"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minyak Kukang
..."Aroma Surga, Ritual Neraka: Sekali Oles, Pria Sujud di Kaki, Jiwa Terhisap Mati."...
......................
Syifa gemetar. Setiap kata yang keluar dari mulut nenek itu bergetar di dalam dadanya, bukan di telinganya.
“Kau siapa, Nek?”
“Panggil aku Lamiang. Aku yang memegang kunci pemutus Sali,” bisik wanita itu. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kusam dari balik kemben kainnya yang bermotif kuno. Di dalamnya, ada cairan keemasan kental yang bergerak-gerak seperti jantung yang berdenyut. “Sali hanya bisa diputuskan dengan Karas. Minyak ini akan membuatmu menjadi ratu di tengah kubangan kotoran. Aromanya akan membuat pria-pria itu rela merobek dada mereka sendiri demi kau.”
Syifa menatap botol itu dengan tatapan lapar. Ia butuh kekuatan untuk menghancurkan Mami Maya dan melunasi segala kehinaan ini.
“Ini Minyak Kukang asli dari jantung Kalimantan,” suara Lamiang memberat, berubah menjadi serak dan parau, seperti suara dua batu yang bergesekan. “Tapi ingat, ini bukan sekadar pemikat. Ini perjanjian. Jangan pernah jatuh cinta, dan jangan pernah melewati malam ketujuh. Karena di malam ketujuh, Kukang akan datang menagih haknya. Pria yang kau dekap akan menjadi bangkai, jiwanya akan diisap sampai kering sebagai persembahan.”
Syifa merasakan bulu kuduknya berdiri, namun rasa dendamnya lebih tajam dari rasa takutnya. “Berikan padaku, Nek. Aku tidak peduli siapa yang mati!”
Lamiang tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang teramat putih, terlalu sempurna untuk wanita setua itu. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berputar hebat, membawa aroma anyir darah yang menyengat. Syifa terpaksa memejamkan mata karena debu yang masuk ke kelopak matanya.
Hanya sedetik.
Saat Syifa membuka mata, Lamiang sudah tidak ada. Trotoar itu kosong melompong. Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh, tidak ada lambaian kain. Namun, di telapak tangan kanan Syifa, botol kecil itu terasa panas membara, seolah-olah cairan di dalamnya sedang meronta ingin segera dioleskan ke kulit.
Gadis itu berdiri perlahan di tengah kegelapan pagi yang masih buta, memegang senjata mistis yang akan mengubah nasibnya menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penjual tubuh.
Syifa menatap botol kecil di genggamannya dengan napas memburu. Cairan keemasan di dalamnya seolah bergejolak, dan sebuah suara halus—seperti gesekan silet pada sutra—merayap masuk ke gendang telinganya.
"Oles aku, Cu... rasakan aji pemikatku. Biarkan mereka sujud di kakimu..."
Syifa bergidik. Namun, sebelum ia sempat mencerna kengerian itu, sebuah deru mesin mobil yang berat membelah sunyi pagi buta. Lampu sorot putih menyambar wajahnya, membutakan pandangan. Pintu mobil bergeser dengan suara kasar, dan dari dalamnya muncul sosok bengis yang menjadi mimpi buruknya.
"KAU PIKIR JAKARTA CUKUP LUAS UNTUK KAU SEMBUNYI?!"
Mami Maya menerjang bak harimau lapar. Tanpa ampun, ia menjambak rambut Syifa hingga kepala gadis itu terdongak paksa. Rasa perih di telapak kaki Syifa yang luka akibat beling seolah tak ada artinya dibanding cengkeraman kuku Maya yang menancap di kulit kepalanya.
Dalam sekejap mata yang penuh kekerasan, Syifa sudah terseret kembali ke kamar standar nomor 04 yang pengap. Raksasa "tronton" yang tadi menunggunya ternyata sudah dipuaskan oleh wanita lain, menyisakan bau keringat yang lebih menyengat di ruangan itu.
Subuh ini, ia dibiarkan bernapas sejenak, namun dengan bayaran yang jauh lebih mahal dari sekadar tenaga. Syifa bersimpuh di lantai, memeluk kaki Mami Maya yang berbalut sepatu hak tinggi.
"Aku mohon, Mi... sekali lagi. Syifa janji bakal dapat pelanggan VIP. Syifa bakal lunasi semua hutang. Tolong, jangan telepon orang tua Syifa..." rintihnya dengan air mata yang sudah mengering.
Mami Maya mendengus, ia menurunkan ponsel buntut milik Syifa yang tadinya sudah siap memanggil nomor ayahnya di kampung. Ia melempar ponsel butut itu ke arah ranjang seolah melempar sampah.
"Kau beruntung aku masih butuh tenaga kau," desis Maya. Ia kemudian merogoh saku tas kulit buayanya, mengeluarkan sebuah ponsel canggih dengan layar jernih.
Maya mengarahkan layar itu tepat di depan mata Syifa. Jantung Syifa seolah berhenti berdetak. Di sana, berderet foto-foto dirinya dalam keadaan telanjang bulat, dengan berbagai pose bersama pria-pria asing yang berbeda setiap malamnya. Bukti-bukti itu tersusun rapi, siap menjadi peluru yang menghancurkan seluruh hidupnya di kampung.
Mami Maya mendekatkan wajahnya, matanya berkilat penuh ancaman yang nyata. "Kau harus tahu, Syifa. Kalau sampai aku kirim foto-foto ini ke bapakmu... mungkin bukan cuma ibumu yang mati kena serangan jantung. Bapakmu, adikmu, semuanya bakal masuk neraka karena rasa malu. Mereka bakal dikucilkan, dihina, dan mati pelan-pelan karena ulah kau!"
Syifa mematung. Dunia di sekitarnya seolah runtuh. Ancaman itu adalah pecut yang jauh lebih menyakitkan daripada jambakan rambut. Ia merasa terpojok di sudut gelap takdir yang tak punya pintu keluar.
Namun, di dalam kepalan tangannya yang tersembunyi di balik daster, ia merasakan botol Minyak Kukang itu mendadak menjadi hangat. Suara Lamiang kembali berbisik, kali ini lebih keras dan penuh godaan.
"Oleskan sekarang... balaskan dendammu. Jadikan dia budakmu!"
Syifa bersimpuh, mencengkeram kaki Mami Maya dengan sisa keberaniannya. "Mami, masukkan aku ke dalam aquarium. Biarkan aku di sana malam ini saja. Syifa mau dapat tamu VIP. Syifa mau 1 kesempatan."
Mami Maya meludah ke samping, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang sangat kental. Meletakkan Syifa di dalam aquarium—ruang kaca mewah tempat gadis-gadis kelas atas dipajang dengan gaun berkilauan untuk dipilih pengusaha dan pejabat—baginya adalah sebuah penghinaan terhadap bisnisnya sendiri.
"Kau?! Masuk aquarium?!" Maya tertawa melengking, suara yang lebih tajam dari silet. "Tamu ecek-ecek saja bilang 'anu-mu' becek! Lihat badanmu, wajahmu kusam begitu. Kau mau saingan dengan barbie-barbieku yang lain? Dukun Afrika pun tidak sanggup kasih kamu aji pamungkas. Nasib buruk itu sudah terlalu dalam, sialmu itu busuk!"
"Janji, Mi. Satu kali kesempatan saja. Tolonglah, mi. Sekali ini aja. Ijinkan, Syifa masuk aquarium. Kalau gagal, Syifa rela diobral lagi malam berikutnya," tantang Syifa dengan mata berkilat putus asa.
"Obral ramai-ramai! Harga sewa habis pakai seharga rokok!" Maya menuding wajah Syifa. "Kalau kau cuma buang-buang waktu di aquarium dan tak ada pria yang mau 'menangkap ikan' sepertimu, aku pastikan kau jadi keset kaki semua orang di sini!"
Syifa mengangguk mantap. Ia akan membuktikan khasiat Minyak Kukang.
Setelah Maya pergi, Syifa mengunci pintu. Ia memejamkan mata, mengumpulkan seluruh tenaga dari tidurnya yang singkat. Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, lalu melepas seluruh pakaiannya di depan cermin retak itu.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup botol Minyak Kukang. Aroma mistis yang pekat langsung memenuhi ruangan. Ia mulai mengoleskannya: dari kening, bibir, payudara, hingga ke pusat kewanitaannya yang paling dalam.
Tiba-tiba, keajaiban mengerikan itu terjadi.
"AAAGHHH!"
Syifa menjerit tertahan, mencengkeram pinggiran meja rias. Rasanya bukan seperti memakai minyak, tapi seperti disiram logam cair yang mendidih. Ia merasa setiap sendi di tubuhnya seolah dipatahkan paksa dan disusun kembali. Tulang-tulangnya berderak gila, otot-ototnya ditarik, dan kulitnya terasa seperti dikelupas lalu diganti dengan sutra yang halus.
Tubuhnya membara. Panas yang luar biasa merambat dari jantung ke seluruh pori-porinya. Ia berguling di lantai, mengerang dalam kesakitan yang ganjil namun terasa nikmat di saat yang bersamaan. Di tengah siksaan itu, ia melihat pantulannya di cermin mulai berubah—bayangan hitam Sali yang selama ini menutupinya luruh seperti daki, digantikan oleh cahaya merah yang memikat dan mematikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba