persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Tentang Wajah Baru dan Permintaan Maaf yang Terlambat
Senin pagi ini, sekolah tidak lagi terasa seperti medan perang. Aromanya lebih mirip seperti sebuah ruangan yang baru saja disapu bersih, tapi debunya masih ada yang tertinggal di pojok-pojok lemari. Saya berjalan masuk lewat koridor utama, tidak lagi menunduk, tidak lagi menghindar. Di tangan saya ada tas yang isinya buku Astronomi dan sisa gorengan pemberian Bangka sabtu kemarin yang sengaja saya bawa untuk burung-burung di belakang sekolah.
Saat saya melewati mading, langkah saya terhenti. Papan yang kemarin sangat megah itu kini tampak sedikit berantakan. Beberapa ornamennya lepas, dan rubrik Suara Hati yang fenomenal itu tampak kosong. Arkan berdiri di sana sendirian, tanpa Kayla. Dia sedang mencoba menempelkan kembali hiasan yang jatuh, tapi tangannya tampak kikuk.
"Bumi, panggilnya pelan."
Saya berhenti, menoleh ke arahnya. Arkan tidak memakai jaket kulitnya. Dia memakai seragam dengan rapi, tapi kancing paling atasnya terbuka, wajahnya tampak kuyu. Tidak ada senyum kemenangan, yang ada hanya raut wajah orang yang baru saja menyadari bahwa dia sudah kalah oleh dirinya sendiri.
"Ada apa, Kan? Ban motor siapa lagi yang mau kamu sayat hari ini?" tanya saya tenang, sambil merapatkan tas di bahu.
Arkan menghela napas panjang, dia menjatuhkan gulungan kertas di tangannya. "Saya... saya minta maaf soal motor kamu. Saya sudah kirim uang lewat Kayla, tapi dia bilang kamu tidak mau terima secara langsung."
"Maaf itu gratis, Kan. Tapi kepercayaan itu harganya mahal sekali. Dan uang tidak bisa beli itu," jawab saya.
"Kayla menjauh dari saya, Bumi. Sejak kejadian di parkiran itu, dia tidak mau bicara sama sekali. Dia bilang saya merusak hal terindah dalam hidupnya, yaitu persahabatan kalian," Arkan menatap lantai lobi dengan tatapan kosong. "Saya pikir kalau saya menang, dia akan bangga. Ternyata saya salah."
Saya menatap Arkan. Ada rasa kasihan yang terselip di hati saya, tapi bukan rasa ingin memaafkan. "Menang itu bukan soal menjatuhkan orang lain, Kan. Menang itu soal bagaimana kamu bisa berdiri tegak tanpa harus bikin orang lain merangkak. Kamu punya segalanya, tapi kamu tidak punya hati buat menjaganya."
Saya melangkah pergi. Saya tidak peduli lagi apakah Arkan akan berubah atau tidak. Bagi saya, dia hanyalah sebuah pelajaran tentang bagaimana cara tidak menjadi manusia yang haus akan pengakuan.
Di kelas, suasana sangat tenang. Kayla duduk di bangkunya, dia memakai headphone, matanya menatap ke luar jendela. Dia tidak lagi tertawa, dia tidak lagi sibuk dengan mading. Dia seperti sebuah planet yang kehilangan orbitnya dan sekarang sedang melayang bebas di ruang hampa.
Senja masuk ke kelas membawa sebuah bunga kecil yang dia ambil dari taman sekolah. Dia meletakkannya di meja saya tanpa suara, hanya sebuah senyum kecil yang sangat menenangkan.
"Terima kasih, Senja," bisik saya.
"Bumi, ada yang cari kamu di depan," kata Senja sambil menunjuk ke arah pintu.
Saya keluar, dan di sana berdiri Dara. Dia membawa sebuah teropong bintang yang lebih besar dari biasanya.
"Malam ini akan ada hujan meteor Lyrid, Bumi. Di bukit utara, jam delapan malam. Kamu, saya, dan Senja. Jangan telat, atau kamu akan melewatkan saat-saat semesta membuang sampahnya dengan cara yang sangat indah," kata Dara datar.
"Kenapa mengajak saya, Dara?"
"Karena kamu butuh melihat bahwa kehancuran itu bisa jadi sangat indah kalau dilihat dari jarak yang tepat. Sama seperti kehancuran mading Arkan," jawab Dara, lalu pergi begitu saja.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa permintaan maaf seringkali datang saat semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki. Tapi tidak apa-apa, karena dengan begitu, saya tahu bahwa hidup saya sudah bergerak maju. Arkan mungkin sedang meratapi kekalahannya, tapi saya sedang bersiap untuk melihat hujan meteor bersama teman-teman yang tidak pernah meminta saya menjadi orang lain.