Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil berhenti tepat di pelataran butik. Dan Delanay melihat beberapa orang mulai mengamati Porsche Callum dengan raut penasaran.
Astaga! Hari ini terbilang cukup berat untuknya.
Delanay harus menyiapkan diri saat berada di dekat Callum dengan mata semua orang tertuju padanya. Seolah-olah Delanay adalah istri petinggi yang perlu disorot ke mana-mana.
Tapi, sungguh kedudukan Callum memang lebih tinggi dari presiden sekalipun. Dia ini pewaris Westwood, konglomerat yang setara Narayanan sang pebisnis nomor 1 Asia.
“Terima kasih, Kak." Hanya itu yang Delanay katakan.
Tapi sungguh, perkataan terima kasihnya tulus. Pertama, karena Callum sudah mengajak Delanay makan siang apalagi sampai dibayari dua kali. Kedua, Callum sudah menolongnya baik di restoran maupun tempat bakso tadi.
Dan yang terakhir, Callum sampai mengantarnya kembali ke sini. Padahal bisa saja pria itu meninggalkan Delanay tanpa harus peduli.
“Lain kali aku akan menggantinya.”
“Hm. Terserah.” Benar-benar jawaban khas Callum.
“Kalau begitu, aku pergi dulu." Usai berpamitan dan mengambil tasnya dari bangku belakang, Delanay lekas membuka pintu.
Dia harus segera keluar dari mobil. Jangan sampai wajahnya dan wajah Callum banyak muncul di akun gosip.
“Tunggu!” Gerakan Delanay yang hendak menutup pintu terhenti. Sudut matanya melihat Callum keluar dari mobil sambil berlarian kecil.
Apa ada yang ketinggalan? Atau ada hal yang ingin Callum sampaikan?
Callum sudah berdiri di depan Delanay. Menatap lekat wajah cantik itu. Berdeham pelan, tangan kekar Callum tiba-tiba terulur. Ia melingkarkan sebuah syal rajut warna merah ke leher Delanay.
“Pakai ini. Sudah hampir pergantian ke musim hujan, setidaknya pakai pakaian yang lebih tebal," ucap Callum lembut.
Seketika otak Delanay blank, mulutnya melongo. Perlakuan lembut Callum dan napasnya yang menerpa wajah Delanay mampu membuat jantungnya kembali berulah.
Kenapa hari ini Callum begitu perhatian? Kemana perginya pria berwajah malaikat namun bermulut setan itu?
“Kembalilah bekerja, tapi jangan memforsir diri. Oke?” ucap Callum lagi.
Delanay yang tersihir hanya bisa menganggukkan kepala. Sesekali matanya mengerjap pelan. Ini sungguhan kah?
“Dan, satu lagi.” Callum melirik beberapa orang yang terang-terangan mengamati mereka. Bibirnya tertarik ke atas.
“Nanti pulangnya tidak perlu panggil taksi. Ada sopir yang akan menjemputmu."
Baiklah. Delanay merasa Callum mulai berlebihan. Kenapa sampai menyuruh sopir untuk menjemputnya segala?
Ini terkesan aneh dan mendebarkan. Apalagi ketika tangan Callum sampai mengusap pipinya seolah mereka sudah biasa melakukannya. Mau tak mau, hal itu memaksa Delanay menikmati kehangatan dari tangan kekar sang suami.
“Jangan lupa perkataanku, Sayang.”
Cup
Bahkan Callum sampai mencium sudut bibirnya. Bukan. Bukan mencium, tapi hanya mengecup sebentar. Tentu saja Delanay tambah syok.
Tak disangka setelah memporak-porandakan jantung Delanay, Callum tidak langsung pergi. Pria itu malah tersenyum manis, kemudian menarik Delanay mendekat. Dari sudut pandang orang lain, mereka seperti tengah berpelukan mesra.
Namun, siapa sangka yang dibisikan bibir pria itu justru berkebalikan.
“Jangan senang dulu. Aku hanya melakukan tugasku. Ini semua demi image pernikahan kita juga... bayimu."
Rasa bahagia itu hilang tak berbekas. Kilatan blitz serta suara cekrek kamera membuat Delanay tersadar. Ini hanya akting.
Telinganya masih mendengar beberapa orang yang berdecak kagum. Menyanjung betapa perhatian dan romantisnya seorang Callum Westwood pada sang istri. Hati siapapun yang melihat mereka pasti akan menghangat.
Sayangnya, angin yang bertiup pelan tetap menembus tubuh Delanay. Kedekatan, perhatian, dan aroma mint itu terasa membekukan tulang. Tidak ada kehangatan untuknya.
Pelukan Callum lantas terurai. Lagi-lagi dia mengulas senyum lembut.
“Sekarang masuklah."
Tak perlu berpikir dua kali, Delanay melangkah masuk. Di bawah tatapan pegawai dan pengunjung butik yang berbinar senang sekaligus iri, dia berjalan terburu-buru.
Masa bodoh kalau orang menganggapnya pemalu. Tapi sesak di dada Delanay tidak bisa ditahan lagi.
Berkali-kali dia mengerjap berusaha menghalau tusukan di bola matanya. Jangan menangis, jangan menangis. Karena menangis hanya untuk wanita lemah, ucapnya pada diri sendiri.
Walaupun perhatian Callum hanyalah sebatas akting, Delanay tidak boleh berkomentar. Sudah untung pria itu mau membersihkan nama baiknya. Jadi, jangan lagi Delanay merasa tidak adil, bahkan sedikit berharap Callum akan memperlakukannya dengan baik.
“Semangat, Delanay," lirihnya seraya mengusap satu air mata yang terlepas begitu saja. Dia kembali menaiki anak tangga, bersyukur Elara tidak memergoki kejadian di bawah.
“Lho, udah balik, Mbak?” Di anak tangga keenam Delanay berpapasan dengan Lira yang membawa lipatan kain.
“Eh, i-iya nih.” Delanay sulit meredakan nadanya yang terbata-bata.
Lira mengangguk. “Tapi, Mbak. Kok ada yang aneh?” Lira menatap wajah wanita itu dalam-dalam.
Membuat Delanay berhenti melangkah dan memalingkan muka, dia berharap-harap cemas. Jangan bilang matanya memerah?
“A-apanya yang aneh?”
Lira menggelengkan kepala dan berkata, “Ada sesuatu yang aneh. Kok Mbak Delanay nggak ngajak Pak Callum mampir dulu sih? Kita kan mau tanya-tanya soal Mbak Delanay."
Ya Tuhan.
Delanay tidak tau dia harus tepuk jidat atau menghela napas lega. Lira dengan kepribadian uniknya benar-benar hampir membuatnya jantungan.
“Ya kan, ini butik tempat Mbak kerja, Li. Mana boleh Mbak nyuruh Kak Callum mampir sembarangan? Yang aneh mah, kamu."
Lira mencebik. “Tapi ini kan butik Bu Elara, adiknya Pak Callum. Masa sih nggak pernah sekalipun mampir ke mari?”
“Bukannya tadi udah mampir ya?” tanya Delanay tak begitu khawatir mereka mengobrol di tangga. Lantai atas memang hanya diperuntukkan untuk Elara dan pegawai kepercayaannya, seperti Delanay dan Lira. Jadi tidak akan ada yang menegur mereka.
“Ish, itu mah bukan mampir namanya, Mbak. Pak Callum cuman mau jemput Mbak Delanay doang. Udah ah, ngomong sama Mbak Delanay nggak kelar-kelar."
Delanay mengulum senyum. Suka sekali melihat raut merajuk Lira yang pergi ke lantai bawah. Ia merasa seperti memiliki adik yang menghibur sekaligus disayanginya.
Ah, bicara soal adik. Di mobil, Callum tadi mendapat chat masuk dari Silvy. Gadis itu bertanya apa besok malam Delanay akan datang ke pesta Narayanan?
Delanay, jelas tidak menjawab. Lagipula datangnya dia bukanlah urusan Silvy dan Harper lagi. Keluar dari rumah Harper, berarti kebebasan Delanay tidak ada yang boleh mengaturnya.
Belum juga Delanay menginjak lorong menuju ruang kerjanya, ia merasa sebuah tangan mencekal lengannya dan menariknya ke sebuah ruangan lain. Delanay jelas kaget, tapi melihat siapa yang menariknya, dia hanya mampu menghela napas.
“Mau tanya apa?”
“Lo nggak diapa-apain sama Kak Callum kan, Del?” Elara, si wanita tipikal yang akan mengejar sesuatu sampai dia mendapatkan jawabannya. Matanya sampai berkilat penuh selidik.
“Nggak.”
Alis Elara berkerut, tangannya bahkan sudah dalam pose menyilang di depan dada. Berasa hendak menginterogasi pegawai baru.
“Terus maksudnya lo kissing itu apa?”
“Kissing ap-” Mata Delanay keburu membulat. “L-lo liat?!”
Elara memutar bola mata. Membiarkan dirinya berjalan ke kursi kerja dan duduk di sana. Sedangkan Delanay dengan sigap mengikuti, duduk di kursi depan meja kerja Elara. Ini memang ruangan khusus wanita itu.
“Jelas aja gue liat, Dodol. Walaupun nggak liat secara langsung, tapi gue liat di sosmed. Foto kalian langsung bertebaran gitu aja.”
Elara melempar ponselnya dan mata Delanay nyaris terlepas melihat foto-foto yang baru dua menit lalu kejadian sudah memenuhi trending topic Indonesia. Itu fotonya dan Callum.
Mulai dari foto saat berangkat makan siang, foto di restoran, di warung bakso, sampai kembali ke butik lagi, semua berderet rapi. Tak jarang banyak netizen berkomentar.
'Mas Callum terbaik'
'Dia sampe bela-belain marah-marah ke orang lain, demi istrinya. So sweet'
'Tau nggak sih, mereka tadi kiss di depan butik adiknya Mas Callum'
Membaca komentar-komentar itu, haruskah Delanay berteriak wow? Para pengguna sosial media memang mengerikan. Mereka sampai berani memanggil Bebeb, sampai Mas suami pada Callum yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain.
“Kakak gue pasti maksa lo kan, Del?” tanya Elara kembali ke topik awal.
Meletakan ponsel berlogo apel digigit itu, Delanay menggeleng. “Nggak. Kami ngelakuinnya dengan suka sama suka kok.” Dia harus berbohong. Jangan sampai Elara tau kejadian di balik layar. Apalagi tentang perjanjian cerainya dengan Callum, setelah 1 tahun menikah.
Kali ini, biarkan Delanay berusaha sendiri. Sudah terlalu lama dia merepotkan Elara dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk Delanay belajar mandiri dalam menyelesaikan masalahnya.
“Bohong!” tuduh Elara. “Gue tau kakak gue pasti kepincut sama lo. Tapi gue nggak yakin kalau lo juga ngerasain hal yang sama. Lo, belum bisa move on, Del.”
Tepat sekali. Elara membuka kartu Delanay.
Memangnya siapa yang bisa move on secepat kilat kalau masih terbayang-bayang hubungan selama lima tahun? Delanay butuh waktu untuk menghapus nama dan kenangan Jovan dari hatinya.
Terserah kalian mau bilang dia wanita bodoh.
“El, gue beneran lagi berusaha. Lo inget? Lo pernah bilang kan, kalau cara untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu adalah dengan mengikuti masa depan. Dengan mencari cinta yang baru. Dan gue rasa, kakak lo nggak seburuk itu untuk gue jadiin obat move on." Dasar, wanita. Pintar bersilat lidah.
Namun, Elara adalah Elara. Dalam tubuhnya mengalir darah Westwood.
Wanita yang merupakan istri Maxmilian itu berdecak. “Jangan munafik. Kalian bukanlah obat. Yang ada jika hubungan ini diteruskan, kalian malah akan saling menyakiti satu sama lain.”
Mata Delanay melihat kilat tajam di manik Elara.
“Lo nggak tau kan, Del? Kak Call nggak sesempurna yang diberitakan publik."
Nggak sempurna? Apa maksudnya?
thor sekali2 kasih tau dong siapa yg perkosa delanay? penasaran banget deh😔😂
mantap thor😂
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰