Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Lily berbaring di lantai, dengan buku terbuka di tangannya. Kepalanya bersandar nyaman di punggung Eri yang hangat. Kemudian berguling ke samping, lalu kembali ke posisi semula, mencoba mencari sudut yang membuat kalimat-kalimat di bukunya terasa lebih menarik. Namun tetap saja, semua posisi terasa membosankan.
Ia melirik ke arah pintu, jelas ingin keluar. Namun bayangan bertemu bangsawan, atau tatapan-tatapan penuh penilaian langsung membuatnya mengurungkan niat.
“Masalahku sudah terlalu banyak. Aku ingin hidup tenang.” batinnya.
Tirai jendela perlahan kehilangan semburat matahari sore. Cahaya berubah redup, langit di luar mulai menggelap. Pelayan istana mulai menyalakan lampu-lampu minyaknya satu per satu, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Lily menghela napas panjang tepat saat menutup lembar terakhir bukunya.
“Masih satu hari,” gumamnya lirih sembari menatap langit-langit, “dan aku sudah merasa seperti di neraka.”
Ia memiringkan wajahnya, menepuk ringan bulu Eri. “Aku sangat bosan, Eri.”
“Aumm…” Eri mengaum rendah, seolah benar-benar memahami keluhannya.
Sepi ini membuatnya merindukan Moonveil. Tidak pernah ada waktu untuk bosan di sana. Pagi berarti berlari menembus kabut. Siang diisi dengan menyusuri sungai, menangkap ikan, atau menelusuri hutan untuk memetik buah liar. Kemudian sorenya, ia akan berburu rusa atau kelinci.
Lily menutup matanya sejenak, jari-jarinya mengelus surai Eri. “Di Moonveil, kita pasti sudah berlari kehabisan napas sekarang.” katanya pelan.
Langkah tergesa terdengar dari balik pintu Royal Chambers. Laory muncul dengan napas sedikit terengah, lalu segera menunduk hormat.
“Salam, Your Majesty,” ucapnya.
Nada suaranya tenang, tidak lagi terkejut melihat sang ratu berbaring santai di lantai bersama seekor singa. Baru sehari ia melayani Queen Liliane, namun rasanya ia sudah mulai memahami betapa… tidak lazimnya ratunya.
Lily menoleh malas tanpa berniat bangkit. “Ada apa, Laory?” tanyanya, masih berbaring ogah-ogahan.
“King Cristopher memerintahkan Anda untuk makan malam bersama.” jawab Laory.
Lily langsung duduk. “Makan malam?” alisnya mengernyit, seolah baru saja mendengar bencana.
“Benar, Your Majesty.”
Dalam sekejap, bayangan terburuk memenuhi pikirannya. Setiap malam? batinnya. Makan malam bersama?
Ia menggeleng frustasi. Oh Dewa… ini namanya hukuman rutin.
“Apa aku bisa menolaknya?” kata Lily sambil memeluk leher Eri, wajahnya terbenam di surai tebal itu.
Laory kembali menunduk lebih dalam. “Perintah Raja adalah kewajiban, Your Majesty.”
“Aku ingin pingsan saja.” gumam Lily.
Meski mengeluh, ia tetap bangkit berdiri. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju pintu. Saat sampai di ambang pintu, Lily berhenti dan menoleh pada pelayan pribadinya.
“Kenapa kau masih berdiri di sana?” katanya datar.
Laory terdiam sesaat, lalu memberanikan diri. “A-apa Anda akan pergi makan malam dengan penampilan seperti ini, Your Majesty?”
Lily menatap dirinya sendiri dari atas ke bawah. Ia mengenakan gaun linen cream, dengan wajah polos tanpa riasan. “Apa yang salah denganku?” tanyanya santai.
“T-tidak ada, Your Majesty.” Laory cepat-cepat menggeleng. “Maksud saya… apa tidak sebaiknya Anda berdandan dan berganti pakaian lebih dulu?”
Lily melambaikan tangannya acuh. “Aku hanya akan makan malam, bukan menghadiri pesta pernikahan.”
Ia melangkah maju. “Sekarang, antarkan aku ke ruang makan.”
Laory menunduk hormat. “Baik, Your Majesty.”
Sebelum benar-benar keluar, Lily menoleh ke belakang dan menunjuk Eri dengan tatapan penuh peringatan. “Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana!”
Eri mengaum pelan, tanda mengerti perintah tuannya.
Lily tersenyum tipis, lalu melangkah pergi menuju jamuan yang sama sekali tidak ia nantikan.
Ia melangkah masuk ke ruang makan dengan tenang. Pengawal dan pelayan langsung menunduk hormat begitu melihat kedatangannya. King Cristopher telah duduk di kursi raja. Di sisi kanannya duduk seorang wanita muda, wanita yang berdansa bersamanya pada pesta pernikahan. Kemudian ada dua anak kecil yang pagi tadi mencoba mengerjainya, juga seorang wanita paruh baya duduk dengan postur tegak dan tatapan meremehkan.
Lily menunduk hormat di hadapan Cristopher. Setelah itu, ia berjalan melewati kursi kosong di sisi kiri sang raja dan memilih duduk di samping Pangeran Alaric.
Jandice melirik pakaian Lily yang sederhana, jauh berbeda dengan gaun dan perhiasan yang ia kenakan. Lidahnya gatal untuk mencela, namun entah mengapa ada sesuatu dari diri Lily yang membuatnya menahan diri. Wajahnya… tetap bersinar meski tanpa riasan.
Begitu Lily duduk, Sandra, ibu Jandice… menatapnya dengan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar hangat.
“Seharusnya Anda bisa mengatur waktu dengan lebih baik, Your Majesty.” ucapnya halus, “Kasihan King Cristopher harus menunggu lama di meja makan.”
Sandra tidak menyebut nama, namun Lily jelas tahu siapa yang ia maksud.
Lily mengangkat dagunya anggun, menatap lurus ke arah Cristopher seolah tidak mendengar suara apa pun. “Apakah makan malam sudah bisa dimulai, Your Majesty?” tanyanya tenang.
Cristopher mengangguk dingin. “Silakan dinikmati makan malamnya.”
Barulah peralatan makan bergerak serempak, suara logam menyentuh piring memenuhi ruangan.
Sandra mengepalkan tangannya di bawah meja. “Beraninya gadis hutan itu mengabaikanku,” batinnya mendidih.
“Sebaiknya Anda tidak mengabaikan orang yang lebih tua, Your Majesty.” kata Jandice dengan suara lembut, namun sarat maksud. “Itu etika sopan santun di Kingdom Conqueror.” Nada bicaranya terdengar seperti pelajaran, namun jelas berniat mempermalukan.
Lily berhenti makan, lalu menoleh perlahan. “Aku tidak akan belajar etiket dari seseorang yang tidak mengerti etiket.” jawabnya dingin.
“Apa maksud Anda?” Jandice memerah.
“Kau!” Lily menatapnya datar, tanpa meninggikan suara atau menunjukkan emosi berlebihan. “Perlu belajar memahami batasan antara seorang ratu dan rakyatnya.”
Ia beralih pada makanannya sejenak, lalu melanjutkan dengan sikap anggun. “Namun tidak apa-apa, aku akan memakluminya karena ini kesalahan pertama. Tapi Ingatlah satu hal, kesempatan hanya terjadi satu kali.”
“Apa dia sedang mengancamku?” batin Jandice menggeram. Rahangnya mengeras, kukunya mencengkram bagian bawah meja. Ia tidak terima diancam oleh gadis hutan itu, terlebih di hadapan Cristopher.
Sandra menatap putrinya dengan sorot mata menahan amarah. Bibirnya bergerak tipis, memberi isyarat agar Jandice bersabar meski amarahnya juga sedang diuji.
Amarah Jandice menggelegak namun tak menemukan jalan keluar. Gadis hutan itu jelas bukan seseorang yang bisa ia tindas dengan kata-kata. Ia menoleh pada Cristopher, berharap mendapatkan pembelaan. Namun sang raja tidak menoleh sama sekali. Tatapannya tetap tertuju pada piringnya, seolah percakapan barusan tak pernah terjadi.
Jandice terdiam, menelan amarahnya. Ia merasa kedudukannya di meja makan ini memudar dalam satu malam.
“Aku tidak akan tinggal diam untuk semua penghinaan ini, Liliane.” Ia menunduk, berpura-pura fokus pada makanannya, meski dadanya bergemuruh hebat.
“Akan kupastikan kau berlutut di kakiku suatu hari nanti. Aku bersumpah!”
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪