Xuan Hao adalah putra Pangeran yang keberadaannya tidak diakui.
Wajahnya memang tampan, tapi dia pemalas dan suka minum, ditambah dia tidak tau apa-apa tentang beladiri, sastra, maupun strategi perang.
Benar-benar pemuda tidak berguna, tapi setelah tanpa sengaja tersambar petir dan mendapatkan berkah langit berupa Sistem, segalanya berubah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Menyelamatkan Putri Agung
Blaam!!
Pangeran Xuan Lei memukul Xuan Mingyu, membuatnya terpental menghantam dinding sampai menimbulkan retakan.
Kekuatan pukulan Pangeran Xuan Lei tak main-main.
Bagaimanapun juga ia adalah sosok Jenderal Agung yang tentunya sangat kuat.
Sementara itu Xuan Mingyu yang merasakan pukulan ayahnya, ia merasakan sakit yang begitu nyata, membuatnya kesulitan bangkit.
“Cepat katakan dimana barang-barang yang telah kau ambil dari ruang kerjaku!” teriak Pangeran Xuan Lei.
Sambil meringis menahan sakit Xuan Mingyu berbicara, “Ayahanda, barang-barang itu aku letakkan di kamar Xuan Hao, tapi sepertinya dia telah memindahkannya ke tempat lain.”
Mendengar itu Pangeran Xuan Lei semakin murka. Kalau saja ia tidak ingat Xuan Mingyu adalah putranya, saat ini juga ia pasti memenggal kepala pria itu.
“Yang Mulia harap tenang! Terlalu emosi bisa membahayakan kesehatan Yang Mulia!” Jin Quan, kasim sekaligus pengawal Pangeran Xuan Lei, ia mencoba menenangkan Tuannya.
Mendengar itu Pangeran Xuan Lei mencoba menenangkan diri, dan begitu berhasil kembali mendapatkan ketenangannya, ia kembali berbicara, “panggil Pangeran Xuan Hao sekarang juga!” perintahnya.
Pada saat itu pintu ruang kerja terbuka, dan datang Xuan Hao. “Ayahanda tidak perlu memanggil, aku sudah datang!” ucapnya.
Xuan Hao datang bersama Ye Gui yang berjalan dengan sudah payah, setelah sebelumnya ia menerima 20 pukulan papan kayu, tapi ia masih memiliki hutan puluhan pukulan yang akan dilakukan setelah lukanya hari ini membaik.
“Dari balik pintu itu kau pasti sudah mendengar pembicaraan kami!” ucap Pangeran Xuan Lei.
Xuan Hao mengangguk, membenarkan jika ia telah mendengarkan semuanya.
“Ayahanda, ini semua barang yang diletakkan Kakak Pertama di kamarku!” Xuan Hao menyerahkan barang-barang penting milik Pangeran Xuan Mingyu yang hilang, “semua masih sama, bahkan aku sedikitpun tidak berani membukanya,” lanjutnya.
‘Aku memang tidak membukanya, tapi Sistem telah membantuku menyalin isi dari apa yang kini telah kembali ke pemiliknya,’ batin Xuan Hao.
Menerima apa yang diserahkan Xuan Hao padanya. Pangeran Xuan Lei langsung memeriksa semua barang yang baginya sangat penting, dan ia bernapas lega melihat segel di barang-barang itu masih utuh, menunjukkan kalau Xuan Hao benar-benar tidak membukanya.
Di sisi Xuan Mingyu yang melihat pemandangan di depan mata, ia tau rencananya telah terbongkar, dan bukannya sadar akan kesalahan, yang ada ia justru menyimpan amarah dan dendam pada Xuan Hao, membuatnya semakin ingin menyingkirkan keberadaannya untuk selam-lamanya.
“Ayahanda, aku akan kembali ke Paviliun Qingfeng, dan aku harap kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa depan!” Xuan Hao undur diri, tapi saat berhadap-hadapan dengan Xuan Mingyu, ia tersenyum, sebuah senyuman yang dipenuhi ejekan.
Melihat itu Xuan Mingyu mengepalkan tangannya erat-erat, rasanya ia ingin menghajar Xuan Hao, tapi rasa sakit akibat pukulan ayahnya sendiri membuatnya tak berdaya.
“Memalukan!” ucap Pangeran Xuan Lei menatap sinis Xuan Mingyu, dan setelahnya ia menyuruh prajurit menyeret putranya itu keluar dari ruang kerjanya.
“Jin Quan, tinggalkan aku sendiri!” ucap Pangeran Xuan Lei.
“Hamba undur diri.” Jin Quan meninggalkan Pangeran Xuan Lei sendirian, tapi ia tak pernah melangkah pergi jauh dari depan pintu ruang kerja pribadi sang Pangeran.
Seorang diri di ruang kerjanya, Pangeran Xuan Lei mengeluarkan sebuah lukisan yang tergulung rapi, dan begitu gulungan dibuka, tampak lukisan sosok wanita yang bukan hanya cantik, tapi wanita dalam lukisan juga tampak anggun, dan sebuah ketegasan tersembunyi di balik keindahannya.
“Lan’er, sampai kapan aku harus pura-pura mengabaikan putra kita? Hah, karena apa yang aku lakukan, ia sempat menjadi pria yang kehilangan arah, tapi akhir-akhir ini aku merasakan perubahan besar pada dirinya, sebuah perusahaan yang membuatku takut kehilangannya!” gumam Pangeran Xuan Lei.
“Kalau saja aku berhasil menemukan orang-orang yang merenggut nyawamu di malam itu, aku tidak perlu berpura-pura seperti sekarang ini, apalagi pura-pura memiliki hubungan baik dengan para wanita yang kehadirannya sama sekali tidak aku inginkan~”
“Secepatnya! Sebelum ia pergi menikah, aku pastikan mengetahui identitas orang-orang yang membuatmu pergi meninggalkanku untuk selamanya, sekaligus memulihkan status putraku, Xuan Hao!”
Belum puas memandangi lukisan satu-satunya sosok Su Yulan, wanita yang sangat dicintainya. Pangeran Xuan Lei kembali menggulung dan menyimpan lukisan di tempat tersembunyi begitu mendengar Jin Quan menyampaikan kedatangan Shen Ruyue, sosok yang dicurigainya menjadi penyebab kematian Su Yulan.
“Wanita itu~, pasti dia ingin memprotes apa yang aku lakukan pada putranya! Cih, kali ini jangan harap aku akan memaklumi perbuatan putranya!” gumam Pangeran Xuan Lei, lalu ia mempersilahkan Shen Ruyue masuk.
Pembicaraan sepasang suami istri itu tak diketahui oleh Xuan Hao yang sudah kembali ke Paviliun Qingfeng.
“Hah, setelah hari ini aku akan menghadapi pertarungan terbuka dengan Xuan Mingyu!” gumam Xuan Hao, tau apa yang ke depannya akan ia hadapi.
Meski Xuan Mingyu kuat dan memiliki pasukannya sendiri. Tetapi Xuan Hao tidak takut ataupun gentar.
Ia percaya diri dengan kekuatannya sendiri, yakin bahwa ia mampu menghadapi Xuan Mingyu.
“Pangeran, air untuk mandi sudah siap!” ucap Mei Yun.
“Kamu bisa keluar!” ucap Xuan Hao.
Hari sudah hampir malam, sudah waktunya untuk membersihkan diri.
Saat tiba waktu makan malam, Xuan Hao mengajak semua orang makan bersama dengannya.
Bagi Mei Yun dan Lan Xi, mereka sudah terbiasa makan bersama Xuan Hao, berbeda dengan empat orang baru yang masih sedikit canggung saat berada dalam satu meja Tuan mereka.
Selesai makan malam yang sedikit diwarnai rasa canggung, Xuan Hao berbicara dengan Mei Yun dan Lan Xi.
“Besok pagi kalian ikut denganku ke suatu tempat!” ucap Xuan Hao.
Tanpa bertanya tempat apa yang dimaksud Xuan Hao, keduanya mengangguk, setuju ikut kemana saja Tuan mereka pergi.
Setelah mengobrol singkat dengan kedua pelayannya, Xuan Hao pergi istirahat, sebab tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan malam ini.
[Ding!]
[Misi Sistem!]
[Tuan, selamatkan Putri Agung Kekaisaran Tian Yuan dari sekelompok orang yang berniat jahat padanya!]
[Saat ini Putri Agung sedang dalam perjalanan kembali ke Istana tempat tinggalnya setelah mengunjungi Neneknya di Kota Fengyang, kota besar di sisi utara ibukota.]
[Hadiah Misi: Terbuka begitu misi terselesaikan.]
“Kenapa juga harus ada misi malam-malam seperti ini?!” keluh Xuan Hao, tapi karena menginginkan hadiah sistem, ia mau tidak mau tetap melakukan Misi Sistem.
Mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam serta mempersenjatai diri dengan sebuah pedang biasa yang diambilnya dari ruang penyimpanan Sistem. Xuan Hao cepat pergi mengikuti arah yang ditunjukkan Sistem.
Jarak tempat putri berada saat ini tidaklah jauh dari ibukota, tapi tetap saja membutuhkan waktu untuk sampai ke tempat itu, dan Xuan Hao harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.