"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Aku Malu Bu ...
Sejak perdebatan sengit dengan Sartika beberapa hari yang lalu, Ginah merasa dirinya diasingkan oleh warga. Tak terima dirinya dijauhi, Ginah pun mengadu pada suaminya yang merupakan kakak kandung Sartika.
Suami Ginah yang bernama Sastro awalnya bersikap tak peduli dan menganggap itu hanya pertengkaran biasa. Tapi karena sang istri terus merengek, akhirnya Sastro pun pergi mendatangi rumah Sartika.
Ginah pun tersenyum lebar saat sang suami pergi ke rumah Sartika. Dia mengira dia berhasil menggunakan suaminya untuk menekan Sartika. Tapi dugaannya salah. Sastro dan Sartika justru terlihat berbincang santai tanpa ada kemarahan. Azam yang baru pulang pun sempat menemani sebentar. Tapi tak lama kemudian dia pamit karena ada urusan yang harus diselesaikan.
"Mas pasti udah denger soal aku sama mbak Ginah," kata Sartika setelah Azam berlalu.
"Iya, aku denger. Maafin mbakmu ya Tik," kata Sastro.
"Kenapa Mas yang minta maaf?. Yang salah kan mbak Ginah, jadi dia yang harus minta maaf. Jangan keseringan menutupi kesalahannya Mas, sekali-kali didik istrimu itu supaya bisa ngerem omongannya. Puluhan tahun menikah masa kamu selalu kalah sama dia," sahut Sartika.
"Ini bukan soal kalah atau menang Tik. Tapi kamu tau kan apa sebabnya?" tanya Sastro.
"Ck, itu lagi. Selama ini aku selalu maafin dia Mas. Tapi apa hasilnya?. Istrimu itu makin liar dan ngaco. Masa anakku dituduh g*y cuma karena ga pernah keliatan ngobrol sama cewek. Aku aja yang sodara ipar lama-lama muak sama kelakuannya apalagi orang lain. Aku khawatir orang yang sakit hati sama omongannya mbak Ginah malah bertindak nekat nanti," sahut Sartika kesal.
"Iya iya Tik, aku tau. Makasih udah diingetin. Udah ya, sekarang kita ngobrol yang lain aja yuk," pinta Sastro.
Sartika nampak menghela nafas panjang mendengar permintaan kakak laki-lakinya itu.
"Ok, kita ngobrol soal anakmu ya," kata Sartika kemudian.
"Anakku?" ulang Sastro.
"Iya. Apa kamu ga pernah berpikir kenapa Laras belum nikah di usianya yang lumayan matang itu Mas?. Padahal Laras cukup menarik lho. Biar sedikit gemuk tapi kulitnya bersih dan senyumnya manis. Laras juga bukan pengangguran. Jadi dia cukup ideal dijadiin istri karena bisa membantu suaminya nanti. Mas tau ga kenapa belum ada lamaran yang datang untuk Laras?" tanya Sartika.
"Ya karena belum ada jodohnya aja Tik," sahut Sastro ringan.
"Ck, kayanya bukan karena itu Mas. Semua orang tau gimana istrimu, cerewet, sombong dan biang onar. Mana ada orang yang mau punya besan kaya gitu," kata Sartika tak sabar.
"Itu bukan faktor utama Tik. Larasnya aja yang terlalu banyak milih," sahut Sastro.
"Tapi aku liat sekarang Laras udah ada di tahap pasrah Mas. Apa kamu ga kasian sama dia?" tanya Sartika.
"Kasian sih. Abis mau gimana lagi," sahut Sastro.
Sartika pun menggelengkan kepala mendengar jawaban Sastro.
"Ngomong-ngomong, pernah ga kamu kepikiran kalo jodohnya Laras tuh terhalang sesuatu Mas?. Dan itu semua karena ulah istrimu," kata Sartika kemudian.
Sastro tersentak mendengar ucapan adiknya.
"Maksudmu ... ada orang yang sakit hati sama istriku lalu mengerjai anakku, begitu?" tanya Sastro hati-hati.
"Mungkin. Mengingat betapa liarnya mulut istrimu itu, wajar kan kalo ada yang sakit hati. Jadi untuk memberi pelajaran sama mbak Ginah, mereka memilih Laras. Caranya ya gitu, menutup pintu jodohnya biar Laras ga nikah-nikah," sahut Sartika.
Jawaban Sartika membuat Sastro geram. Dia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan rumah Sartika begitu saja.
Alih-alih mengejar sang kakak, Sartika justru menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Setelahnya dia juga memadamkan lampu ruang tamu lalu masuk ke dalam kamar. Sartika senang karena sang kakak akhirnya sadar apa yang terjadi.
Sementara itu di rumahnya Ginah nampak menunggu sang suami dengan cemas. Berkali-kali dia menatap ke gerbang rumah Sartika, berharap sang suami keluar dari sana segera.
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, akhirnya Sastro pulang ke rumah. Ginah bergegas menyambut sang suami di depan pintu.
"Gimana Pak. Apa kata ... "
Belum selesai Ginah menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Walau tak seberapa sakit tapi berhasil membuat Ginah terkejut.
"Apa-apaan ini Pak. Kenapa aku dipukul?!" tanya Ginah lantang.
"Diam!. Aku bakal pukul lebih keras kalo kamu masih buat ulah lagi!" kata Sastro sambil melotot.
"Sebentar Pak. Harusnya aku yang marah karena kamu pukul aku. Lagian bukan aku yang bikin ulah tapi adikmu !" sahut Ginah gusar.
"Berhenti nyalahin orang lain apalagi adikku. Dari dulu dia selalu ngalah tapi kamu malah keblinger. Kamu tau ga, karena ulahmu yang suka ngomong sembarangan, anak kita jadi korbannya," kata Sastro.
"Korban apa sih, aku ga ngerti. Emangnya Tika ngadu apa sampe kamu jadi kalap kaya gini Pak?" tanya Ginah.
"Tika ga ngadu apa-apa. Aku justru ngobrol soal Laras di sana. Sesuatu yang selalu kamu hindari tiap kali aku coba ngebahasnya Bu," sahut Sastro.
"Ngapain kamu bahas Laras sama dia Pak. Laras itu anakku, anak kita. Dia ga berhak ikut campur urusan kita," kata Ginah sewot.
"Ga usah bawa-bawa aku dalam masalah kalian dan tolong berhenti nyalahin Bulik Tika!" kata Laras lantang.
Ginah dan Sastro pun menoleh dan terkejut melihat Laras berdiri di depan kamar sambil menatap marah kearah mereka.
"Ga usah repot-repot mikirin aku karena aku memang ga mau nikah. Kalo ditanya kenapa, itu semua gara-gara Ibu," kata Laras kemudian.
"Kok gara-gara Ibu?" tanya Ginah tak mengerti.
"Iya. Setiap aku punya pacar dan dikenalin ke keluarganya, mereka selalu tanya siapa keluargaku. Tapi saat aku sebut siapa orangtuaku, sikap mereka langsung berubah. Mereka bilang ibu pembuat onar dan ga ada seorang pun yang bisa selamat dari mulut Ibu. Aku malu Bu. Apalagi setelah ketemu keluarga pacarku, aku pasti putus sama pacarku itu," sahut Laras dengan suara tercekat.
Sastro nampak terkejut mendengar pengakuan Laras yang sama persis dengan dugaan Sartika tadi. Kemudian dia menatap Ginah yang berdiri kaku. Nampaknya wanita itu shock mendengar pengakuan anak mereka.
Ya, Ginah memang tak pernah menyangka sepak terjangnya selama ini telah membuat anaknya terluka. Akhirnya Ginah pun tahu penyebab sang anak jarang pulang ke rumah dan lebih memilih tinggal di mess karyawan, itu pasti karena Laras malu mendengar gunjingan orang tentang dirinya.
"Laras ...," panggil Ginah.
"Aku capek Bu. Tolong jangan begini terus. Aku juga mau bahagia seperti yang lain," kata Laras dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menyelesaikan kalimatnya Laras masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.
"Laras ...," panggil Ginah sekali lagi.
Sayangnya Laras tak menggubris panggilan sang ibu.
Alih-alih iba, Sastro justru mengucapkan sesuatu yang membuat Ginah makin terpuruk.
"Gimana, puas kamu ngeliat anak kita sedih kaya gitu Bu?. Laras bukan ga punya jodoh tapi karena semua laki-laki yang tertarik sama dia terpaksa mundur. Alasannya bisa ditebak, mereka mundur karena ga direstui sama keluarganya yang takut anak laki-lakinya mati dihina sama kamu!" kata Sastro kesal.
"Bukan begitu Pak. Aku ... " Ginah tak kuasa melanjutkan ucapannya karena air mata lebih dulu jatuh membasahi wajahnya.
"Kalo kamu masih sayang sama keluarga ini, bertobat lah. Kalo kamu ga mau atau ga bisa, mungkin sebaiknya kita pisah aja. Aku yakin setelah itu kamu bisa bebas memilih jalanmu sendiri tanpa aku recoki. Jujur aku udah ga sanggup mentolerir kelakuanmu lagi ...," kata Sastro.
Tentu saja ucapan sang suami mengejutkan Ginah. Dia mencoba meraih lengan Sastro, tapi pria itu menepisnya dengan kasar.
"A-apa maksudmu Pak. Kamu mau menceraikan aku?!" tanya Ginah panik.
Sastro mengabaikan pertanyaan Ginah lalu keluar dari rumah tanpa pamit.
Melihat suaminya pergi tanpa menjawab pertanyaannya, Ginah semakin terpukul. Sesaat kemudian tubuhnya limbung lalu jatuh merosot ke lantai. Tangis Ginah pun kembali pecah setelahnya.
Tanpa Ginah sadari, itu adalah tangis penyesalannya yang pertama. Karena setelahnya masih ada tangis lainnya yang akan membuat Ginah merasa lebih baik 'pergi' daripada bertahan hidup.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya