Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klaim tanpa hak
"Elina tidak bisa menjadi CEO!"
Suara itu menggema lantang, kasar, tanpa etika.
Semua kepala menoleh ke satu arah.
Ares berdiri, wajahnya tegang, mata menyala penuh amarah yang tak lagi ia sembunyikan. Ballroom yang semula penuh kilau terasa dingin. Beberapa tamu saling pandang, sebagian terkejut, sebagian lain menahan napas, menyadari bahwa malam yang seharusnya berakhir elegan, baru saja berubah menjadi perang.
"Apa maksud Tuan Ares?" suara Lusi terdengar tegas, memecah keheningan. "Kenapa Anda mengatakan Nona Elina tidak pantas menjadi CEO?"
Ares menatap Lusi dengan sorot mata tajam dan penuh tekanan, seolah sengaja menunjukkan posisinya. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada Elina. "Elina memang tidak pantas menjadi CEO," ucap Ares dingin, lalu suaranya meninggi, lantang dan penuh klaim kekuasaan. "Yang bisa menjadi CEO hanya saya!"
Elina tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat. Ia melangkah kembali ke podium, mengambil mikrofon dengan gerakan santai namun penuh wibawa. Ballroom itu langsung hening, semua mata tertuju padanya.
"Tuan Ares," ucap Elina pelan, nadanya datar namun jelas terdengar ke seluruh ruangan, "jabatan CEO bukan hadiah karena merasa paling layak."
Beberapa direksi mengangguk pelan.
"Dan juga bukan warisan karena merasa paling berhak," lanjutnya, sorot matanya mengunci Ares. "Jika begitu caranya, Anderson Group Internasional tak akan bertahan sampai hari ini."
Wajah Ares mengeras. Maya menunduk, Amelia tampak gelisah, sementara Arman mulai menyadari, ini bukan panggung yang seharusnya mereka ganggu.
Elina menarik napas singkat. "Keputusan ini diambil oleh dewan. Berdasarkan kinerja, integritas, dan rekam jejak."
Ia berhenti sejenak.
"Bukan ambisi pribadi."
Suara bisik-bisik kembali muncul, kali ini bukan mendukung Ares, melainkan mempertanyakan dirinya.
Elina menurunkan mikrofon sedikit, lalu berkata dingin. "Jika Tuan Ares merasa pantas... pintu Evaluasi selalu terbuka."
Senyumnya kembali muncul.
"Tapi bukan dengan cara mempermalukan diri sendiri di depan publik."
Tepuk tangan perlahan terdengar.
Awalnya ragu.
Lalu semakin kuat.
Dan Ares berdiri di tempatnya, bukan sebagai calon CEO, melainkan sebagai pria yang baru saja kehilangan segalanya.
"Apa Tuan Ares bisa menjelaskan alasan mengapa Nona Elina tidak bisa menjadi CEO Anderson Group Internasional?" Lusi kembali angkat bicara. Suaranya terdengar tenang, profesional, namun mengandung tekanan yang sulit diabaikan. "Padahal seluruh karyawan mengetahui dengan jelas bagaimana kinerja Nona Elina selama ini di perusahaan."
Ares menatap tajam Lusi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah para tamu undangan. Dadanya naik turun, rahangnya mengeras, ego dan amarah bercampur jadi satu.
"Saya pantas," ucapnya lantang, berusaha menguasai ruangan yang jelas tak lagi berpihak padanya. "Saya sudah lama bekerja di Anderson Group Internasional. Bertahun-tahun saya habiskan untuk perusahaan ini." Ia menunjuk dirinya sendiri, suaranya meninggi. "Kinerja saya jelas lebih baik dibanding Elina. Saya yang turun langsung menangani proyek-proyek besar, saya yang mengambil keputusan penting saat perusahaan di ujung risiko."
Beberapa tamu saling pandang.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada persetujuan.
Ares melanjutkan, nada suaranya penuh pembelaan diri. "Semua orang di sini tahu seberapa besar kontribusi saya. Jadi wajar jika posisi CEO seharusnya menjadi milik saya."
“Apa hal yang wajar bagi seorang kandidat CEO mengambil dana proyek yang hampir rampung untuk kepentingan pribadinya?” ucap Elina dengan suara dingin dan tajam. Kalimat itu meluncur pelan, namun menghantam keras, membuat seluruh ruangan seketika terdiam. Semua mata tertuju padanya, termasuk Ares.
Deg!
“Apa seorang pemimpin perusahaan pantas mengadu domba karyawan yang tidak bersalah, lalu dengan mudah memblacklist mereka?” lanjut Elina, nada suaranya tetap datar, namun sarat tekanan yang mencekik.
Deg!
Ares mengepalkan tangannya erat-erat. Rahangnya mengeras saat sorot matanya menancap tajam ke arah Elina. Dari mana Elina mengetahui semua itu?
Amelia langsung bangkit dari duduknya, gaun elegannya berdesir pelan. Wajahnya tegang, matanya menyipit tajam ke arah Elina.
“Cukup, Elina,” ucapnya keras, berusaha mengambil alih situasi. “Kamu tidak punya hak melempar tuduhan seperti itu tanpa proses resmi. Ini acara perusahaan, bukan ruang sidang.”
Belum sempat suasana mereda, Arman ikut menyela.
“Kalau memang ada masalah, ada prosedurnya,” katanya dengan nada ditekan, namun jelas terdengar defensif. “Menyudutkan Ares di depan umum hanya akan merusak nama baik perusahaan.”
Maya menggenggam erat tangannya sendiri sebelum akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, tapi ada kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Elina, kamu tahu sendiri bagaimana Ares bekerja,” katanya, menatap Elina seolah memohon. “Dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Kamu hanya… salah paham.”
Namun bisik-bisik justru semakin ramai.
Beberapa tamu mulai mengangkat ponsel.
Beberapa direksi saling bertukar pandang.
Elina menatap mereka bertiga dengan senyum tipis yang sama sekali tak ramah. Tatapannya menyapu Amelia, Arman, lalu berhenti lebih lama pada Maya.
“Kalian bertiga paham apa masalah perusahaan, hah?” ucapnya pelan, namun setiap katanya menghantam keras.
“Apa kalian benar-benar mengerti kenapa Anderson Group hampir kehilangan kepercayaan investor tahun lalu?”
Mereka bertiga terdiam, tak satu pun berani menyela. Keheningan itu justru membuat Elina berdecak pelan, senyum dingin tersungging di bibirnya.
“Tidak, kan?” ucap Elina tajam. “Lebih baik kalian diam!”
“Elina! Jaga ucapanmu. Ingat, mereka itu mertua kamu sendiri!” bentak Ares dengan nada meninggi.
Elina langsung menatap Ares tanpa gentar. Sorot matanya tajam, dingin, sama sekali tak menunjukkan rasa gentar. Albert sempat membuka mulut, hendak bersuara, namun Aurelia dengan cepat menahannya, sebuah isyarat halus bahwa ini adalah urusan putrinya, bukan milik siapa pun yang lain.
“Aku tidak akan pernah lupa hal itu, Mas Ares!” ucap Elina penuh tekanan, tiap katanya seolah menekan dada lawan bicaranya. Lalu pandangannya beralih pada Lusi. “Lusi, putar rekamannya.”
Lusi mengangguk patuh, jemarinya sudah bersiap menjalankan perintah.
Layar besar di belakang podium menyala.
Awalnya hanya suara statis.
Lalu gambar itu muncul.
Rekaman Ares di ruang kerja pribadinya, tangannya menandatangani persetujuan pencairan dana proyek, disusul potongan bukti transfer ke rekening pribadi atas namanya sendiri. Tanggal, nominal, dan kode proyek terpampang jelas.
Ballroom sontak gaduh.
Belum sempat Ares bersuara, rekaman berganti.
Suara Ares terdengar dingin, manipulatif—memerintah salah satu manajer untuk “menyingkirkan” karyawan tertentu, membenturkan divisi satu dengan lainnya, lalu menutup akses mereka ke sistem perusahaan.
Wajah Amelia memucat.
Arman membeku di tempatnya.
Maya menutup mulut, tak percaya.
Satu per satu rekaman diputar. Tak ada dramatisasi. Tak ada editan berlebihan.
Hanya fakta.
Dan keheningan yang menghantam lebih keras daripada teriakan mana pun.
Ares melangkah mundur setapak. “Ini, ini tidak sah!” suaranya meninggi, nyaris panik. “Kalian tidak punya hak—”
Elina mengangkat tangan, menghentikannya tanpa perlu berteriak.
“Rekaman itu sudah diverifikasi,” ucapnya tenang. “Oleh auditor internal. Dan eksternal.” Ia menatap lurus ke arah Ares. “Jauh sebelum malam ini.”
“Jadi, itu yang pantas disebut CEO?” ucap Elina tajam, suaranya tenang namun menghantam keras.
Ares mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras, sorot matanya menajam menatap Elina, sementara wajahnya memerah menahan amarah dan rasa malu yang bercampur jadi satu.
“Elina! Kamu lupa satu hal—” ucapan Ares terhenti di tengah kalimat, sengaja digantung. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan, membuat para tamu menahan napas, menunggu kelanjutan katanya.
Tatapan Ares menyapu seisi ruangan, penuh keyakinan yang nyaris sombong.
“Perusahaan Anderson Group Internasional sudah menjadi milik saya!”