NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. The Road Home That Isn't Lonely

Wilayah Utara, Perbatasan Blackwood

Kereta Blackwood melaju menembus jalan berbatu yang dibingkai hutan pinus tinggi. Kabut pagi perlahan memudar, berganti udara dingin khas wilayah utara.

Anthenia duduk tenang di dalam kereta, punggungnya bersandar pada dinding kayu berlapis besi tipis. Di hadapannya, Duke Kaelen Blackwood menatap peta terbuka.

“Dua jam lagi kita memasuki wilayah kita,” ucapnya tanpa menoleh. “Begitu melewati jembatan Sungai Eiryn, semua pasukan berada di bawah komando langsung Blackwood.”

Anthenia mengangguk. “Pergerakan kita diawasi.”

Kaelen menatapnya tajam. “Kau merasakannya juga.”

“Bukan perasaan,” jawab Anthenia datar. “Ini pola. Terlalu tenang.”

Kereta berguncang ringan ketika memasuki jalan hutan yang lebih sempit. Derap kuda pengawal terdengar teratur—empat di depan, empat di belakang.

Lalu—

crak.

Suara ranting patah.

Kaelen mengangkat tangan. Kereta berhenti mendadak.

“Formasi,” perintahnya singkat.

Para ksatria Blackwood turun, membentuk lingkar pelindung. Hutan sunyi, terlalu sunyi.

Anthenia membuka pintu kereta sebelum ayahnya sempat melarang.

“Jangan,” Kaelen memperingatkan.

“Ayah,” Anthenia menatapnya tenang, “jika mereka memang datang untukku, aku lebih berguna di luar.”

Kaelen mengertakkan gigi, lalu memberi isyarat singkat. “Tetap di belakangku.”

Anthenia melangkah turun.

Tangannya meraih pedang ringan Blackwood—bukan senjata upacara, melainkan baja tempur sungguhan.

Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan.

Panah pertama melesat.

Anthenia mencondongkan tubuh, bilah pedangnya menyentuh ujung anak panah, membelokkannya ke tanah.

Para ksatria terkejut.

“Kontak!” teriak salah satu pengawal.

Tiga sosok bertopeng melompat keluar, senjata terhunus.

“Bukan bandit,” gumam Kaelen. “Langkah mereka terlatih.”

Anthenia bergerak.

Tidak ada teriakan. Tidak ada keraguan.

Langkah menyamping—tebasan pendek—pergelangan tangan lawan terpelintir. Pedang jatuh. Pukulan siku menyusul, cepat dan presisi.

Satu musuh tumbang.

Ksatria Blackwood menyerbu, bentrokan singkat namun brutal.

Salah satu penyerang mencoba memutari Kaelen—

Anthenia berbalik, menancapkan bilahnya ke tanah untuk berhenti mendadak, lalu menyabet rendah.

Musuh kedua roboh, napasnya terputus.

Yang ketiga mundur, terkejut melihat gadis yang seharusnya rapuh berdiri tanpa goyah.

Ia melempar pisau—

Kaelen menepisnya, lalu menghantam penyerang itu dengan gagang pedang.

Hening kembali menyelimuti hutan.

Darah menodai salju tipis di tanah.

Kaelen menatap putrinya lama. Sangat lama.

“Sejak kapan,” suaranya berat, nyaris tak percaya,

“kau bisa bertarung seperti itu?”

Anthenia menghapus darah di bilah pedangnya. “Sejak aku belajar bahwa ragu-ragu membunuh lebih banyak orang daripada pedang.”

Kaelen menarik napas dalam-dalam.

“Araluen mengubahmu.”

“Tidak,” jawab Anthenia tenang. “Ia hanya membangunkanku.”

Seorang ksatria mendekat. “Tuan Duke, salah satu dari mereka membawa segel lilin yang pecah.”

Kaelen menerimanya.

Segel itu… Valerius.

Tatapan Kaelen mengeras.

“Kereta bergerak,” perintahnya. “Kita masuk wilayah Blackwood sekarang.”

Saat kereta kembali melaju, Anthenia duduk kembali ke dalam, jantungnya stabil, pikirannya tajam.

Di kejauhan, menara batu Kediaman Blackwood mulai terlihat—gelap, kokoh, dan tak tergoyahkan.

Ia menatapnya tanpa gentar.

Jika Araluen adalah papan catur, pikirnya,

maka Blackwood adalah benteng.

Dan kali ini—

ia bermain di rumah sendiri.

....

Kediaman Duke Blackwood

Gerbang besi hitam terbuka perlahan.

Benteng Blackwood menjulang di hadapan mereka—dinding batu gelap, menara tinggi, dan bendera hitam berlogo serigala perak berkibar tegas. Udara di wilayah ini selalu dingin, seolah menguji siapa pun yang berani masuk.

Kereta berhenti di halaman dalam.

Para ksatria Blackwood sudah berbaris rapi, menundukkan kepala saat Duke Kaelen turun. Namun—beberapa pasang mata berhenti pada Anthenia, menatap lebih lama dari biasanya.

Bukan tatapan meremehkan.

Melainkan penasaran.

“Selamat datang kembali, Tuan Duke,” ucap Sir Aldric, kapten ksatria Blackwood, pria paruh baya dengan bekas luka panjang di wajah. “Kami menerima kabar kedatangan Anda lebih cepat.”

“Dan kau tetap bersiap,” jawab Kaelen singkat. “Bagus.”

Tatapan Aldric beralih pada Anthenia. “Nona Anthenia.”

Anthenia mengangguk ringan. “Sir Aldric.”

Nada itu membuat beberapa ksatria saling melirik—tenang, tidak canggung, seolah ia terbiasa memberi perintah.

Kaelen menangkap itu.

“Bawa para penyerang tadi ke ruang interogasi,” perintahnya. “Hidup atau mati, aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka.”

“Siap.”

Di dalam aula utama Blackwood, api perapian menyala besar. Bau kayu pinus terbakar memenuhi udara.

Kaelen melepas mantel perangnya dan berbalik menatap putrinya.

“Kau tidak terluka?”

“Tidak,” jawab Anthenia.

Kaelen diam sejenak. Lalu—untuk pertama kalinya sejak mereka pulang—ia menunduk sedikit.

“Terima kasih,” katanya pelan. “Kau menyelamatkan pengawalku.”

Anthenia terkejut sesaat. “Ayah tidak perlu—”

“Aku perlu,” potong Kaelen tegas. “Sebagai Duke. Dan sebagai ayah.”

Keheningan menggantung di antara mereka.

“Aku sudah lama curiga,” lanjut Kaelen, “kau berubah. Tapi hari ini… aku melihatnya dengan jelas.”

Anthenia menatap api. “Aku masih Anthenia.”

Kaelen menggeleng. “Tidak sepenuhnya.”

Ia mendekat satu langkah. “Dan aku tidak akan memaksamu menjelaskan. Tapi mulai hari ini—”

Kaelen menoleh ke arah aula yang luas.

“—kau bukan hanya putriku. Kau adalah Blackwood.”

Pernyataan itu berat.

Anthenia menarik napas perlahan. “Aku tidak akan mempermalukan nama itu.”

Kaelen tersenyum tipis. “Aku justru takut kau akan membuatnya ditakuti.”

Di ruang interogasi bawah tanah, jeritan tertahan terdengar.

Sir Aldric kembali dengan wajah serius.

“Tuan Duke. Mereka berbicara.”

Kaelen menoleh tajam. “Siapa?”

“Perantara dari ibu kota,” jawab Aldric. “Bayaran dikirim lewat jalur Valerius—namun perintahnya samar.”

Kaelen mengepalkan tangan. “Mereka ingin menyangkal keterlibatan.”

Anthenia berdiri. “Artinya ini peringatan.”

“Untuk apa?” tanya Kaelen.

“Untuk memberitahu,” jawab Anthenia dingin,

“bahwa meski aku pulang, jangkauan mereka masih panjang.”

Kaelen menatap putrinya lama, lalu tertawa pendek—tanpa humor.

“Kalau begitu,” katanya, “kita balas dengan cara Blackwood.”

Malam turun di wilayah utara.

Dari menara tertinggi Blackwood, Anthenia memandangi wilayahnya sendiri—hutan, gunung, dan jalan-jalan yang pernah ia lalui sebagai gadis penakut.

Sekarang—

ia melihatnya sebagai medan pertahanan.

Dan jauh di selatan, di Istana Araluen, sebuah langkah kecil sedang disiapkan—tidak menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan serigala di sarangnya.

Benteng Blackwood, Ruang Perang

Meja batu besar dipenuhi peta wilayah utara.

Lilin-lilin menyala, bayangannya menari di dinding kasar. Duke Kaelen berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu pada peta, sementara para perwira Blackwood berkumpul mengelilinginya.

Sir Aldric.

Komandan Rhea dari menara timur.

Dan beberapa kepala pengawal veteran.

Anthenia berdiri di sisi ayahnya—tidak di belakang.

“Serangan tadi bukan kebetulan,” ujar Kaelen. “Itu pesan.”

“Valerius ingin menunjukkan bahwa jangkauan mereka menembus wilayah kita,” kata Komandan Rhea.

Anthenia menggeleng. “Tidak.”

Semua mata beralih padanya.

“Mereka ingin kita bereaksi berlebihan,” lanjutnya tenang. “Jika Blackwood bergerak terbuka, istana akan menyebut kita agresor.”

Sir Aldric mengangguk perlahan. “Masuk akal.”

Kaelen menoleh pada putrinya. “Lalu menurutmu?”

Anthenia menunjuk jalur pegunungan di peta. “Kita perketat jalur suplai. Tanpa menyentuh nama Valerius. Gunakan alasan keamanan wilayah.”

“Halus,” gumam Rhea.

“Dan kirim kabar palsu,” tambah Anthenia. “Biarkan mereka percaya aku tertekan. Takut. Bersembunyi.”

Beberapa perwira saling pandang.

Kaelen tersenyum tipis. “Umpan.”

“Ya,” jawab Anthenia. “Dan saat mereka mendekat… kita pilih medan.”

Keheningan berubah.

Bukan ragu—melainkan pengakuan.

“Laksanakan,” kata Kaelen singkat.

Keesokan paginya, wilayah Blackwood bergerak.

Patroli diperketat.

Pos-pos kecil diaktifkan kembali.

Pedagang dari selatan diperiksa lebih teliti.

Namun yang mengejutkan—

rakyat Blackwood tenang.

“Putri Duke sudah kembali,” bisik mereka.

“Yang mengusir penyerang di hutan.”

“Yang berdiri sejajar dengan Duke.”

Nama Anthenia menyebar—bukan sebagai calon permaisuri,

melainkan sebagai pewaris Blackwood.

Di halaman latihan, Anthenia berlatih sendiri.

Bilah pedangnya bergerak efisien—tidak indah, tapi tepat. Nafasnya stabil, langkahnya senyap.

Sir Aldric mengamati dari jauh.

“Dia bertarung seperti prajurit berpengalaman,” gumamnya.

Kaelen berdiri di sampingnya. “Dia berpikir seperti komandan.”

“Apakah itu mengganggumu, Tuan Duke?”

Kaelen terdiam sejenak. “Sebagai ayah—ya. Sebagai Duke—itu anugerah.”

Menjelang senja, seekor elang hitam mendarat di menara barat.

Surat bersegel Aurelius.

Kaelen membukanya, membaca singkat, lalu menyerahkannya pada Anthenia.

Dari William.

Wilayah Blackwood dilaporkan aman.

Pergerakan Valerius terpantau—namun belum berani terbuka.

Aku tidak akan ikut campur kecuali diminta.

Tapi ingat: Araluen memperhatikan.

Anthenia melipat surat itu.

“Dia menahan diri,” kata Kaelen.

“Karena dia menghormatiku,” jawab Anthenia. “Atau karena dia menunggu.”

Kaelen menatap langit utara yang gelap. “Dalam politik… itu sering sama.”

Di selatan, di sebuah rumah peristirahatan Valerius—

“Heilen.”

Alistair berdiri di depan jendela, wajahnya gelap.

“Blackwood tidak bereaksi seperti yang kita harapkan.”

Heilen tersenyum tipis. “Tentu saja tidak.”

“Kita kehilangan kendali?”

“Tidak,” jawab Heilen pelan. “Kita baru saja memastikan satu hal.”

Alistair menoleh. “Apa?”

“Bahwa Anthenia Blackwood… bukan sekadar pelindung,” katanya dingin.

“Dia akan menjadi pusat.”

Malam turun di wilayah Blackwood.

Dan untuk pertama kalinya,

bukan Araluen yang menjadi pusat permainan—

melainkan benteng hitam di utara

yang bersiap menggigit balik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!