NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: PERHIASAN BERMATA SATU

​Malam itu, Villa di atas bukit itu diselimuti oleh kabut putih yang tebal, membuatnya tampak seperti istana yang melayang di atas awan. Adrian telah menyulap balkon utama menjadi tempat makan malam yang paling romantis yang pernah dibayangkan Ghea. Lilin-lilin aromaterapi berjejer rapi, memberikan cahaya temaram yang menari-nari di atas taplak meja linen putih.

​Ghea keluar menuju balkon dengan gaun satin berwarna hijau zamrud yang sangat pas di tubuhnya. Ia berjalan dengan tenang, tanpa bunyi denting rantai di kakinya, namun ia merasa jauh lebih terikat daripada sebelumnya.

​Adrian sudah berdiri di sana, menatap kegelapan hutan di bawah mereka. Saat ia berbalik dan melihat Ghea, matanya memancarkan kekaguman yang nyaris menyerupai pemujaan.

​"Kau sangat cantik malam ini, Ghea," bisik Adrian. Ia melangkah maju, meraih tangan Ghea, dan mencium punggung tangannya dengan khidmat. "Malam ini adalah perayaan. Perayaan untuk kita, dan untuk masa depan yang baru saja kau pilih."

​Ghea memaksakan sebuah senyuman. "Terima kasih, Adrian. Tempat ini... sangat indah."

​Makan malam berlangsung dengan tenang. Adrian menyajikan hidangan laut terbaik dan anggur merah yang harganya mungkin setara dengan gaji satu tahun Ghea sebagai detektif. Adrian terus bercerita tentang rencana mereka setelah pernikahan—tentang pulau pribadi di Pasifik, tentang hidup tanpa kejaran siapa pun.

​Ghea mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan tanggapan manis yang membuat Adrian semakin terbuai. Namun, di dalam otaknya, Ghea sedang menghitung pulsa listrik dari telepon kabel di perpustakaan tadi siang. Ia memikirkan bagaimana caranya kembali ke sana tanpa memicu kecurigaan.

​"Ghea," suara Adrian membuyarkan lamunannya. Pria itu menatapnya dengan binar yang intens. "Aku punya sesuatu untukmu. Sesuatu yang akan menandakan bahwa kau bukan lagi tawanan, melainkan ratu di rumah ini."

​Adrian mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang. Saat ia membukanya, cahaya lilin memantul pada deretan berlian yang disusun sangat rapat, membentuk sebuah kalung yang luar biasa megah. Di tengahnya, terdapat sebuah liontin zamrud besar yang warnanya senada dengan gaun Ghea.

​"Biarkan aku memasangkannya padamu," ujar Adrian.

​Adrian berdiri di belakang Ghea. Saat jemari dingin Adrian menyentuh kulit lehernya, Ghea merasakan desiran ngeri yang biasa ia rasakan saat berada di dekat pemangsa. Namun, saat kalung itu melingkar, Ghea merasakan sesuatu yang aneh.

​Kalung itu berat. Jauh lebih berat dari perhiasan berlian pada umumnya.

​Ghea meraba liontin zamrud itu saat Adrian sudah kembali duduk. Ia merasakan ada sambungan mikro yang sangat halus di balik bingkai logamnya. Sebagai detektif yang sering berurusan dengan alat penyadap dan pelacak, insting Ghea langsung berteriak.

​"Ini... sangat berat, Adrian," ucap Ghea, mencoba terdengar terharu sekaligus bertanya-tanya.

​"Berlian asli memang memiliki bobot, Sayang. Sama seperti cintaku yang tidak ringan," jawab Adrian dengan senyum yang tampak sangat tulus.

​Ghea meraba bagian pengunci kalung itu di tengkuknya. Matanya membelalak saat menyadari bahwa penguncinya tidak menggunakan mekanisme klip biasa. Itu adalah pengunci magnetik-biometrik. Begitu terpasang, hanya sidik jari atau sensor tertentu yang bisa membukanya.

​Ghea tertawa kecil, menutupi rasa mualnya. "Kau tidak ingin aku melepasnya bahkan saat aku tidur, ya?"

​"Aku ingin kau selalu memakainya, Ghea. Di mana pun kau berada," Adrian menyesap anggurnya, menatap Ghea dengan tatapan yang kini terasa sangat posesif. "Dengan kalung itu, aku akan selalu tahu bahwa kau aman. Aku akan selalu bisa menemukanmu, bahkan jika kau mencoba bersembunyi di lubang terkecil di bumi sekalipun."

​Ghea membeku. Konfirmasi itu menghantamnya seperti palu gada. Kalung ini adalah GPS Tracker.

​Bukan sekadar pelacak biasa, kalung ini kemungkinan besar juga memiliki mikrofon tersembunyi. Adrian tidak lagi membutuhkan rantai besi untuk mengikat fisiknya, karena ia telah memasang "rantai digital" yang jauh lebih canggih. Ghea menyadari bahwa percakapannya dengan Bi Inah, atau bahkan usahanya memperbaiki telepon kabel, mungkin akan sangat berisiko mulai sekarang.

​Sial... dia benar-benar licin, batin Ghea.

​"Kenapa diam, Ghea? Kau tidak suka?" tanya Adrian, nadanya sedikit berubah menjadi dingin, menuntut jawaban.

​Ghea segera mengubah ekspresinya menjadi penuh haru. Ia berdiri dan mendekati Adrian, lalu duduk di pangkuan pria itu—sebuah langkah berani untuk mengalihkan kecurigaan. Ia melingkarkan lengannya di leher Adrian, membiarkan kalung berlian itu bersentuhan dengan kulit pria itu.

​"Aku sangat menyukainya, Adrian," bisik Ghea tepat di telinga Adrian. "Hanya saja... aku merasa sangat tidak pantas menerima kemewahan ini setelah semua hal buruk yang kulakukan padamu."

​Adrian memeluk pinggang Ghea erat-hal, menghirup aroma rambutnya. "Kau pantas mendapatkan dunia, Ghea. Selama kau tetap menjadi milikku."

​Ghea menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan di luar balkon. Di balik kemilau berlian di lehernya, Ghea merasa seperti seekor hewan buruan yang baru saja dipasangi kalung identitas sebelum dilepaskan kembali ke alam liar yang terbatas.

​Ia kini memiliki akses ke seluruh villa, ia tidak lagi dirantai, dan ia memiliki izin untuk ke dapur atau perpustakaan. Tapi setiap langkahnya, setiap bisikannya, kini dipantau oleh berlian-berlian dingin ini.

​Kau pikir kau sudah menang karena bisa melacakku, Adrian, desis Ghea dalam hati. Tapi kau lupa satu hal. Seorang detektif tahu bagaimana cara membuat sinyal palsu. Kau memberiku alat pelacak, tapi kau juga memberiku akses untuk lebih dekat dengan jantung pertahananmu.

​Malam itu berakhir dengan Adrian yang menggendong Ghea kembali ke kamar dengan penuh kasih sayang. Namun bagi Ghea, setiap sentuhan Adrian kini terasa seperti duri. Ia berbaring di tempat tidur dengan kalung yang terus terasa berat di lehernya, sebuah beban yang mengingatkannya bahwa permainan ini baru saja memasuki level yang jauh lebih mematikan.

​Besok adalah Minggu ke-6. Ujian loyalitas yang sebenarnya akan dimulai. Adrian akan membawanya keluar dari villa untuk pertama kalinya, dan Ghea harus memutuskan: apakah ia akan mencoba mengirim sinyal lewat GPS ini, atau justru menghancurkannya?

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!