NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertukaran

Terlalu banyak konspirasi dan terlalu banyak pengkhianatan. Aku hanya tahu satu kebenaran yang tidak bisa dibantah:

ibuku tersiksa, pikir Yohan.

Ia berjalan tanpa ragu, kecepatan langkahnya selaras dengan detak jantung Patung Pusaka Batu yang tergantung di punggungnya. Pusaka terasa sedingin dan seberat keadilan yang baru ia peroleh.

Hutan perbatasan Yalimo menyambutnya, bau kamboja dan lumut yang familiar kini terasa seperti rumah, bukan ancaman. Semenjak ia meninggalkan mentalitas perkotaan, Yalimo tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi. Kini, dia secara sukarela membuang pintu kembali itu. Ini adalah Pertukaran Jiwa Total.

Beberapa saat sebelum subuh, Yohan tiba di tempat yang Yosef lukis. Tempat Ibunya dikorbankan.

Yohan berhenti sepuluh meter dari batu itu, melepas ranselnya dengan perlahan, membiarkan Patung Pusaka Batu jatuh ke tanah dengan dentuman lembut. Ia mengeluarkan Jimat Tulang dari Ina (Kunci) dan buku jurnal Yosef dari saku jaketnya.

“Aku sudah sampai, Bu,” bisik Yohan ke udara. Udara terasa tipis, dipenuhi harapan dan keputusasaan yang melankolis.

Sekelebat bayangan material bergerak cepat. Kabut tebal muncul dari sekitar Batu Persembahan, bukan kabut pagi, melainkan energi murni yang dingin dan menekan.

Sosok Sumiati termaterialisasi, Ia mengenakan kain lusuh, rambut hitam panjangnya tergerai menutupi wajah pucat. Matanya merah, tetapi sekarang memancarkan rasa terima kasih yang diselimuti kemarahan terpendam—kemarahan pada takdir, bukan pada Yohan.

“Anakku, jangan,” suara roh itu beresonansi, bukan hanya di telinga Yohan, tetapi di tulangnya.

“Mereka tidak bisa membunuhku lagi secara moral, Bu. Aku sudah melihat kebenaran,” balas Yohan, bergetar tetapi tegas. Kau mengira ikatan ini membebaskan Ayah. Tapi Kau tahu, Ayah diikat paksa melalui kesempurnaan. Dan ikatan ini menyiksamu karena ketidaksempurnaanku di masa lalu. Aku akan melepaskan segalanya, dan Kau, dengan kebenaran bahwa Kaulah korbanku, akan bebas.

Yohan membuka halaman yang ia bakar, paspor, kartu identitas bisnis, kartu kredit platinum. Semua simbol dunia lamanya tergeletak di sehelai kain, siap dikorbankan.

“Ini, Pusaka dan Janji. Pertukaran Jiwa. Aku tidak akan memiliki paspor atau kartu identitas ini lagi,” Yohan mengambil kayu bakar yang sudah ia siapkan, mengambil api dengan pemantik kecilnya.

“Aku bukan lagi Yohan dari kota, yang mencari pelarian. Aku Pewaris sejati Yalimo.”

Roh Sumiati melangkah mendekat, matanya memancarkan gelombang kesedihan yang brutal ke dada Yohan. Kamu akan terikat di sini, seperti Aku. Jangan. Kembalilah. Jalani kehidupanmu.

“Jika Kau tetap terikat oleh kehendak egois Ayah, Aku tidak akan pernah bebas, Bu,” Yohan menjawab, matanya membalas tatapan itu, tulus.

Api menyala dengan keras, asapnya menjulang tebal ke langit. Saat identitasnya terbakar, roh Sumiati memekik mental. Ini adalah ujian terakhir dari kebenaran hati Yohan—apakah pengorbanannya tulus?

Sumiati menggunakan kekuatannya. Yohan terdorong ke belakang oleh ledakan energi spiritual. Ia terjatuh, pandangannya diserbu ilusi memori menyakitkan: ia melihat dirinya dikorbankan oleh ambisi bisnis ayahnya, lalu rohnya tersiksa melihat Ayahnya berlutut menangis tanpa henti.

“Ini bohong, Bu!” teriak Yohan, mendorong ilusi itu dengan segenap kekuatan fokusnya yang dilatih Ina. Aku mengampuni Ayah atas fanatismenya! Dan Aku memilih warisan ini dengan niat yang utuh, berbeda dari janji darah yang diukir Ayah untukmu!

Ia kembali mendekat ke api. Asap membubung semakin tinggi. Kartu-kartu plastik meleleh, paspor hitam itu melengkung dimakan api.

Sumiati melihat wajah Yohan yang sekarang terpancar keringat dingin—bukan takut, melainkan tekad murni. Rohnya melunak sedikit. Jerit mentalnya berhenti.

Saat Yohan hendak mengucapkan doa terakhir ritual 'Pertukaran' dari Jurnal Ayahnya—nyanyian Yalimo yang dia pelajari dari Ina—sepasang kaki tiba-tiba menendang bebatuan di ambang Batu Persembahan.

“BERHENTI! JANGAN SENTUH ITU, YOHAN!”

Marta, diikuti dua sesepuh yang wajahnya masih tercetak dalam sketsa Yosef (Bude, Jiro), datang menyerbu dari semak-semak hutan. Mereka mengayunkan tongkat besar dan obor kecil yang menyala-nyala.

“Kubilang kau akan menyesal!” teriak Marta.

“Kau sudah mengganggu ketenangan Gede! Kau kunci orang sakit! Pusaka itu akan membinasakan kita semua!”

Roh Sumiati segera berpindah posisi, kini berdiri seperti penjaga spiritual antara Yohan dan konspirator manusia.

“Dia telah berjanji,” bisik Sumiati, suara roh itu membuat Marta berhenti seketika. Sumiati menatap Marta dengan kebencian, mengingat peran wanita ini dalam pembunuhan suaminya.

“Roh yang kotor! Minggir! Dia telah merusak Pertukaran! Dia akan melepaskan Kutukan Purba Yalimo yang ditahan Pusaka!” bentak Marta. Jelas mereka juga sangat takut pada entitas Kutukan Primordial.

“Tidak! Ini adalah janji yang murni!” seru Yohan, meraih Jimat Tulang Ina, yang segera memanas dalam genggamannya.

“Kutukan purba ada di Pusaka, dan Janji Darah Yosef mengunci ibuku. Aku melepaskan keduanya agar Pusaka murni dari ambisi politik busuk kalian!”

Yohan meletakkan Jimat Tulang Ina tepat di samping api yang melalap paspor. Kekuatan Jimat, yang melambangkan keutuhan hati Yohan yang baru, berpadu dengan asap pengorbanan dirinya.

Marta meraung dan memerintahkan sesepuh di belakangnya, Jiro! Ambil apinya! Kita hancurkan persembahannya sebelum dia menyentuh Pusaka!

Saat Jiro dan Bude menerjang, Roh Sumiati, yang berdiri persis di antara Yohan dan serangan, membalas dengan amarah yang meluap-luap. Roh itu tidak lagi berisik, tidak lagi melankolis, tetapi merupakan Perisai Hidup yang membela putranya. Jimat Tulang Ina yang Yohan letakkan seolah memancar balik, mengalirkan energi spiritual Yohan kepada ibunya.

Roh Sumiati mengeluarkan aura ungu kehitaman. Suara mendesis menusuk terdengar, seolah udara direndam dalam belerang dan keputusasaan lama.

Marta dan dua sesepuh itu segera terpental mundur, tersungkur ke tanah. Tangan mereka menyentuh wajah mereka sendiri. Roh Sumiati menyerang fisik dan mental. Rasa sakit dan kegilaan yang dulu dirasakan roh itu, kini direplikasi sempurna ke tubuh manusia yang menyiksanya.

“Aaahh! Sakit! Yohan! Roh Ibumu melukaimu!” teriak Jiro, memegang lengannya seolah dipotong belati. Wajahnya mengerut, air mata keluar tak terkendali.

“Dia tidak melukaiku! Dia melindungiku!” teriak Yohan, merasakan Jimat Tulang di sampingnya berdenyut. Jimat itu mengizinkan roh Sumiati beroperasi dengan otoritas. Sumiati, yang kini menyetujui Pertukaran Jiwa Total, memimpin Pertahanan Fisik.

“Sumiati! Aku akan menuntaskan tugas terakhir Ayah! Lepaskan kehendak lama Yosef, agar Kau bebas dan Pusaka ini bersih dari pengkhianatan Marta!” teriak Yohan ke Pusaka Batu di kakinya.

Yohan, tanpa mempedulikan teriakan Jiro dan Marta yang tersiksa, berlutut, mengambil Patung Pusaka Batu itu ke dalam genggamannya, dan memosisikannya agar Pusaka, Jimat Ina, dan api persembahannya berada dalam satu garis spiritual.

Marta berusaha bangkit, matanya panik melihat Yohan memegang Kunci dan Taruhan secara bersamaan.

“Tidak! Kau tidak bisa mengambil Pusaka! Aku yang berhak!” Marta merangkak, meraih tongkat. Ia melihat Pusaka Batu itu sebagai objek kekayaan murni.

Marta menjerit nyaring, histeris, menyalahkan dirinya sendiri dan sesepuh. Air kencing hangat merembes dari kain Marta. Dia kalah total, dilumpuhkan oleh korban pembunuhan yang dia sembunyikan.

Yohan menutup mata, berkonsentrasi. Lagu Purba Yalimo yang diajarkan Ina mengalir keluar dari mulutnya—nada-nada resonan yang berbicara tentang kelahiran, ikatan, dan pelepasan. Tangannya menggenggam Jimat Tulang di atas api persembahan, lalu menempelkan Jimat itu tepat di permukaan dingin Patung Pusaka.

Seketika itu juga, Patung Pusaka bersinar, bukan cahaya lembut yang dia bayangkan, melainkan cahaya biru gelap yang menusuk mata, seolah-olah memancarkan radiasi purba. Cahaya ini melahap Pusaka Batu. Semua memori ikatan tentang obsesi Yosef dan kesakitan Sumiati terkonsentrasi menjadi satu titik.

“AKU MEMPERTAHANkannya! JANGAN SENTUH!!!” Suara Yosef—suara suaminya yang telah mati—menggema keras di sekitar Batu Persembahan, bukan sebagai roh, tetapi sebagai energi murni dari janji yang terikat.

Sumiati dan Yohan merespons bersamaan.

“Aku sudah mengampuni niatmu, Suamiku!” jerit Sumiati. Aku membebaskan diriku dari tugasmu yang kejam! Anakkulah Penjaga sejati!

“Ayah! Bebaskan kami! Pertukaran Jiwaku murni! Ini yang akan melindungi Yalimo selamanya! Bukan paksaanmu!” teriak Yohan, seluruh dirinya menekan Jimat Tulang itu ke Pusaka, memurnikan obsesi Yosef.

Jimat Tulang Ina, didorong oleh kekuatan Pertukaran Jiwa Total, memaksa Pusaka menyerap energi pengorbanan (kebebasan Yohan) yang tulus. Tiba-tiba, dari permukaan Pusaka, ikatan yang melilitnya dalam kegelapan robek—seperti benang tak kasat mata yang terpotong total.

Robekan itu diikuti oleh raungan yang brutal—suara kesedihan Sumiati yang terkumpul selama 15 tahun terakhir—mengalir keluar dari ikatan yang putus itu. Roh Sumiati seolah berpisah dari inti obsesi Pusaka.

Suara itu menembus langit, membuat Yohan berlutut dan menutupi telinganya. Itu adalah teriakan terakhir dari korban ritual. Teriakan lega yang dibayar mahal dengan jiwa Yohan.

Marta dan dua sesepuh itu bergetar ketakutan di tanah. Roh yang menindih mereka terlepas.

Seketika hening. Tidak ada Pusaka Biru. Tidak ada roh. Hanya udara fajar yang dingin dan bau kamboja yang memudar. Di sana, di antara Batu Persembahan dan Yohan, sebuah asap tipis yang menyatu perlahan, berbalik ke arah Yohan.

Kali ini, Sumiati muncul di hadapannya bukan sebagai Bayangan Kesedihan, tetapi sebagai Roh Damai. Wajahnya tampak bercahaya, luka-lukanya telah hilang. Dia mencondongkan tubuhnya, menyentuh kening Yohan dengan lembut.

Terima kasih, Anakku. Aku mencintaimu. Sekarang Kau adalah Penjaga sejati. Berhati-hatilah dengan Pusaka, ia tidak lagi memiliki penyangga, bisik roh itu tanpa suara, sebelum memudar sempurna, menghilang ke dalam atmosfer Yalimo.

Yohan terbaring lemah. Fisiknya kosong setelah menyerap dan melepaskan seluruh ikatan emosional itu. Janji Darah Yosef dan Sumiati, tuntas. Kekuatan spiritual pertamanya telah ia capai: Pertukaran Jiwa Total untuk membebaskan Ibu dan menebus Ayah. Dia menoleh ke Pusaka Batu yang kini tergeletak di samping sisa api.

Patung Pusaka bersinar sebentar dengan cahaya murni, lalu Patung itu memudar menjadi gelap. Tidak sedingin tadi, tetapi sangat, sangat gelap—menakutkan, seperti ancaman yang tertidur. Pusaka kini murni, tetapi tidak memiliki ikatan.

Dan tiba-tiba, dingin menusuk yang Yohan rasakan jauh lebih buruk dari roh Sumiati melingkupi Yalimo. Hutan di sekitar Batu Persembahan mulai layu, dalam sepersekian detik. Batu Persembahan Kuno yang tadinya tertutup lumut hitam, kini menguarkan gas dingin. Belerang.

Yohan ingat kata-kata Gede yang teriakkan sebelum ia kunci, dan kata-kata Ina: Pertukaran Jiwa memicu kebangkitan Kutukan Primordial dari Pusaka.

Ia telah membebaskan Ibunya. Tetapi Kutukan Yalimo—energi kegelapan yang diukir dari konflik bumi—kini terlepas sepenuhnya. Di matanya, Yohan melihat asap tipis kehitaman dan tebal merambat dari dalam Pusaka, merayap menuruni lereng hutan, menuju desa yang baru saja diselamatkan Yohan. Marta dan para sesepuh yang lumpuh itu mulai menggigil tak terkendali di tanah, bukan lagi karena ketakutan rohani, melainkan oleh hawa dingin yang mengancam nyawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!