"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Dukungan Mirza
"Bagaimana kuliahmu?" tatap Raymond pada putranya.
"Baik-baik saja, Pak," sahut Mirza acuh. Kentara sekali kesal pada papanya yang barusan bersikap kasar pada ibunya.
"Hem, syukurlah. Dalam rangka apa kamu pulang. Ini bukan masa liburan."
"Kangen Mama!" sahut Mirza sekenanya. Berbaring sesukanya di sofa. Bahkan Mirza tidak menoleh ke papanya saat berbicara. Tentu sikap Mirza membuat Raymond kesal.
"Apa ini hasil yang kau dapat setelah dua tahun kuliah, Mirza?" sebut Raymond lirih tapi penuh penekanan.
"Mirza cuma meniru perbuatan Papa. Papa tidak pernah bersikap hangat kepada Mama. Lantas kenapa Papa menuntut Mirza bersikap sebaliknya kepada Papa." Mirza tetap memainkan ponselnya.
"Mirza! Kamu ini benar-benar tidak sopan pada orang tua." Raymond menatap putranya dengan kilat mata menghujam.
"Kalau begitu, ajar Mirza Pa, untuk jadi anak yang sopan. Beri Mirza contoh. Jangan cuma menuntut Mirza." Mirza balas menatap, tepat di kedua iris mata Raymond.
"Kamu?!" Raymond hendak melemparkan asbak di depannya kepada Mirza, karena shock.. Tapi sadar kalau perbuatannya itu akan berakibat fatal. Mirza sangat menyayangi ibunya. Dan selalu menjadi pembela ibunya. Heran, padahal darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Khaty.
"Mama kamu membuat Papa kesal." ucap Raymond akhirnya mengalah.
"Ini bukan yang pertama kali Papa, bersikap kasar. Sudah bertahun-tahun, Pa. Bukannya Papa sadar dengan umur. Malah menjadi-jadi." kecam Mirza.
"Maksud kamu itu apa Mirza. Racun apa yang telah dicekoki Mama padamu." emosi Raymond kembali naik.
"Bukan Mama, tapi Papalah yang menaruh racun itu." hentak Mirza kasar.
"Kamu jangan berat sebelah, Mirza. Dari dulu kamu selalu membela mama kamu. Kamu tau, tadi Mamamu minta cerai dari Papa. Kamu tau coba, apa maksudnya itu!"
"Mama minta cerai? Kenapa baru sekarang, Pa? Kalau selama ini Mama bisa bertahan, kenapa tiba-tiba bisa berubah. Pasti Papa telah berbuat sesuatu yang tidak bisa Mama maafkan!" sorot mata Mirza menyipit memandang ke arah Raymond. Menguliti!
Seketika Raymond gugup. Tatapan putranya berbeda dari sebelumnya. Itu adalah sorot mata kebencian.
"Mamamu pasti telah selingkuh. Apa coba maksudnya. Minta cerai! Sudah tua. Dasar tidak tau malu." kilah Raymond, malah menyalahkan Ribka istrinya.
"Tega benar Papa memfitnah Mama. Padahal kelakuan Papa yang bejad." Mirza berdiri. Hampir saja dia menunjukkan vidio yang barusan dikirim temannya. Tapi dia ingin menyelidiki sendiri dulu. Tidak mau gegabah bertindak.
"Mirza!" seru Raymond emosi. Kalau saja Mirza bukan anak kandungnya sendiri, pasti sudah dilemparinya pakai asbak. Beraninya Mirza bersikap kurang ajar kepadanya.
"Ada apa ribut-ribut dengan Mirza, Bang!" seru Ribka saat melihat suaminya hendak mengejar Mirza ke kamarnya.
"Hem, pasti kamu yang telah menghasutnya biar bersikap kurang ajar. Ibu macam apa sih kamu!" tuding Raymond.
"Kamu menyalahkan aku? Lantas kamu ayah macam apa, berani selingkuh?"
"Oh, jadi kamu memang telah menghasutnya? Ngomong apa saja kamu sehingga dia kurang ajar begitu!"
"Aku tidak ngomong apa-apa! Mengapa kamu masih saja mencari kesalahan orang lain, padahal jelas-jelas kamu yang berbuat salah." kecam Ribka tidak takut sama sekali membantah suaminya.
Suaranya begitu keras. Hingga terdengar sampai ke kamar Mirza. Mirza menutup kedua telinganya mendengar pertengkaran itu.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat telak di wajah Ribka. Sudut bibirnya berdarah.
"Cukup Pa! Papa jangan lagi menyakiti Mama!" teriak Mirza lantas mendorong papanya. Raymond jatuh terjengkang, kakinya membentur kaki meja.
"Kurang ajar kamu, Mirza!" Raymond berusaha bangkit.
"Hei! Berhenti! Apa-apaan ini!" teriak Alisya yang tiba-tiba muncul. "Astaga Kak Ribka kenapa?" seru Alisya melihat Kakak iparnya dipapah Mirza ke kursi.
"Abang kenapa sih? Sudah tua tapi kelakuan masih ABG saja. Gak malu pada anak sendiri. Mirza itu sudah dewasa!" seru Alisya kesal. Meskipun tidak menyukai kakak iparnya, Alisya tidak suka kakak iparnya dikasari.
Raymond mengusap lututnya yang terasa sakit saat membentur kaki meja. Masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Mirza, kenapa kamu tadi mendorong Papa, Nak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Papamu tadi?"
"Mama masih saja membela Papa, setelah perlakuan kasar Papa?" geleng Mirza, mengira ibunya begitu bucin pada papanya.
"Mama tidak membela, Nak. Tapi Mama tidak ingin terjadi masalah dengan kamu. Jangan kotori tanganmu Nak, dengan berbuat hal yang sama seperti Papamu." isak Ribka sedih.
"Iya, sudah Ma. Mirza juga tidak tega melihat Mama terus disakiti. Kalau bukan Mirza, siapa lagi yang membela Mama. Papa benar-benar jahat. Mirza setuju Ma, kalau Mama bercerai dengan Papa. Biar Papa tau rasa!"
"Mirza, kamu ngomong apa sih? Masak mendukung Mama dan Papamu bercerai. Ada apa? Kenapa Kak Ribka mau bercerai dengan Bang Raymond?" sela Alisya kaget. Tidak menduga kalau masalah kakak iparnya dengan abangnya semakin parah.
Jangan-jangan Kak Ribka sudah mengetahui siapa Khaty? Aduh bisa gawat ini kalau mereka bercerai. Siapa yang akan merawat ibunya yang sakit-sakitan?
"Kak, tolong jangan terbawa emosi. Mungkin saja Bang Ray lagi ada masalah di kantor. Jadi tidak bisa mengekang emosinya. Kakak yang sabar ya?" Alisya berusaha mengambil simpati kakak iparnya. "Nanti saya akan bujuk Bang Ray meminta maaf Kak. Tapi jangan bercerai ya Kak. Tidak baik buat masa depan Mirza juga."
"Bibi jangan bawa-bawa namaku. Mama berhak bahagia, tanpa menjadikan aku sebagai alasan." protes Mirza. "Mirza sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Iya, Iya, Bibi setuju. Tapi masalah ini harus dipikirkan dengan hati yang tenang. Jangan terburu-buru! Kalau kakak ipar nanti bercerai, kakak mau pergi kemana? Kakak kan tidak memiliki keluarga di luar sana. Rumah ini adalah tempat ternyaman Kak, karena kehidupan di luar sana sangat kejam."
"Cukup, Bi! Jangan pengaruhi Mama. Tempat ternyaman bilang Bibi. Tapi Mama mendapat perlakuan buruk justru di rumah ini. Sudah bertahun-tahun. Apa Bibi tutup mata dengan yang dialami Mama, selama ini!" tohok Mirza. Membungkam bibinya.
"Tenang, Mirza. Bibi faham apa yang kamu maksud. Ya, sudah. Kamu bawa Mama dulu keluar. Biar suasana tenang. Bibi mau bicara sama papamu."
"Ayo, Ma, kita ke kamarku saja. Mirza obati dulu luka Mama."
"Tidak apa-apa Nak. Luka ini tidak seberapa. Mama mau menyiapkan makan malam dulu.
"Ma! Tolong, jangan pedulikan soal makanan mereka."
"Mama mau menyiapkan makananmu Nak. Maafkan Mama, kamu harus melihat semua hal ini." Ribka menghela nafas berat.
"Tidak ada yang perlu Mirza maafkan Ma. Justru Mirza yang meminta maaf, karena selama ini tidak bisa melindungi Mama. Mirza tidak akan apa-apa Ma. Kalau Papa dan Mama harus berpisah. Yang penting adalah kebahagian Mama." Ribka tidak mampu lagi menahan kesedihannya mendengar ucapan Mirza. Kalau saja Mirza tau, bahwa dia adalah anak angkat dan ibunya kandungnya adalah selingkuhan papanya. Apakah Mirza masih bersikap seperti ini. Membelanya?***