Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - GERBANG PENGKHIANATAN
Lembah Kabut Abadi tampak lebih suram dari biasanya saat Kaelan melangkah melewati celah tebing yang menjadi pintu masuk rahasia Sekte Gerhana Biru. Salju tipis turun, namun hawa dingin yang memancar dari tubuh Kaelan jauh lebih tajam daripada cuaca pegunungan itu.
Di tangan kirinya, ia menenteng sebuah bungkusan kain hitam yang masih meneteskan darah yang membeku. Itu adalah bukti penyelesaian misi: kepala Gubernur Arkan.
Saat ia mencapai aula utama, suasana terasa berat. Puluhan murid sekte berbaris di sisi kiri dan kanan, namun mata mereka tidak memancarkan kekaguman. Ada ketakutan, kecemburuan, dan sesuatu yang lebih busuk—niat membunuh yang disembunyikan dengan buruk.
Tuan Besar duduk di singgasana batunya, didampingi oleh Penatua Bayang. Wajah pria tua itu tidak menunjukkan kegembiraan meski pionnya telah berhasil melakukan tugas mustahil.
"Letakkan," perintah Tuan Besar.
Kaelan melemparkan bungkusan itu ke lantai marmer. Kepala itu menggelinding, berhenti tepat di depan kaki sang pemimpin sekte. "Misi selesai," ucap Kaelan singkat.
"Kau membunuh Gubernur," suara Tuan Besar bergema dingin. "Tapi kau juga membantai tiga Pemetik Nyawa dari Aliansi Langit Merah. Kau menciptakan keributan yang tidak perlu, Kaelan. Kau menarik perhatian dunia ke lembah ini."
Kaelan mengangkat kepalanya. Rambut putihnya menutupi sebagian wajahnya yang pucat. "Mereka menghalangi jalan. Siapa pun yang menghalangi jalan pedangku, akan berakhir sama."
Penatua Bayang melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang pedangnya. "Kau menjadi terlalu angkuh, Nak. Kau hanyalah seekor anjing yang kami besarkan di lubang tanah. Anjing yang menggigit tanpa perintah adalah anjing yang harus dibinasakan."
Kaelan merasakan getaran aneh dari Domain Kesunyian miliknya. Di balik pilar-pilar besar aula, ia mendeteksi detak jantung yang cepat—setidaknya ada dua puluh pemanah yang sudah menyiapkan busur mereka, membidiknya dari kegelapan.
Ini bukan penyambutan pahlawan. Ini adalah eksekusi.
Sekte Gerhana Biru menyadari bahwa Kaelan telah tumbuh terlalu kuat. Kekuatan es dan racunnya telah melampaui teknik orisinal mereka. Bagi organisasi pembunuh, senjata yang tidak bisa dikendalikan adalah ancaman terbesar.
"Jadi, ini adalah hadiahku?" bisik Kaelan. Sebuah senyum tipis, yang pertama kalinya, muncul di bibirnya. Senyum itu tampak begitu indah namun sangat mengerikan.
"Matilah dengan tenang sebagai martir sekte," ucap Tuan Besar sambil mengangkat tangannya.
"LEPASKAN!"
Puluhan anak panah melesat dari kegelapan, semuanya mengarah ke titik vital Kaelan. Namun, sebelum panah pertama menyentuh kulitnya, tubuh Kaelan meledak menjadi uap dingin yang pekat.
Teknik Bulan Dingin: Bayangan Es Surgawi.
Panah-panah itu hanya menembus udara kosong. Kaelan telah berpindah posisi dengan kecepatan yang tidak masuk akal, muncul tepat di tengah-tengah para pemanah di balik pilar.
Zrak! Zrak!
Belati hitamnya menari dalam kegelapan. Setiap tebasan memisahkan nyawa dari raga tanpa ada satu pun teriakan yang sempat keluar. Darah menyemprot ke dinding, namun langsung membeku sebelum menyentuh lantai.
"Beraninya kau!" Penatua Bayang mencabut pedangnya dan menerjang maju. Pedangnya dialiri energi gelap yang pekat, mencoba membelah kabut es milik Kaelan.
Kaelan menangkis serangan itu dengan satu belati, sementara tangan lainnya melepaskan Sutra Rembulan. Benang-benang perak itu melilit pilar-pilar aula, menciptakan jaring laba-laba raksasa dalam hitungan detik.
"Lembah ini adalah rahim yang melahirkanku," ucap Kaelan sambil menarik benang-benangnya, membuat pilar-pilar batu itu mulai retak. "Dan malam ini, aku akan menjadi kuburan bagi rahim ini."
Tuan Besar berdiri dari singgasananya, wajahnya merah padam karena amarah. Ia tidak menyangka bahwa bocah yang ia kurung selama tujuh tahun akan memiliki keberanian untuk menantang seluruh sekte sendirian.
Aula Pengasahan yang dulu menjadi tempat Kaelan dipaksa membunuh teman-temannya, kini menjadi medan tempur terakhir antara Sang Pencabut Nyawa dan penciptanya.
Kaelan tidak lagi bertarung untuk misi. Ia bertarung untuk menghapus setiap jejak masa lalunya yang kelam. Malam itu, salju di Lembah Kabut Abadi akan berubah menjadi merah.