisannya sendiri.
Lalu terkikik kecil.
Menulis lagi.
Dia baik banget.
Baiknya kebangetan.
Dan dia bilang,
“Kalau Pram nyebelin lagi, chat aja.”
Tidak lupa di bagian bawah tulisan itu Rea menggambar seorang laki-laki yang tidak lain adalah Kadewa sedang memakaikan helm pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Rea.
Rea menatap gambar itu sesaat, lalu menutup buku itu pelan.
Setelah itu...
Ia menelungkupkan wajahnya di atas lengannya.
Senyumnya lebar.
Kakinya bergoyang-goyang kecil di bawah kursi.
Seperti bocah SMP yang baru saja menemukan dunia barunya.
Dan Rea baru paham satu hal.
Rasa suka…
ternyata tidak selalu meledak-ledak.
Kadang hanya duduk diam di dada,
tapi membuat napasnya gak karuan.
Ya, Rea mulai menyadari perasaannya kini.
Di suka...
Dia suka Kadewa.
Sangat suka Kadewa.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣